LOVE For SICKARINA

LOVE For SICKARINA
SEVENTEEN



**Melebihi bintang apapun, melebihi matahari. Lebih berharga dari apapun.


Karena seperti itulah dirimu.


•{ Protector** }•


Sicka tengah bingung, sedari tadi yang dia lakukan hanyalah duduk bersila di atas kasur sembari menopang dagunya dengan kedua tangannya.


Tiga hari lagi adalah ulang tahun Brandon dan Sicka tidak tau harus memberi dia kado apa.


"Kalau buku nggak mungkin kan?dia kan bukan anak TK atau SD kalau ulang tahun dikasih hadiah buku tulis se\-pack."


Sicka mendengus, "Kelamaan jomblo ya gini nih jadinya, pacar ulang tahun aja nggak tau mau dikasi apa. Kalo pun jam tangan kayaknya uangnya nggak cukup deh, dan pasti itu juga udah mainstream. Aku mau kasih sesuatu yang beda dari yang lain, tapi apa?"


Sicka juga tidak menyangka udah hampir dua minggu bersama Brandon, jujur bertahan sama Brandon itu berat banget. Tiap di sekolah Sicka harus rela di bully tanpa sepengetahuan teman-temannya bahkan Brandon sendiri, kolong mejanya yang kadang ada beberapa surat peringatan dari fans fanatik Brandon, di lokernya yang suka banget ada sampah.


Tapi Sicka tidak apa-apa, itu adalah resiko apabila dia bersama dengan Brandon. Dia yakin pasti bisa melewati semua ini.


Drrttt drtt


Ponselnya berdering segera Sicka mengecek siapa yang memberinya pesan.


Kimpret nak Onta🐽


*Rin


Rin


**** read buruan*!!


( Replay )


Apaan dah Kim


Gw liat pcr Abang lu lgi sm cwok laen njir°o° - Kimi


( Replay )


Weh yang bener lu Kim?


Beneran Rinn, lo dtng aja nih ke resto dket pertigaan gang rumah gw. Nah tuh cwek ada disitu. - Kimi


( Replay )


Oke oke  otewe


Eh tpi itu cwek Abang gw yang mn kampret?


Oh iya **** lupa ehe:v, pacar bang Satria. -Kimi


( Replay )


Faktor U dasar.


Setelah melihat itu Sicka segera berganti baju lalu pergi dimana Kimi memberitahunya tadi.


Sicka menuruni tangga dan berpapasan dengan Satria yang menaiki tangga. Dia hanya melirik Sicka sekilas dengan tatapan datar dan Sicka membalas tatapan itu dengan senyuman.


  "Bang, aku mau keluar dulu ya ke rumahnya Kimi," meskipun tak mendapat balasan setidaknya dia sudah izin kepadanya karena orang tuanya saat ini sedang di luar kota untuk mengurusi bisnis.


"Ga usah pulang aja sekalian." balasnya yang membuat Sicka begitu terkejut. Dia terkejut karena Satria membalas ucapannya, biasanya Satria hanya diam saja.



"Kalo aku nggak pulang siapa dong yang kena marah Abang sama kak San kalo aku nggak pulang?" Satria mendelik menatap Sicka sementara cewek itu tertawa terbahak\-bahak sembari menuruni anak tangga.


Sungguh sudah biasa Sicka tak pernah dianggap ada di keluarga ini. Tapi mau bagaimana lagi? Ini adalah keluarganya dimana tempatnya untuk pulang. Kalau bukan disini kemana Sicka akan pulang? Setelah puas tertawa tadi, Sicka merasa hambar dengan dirinya sendiri. Tanpa dia sadari air matanya mengalir di pipinya dengan segera dia menghapusnya takut kalau dilihat orang apalagi Mami. Dia tidak boleh melihatnya menangis.


<•[💙]•>


Sicka dan Kimi sudah seperti tim nya Mas komo dalam 'Katakan Putus' yang tengah menguntit seorang cewek dan cowok yang duduk tak jauh dari tempat duduk mereka. Sicka dan Kimi bahkan bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.


