
Drttttt. Drttttt. Drttttt.
Tampak bunyi ponsel Prasetya bergetar dalam saku celananya ia langsung merogoh saku celana seragamnya yang ternyata yang menelponnya Ana (Mamahnya) ia pun segera menekan tombol hijau ke atas lalu meletakkan ponselnya di telinganya.
”halo, Mah” sapa Prasetya.
Ana : halo, Pras. Mamah ada yang mau disampaikan sama kamu tapi maaf ganggu kamu ya.
”oh enggak kok, Mah ini juga lagi nggak ada gurunya. Kenapa Mah?” tanya Prasetya.
Ana : iya gini soal yang kemarin.
”perjodohan?” tebak Prasetya.
Ana : iya.
”kenapa?”.
Ana : Papah kamu sudah janjian sama istrinya temennya Papah katanya nanti malam jam 7 kita di undang makan malam sekalian membahas tentang perjodohan kamu sama anak teman Papah.
”nanti malam, Mah?”.
Ana : iya. Kamu bisa kan sayang?
Prasetya tampan berpikir sejenak memikirkan jawaban yang tepat untuk menanggapi pertanyaan ibunya.
”iya udah Mah”.
Ana : yaudah apa?.
”iya bisa”.
Ana : alhamdulillah kalo kamu bisa. Yaudah nanti biar Mamah yang siapin semuanya buat kamu ya.
”terserah Mamah aja”.
Ana : iya, yaudah Mamah tutup teleponnya ya.
”hm”.
Panggilan telepon pun terputus Prasetya langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku seragamnya lalu menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangannya.
”nape lu?” tanya Ravindra teman satu bangkunya.
Seketika Prasetya membenarkan posisi duduknya menjadi duduk bersender pada kursi kayu.
Ravindra masih menunggu jawaban dari sahabatnya ini ia tatap wajah lesu Prasetya.
”nyokap gue mau jodohin gue sama temennya bokap” kata Prasetya pada akhirnya.
Ravindra membelalakan matanya, ”dijodohin?” bisik Ravindra pelan.
Prasetya mengangguk.
Prasetya mengangkat bahunya, ”gue juga nggak tau kenapa tiba-tiba dijodohin”.
Prasetya menatap kosong ke depan memikirkan siapa yang akan dikenalkan orang tuanya kepadanya nanti malam.
”semoga ceweknya gak sama sifatnya sama Vivi” gumam Prasetya.
***
Sementara itu, Aulia sedang berjalan menuju toilet untuk mengangkat telepon dari ibunya yang sudah menelponnya lebih dari 10 kali.
”Mamah, ngapain sih nelpon gue jam pelajaran gini” gerutu Aulia.
Sampai ditoilet Aulia langsung menekan tombol hijau keatas dan meletakkannya di telinga.
”halo, Mah”.
Fasyilla : halo sayang kamu udah buka chat Mamah belum?”.
”hah? Emangnya Mamah kirim pesan ke Adek?”.
Fasyilla : iya tadi Mamah kirim pesan ke kamu coba liat deh sekarang.
”ck Mamah ah, yaudah bentar Adek buka dulu chatnya Mamah”.
Aulia pun membuka chat dari Fasyilla ia membacanya dengan teliti hingga pada akhirnya Aulia membelalakan matanya.
”perjodohan?!”.
Kemudian Aulia mengangkat kembali telepon Mamah.
”halo Mah. Mah ini maksudnya gimana ya? Perjodohan? Maksud Mamah Adek mau dijodohin gitu?”.
Fasyilla : itu permintaan Papah kamu sayang, Mamah cuma mau nyampein aja nanti malam kamu, Mamah sama Kakak udah janjian buat makan malam dan bahas soal perjodohan kamu.
”Mah, tapi kan aku belum bilang 'setuju' Mamah nggak bisa nyimpulin gini dong”.
Fasyilla : kamu ketemu dulu sama anaknya teman Papah ya. Mamah sama Papah gak maksain kamu buat harus terima perjodohan ini sayang.
Aulia tampak geram sendiri mengetahui orang tuanya mempersetujui perjodohan ini tanpa menanyakan terlebih dahulu padanya.
Fasyilla : gimana sayang mau ya, nanti Mamah siapin semua pakaian kamu, kamu tinggal pake aja.
“ck yaudah deh iya. Iya Mah.
Fasyilla : makasih sayang.
”hm”.
Setelahnya sambungan telepon itu terputus Aulia segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku roknya dan berjalan kembali menuju ke kelasnya yang sedang berlangsungnya pembelajaran.
*****