
Mereka semua dibuat bingung dengan ucapan Adrian barusan kini mereka semua terdiam entah apa yang dipikirkan oleh mereka semua.
Seketika Kurniawan membuka suaranya setelah tadi diam, “lo ada hubungan apa sama mereka?” tanya Kurniawan.
Adrian membenarkan posisi duduknya, ”gue dulu disuruh ikut kerja sama paksa sama mereka” jawab Adrian.
”kerja sama paksa?” beo Kurniawan. Adrian mengangguk, ”lo inget waktu hubungan persahabatan gue sama Pras renggang?” Kurniawan mengangguk, ”di situ dia paksa gue buat kerja sama mereka” ucap Adrian.
”kenapa lo nggak nolak aja, Dri” kata Ravindra menyahuti pembicaraan mereka berdua.
“gue pernah hampir nolak terus dia ngancam bakal sakitin sahabat gue Nayra” kata Adrian mengakui semuanya.
”kasian banget lo, Dri pasti tertekan banget” gumam Aulia dalam hati yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.
”gue sebenarnya udah lama pengen keluar dari tekanan Vivi, Wan. Jujur gue tertekan banget harus turuti semua permintaan serta rencana yang Vivi rancang dan ngebuat gue tambah merasa bersalah sama kalian gue pengen kayak dulu kumpul-kumpul bareng kalian bercanda bareng tanpa ada beban apapun” jelas Adrian mengakui semuanya.
”asal kalian tau kenapa gue nggak ada niatan sedikit pun buat nyamperin kalian atau sekedar bilang maaf sama kalian bukan karena gue nggak mau gue sebenarnya mau cuma ancaman-ancaman yang Vivi lontarin ke gue tiap hari itu sebabnya gue jaga jarak sama kalian semua”.
”dan untuk menebus kesalahan gue. Gue siap buat bantuin kalian untuk cari keberadaan, Pras” final Adrian.
Kurniawan tersenyum, puas dengan pengakuan Adrian yang selama ini ia tunggu.
Kurniawan menepuk pundak Adrian dua kali, ”gue seneng akhirnya lo mau cerita sama kita” ucap Kurniawan bangga.
“pelukan dong!!!“ seru Bima. Seketika mereka semua berdiri dan saling berpelukan membentuk lingkaran kecil dalam ruang tamu Adrian.
***
Di sisi lain, Vivi sedang menikmati kemenangannya di gudang tua itu serta merasa sangat senang dengan pencapaiannya yang tinggal satu langkah lagi.
”gue udah tau lo, Dri. Lo nggak bakal ngelakuin rencana gue yang udah gue tugasin ke lo alhasil gue panggil anak buah gue untuk melancarkan aksi gue kemarin“ ucap Vivi dengan bangganya yang ternyata Prasetya mendengar apa yang barusan ia bilang.
”jadi selama ini dia cuma jadiin Adrian robotnya dia? Sialan!!!” gumam Prasetya dalam hatinya.
”selama ini jadi Adrian tertekan? Gue berarti udah salah sangka sama dia” gumamnya lagi.
”gue harus bisa keluar dari sini gue nggak mau jadi korban kemurkaannya dia” kata Prasetya berusaha menggoyang-goyangkan tangannya yang terborgol walau sekarang pergelangan tangannya terasa sakit karena gesekan dari besi borgol itu. Sesekali Prasetya meringis karena merasakan sakit dipergelangan tangannya.
”kayaknya ini semua udah direncanain sama Vivi dengan rapi, sampai-sampai gue nggak bisa ngelepasin borgol ini” ucap Prasetya. Karena tangannya terborgol ke belakang sebab itu ia terlalu sulit untuk melepaskan dirinya dari borgol itu juga tali yang mengikat kedua kakinya.
Prasetya seketika memberhentikan pergerakannya melepaskan dirinya dan melihat ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang dan ternyata salah satu dari anak buahnya Vivi masuk kedalam. Tanpa disangka salah satu anak buahnya itu melepaskan ikatan tali yang mengikat di kedua kakinya. Namun ia tidak melepas borgolan ditangan Prasetya.
Seketika Prasetya terkejut dengan perlakuan anak buahnya yang menyeretnya keluar kamar dan menghadapkannya kepada Vivi yang sedang duduk bersantai dikursi kebesarannya.
”bos” panggil anak buahnya yang diketahui namanya adalah Andra.
”ada apa?” tanya Vivi.
”sudah saya lepaskan ikatannya. Sekarang bos mau apa?” tanya Andra.
”bagus, sekarang lo sama kedua anak buah lo bawa dia ke mobil” perintah Vivi yang langsung diangguki oleh Andra. Setelahnya Andra menyeret kembali Prasetya menuju tempat dimana kedua anak buahnya Andra berada.
”Mayor, Lestat” panggil Andra pada keduanya seketika yang disebut namanya itu langsung berdiri menghadapnya.
”ada apa bos?” tanya Mayor.
”ada perintah dari bos untuk membawa anak ini pergi dari sini” ucap Andra.
”baik bos” ucap Mayor juga Lestat berbarengan.
Kemudian Andra mendorong kasar tubuh Prasetya ke arah Mayor dan Lestat yang langsung ditangkapnya.
”masukin di jok belakang mobil sekarang juga kita bawa dia pergi bersama bos” perintah Andra yang langsung menyeret Prasetya keluar menuju ke mobilnya mereka. Prasetya yang kesakitan sendiri hanya bisa diam dan mengikuti apa yang mereka semua inginkan.
***
Prasetya dimasukkan kedalam jok belakang mobilnya dan membungkam mulutnya dengan sapu tangan yang diikatkan melingkar ke kepalanya membuatnya tak bisa untuk bicara lalu mereka menutup jok belakang itu dan kemudian masuk kedalam mobil.
”udah beres lo berdua udah masukin dia ke jok belakang?” tanya Vivi.
”sudah beres semua bos” jawab kedua anak buahnya.
”bagus” jawab Vivi seraya tersenyum smirk.
Lalu mobil itu melaju meninggalkan gudang tua menunggu tempat yang sudah disiapkan oleh Vivi jauh-jauh hari sebelum ia menyuruh anak buahnya untuk menculik Prasetya.
”setelah ini kamu bakal menjadi milik aku, Pras” ucap Vivi dalam hati seraya tersenyum smirk.
*****