  "Kayaknya gue harus rekam suara mereka deh," bisik Kim lalu mengeluarkan ponselnya kemudian mulai merekam suara cewek itu.


"Iya kamu tenang aja Yon, aku nggak akan lama lagi putusin Satria setelah dapetin uang banyak dari dia." Suara Fani terdengar meyakinkan, dia Fani pacar Satria.



"Oke jangan lama lama ya? Aku nggak rela kalo kamu sama cowok lain." balas lelaki didepan Fani.


Sicka tak bisa menahan amarahnya lagi, dia segera berdiri lalu menghampiri mereka.


BRAKKK


Sicka menggebrak meja dimana Fani dan pacarnya itu berada dan Fani kaget melihat kehadiran Sicka.


  "L-lo ... ng-ngapain disini?" tanyanya gugup saat memandang Sicka.


"Jadi lo macarin bang Satria cuma karena harta? Iya? DASAR PENJILAT LO!!" Entah kenapa Sicka sangat marah bahkan jari telunjuknya menunjuk di depan wajahnya.



"Murahan banget sih mbak jadi cewek! Hih najis deh mata gue liat lo." sahut Kimi yang sudah berdiri di samping Sicka.



"Heh jaga ya mulut lo pada!" Fani kini nampak marah. "Gue aduin sama Satria ya atas kelakuan nggak sopan kalian itu. Lagian Satria pasti percaya sama omongan gue daripada lo pada cihh!" perkataannya membuat Sicka terdiam.



*Ya Fani benar, mungkin abang nggak akan percaya. Tapi ini semua demi kebaikan abang, aku nggak mau sampai abang mencintai orang yang salah*.



"Bodo amat! Yang jelas gue nggak akan biarin lo deket sama bang Satria!" balas Sicka setelah sempat terdiam. Dia segera melangkah pergi keluar dari restoran itu bersama Kimi melewati tatapan tatapan para pelanggan yang menatapnya kagum.


Dan kini Sicka sudah berada di toko buku bersama Kimi. Dia menyusuri tiap rak yang berisi macam macam buku bahkan ada buku diary juga. Matanya mendapati sebuah buku diary yang covernya berwarna coklat tua dan kertasnya juga yang berwarna agak kuning kecoklatan seperti sebuah kertas lama.


'Mode New Vintage Magic Key String Retro Leather Notebook' terdapat tulisan ini yang tertempel di rak.


  Hmm namanya agak susah juga ya ...



Sicka pun mengambil buku itu, seketika dia teringat ulang tahun Brandon. Sicka menatap buku diary di tangannya,


  Kira-kira Brandon suka nggak ya aku kasih buku diary? Hmm semoga aja suka. Dia pun segera membawa buku diary itu ke kasir.


"Lha lo ngapain beli buku diary \*\*\*?" tanya Kimi yang juga sudah sampai di kasir sembari meletakkan tiga novel bergenre *thriler* di meja kasir.



"Buat hadiah Brandon." jawabnya yang membuat Kimi melongo. Mungkin dipikirannya masa iya cowok mau dikasi buku diary?




"Ya iyalah, gue kan *antimainstream*!" sahut Sicka jumawa.


Setelah mereka selesai dengan transaksi itu, Sicka segera pulang ke rumah karena hari akan mulai petang. Dia turun dari metromini lalu mulai melangkah menyusuri trotoar sendirian.


Saat Sicka tengah berjalan, dia melewati Om-om berbadan besar yang tengah mengangkat telpon.


  "Kami akan laksanakan tugasnya besok bos, tenang saja. Anak-anak Afkar akan kupastikan besok celaka."


Awalnya Sicka biasa saja, tapi saat nama ayahnya disebut, Sicka sontak memberhentikan langkahnya.


  Apa maksud om itu? Apa dia mau mencelakai Abang dan kak San yang besok bakal pergi ke Bandung? Kalo iya aku harus mencegahnya.


