Lipra (Aulia & Prasetya)

Lipra (Aulia & Prasetya)
BAB 24 Menyelamatkan



     Sekarang ini Faisal, Kurniawan juga teman-temannya sudah sampai didekat Hotel Permata. Memang sedikit menjauh dari Hotel Permata karena Faisal takut jika kedatangannya diketahui oleh mereka. FYI mengapa tiba-tiba Faisal melacak handphone Vivi? Pasti bertanya-tanya banget ini. Yaudah dijelaskan terlebih dahulu. Jadi kemarin setelah Aulia datang ke Markas Vendos dan menunjukkan foto kepada mereka semua yang foto itu ternyata adalah foto Prasetya yang sedang terkapar di sebuah kasur putih dengan tangan dan kaki terikat. Dan Kurniawan menyadari nomor asing yang mengirimkan foto itu ke ponselnya Aulia. Setelah Aulia pulang dari Markas Vendos Kurniawan menyuruh Faisal untuk melacak nomor asing tersebut. Dan ketemu yang ternyata adalah nomor Vivi Kurniawan sudah menduga jika hilangnya Prasetya ada kaitannya dengan Vivi. Tanpa pikir panjang Kurniawan menyuruh Faisal lagi untuk melacak nomor ponsel Vivi untuk mengetahui gadis itu sedang berada dimana dan akhirnya Faisal menemukan keberadaan Vivi yang ternyata sedang di Hotel Permata yang terletaknya lumayan jauh dari Markas Vendos.


     Jadilah sekarang mereka semua sampai di Hotel Permata yang pastinya mereka memarkir kendaraan mereka sedikit menjauh dari Hotel tersebut.


     ”inget baik-baik yang gue konfirmasi ke kalian berdua” ucap Faisal pada Ashilla juga Aulia yang langsung diangguki paham oleh mereka berdua.


     Faisal pun mengkode untuk keempat pria remaja untuk turun dan mengikuti langkahnya menuju pintu belakang Hotel Permata.


     ”Bang, emang ada apa pintu belakangnya?” tanya Kurniawan berbisik.


     ”ada tapi kecil gue yakin bakal lebih nggak ketahuan kalo kita lewat pintu belakang” ucap Faisal Kurniawan pun memilih mengikuti intruksi yang diberikan oleh Faisal.


     ”lha Bang lo bawa anggota? Kirain cuma kita doang” ucap Kurniawan.


     ”iyalah emang gue bisa apa tanpa bantuan anggota gue? Ya nggak bisa” ucap Faisal.


     ”lo bertiga mencar cari keberadaan Pras ada dimana biar gue Sanja sama anggota gue yang lawan penculiknya” intruksi Faisal yang diangguki oleh keempat pria remaja itu. Lalu Rassya, Bima dan Ravindra mencar dari Faisal dan Kurniawan mereka masuk terlebih dahulu ke dalam Hotel. Sementara Faisal dan Kurniawan menghampiri anggota yang ditugaskan oleh Faisal.


     ”lo semua siap?” Faisal memastikan semua anggotanya.


     ”siap!!!!” serentak anggotanya menjawab.


     ”bagus, sekarang kita masuk langsung grebek nih Hotel gue yakin nih Hotel nggak ada penghuni lain selain orang yang lagi nyekap Pras” ucap Faisal.


     Akhirnya Faisal dan Kurniawan sweta anggotanya Faisal masuk kedalam Hotel Permata untuk menggrebek penculil Pras.


     Hingga pada akhirnya mereka menemukan tiga orang yang mereka anak buah dari bosnya segere mereka menghampiri tiga orang yang berjaga di depan pintu kamar Hotel.


     Bugh!!!


     Bugh!!!


     Bugh!!!


     Anggota Faisal menghabisi tiga orang anak buah yang sedang berjaga di depan pintu kamar Hotel. Segera Kurniawan menyuruh ketiga temannya untuk masuk kedalam kamarnya namun ternyata pintu kamar itu sudah dikunci dari dalam.


     ”pintunya dikunci, Wan” kata Bima.


     ”kita dobrak” ucap Faisal.


     “San, dobrak pintunya” suruh Faisal segera Kurniawan memposisikan tubuhnya untuk mendobrak pintu kamar itu.


     Hingga pada akhirnya pintu kamar itu terbuka lebar membuat kaitannya rusak akibat dobrakkan Kurniawan yang terlalu keras.


     Kurniawan memasuki kamar itu dan mencari-cari dimana Prasetya berada.


     “Pras!!!!!!! Lo dimana?” teriak Kurniawan memanggil nama Prasetya. Seketika Kurniawan mendengar suara gesekan sesuatu entah apa itu Kurniawan pun tidak mengetahuinya. Kurniawan mengedarkan pandangannya mencari-cari dari mana asal suara gesekan itu berasal hingga pandangannya melihat sebuah pintu kamar yang tertutup rapat. Kurniawan berjalan ke arah pintu itu dan mengetuk-ngetuk pintu itu seraya membuka-buka knop pintu yang juga dikunci dari dalam.


