
**Dimana pun kau berada
Aku tak bisa mengungkapkan perasaanku
Hanya sekedar ucapan terima kasih atas cinta ini, Sickarina ...
•{ The Protector** }•
Mereka semua terduduk tanpa ada yang berbicara satu patah katapun. Mereka tengah menunggu dua orang yang begitu penting di keluarga mereka. Mereka keluarga Sinegar tengah berkumpul untuk membahasa masalah di keluarga Afkar.
Tampak lelaki dan wanita yang sudah berumur tapi masih nampak segar dan sehat memasuki ruangan pertemuan keluarga dengan wajah yang tak bisa ditebak.
Kehadiran keduanya langsung disambut oleh semua anggota keluarga Sinegar. Lelaki dan wanita berumur itu adalah Sastroharja Sinegar dan Sriyani, orang tertua sekaligus ayah dari Afkar dan ketiga adiknya.
Sastroharja duduk bersebelahan dengan istrinya menghadap anak-anaknya serta menantunya yang tengah menunduk takut. Bagaimanapun mereka begitu segan dengan pria berumur itu.
"Sudah ku bilang bukan, jika kalian tidak menginginkannya kalian serahkan dia padaku. Lihat apa yang terjadi sekarang? Itulah boomerang yang diluncurkan oleh anak itu untuk menyerang kalian." Sastro angkat bicara dengan suara tegasnya.
"Aku tak pernah mengajarkan kalian untuk mengucilkan anggota keluarga kalian." Sriyani ikut berbicara.
"Tapi Yah bukan maks–"
"Diam Afkar!" potong Sastroharja cepat dengan mengangkat tangannya. "Aku tanya kepadamu, apa hal yang jauh lebih berharga di dalam hidupmu seandainya harta tidak pernah ada di kehidupan ini?"
"Bukan untuk Afkar saja tapi untuk kalian juga." Lanjut Sastroharja.
Mereka semua diam lalu kemudian menjawab, "Keluarga." dengan bersamaan.
Sriyani tersenyum kecut, "Yakin keluarga?"
Mereka diam.
Sastroharja menghela nafas, "Baiklah, untuk urusan media televisi aku akan mengurusnya demi nama perusahaan kalian agar tetap bersih dari ini semua."
"Dan kamu Afkar, anakmu akan aku bawa bersamaku."
Afkar dan Aurin yang mendengar itu membelalakkan matanya, "Jangan bawa Sicka, Yah, biarkan Aurin menjaganya untuk kali ini." pinta Aurin dengan air mata yang sudah berlinang.
"Sudah terlambat, sekarang kita pergi, Pak." ajak Sriyani yang langsung di angguki oleh Sastroharja.
Mereka semua memandang kepergian orang tua itu. Selama ini Sastroharja tinggal jauh dari kota besar, mereka lebih memilih tinggal di daerah pedesaan yang menurutnya sangat bagus. Sastroharja tidak memberitahu dimana dia tinggal sekarang demi kebaikannya dan juga istrinya. Dia tahu jika anak-anaknya mengetahui dia tinggal, mereka akan terus menerornya untuk segera membagi harta warisan.
Hal dunia adalah sementara tapi sangat menghancurkan bila tak bijak. Semoga setelah ini mereka sadar bahwa kesalahan mereka sangatlah fatal, itulah harapan Sastroharja dan juga Sriyani.
<•[💙]•>
Wajahnya nampak berseri kali ini tidak seperti hari kemarin yang tak menunjukkan gairah hidupnya. Dia membawa sebuket coklat idaman Relinnya dan dengan langkah pasti dia melangkahkan kakinya menuju salah satu kamar dimana Relinnya berada.
Rion akan terlihat senang bila tengah mengunjungi Relinnya. Dia pun mulai membuka kenop pintu lalu melangkah masuk.
Betapa terkejutnya saat dia melihat kamar bernuansa putih itu bersih tak berpenghuni. Dia segera mengelilingi ruangan itu, memeriksa kamar mandi tapi tak mendapatkan sosok perempuan yang dia cintai.
Jantungnya berdegup kencang dengan pikiran-pikiran buruk di kepalanya tapi dia mencoba menepisnya. Mungkin Sicka tengah di taman, pikirnya. Setelah sampai di taman dia tak mendapati Sicka. Dia memutar langkahnya menyusuri seluruh rumah sakit ini. Tapi tetap saja tidak ada. Relinnya hilang.
Rion terduduk dan mengusap wajahnya kasar, buket coklat yang dibawanya tadi kini sudah berserakan di sampingnya. Dia benar-benar kalut dengan pikirannya.
"Loh kamu temannya Sickarina bukan?" Rion segera mendongak karena mengetahui kalau itu adalah suara suster yang merawat Sicka.
Rion segera berdiri, "Sus, Sicka dimana?Kenapa dia nggak ada di kamarnya?" tanya Rion cepat.
"Dia ..." Suster itu tampak ragu untuk mengatakannya.
"Dia dimana sus?" tanya Rion lagi.
"Kemana?" tanya Rion dengan lirih.
Suster itu menggeleng tanda dia tak tahu, "Pihak rumah sakit tidak tahu kemana Sicka dibawa."
Apa lagi ini? Rion mengerang dalam hati.