"Heh ngapain lo berdiri disitu?" Sicka terperanjat saat suara Om\-om itu berada tepat dibelakangnya. Sicka menoleh lalu menampilkan senyum lebar.



"Hehe om, aku berdiri disini tadi liat ada duit receh jatoh. Aku mau nyari, kan kalo ketemu itung\-itung nambah duit aku Om," jelas Sicka yang diangguki om itu.



"Lo pergi sana, recehnya buat gue aja." usir Om itu sembari mendorong tubuh Sicka. Dia hanya mendengus, *dih \*\*\*\*\*\* juga nih Om\-om*.



"Ngapain lo masih disini?" Salah satu yang lain bertanya dengan wajah sangarnya.



"Iya Om, ini aku mau pergi kok, recehnya buat kalian aja." Segera Sicka menyeimbangkan tongkatnya dengan langkah kakinya menjauhi mereka.


<•[💙]•>


Akhirnya Sicka sampai juga di kamar tercintanya ini, dia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur kemudian memeluk gulingnya erat-erat. Namun tak lama pintu kamarnya terbuka dengan kasar dan menampilkan wajah Satria yang tengah menahan amarah.


  Apalagi ini?


"Eh wa'alaikumsalam Bang, kalo masuk tuh sa\-"



"LO APAIN FANI HAH?" Sicka meringis menahan rasa sakit akibat cengkraman kuat Satria di bahunya.



"Aku cuma nyuruh dia jauhin Abang kok," jawabnya masih dengan menahan rasa sakit dan Sicka dapat merasakan cengkraman tangan Satria makin kencang di bahunya.



"Bang ... sakiiit ..." lirihnya berharap Satria mau melepas cengkramannya.



"Maksud lo apa nyuruh dia jauh dari gue? Ha?" tanyanya masih dengan nada tinggi, sepertinya Satria terlalu dibutakan oleh cinta sehingga tak bisa membedakan mana yang tulus mana yang hanya memanfaatkan.



"Bang ... kalo aku kasi tau alesannya pasti Abang nggak percaya sama aku, tap\-tapi aku lakuin semua ini demi kebaikan Abang," ucap Sicka dengan menatapnya dan Satria balas menatap Sicka tajam.



"Nggak ada yang namanya kebaikan itu ngehancurin hubungan orang Sickarina!" tekannya yang membuat Sicka tidak tau harus bagaimana lagi.



*Jika memang bang Satria nggak mempercayaiku mungkin aku bisa meminta bantuan Kimi. Ya, itu jalan yang terbaik*.



"*Fine* bang, aku nggak akan ganggu hubungan Abang sama Fani. Tapi jika Abang udah tau nantinya aku mohon sama Abang jangan nyakitin hati Abang sendiri." Sicka memalingkan muka setelah mengatakan itu.


Perlahan tangannya yang ada di bahu Sicka terlepas, dia membalik untuk keluar kamar Sicka. Tapi sebelum dia benar-benar keluar, Sicka kembali memanggilnya yang membuat Satria berhenti tanpa menoleh kepadanya.


"Aku minta sama Abang besok jangan pergi, bahaya! Aku bener\-bener mohon sama Abang. Dan kalaupun Bang Satria, Satya dan kak San masih ingin pergi jangan gunain mobil yang sering kalian gunain. Untuk kali ini aja percaya sama Rin."



*Semoga saja bang Satria mau memdengarkanku*.



"Bodoamat!" Sicka mematung mendapat respon Satria yang sudah keluar dari kamarnya.


Sicka terduduk di kasurnya sembari menatap kosong kedepan. Bagaimana ini? Aku tidak ingin orang yang aku sayang celaka.


Dan setelah lama Sicka berfikir, Mungkin ini jalan terbaik untuk menyelamatkan Abang dan kak San meskipun nyawaku taruhannya.