     Kurniawan berdecak, ”dikunci juga”.


     ”Wan, ini kunci apaan?” tanya Bima dengan menunjukkan sebuah kunci yang tergeletak di atas meja.


     ”kayaknya kunci kamar ini deh” ucap Kurniawan lalu mengambil kunci itu dari tangan Bima dan mencoba membuka pintu kamar tersebut namun malah tak kunjung terbuka.


     ”bukan kunci kamar ini” ucap Kurniawan memberikan kembali kunci itu kepada Bima.


     ”terus mau dobrak lagi?” tanya Bima yang diangguki oleh Kurniawan.


     Dengan gerakan cepat Kurniawan mendobrak pintu kamar itu dengan keras sekali percobaan berhasil membuat pintu itu terbuka.


     Dan Kurniawan pun masuk kedalam kamar itu diikuti oleh ketiga temannya dibelakangnya. Saat sudah berada dikamar itu Kurniawan mengedarkan pandangannya hingga pandangan matanya berhenti pada seorang pria yang sedang terkulai lemah diatas kasur putih dengan seorang gadis disebelahnya.


     ”Prasetya!!!!! Vivi!!!!!!” teriak Kurniawan. Sontak Kurniawan langsung menghampiri mereka berdua.


     ”lo apain temen gue hah!!!!” sentak Kurniawan kepada Vivi.


     ”cewek bangsat!!!!” maki Kurniawan pada Vivi.


     Lantas yang disentak tidak merasa bersalah sama sekali namun malah tersenyum smirk sambil menatap Kurniawan lalu detik kemudian Vivi bertepuk tangan.


     ”bagus banget sih kalian rela-relain kesini cuma hanya mau liat sahabat kalian yang hampir sekarat ini” ucap Vivi dengan entengnya.


     Lalu Vivi hendak memanggil ketiga anak buahnya untuk menghabisi Kurniawan juga ketiga temannya ini namun yang dipanggil tidak kunjung menghampirinya.


     ”kok mereka nggak nyamperin gue” ucap Vivi dalam hati heran mengapa anak buahnya tak menggubris panggilannya.


     Sontak Kurniawan tersenyum sarkas kepada Vivi, ”nyari anak buah lo ya?” tanya Kurniawan yang pura-pura tidak tahu.


     ”ada kok anak buah lo ada didepan tapi udah pingsan semuanya, gimana dong?”.


     Membuat Vivi bergedik ngeri ia terperangkap disini dan tak bisa keluar untuk melarikan dirinya tetapi bukan Vivi namanya jika tidak bisa mengelabuhi musuhnya. Vivi berlari dengan kencangnya menuju luar.


     Bima dan Rassya yang hendak mengejar Vivi ditahan oleh Kurniawan, ”nggak dikejar ada Bang Ical sama anggotanya biar mereka yang urus Vivi dan anak buahnya sekarang kita lepasin ikatannya Pras” ucap Kurniawan yang langsung melepas ikatan tali yang mengikat kedua kakinya setelah ikatan tali dikakinya terlepas kemudian Kurniawan berlalu melepas ikatan dikedua tangan yang dipikir Kurniawan hanya tali yang mengikat tangannya ternyata borgol besi yang terlihat jelas borgol besi itu menyakiti pergelangan tangan Prasetya hingga pergelangan tangannya sekarang menjadi sangat memerah.


     Sontak ketiga temannya menoleh ke arah Kurniawan, ”diborgol?” beo mereka bertiga yang diangguki oleh Kurniawan.


     ”terus gimana ngelepasinnya?” tanya Rassya Kurniawan mengangkat bahunya.


     Bima mengamati setiap lubang yang ada diborgol hingga pada akhirnya ia berceletuk, ”eh bentar deh lubang kunci borgol itu sama persis sama kunci yang gue temui di atas meja tadi” celetuk Bima tiba-tiba.


     ”yaudah coba lo ambil, Bim kuncinya” ucap Kurniawan yang diangguki oleh Bima. Lalu Bima keluar dan mengambil kunci tersebut kemudian masuk kembali ke dalam dan memberikan kunci itu kepada Kurniawan.


     ”nih, Wan” ucap Bima seraya memberikan kunci tersebut ketangan Kurniawan lalu Kurniawan mencoba membuka borgolan itu dari tangan Prasetya yang pada akhirnya borgol itu terlepas dari kedua tangan Prasetya.


     ”nah akhirnya lepas juga” ucap Kurniawan lega.


     ”yaudah gih buruan bawa Pras keluar dari sini” suruh Ravindra diangguki ketiga temannya termasuk Kurniawan lalu mereka berempat menggotong tubuh Prasetya yang sedang pingsan.


     ***


     Akhirnya mereka berempat berhasil membawa Prasetya keluar dari Hotel Permata itu menuju ke mobil Faisal yang terdapat Ashilla juga Aulia didalam sana.


     ”Ray, itu Prasetya kan?” tunjuk Ashilla pada keempat temannya yang sedang menggotong seorang pria remaja yang sedang pingsan.