Kenapa saat dia ingin menjadi seseorang yang dibutuhkan oleh Sicka tapi malah seperti ini? Lalu kemana Sicka dibawa pergi? Apakah dia tidak di beri kesempatan untuk ikut merawat Sicka sampai sembuh?
Dia harus pergi ke rumah Sicka saat ini. Mungkin Sicka masih di rumahnya. Atau mungkin memang sudah pergi, entahlah Rion begitu frustasi malam ini.
<•[💙]•>
Suasana yang dulu selalu riang dan penuh tawa meskipun tanpa satu kehadiran seseorang kini hanya saling diam di ruang tamu. Ya mereka adalah keluarga Afkar.
Mereka yang tak pernah menganggap sosok Sickarina gadis lemah yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang keluarganya. Dia anak terakhir yang tak di inginkan, padahal biasanya anak terakhir selalu mendapat perhatian dan kasih sayang penuh dari keluarga.
Tapi ini hidup Sicka, dia tak pantas mendapatkan hal itu. Bagi Sicka dia tak pantas mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Baginya mungkin ini jalan hidupnya yang memang harus seperti itu, hidup tanpa cinta dari keluarganya bahkan dari siapapun.
Menyakitkan memang, tapi Sicka bisa apa untuk melawan takdir yang diberikan oleh sang pencipta kecuali menerima dengan ikhlas dan berdo'a agar kebahagiaan datang menghampirinya.
Dan mungkin cara Tuhan seperti ini, dengan membuat Sicka lupa akan semua rasa sakit yang pernah dia alami dari orang-orang yang menyakitinya dan memulainya dari awal. Seperti seorang bayi yang baru dilahirkan.
Tok tok tok
"Dimana Sickarina?" Suara sopran dari cowok yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah membuat mereka tersadar dari lamunan masing-masing.
Satya berdiri lalu menghampiri Rion dengan wajah geram. Satya geram karena Rion masuk dengan tidak sopan meskipun dia tadi mengetuk pintu.
Satya mencengkram kerah baju Rion dengan erat, "Lo nggak ada sopan-sopannya ya? Main nyelonong masuk aja!" ucap Satya dengan wajah yang memerah. Memang dibanding Satria, Satya lebih tempramen.
Rion menaikkan alis kirinya dan sudut kanan bibirnya terangkat ke atas. Hal itu membuat dia terlihat menyebalkan dimata Satya.
"Gue peduli?"
"Kurangajar lo–"
"Satya berhenti! Jangan membuat keributan!" Satya yang hendak melayangkan pukulannya ke Rion itu urung ketika Afkar menghentikannya.
Satya melepas cengkramannya kasar lalu kembali duduk dan Rion yang masih berdiri. Rasanya dia tak sudi untuk ikut duduk bersama mereka yang kini memasang wajah penuh sesal.
"Kamu mencari Sicka? Maaf Nak, Sicka tidak ada disini. Kakek dan neneknya sudah membawanya pergi yang bahkan kami tidak tau dimana mereka sekarang." jelas Afkar yang kini kembali menitikkan air mata.
Rion berdecih melihat itu, rasanya hal ini tak sebanding dengan apa yang dirasakan Sicka dulu yang menerima perlakuan kasar mereka.
Tanpa mengatakan apapun Rion melangkah keluar dan mulai mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya.
Tapi dia menghentikan motornya saat memasuki kawasan taman komplek. Dia turun dari motor dan duduk di salah satu kursi taman. Dia menundukkan wajahnya, tubuhnya terasa lemas mendengar bahwa Sicka pergi tanpa ada yang tau dia dimana.
Dia bahkan belum sempat memberikan buket coklat yang dulunya di idam-idamkan oleh Sicka. Dia kembali memutar ingatan dimana dia pernah menghabiskan waktu berdua saat Sicka yang tengah bersedih ketika putus dengan Brandon.
"Onald, gue pengen banget dikasi buket coklat sama orang yang cinta sama gue, abis itu dia berlutut sambil ngucap, 'Yang ini buket coklat yang kamu minta. Dimakan ya, biar lemak kamu nambah dan nggak kurus kering gini' duh pasti sweet banget tuh."
Celotehan Sicka itu terngiang jelas di telinganya. Dia bahkan belum sempat berpamitan dengan Sicka kalau saja dia tau Relinnya itu akan pergi. Dia bahkan belum sempat menggenggam erat tangannya dan memberi kecupan kecil di keningnya.
Hingga rintik hujan turun perlahan dan lama-lama menjadi deras membasahi tubuhnya. Hujan seolah tau bahwa malam ini dia kehilangan gadis yang dia cintai. Entah dibelahan bumi mana Sicka sekarang berada, Rion tidak tau.
Punggungnya naik turun dan air mata mengalir bercampur rintik sendu hujan. Ya dia menangis, dibawah hujan yang mungkin bisa menyamarkan air matanya. Dia tidak menyangka bahwa Sicka akan menjadi kelemahannya. Dia benar-benar tak percaya bahwa untuk pertama kalinya dia jatuh cinta dengan seorang gadis yang kuat seperti Sicka. Tapi dia juga bersyukur, karena cinta yang diberikan sang pencipta jatuh kepada orang yang tepat.
"Sampai kapan pun gue bakal cinta sama lo Relin. Gue bakal tunggu dan cari dimana lo berada ... " ucapnya beradu dengan suara kerasnya hujan menghantam tanah.
"*Anything for you My dear Sickarina*."