Love, Will Not Go Away

Love, Will Not Go Away
Rencana menikah 1



"sayang, kalau kamu capek langsung istrahat aja, nanti barang-barangnya biar bik tuti yang beresin besok". Kata alka setelah kami masuk ke kamar.


"oh iya, aku juga capek banget, aku mau mandi dan langsung tidur". Jawabku.


"ok".


"kamu ngapain masih disini??". Tanyaku heran karna alka malah duduk santai di ranjang, hendak membuka kemejanya.


"mau istrahat lah". Jawab alka santai.


"kok di sini??". Tanyaku lagi.


"trus dimana??" tanya alka balik kepadaku.


"yah di kamar kamu lah, inikan kamar aku??". Jelasku


"salah, ini kamarku dan sekarang jadi kamar kita sayang". Jawab alka.


"apaan sih, kita kan belum jadi suami istri". Jelasku lagi.


"hahhaa, tapi kita udah melakukan hal yang seharusnya di lakukan suami istrikan??". Tanya Alka langsung membuatku malu.


"...."


"udah sana mandi, bau tau kamu tuh,,hahaha".ledek alka sambil mencubit hidungku.


Aku langsung lari kekamar mandi, dan mengunci pintu, takut tiba-tiba alka masuk,


"yaampun kenapa alka makin dewasa malah semakin mesum si, kan aku malu banget" gerutuku dalam hati.


Selesai mandi aku keluar dan melihat alka masih bermain dengan ponselnya di atas ranjang, menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur.


"udah selesai?? Sini". Titah alka sambil menepuk kasur di sebelahnya.


"kamu lagi ngapain??". Tanyaku


"biasa urusan kantor". Jawab alka lalu meletakkan ponselnya di nakas.


"sayang??" panggil alka.


"hemz??" jawabku.


"ayo kita menikah" ucapnya.


"apa, apa kamu serius??".


"kalau aku gak serius, aku gak mungkin bawa kamu pulang". Jawabnya.


"Alka, tapi aku belum pernah ketemu keluarga kamu, dan emang keluarga kamu bisa terima aku??"


"tapi ibuku pasti tidak merestui, apalagi kan elena sangat mencintaimu".


"itu kita fikirkan besok saja, besok aku akan mengajak kamu menemui orang tuaku, dan malamnya kita pergi kerumah ibu kamu, terlepas ibu kamu merestui atau tidak aku tidak perduli, aku akan tetap menikahimu". Kata alka tegas.


"apa kamu gila, bagaimana kita bisa menikah tanpa restu ibu??".


"lalu mau bagaimana lagi, dia mau tidak mau tetap harus merestui, apa dia mau anaknya nanti hamil di luar nikah, kalau aku,,jelas tidak mau wanitaku hamil anakku tanpa status yang jelas".


"apa maksudmu??" aku benar-benar tidak faham maksud dari perkataan alka.


"emy sayang, kita sudah melakukan hubungan badan, dan aku tidak pakai pengaman, siapa yang tahu kalau kamu nanti hamil, pasti hamil lah, karna kualitas bibit dari laki-laki sepertiku itu terbaik".


"alka, kenapa kamu baru ingetin aku, iya juga gimana kalau aku hamil, aku belum kerja aku belum menata karir ku disini,lagian kenapa si kamu gak pakai pengaman". Ucapku jengkel


"hei hei sayang, memangnya aku bisa tau kalau aku bakalan ketemu kamu di jerman, dan bakalan melakukannya sama kamu".


"kalau gitu kenapa kamu lakuin". Jawabku kesal.


"habisnya kamu bilang kamu tidak mencintaiku, jadi aku emosi, lagian kamu juga setuju tuh waktu aku bilang bakalan ngelakuin itu".


"y-yah tapi kan, biasanya laki-laki selalu bawa tuh barang seperti itu".


"hei emely agustin sepertinya aku perlu mengintrogasimu".


"ke-kenapa??".


"pergaulan seperti apa yang kamu jalani selama di jerman hah, kenapa kamu bisa tahu tentang laki-laki yang membawa barang seperti itu, kamu tidak macam-macamkan??". Tanya alka curiga.


"apa maksudmu, aku hanya sering dengar teman perempuanku selalu bercerita saat dia akan berhubungan dengan pacarnya, pacarnya pasti bawa pengaman terus, aku gak mungkin macam-macam kamu kan udah ngerasain sendiri, kamu itu yang pertama buat aku" jawabku cemberut karna alka mencurigaiku.


"hahaaha iya sayang, aku hanya bercanda kok, lagian kamu fikir aku ini laki-laki macam apa, sampai selalu bawa pengaman segala,udahlah tidur, jangan ngobrol terus, tadi katanya capek".


"emz iya, selamat malam".


"selamat malam" alka mencium keningku dan mematikan lampu lalu kami tidur.


Entah apa yang menanti kami di hari esok, tapi yang pasti hari ini kami bahagia.


.


.


.


.


. Bersambung...