     Aulia mengikuti arah tunjuk Ashilla lalu memicingkan matanya hingga terlihat jelas pandangannya.


     Kurniawan dan ketiga temannya membawa Prasetya menuju mobil Faisal hingga sampai didepan pintu mobilnya Kurniawan mengetuk-ngetuk kaca mobil itu yang dibukakan langsung oleh Ashilla dan betapa terkejutnya Aulia saat melihat siapa lelaki yang sedang digotong oleh Kurniawan dan ketiga temannya seketika Aulia tidak bisa menahan air matanya lagi saat itu juga Aulia menangis dalam diam.


     ”Pras?!” gumam Aulia dalam hatinya.


     ”Bang Ical, nyuruh gue bawa mobilnya dia buat bawa Pras ke rumah sakit. Kunci mobilnya ada di lo nggak?” tanya Kurniawan.


     Sontak Ashilla merogoh saku-nya mencari kunci mobil Faisal, ”oh ada ada. Nih” ucap Ashilla seraya memberikan kunci mobil kepada Prasetya.


     Ashilla membantu membukakan pintu mobil dan memasukkan Prasetya kedalam mobil itu. Lalu ketiga temannya ikut masuk kedalam mobil dengan Kurniawan yang mengemudi mobil Faisal menuju ke rumah sakit. Kurniawan menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata pikirannya kacau ia hancur melihat sahabatnya ditemukan dalam keadaan yang sangat-sangat memprihatinkan. Seketika Kurniawan mengeluarkan air matanya tanpa sadar ia pun cepat-cepat menghapus air matanya sebelum diketahui oleh Ravindra yang duduk disebelah kursi kemudi.


     ***


     Kini Prasetya dilarikan ke ruang UGD untuk ditangani oleh dokter dan semua teman-temannya menunggunya didepan ruang UGD untuk menunggu konfirmasi dari dokter yang bertugas menangani Prasetya.


     Menit kemudian dokter yang bertugas menangani Prasetya keluar dari ruang UGD membuat semua menghampiri dokter tersebut dan menanyakan bagaimana kondisi Prasetya sekarang.


     ”gimana kondisi teman saya, Dok?” tanya Kurniawan pada dokter tersebut.


     Dokter itu menghela napas panjang sebelum mengucapkan kalimatnya kepada pria yang ada didepannya ini.


     ”apa kamu keluarga dari pasien?” tanya Dokter tersebut.


     ”bukan dok, tapi saya bisa menjadi wali-nya” ucap Kurniawan.


     Dokter tersebut mengangguk lalu menjelaskan apa yang sudah terjadi pada Prasetya, ”pasien mengalami cedera hati yang cukup parah karena ada bagian yang memar juga sobekan sehingga terjadi pendarahan didaerah tersebut. Untuk itu pasien perlu segera dioperasi untuk menghentikan pendarahan yang terjadi” jelas dokter tersebut.


     Semua yang ada disana sontak syok atas penjelasan yang dokter sampaikan kepada Kurniawan. Begitu juga dengan Aulia yang langsung menangis sejadi-jadinya dipelukan Ashilla gadis itu pun juga merasa hancur mendengar kondisi kakak sepupunya yang sangat memprihatinkan.


     ”nanti tolong kamu meminta persetujuan kedua orang tua pasien untuk segera dilakukan operasi” ucap Dokter tersebut.


     ”baik dok nanti saya sampaikan” kata Kurniawan.


     ”baik kalau begitu saya pergi dulu” pamit dokter.


     ”iya terima kasih” ucap Kurniawan yang diangguki oleh dokter tersebut lalu dokter itu berlalu dari ruang UGD.


     Mereka semua duduk terdiam tetapi tidak Aulia gadis itu masih tetap menangis diperlukan Ashilla.


     Kemudian Kurniawan berdiri dan pergi menuju ke taman yang ada dirumah sakit itu hendak menelpon Ana ibu dari Prasetya.


     ***


     Kurniawan duduk di kursi taman rumah sakit lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ana menginformasikan kepada kedua orang tuanya.


     Tampak berdering ponselnya hingga pada akhirnya sambungan telepon itu terhubung dengan Ana.


     ”halo, Tan” sapa Kurniawan pada Ana.


     Ana : iya, Wan. Gimana kamu udah temuin Pras?.


     Nampak Kurniawan terdiam sebentar lalu berkata, ”saya sekarang lagi ada dirumah sakit Tan....” Kurniawan menjeda kalimatnya sebentar, ”Prasetya ada dirumah sakit Tan” beritahu Kurniawan.


     Ana : rumah sakit? Rumah sakit mana Tante sama Om langsung kesana.


     ”rumah sakit Permata Tan. Tapi sebelum Tante kesini ada yang mau Kurniawan obrolin sama Tante soal Prasetya” ucap Kurniawan.


     Kurniawan pun menjelaskan semua yang sudah terjadi pada Prasetya beberapa hari ini seketika membuat Ana menangis histeris dipelukan suaminya. Kurniawan juga menjelaskan kondisi Prasetya kepada Arka dan Ana.


     *****