
Waktu begitu cepat berlalu, lima tahun sudah Sicka tak menampakkan dirinya di depan keluarga dan sahabatnya. Ada yang tau dimana dia sekarang? Dia berada di salah satu kota kecil di Jawa tengah yaitu Kudus, bagian pegunungan dekat dengan makam sunan Muria, tepatnya dia di desa Colo.
Ada hal yang disukai gadis itu ditempat yang ditinggalinya sekarang. Dia lebih mengenal adat istiadat orang Jawa, mendalami Islam dan sering melihat peziarah yang hilir mudik di situ.
Mengingat bagaimana kehidupannya lima tahun lalu dia meringis, karena hal itu adalah luka lama dan kembali mengingatkan kejadian dimana dia yang menyelamatkan San dan berakhir dengan tubuhnya yang sudah dijamah. Tanpa sadar dia memeluk tubuhnya sendiri.
Betapa terpuruknya dia dan merasa hina, tapi karena cinta dan kasih sayang dari kakek neneknya dan sudah sabar menemaninya dimasa dia mengalami gangguan jiwa membuatnya sadar bahwa hidupnya masih beruntung. Dan juga karena faktor lingkungan yang dia tempati sekarang membuatnya jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
Sriyani melihat Sicka yang duduk termenung sembari melihat layar ponselnya. Perlahan dia mendekati Sicka dan duduk di samping cucunya itu.
Sicka yang menyadari kehadiran neneknya langsung meletakkan ponselnya dan tersenyum kepada Sriyani.
"Kamu kangen?" tanya Sriyani yang membuat Sicka sedikit tersentak tapi akhirnya mengangguk juga.
Sriyani tersenyum lalu mengelus kepala Sicka dengan lembut. Sicka cucunya yang dia kenal adalah orang periang dulunya dibalik masalah yang dia hadapi. Tapi sekarang Sicka sudah berbeda semenjak dia sembuh dari gangguan jiwanya. Dia lebih pendiam dan tidak banyak bicara.
"Rin, dua hari lagi kembaranmu nikah. Mbah Uti dapet kabar dari orangnya Mbah Kung. Kali ini kamu mau balik ke Jakarta lagi atau mau disini dulu?" tanya Sriyani hati\-hati, dia takut cucunya kembali sedih dan mengingat masa lalunya yang buruk.
"Menurut Mbah uti gimana?" tanya Sicka balik dengan senyum tipis di wajahnya.
"*Kabi**h balik neng kuwe nduk, sak karepmu*. Kalo memang pengen ya silakan, nanti bareng Mbah Uti sama Mbah Kung." jawab Sriyani. \(*Semua kembali ke kamu Nduk. Terserah kamu*\)
Sicka terdiam, dia ingin tapi dia belum siap bertemu dengan mereka. Dia takut kehadirannya akan dicaci maki lagi oleh mereka. Rasa takut masih ada dihatinya.
"Kamu bisa pikir nanti Rin. Katanya sahabat kamu juga bakal nikah loh!" Ucapan Sriyani barusan membuat Sicka langsung menatap cepat ke neneknya.
"Serius? Kimi mau nikah sama siapa Uti?" Raut wajah Sicka benar\-benar penasaran.
Sriyani tertawa, "Aneh kamu Rin, kan kamu bisa tau dia lewat sosmed kan?Mbah Uti mana tau dia nikah sama siapa, Mbah uti cuma tau dia mau nikah itu aja."
Sicka langsung meraih ponselnya kembali lalu mulai membuka aplikasi instagram milik Kimi. Sicka sudah lama tak membuka ig nya dengan akun lama, karena dia benar-benar ingin menjauh dari mereka semua saat itu. Tapi sekarang demi mengetahui tentang sahabatnya itu dia kembali log in ig nya dengan akun lama.
Sicka harus menunggu lama karena notifikasi begitu banyak masuk dan membuat Ig nya ngelag seketika. Sriyani yang masih menemaninya itu langsung berdiri karena masih ada pekerjaan yang dia buat.
"Rin nenek ke dapur dulu ya mau buat kue buat kembaranmu besok. Kalau kamu sudah siap ikut ke Jakarta, kamu bisa beresin baju-baju kamu." Sicka hanya mengangguk. Lalu Sriyani pun melangkah keluar kamar Sicka.
Sicka kembali fokus ke layar ponselnya, hingga senyum terbit dari wajahnya, "Masih sama deh lo Kim. Apa apa selalu lo posting di ig." Dia tertawa kecil. Lalu jarinya kembari menggulir ke foto-foto Kimi berikutnya dimana Kimi tengah berdiri dan disebelahnya ada Brian yang menunduk.
" 'Siap siap gue tendang lo'. Hahaha, dih si Kimi macannya nggak ilang-ilang. Nggak nyangka candaan pas kemah dulu jadi nyata, Si Kimi mau nikah sama Brian haha,"
Lalu Sicka pun melihat DM-man dari Kimi yang berada paling atas diantara DM yang lain dan DM dari Kimi juga baru empat hari lalu. Sicka pun membuka nya lalu mulai membaca.
Kim.arinder
Hai Rin, ini udah pesen yang kesekian kalinya gue kirim ke elo. Entah kenapa gue yakin banget suatu saat lo bakal aktif lagi pake akun ig ini. Jadi gini, abis si Sandriana kembaran lo itu nikah gue juga ikut nyusul nikah. Si Brian tuh nyebelin banget tauk Rin, eh itu skip aja. Gue harap pas nikahan gue lo dateng ya. Dirumah gue, gue bakal anggep itu hadiah nikahan gue yang paling spesial jika lo mau dateng. Dan oh iya btw si semen basi dia makin kadaluarsa dan tambahhhhh dingin anjerr. Nah makanya buruan lo balik ye anak gajah
Tanpa sadar dia menangis karena ternyata Kimi begitu menyayanginya sampai kehadirannya di hari nikah begitu di anggap spesial. Dan apa itu?Rion makin kadaluarsa? Maksudnya keras kaya semen yang bener-bener udah nggak bisa dipakai lagi? Apakah itu karena dia? Sicka benar-benar merasa bersalah.
