
Kini mobil yang membawa Prasetya sudah sampai di apartemen milik Vivi. Apartemen ini sengaja dibeli oleh Vivi untuk menyekap Prasetya. Kemudian Vivi memperingatkan ketiga anak buahnya untuk membawa Prasetya masuk kedalam apartemen miliknya.
Setelah beberapa menit menaiki lift untuk menuju ke lantai paling atas sekarang mereka sudah sampai dikamar yang sudah Vivi siapkan untuk Prasetya.
Andra, Mayor dan Lestat membantu membawa Prasetya masuk kedalam kamar itu yang pasti secara kasar dan brutal. Sungguh keterlaluan sekali Vivi kepada Prasetya yang jelas-jelas sudah tidak lagi mempunyai energi untuk bergerak. Ia dengan terpaksa menurut apa saja yang Vivi perintahkan kepada tiga anak buahnya terhadap dirinya.
”cepetan ikat dia” perintah Vivi yang langsung diangguki oleh ketiga anak buahnya itu.
”sedetik lagi kamu akan jadi milik aku seutuhnya Prasetya Arkana” gumam Vivi dalam hati.
”sudah bos” lapor Andra kepada Vivi.
”bagus sekarang kalian bertiga boleh keluar dari kamar” perintah Vivi lalu ketiga anak buahnya itu keluar dari kamar tersebut menuju luar untuk berjaga-jaga disana.
Sementara itu, Vivi berjalan mendekat ke arah Prasetya namun Prasetya malah memundurkan badannya menjauh dari Vivi. Lalu semakin mendekat ke arah Prasetya dan membuka kain yang membungkam mulut Prasetya.
”anj*ng mau lo apa?!” sentak Prasetya saat kain yang membungkam mulutnya terlepas.
Sedangkan yang dibentak nampaknya biasa saja tidak ada raut takut diwajahnya saat Prasetya membentaknya.
”hey jangan kasar gitu dong” ucap Vivi seolah membuat suaranya menjadi lembut.
”sebentar lagi kan kamu bakal jadi milik aku seutuhnya Pras” Vivi mendekatkan bibirnya pada telinga Prasetya, ”tunggu aja kamu pasti jadi milik aku seutuhnya, Pras dan jika itu tidak terjadi aku bakalan membuat kamu pergi untuk selamanya” ucap Vivi kemudian tertawa jahat.
”sakit j*wa lo!!!!” cerca Prasetya.
”lepasin gue, Vi!!!!!” sentak Prasetya sekali lagi namun bentakkannya tak diindahkan oleh Vivi.
”aku yakin sekarang sahabat-sahabat kamu dan orang tua kamu lagi nyariin kamu di gudang tua itu termasuk juga calon tunangan kamu” ucap Vivi membuat Prasetya seketika mengingat Aulia. Bagaimana keadaan gadis itu saat mengetahui jika dirinya menghilang?.
***
Prasetya sungguh kesakitan sekali dengan perlakuan ketiga anak buahnya terhadapnya. Entah mengapa setelah kepergian Vivi dari kamar itu dengan cepat tiga anak buahnya ini masuk ke dalam kamar itu dan tanpa berpikir panjang mengeroyok Prasetya tanpa henti. Namun Prasetya masih bisa bertahan atas semua pukulan yang dilontarkan oleh ketiga anak buah Vivi yang bisa dibilang brutal.
Kini Prasetya terkulai lemah dikasurnya dengan keadaan yang sama kedua kaki dan tangannya masih terikat begitu kuat. Entah bagaimana keadaan pergelangan tangan dan kakinya ini mungkin sudah memerah dan lebam diarea pergelangan tangan dan kakinya.
Disaat keadaan tubuhnya yang sudah tidak memungkinkan untuk ia kabur dari apartemen itu Prasetya memilih untuk merapalkan do'a-do'a yang ia bisa.
”Tuhan jika ini hari terakhir saya tolong sampaikan rasa sayang saya kepada semua orang yang saya sayangi. Dan tolong kirim seseorang untuk membantu saya dalam penderitaan ini, Tuhan” do'a Prasetya dalam hatinya dan setelahnya pandangannya langsung menjadi buram lalu ia pingsan diatas kasur. Membuat tiga anak buah itu berjalan keluar dari kamarnya.
Dan menghampiri Bos-nya, ”Bos dia pingsan Bos” lapor salah satu dari anak buahnya.
Tak ada tampang marah diraut wajahnya melainkan ia malah tersenyum smirk.
”bagus, setelah ini tambah lagi penderitaannya bila perlu buang dia ke jurang” ucap Vivi yang diangguki oleh ketiga anak buahnya.
***
Di sisi lain, tampak Faisal sedang mengotak-atik laptop untuk melacak lewat nomor handphone Vivi yang diberikan oleh Kurniawan tadi kepadanya.
Cukup lama Faisal melacak keberadaan ponsel Vivi sedang berada dimana sampai pada akhirnya Faisal menemukan sebuah hotel ternama yang tiba-tiba muncul di web-nya.
”San, udah ketemu” kata Faisal membuat Kurniawan dengan cepat mendekat ke arahnya.
”dimana Bang?” tanya Kurniawan.
”hotel permata” jawab Faisal.
”hotel permata?” beo Kurniawan. Lantas Faisal menganggukkan kepalanya.
”lo hubungin semua temen lo yang kemarin sekarang juga kita rundingan buat rencana penyelamatan Prasetya” perintah Faisal yang diangguki oleh Kurniawan. Lalu Kurniawan langsung merogoh handphonenya dan membuka aplikasi hijau untuk menghubungi temannya untuk datang ke Markas Vendos.
***
Tiga jam sudah Faisal, Kurniawan serta teman-temannya berunding untuk rencana penyelamatan Prasetya yang diyakini ia berada dihotel Permata dan itu lokasinya sangat jauh dari Markas Vendos butuh beberapa jam untuk sampai kesana.
”jauh banget sih” keluh Bima langsung mendapatkan geplakan tangan dari Ashilla membuat sang empu meringis pelan.
”kalo nggak mau ikut bantuin yaudah lo pulang aja ngeluh mulu” protes Ashilla.
”iya iya maaf”.
”jadi lo semu paham kan?” tanya Faisal kepada mereka semua.
Sontak mereka semua mengangguk paham, ”paham!!!” serentak mereka menjawab.
”oke sekarang kita berangkat dan tugas untuk Adrian lo lapor ke polisi” ucap Faisal pada Adrian yang langsung mendapat anggukan kepala dari pria itu.
”yang cewek-cewek ikut tapi jangan keluar mobil saat belum aja konfirmasi dari gue” ucap Faisal lantas Ashilla juga Aulia menganggukkan kepalanya.
”oke nggak usah berlama-lama lagi kita langsung berangkat. San lo bawa mobil yang satunya ya dan Ashilla dan Ray ikut ke mobil San. Terus sisanya dimobil satunya” jelas Faisal.
”kita bawa tiga mobil, Bang?” tanya Kurniawan yang diangguki oleh Faisal.
Setelahnya mereka semua pergi menuju ke mobil mereka masing-masing lalu meninggalkan Markas Vendos itu menuju ke Hotel Permata. Faisal sengaja tidak membawa anggotanya namun Faisal susah menyiapkan anggota dari luar yang pasti lebih kuat dan berbahaya untuk dikalahkan.
*****