<•[💙]•>


Sicka menatap orang di sampingnya, Nggak tau kenapa dia begitu peduli padaku dan ikut membantuku melindungi saudara-saudaraku. Dia lelaki yang ku kenal dengan sebutan si semen basi ini selalu ada disaat aku sedang tak baik-baik saja. Ya, Rionald Bayusendra.


  "Onald lo nggak seharusnya ikut campur urusan gue." ucap Sicka setelah lama terdiam duduk di sampingnya yang tengah mengemudikan mobil milik Satya.


Sicka memanggilnya Onald karena cowok itu sendiri yang memintanya, katanya biar sama dengan Mamanya. Dan katanya juga, cuma orang tertentu yang boleh memanggilnya seperti itu.


Jujur saja Sicka takut dia kenapa-napa jika dia ikut bersamanya saat ini. Tadi pagi saat Sicka sudah berhasil membujuk Satria untuk tak memakai mobil Satya, tiba-tiba Rion di depan rumahnya dan memaksa ikut dengan rencananya.


Ya rencana Sicka untuk menyelamatkan saudara-saudaranya dengan cara bertukar mobil. Sicka berpikiran pasti para Om-om kemarin itu mengintai mereka sejak lama dan sudah mengetahui mobil mana yang akan dipakai oleh kakak kakaknya. Maka itu, Sicka sangat berusaha keras membujuk Satria untuk tak memakai mobil Satya.


  "Apapun itu gue bakal sama lo." ucapnya yang terdengar sangat dingin di telinga Sicka. Dia sangat fokus mengendarai mobil yang saat ini berada di jalur puncak. Kakak-kakaknya pergi ke Bandung melalui jalur puncak dan itu sudah menjadi kebiasaan.


Jalanan nampak sepi disini meskipun Sicka dapat melihat pemandangan indah di kanan jalan dimana dataran rendah terlihat begitu indah apalagi semuanya terlihat kecil. Ya jelas karena mereka sekarang berada di puncak. Tapi jurang disini sedikit curam, Sicka jadi takut membayangkan terjatuh ke situ.


Dorr dorr


Sicka begitu kaget dengan suara tembakan itu begitu juga Rion yang di sampingnya. Ditambah mobil kini mulai oleng mungkin tembakan tadi mengenai ban mobil.


Brakk


Sicka berusaha agar tetap tenang saat mobil yang dia tumpangi terdorong ke depan akibat tubrukan dari belakang. Sungguh rencana Om-om itu sungguh kejam yang ingin mencelakai kakak kakaknya di sini. Sicka melihat sekeliling dan kenapa hanya ada mobilnya dan juga mobil Om-om itu saja? Sicka sungguh takut kali ini.


  "Lo tenang Rin, kita bakal baik-baik aja." Dalam situasi seperti ini Rion masih mencoba menenangkan Sicka dan cewek itu tanggapi dengan anggukan.


Rion masih mencoba menyetabilkan mobil yang masih oleng ini, namun lagi-lagi mobil Om-om itu menubruk lagi hingga kini mobil yang mereka tumpangi berada di tepi jurang.


  "Onald hiks ... kita mati nih kalo jatoh situ, Onald gimana ini hiks ..." Sicka mulai menangis dengan keras.


"Tenang okay? Ada gue disini bakal lindungi lo. Sekarang lo tarik napas pelan\-pelan lalu keluarin. Pikirin kalo kita bakal baik\-baik aja, dari awal niat kita baik pasti Allah bakal nyelametin kita." perkataannya membuat Sicka sedikit tenang.


Brakk


Sicka berteriak keras saat mobil ini jatuh ke jurang menabrak pohon-pohon kecil yang tumbuh di pinggiran, guncangan guncangan pun turut serta mereka alami. Hingga tangan Rion menggenggam Sicka erat, saat Sicka menoleh menatap Rion, cowok itu juga menatapnya dengan pandangan yang mengatakan 'ada gue'. Dan saat itu juga mobil menghantam keras pohon besar di depan yang membuat Sicka terantuk keras ke dashboard mobil. Setelah itu semuanya gelap.