
**Aku akan tetap mencintaimu, bahkan jika dunia ini berubah.
•{ The Protector** }•
"Yah Bun, Rin berangkat. Doain Rin sama yang lain selamat sampai tujuan ya?"
Sicka menyalimi tangan bunda dan ayah bergantian sebelum masuk ke mobil Bang Satria. Meskipun ucapannya tak mendapat sahutan dari keduanya, Sicka tetap senang karena mereka mengangguk singkat untuk membalas ucapannya. Sicka sih berharap mereka akan membalas, 'Itu pasti dong! Do'a ayah sama bunda selalu menyertaimu, Nak', nyatanya ekspetasi tak sebagus realita bukan?
Sicka berjalan menuju mobil dimana ada bang Satria, Bang Satya dan Kak San yang sudah di dalam mobil menunggunya. Rasanya begitu bahagia sekali, saat Bang Satria memerintah Sicka untuk berangkat bersama meski San tidak suka akan hal itu.
"NON RIN!!" Tangan Sicka yang ingin membuka pintu belakang mobil terhenti saat mami memanggilnya. Sicka menoleh dan mami sudah berada di depannya memberinya paper bag.
"Ini apa Mam?" tanya Sicka bingung sembari mencoba membukanya, tapi tangannya ditahan oleh Mami.
"Ini brownis coklat kesukaan kamu, ntar kamu makan pas di bus ya? Sekarang kamu masuk mobil, jangan buat Tuan Putri marah karena nungguin kamu." Sicka pun tersenyum dan mengangguk, menyalimi tangan Bi Sum lalu segera masuk ke mobil.
<•[💙]•>
Sesampainya di sekolah, Sicka keluar dari mobil diikuti semua tatapan dari siswa-siswi SIS. Mungkin mereka heran kenapa pembantu ikut menebeng sama majikannya.
Sicka tidak peduli hal itu, dia memilih mengeluarkan koper yang dia bawa lalu berpamitan dengan Bang Satria juga Satya. San sudah pergi menghampiri teman-temannya sejak tadi.
Satria menatap adik kecilnya itu, "Jaga diri baik-baik dek, jangan lupa makan. Dan jangan ikut lomba yang bikin lo capek." Lelaki itu mengacak rambut Sicka, gadis itu tertawa senang. Sedangkan Satya, dia melongo heran dengan tingkah kembarannya itu. Tapi tak ayal dia juga ikut tersenyum tipis.
"Kalo gitu Rin mau ke Kimi sama temen yang lain ya, Bang? Dadaaaaa!" Sicka berjalan menggunakan tongkatnya dan tangan kirinya menyeret kopernya, setelah lamanya dia memakai tongkat, gadis itu mulai terbiasa menggunakan tongkat.
Sesampainya Sicka di gerombolan teman-temannya, Sicka menyapa yang dibalas oleh temannya.
"Jadi gini guys, gue dapet info dari pak Antok kalo kita naik bus 6 dan gabungan sama anak IPS lima. Dan disitu kalian dibebaskan memilih teman duduk," Semuanya mengangguk paham mendengarkan Adit yang memberitahu.
"Eh tuh bisnya! Kuy kita segera masuk!" Semua teman\-teman Sicka dan juga anak IPS lima segera masuk ke bus. Sicka memilih masuk paling akhir, karena dia pasti akan tersenggol\-senggol jika dia ikut berdesakan.
Kimi yang hendak merangkul Sicka tiba-tiba tertarik yang membuatnya menabrak dada bidang seseorang. Kimi menatap orang yang menarik tangannya itu, dan wajahnya berubah menjadi jengkel.
"Lo apa apaan sih narik narik gue!!! Nih lagi pake megang tangan gue, lepasin nggak!!" Kimi berteriak keras yang membuat Sicka yang tadinya berjalan di depan menoleh. Sicka pun ikut terkejut, dia segera melangkah mendekat ke arah Kimi.
"Heh ngapain lo megang\-megang tangan Kimi?" Sicka memasang wajah galak.
"Sorry, gue pinjem temen lo buat temen duduk sebelah gue pulang pergi." ucap orang itu membuat Kimi makin naik pitam, bahkan mereka sudah menjadi pusat perhatian karena hanya mereka bertiga yang belum naik ke bus. Guru pendamping pun tak mengurusi karena Brian adalah anak dari donatur SIS.
Sicka yang ingin membantu Kimi harus urung karena murid-murid lain sudah mulai protes agar mereka segera naik bus. Dan dengan sangat sangat terpaksa Kimi harus ikut Brian di bus 1.
Sicka memasuki bus tersebut dan mulai mencari tempat duduk.
"Sicka, sebelahnya Rion masih kosong. Kayaknya dia nggak keberatan lo duduk situ." ucap salah satu anak IPS lima.