"Maafin aku ya semua hiks ... Aku belum siap ketemu kalian. Aku terlalu takut ..." lirih Sicka, entah kenapa takut untuk melihat mereka dan berbeda saat dia bersama kumpulan remaja disini. Jujur saja remaja desa di sini tidak pernah memandangnya sebelah mata hanya karena Sicka pernah mengalami gangguan jiwa. Justru mereka lah yang menjadi temannya saat Sicka yang waktu itu.
Tpi bagaimanapun, dia juga harus datang. Karena dia sudah tidak datang di pernikahan Satya dan Satria tiga tahun lalu. Dia harus menyiapkan keberaniannya untuk kembali bertemu dengan mereka.
<•[💙]•>
Suasana pernikahan sangat kentara sekali di salah satu gedung yang sudah disewa untuk satu hari penuh itu. Banyak orang yang hilir mudik menghampiri mempelai yang tengah berdiri di pelaminan menyalami tamu-tamu.
Seorang gadis dengan kebaya abu-abu dan berjilbab itu ragu untuk memasuki gedung itu. Dia pun merogoh ponselnya di dalam Sling bag yang dia sampirkan dibahu.
Lalu mulai men- dial salah satu nomor,
"Assalamualaikum Uti," Sicka kini beralih tempat ke pojok dinding dekat pintu masuk gedung.
"*Waalaikumsalam Rin, ada apa*?" tanya Sriyani sedikit berteriak di sana karena suasana gedung yang ramai terlalu meredam suara.
"Rin ada di depan pintu masuk uti, tapi Rin takut. Uti bisa jemput Rin nggak?" Sicka benar\-benar merasakan tubuhnya yang panas dingin, tubuhnya juga sedikit gemetar.
"Iya uti, maakasih yaa," Sicka memutus sambungan telepon lalu kembali memasukkannya ke dalam tas. Kini dia tengah celingak celinguk sembari menggenggam kado untuk San dan juga Brandon.
Tiba-tiba dari pintu keluar anak kecil sekitar umur dua tahun yang tengah merangkak tanpa ada orang yang mengawasi. Sicka pun berjalan menghampiri anak kecil laki-laki itu.
Sicka menggendong batita itu, " Hai boy, kenapa kamu keluar sendirian hm? Kalo kamu kenapa-napa gimana?" Sicka bertanya sambil menciumi pipi batita itu.
"Hihihi uarrrrr uarrr!!" Batita itu tertawa sambil berucap yang tidak diketahui oleh Sicka.
"Duh kamu ngomong apasih *boy*?Tante nggak paham nih." Sicka tertawa lalu kembali menciumi wajah batita itu.
"Rin udah lama?" Suara Sastroharja membuat Sicka segera menoleh lalu setelah lelaki paruh baya itu sudah berada di samping Sicka dia terkejut dengan batita yang digendongan Sicka.
"Loh Saga kok bisa sama kamu?" Sicka mengernyit saat Mbah kung nya menyebut nama Saga.
"Saga? Dia namanya Saga, Kung?" Sastro mengangguk.
"Yaudah kita masuk ke dalam aja. Tapi kamu udah siap kan?udah siap ketemu mereka?" Sicka diam sejenak lalu mengangguk.
<•[💙]•>
"Selamat ya," ucap seorang cowok kepada kedua mempelai yang kini sudah turun dari pelaminan lalu bergabung di salah satu meja yang terdapat beberapa temannya dulu di SIS.
Brandon tersenyum sambil menarik kursi untuk San yang kini menjadi istrinya. Kemudian dia menatap cowok yang barusan memberikan ucapan selamat untuknya.
"Thanks ya udah dateng, btw senyum kenapa? Rasanya lo nggak ikhlas banget dateng ke nikahan gue." ucap Brandon sedikit kesal melihat wajah datar cowok itu.
"Ceilehh kaya kagak tau dia aja begimana. Si Rion kan emang semen basi." Kimi yang tadi sibuk makan kini berceletuk. Rion mendengus kesal ke arah Kimi.
"Makasih ya, Yon, gue kira lo nggak dateng karena gue mikir lo masih benci sama gue." ucap San sedikit tak enak.
"Nggak, yang lalu biar lalu. Sekarang kita semua temen." Balas Rion cuek lalu meminum minumannya.
Semua disitu mengangguk setuju. Kejadian bertahun lalu biarlah menjadi kenangan yang memberikan pelajaran bagi mereka. Kini mereka semua sudah menjadi teman. Disini mereka semua datang bersama pasangannya, hanya Rion yang datang sendiri.
"Gimana bisnis kuliner lo Bro?" tanya Ken yang sedari tadi sibuk dengan kekasihnya kepada Rion.
"Baik aja."
"Lahh bukannya dia kerja di kantor bapaknye?" tanya Alex.
"Iya gue kerja di kantor bokap, cuma bisnis ini sampingan." jelas Rion singkat dan mereka semua pun mengangguk.
Hingga sampai sebuah pekikan dari Aurin membuat semua mata menatap ke seorang gadis berjilbab yang tengah menggendong seorang batita.
"AYAH!! SICKA UDAH PULANG!"