Di barisan nomor tiga dari pintu belakang, Rion hanya tersenyum tipis dan memberi instruksi untuk Sicka segera duduk. Gadis itupun tersenyum lalu melangkah pelan menuju kursi belakang.
Rion berdiri dari duduknya untuk mempersilahkan Sicka masuk ke kursi dekat jendela, setelah gadis itu duduk dengan nyaman dia pun ikut duduk. Bus pun mulai berjalan.
Sicka melepas jaket yang dia pakai lalu dia gelar dipangkuannya. Dia menoleh ke samping dan mendapati Rion yang memperhatikannya.
"Lo nggak peka banget deh Nald!" Rion mengernyit tanda tak mengerti maksud ucapan Sicka.
"Tadi pas gue nyari tempat duduk." ucap Sicka yang tahu kalau Rion itu tidak mengerti maksud ucapannya tadi.
Rion terkekeh, dia mengelus rambut Sicka yang dibiarkan gadis itu terurai, "Tanpa gue tawar harusnya lo tau, kalo cuma lo yang boleh duduk sebelah gue."
Sicka mendelik, "Ya mana gue tau? Kan lo nggak bilang!"
"Sekarang yang nggak peka siapa? Gue atau elo?" tanya Rion dengan wajah yang menyebalkan menurut Sicka.
"Ya\-ya elo lahh, masa gue? Dih yang bener aja!" Sicka merengut kesal sambil bersidekap dada. Rion tertawa tanpa suara, karena kalau orang tau dia tengah tertawa bisa bahaya. Makin nambah lagi fans nya nanti.
"Iya iya gue yang nggak peka, cewek selalu bener dan peka." ucap Rion mengalah.
Sontak saja Sicka tersenyum puas akan perkataan Rion, membuat lelaki itu makin gemas saja.
Suasana bus 6 sangatlah ramai karena anak bahasa dan IPS lima yang sama-sama disebut kelas paling berisik. Mereka karaokean, ada yang bersorak-sorai, ada juga yang mencoba mendiamkan mereka.
Sedangkan Sicka, dia lebih memilih menatap ke jendela sembari mendengarkan murottal lewat earphone di telinganya. Dia selalu mengingat apa kata Dhea, 'Dimanapun lo berada, inget Allah juga. Apalagi kalo lagi di jalan, semoga aja kita dilindungi dan terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan.' begitulah ucapan Dhea ketika mereka habis mengajar anak-anak komplek.
Rion, lelaki itu terus memperhatikan gadis dengan seragam Pramuka lengkap yang sama sepertinya dengan seksama. Dia berpikir apakah Relinnya itu merasa bosan duduk dengannya? Andai saja Rion orang yang pandai mencairkan suasana.
Saat tiba-tiba kepala Sicka jatuh tertunduk, lelaki itu dapat menyimpulkan bahwa Sicka sedang mengantuk. Dia menyentuh bahu Sicka membuat gadis itu menoleh dengan mata gadis itu yang menyipit seperti orang mengantuk.
Tanpa mengatakan apapun Rion meletakkan kepala Sicka di bahunya, "Kenapa nggak tidur tadi malem?"
Dalam kantuknya Sicka masih bisa mendengar bahkan dia mengernyit, kenapa Rion bisa tau kalau dia tidak tidur semalam. Sicka enggan menjawab, jadi dia lebih memilih diam lalu memejamkan matanya.
Tak mendapat respon, lelaki itu menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah Sicka. Gadis itu sudah mulai terlelap nyaman di bahunya. Perlahan tangan Rion melepas earphone yang ada di telinga gadis itu lalu dipindahkan ke telinganya. Lelaki itu terkejut saat mendengar apa yang didengar oleh Sicka, ternyata itu murottal Al Quran.
Senyum tipis terukir di bibir lelaki itu, Relinnya memang beda. Tidak salah dia menjatuhkan hati dan cintanya kepada Sicka. Tapi masalahnya apakah Rion akan menerima Sicka jika Sicka bukan lagi Sicka yang sekarang?
Sebenarnya Sicka tidak tidur, dia hanya memejamkan matanya saja. Berada di dekat Rion membuat jantungnya tidak baik-baik saja. Dan selalu yang berada dipikiran Sicka saat mengetahui Rion menyukainya, apakah lelaki itu akan terus menyukainya yang bisa saja berubah?
Dia tidak tidur semalam karena depresinya kambuh lagi, dan dia harus terjaga semalaman karena harus menahan sesuatu yang hendak mengambil alih kesadarannya. Maka dari itu apakah Rion akan tetap mau mencintainya? Sicka takut kalau Rion juga akan menjauhinya bahkan membencinya karena itu.