Lipra (Aulia & Prasetya)

Lipra (Aulia & Prasetya)
Episode 02 Bertemu Dia



Pagi itu Aulia datang terlambat diantar supir yang sudah disiapkan oleh Papah nya.


Aulia turun dari mobil dengan tergesa-gesa mengingat hari ini hari pertama ia sekolah karena seminggu yang lalu Aulia baru pindah ke Jakarta.


”Hati-hati Non.” ucap sang supir seraya mengingatkan Aulia untuk berhati-hati.


Sontak Aulia menoleh ke arah supirnya, ”Nggak bisa pak Lia udah terlambat banget ini, Lia masuk dulu ya pak.” ucap Aulia seketika ia langsung berlari ke arah gerbang sekolah barunya.


Ketika sudah sampai gerbang sekolah ternyata gerbang tersebut sudah ditutup oleh satpam penjaga.


”Aduh terlambat kan gue, Kak Fian nih nggak bangunin gue, dia nggak inget apa kalau hari ini gue pertama masuk sekolah.” gerutu Aulia di depan gerbang sekolahnya.


”Telat lo?.”


Aulia yang mendengar suara yang datang dari arah belakang sontak menoleh ke arah sumber suara itu lalu melihat siapa gerangan yang berada dibelakangnya.


”Lo anak baru ya?.”


Aulia mengangguk ragu.


”Ikut gue.”


Aulia tersentak sesaat karena pergelangan tangannya seketika di genggam oleh seorang pria yang dia tak mengenali siapa pria itu, apa dia penculik pikir Aulia.


Tanpa melihat wajah Aulia yang tampak bingung karena dengan tiba-tiba tangannya dipegang oleh pria yang tak ia kenali.


Pria itu menarik tangan Aulia hingga sampai di gerbang samping sekolah yang tak terlalu tinggi dari gerbang yang ada di depan tadi.


Tangan pria itu terlepas dari genggamannya dan sekarang berganti dengan tangannya yang bertumpu untuk membantu Aulia untuk naik ke atas.


Aulia yang tak paham apa maksud pria ini seketika mengernyitkan alisnya melihat apa yang di lakukan pria itu.


”Naik buruan.”


Ucap pria itu yang sama sekali tak dihiraukan oleh Aulia ia tetap menatap pria itu dengan wajah yang penuh tanya.


”Ck, lama banget, mau masuk apa nggak sih.”


Pria itu yang merasa kesal dengan Aulia yang sepertinya tak paham jika pria itu ingin menolongnya untuk masuk ke pelataran sekolah.


”Ya iya.”


”Ya udah ayo.”


Pria itu kembali dengan posisi tangannya yang tadi.


”Tapi gue pake rok.”


”Terus kenapa kalo lo pake rok?.”


“Nanti kalo gue naik lo pasti ngeliat ****** ***** gue kan.”


”Apaan sih gue cuma mau bantuin lo, kenapa mikirnya jadi kayak gitu lo.”


”Ya kan bisa aja lo nyari kesempatan dalam kesempitan.”


“Gue punya pikiran kayak gitu aja enggak.”


”Udah buruan, gue mau ikut ulangan nih hari ini.”


“Iya iya.”


Akhirnya Aulia menuruti apa yang pria itu bilang dan naik ke tumpuan tangan pria itu dengan cepat dan setelahnya Aulia pun sampai di pelataran sekolah barunya bersama pria itu pastinya.


”Eh lo mau kemana?.”


Tanya Aulia seketika melihat pria itu akan beranjak dari tempatnya.


”Gue mau ke kelaslah.”


Jawab pria itu dengan sinis


”Anterin gue dulu di ke ruang tata usaha.”


”Ck, ngerepotin gue aja lo.”


Protes pria itu tetapi tetapi ia mau mengantarkan Aulia ke ruang tata usaha.


Mereka berdua berjalan beriringan seraya menuju ke ruang tata usaha sambil berbincang-bincang.


”Lo anak baru?.”


”Iya elah, tadi kan lo udah bilang gitu ke gue.”


Pria itu mengenyir sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


”Kalo boleh tau lo pindah ke sini kenapa?.”


Tanya pria itu sambil terus berjalan ke arah ruang tata usaha.


”Gue pindah ke sini sih karena bokap gue.”


Ucap Aulia yang seketika membuat pria itu mengernyitkan alisnya bingung.


”Karena bokap lo? Emang bokap lo kenapa?.”


Tanya pria itu seraya menoleh sebentar ke arah Aulia lalu menatap kembali ke depan.


”Bokap gue dipindahin kerja sama atasannya kesini.”


Ucap Aulia yang di jawab oleh pria itu dengan ber oh ria.


Setelahnya mereka berdua sampai di ruang tata usaha.


”Nih ruang tata usaha nya, lo tinggal masuk aja.”


Ucap pria itu yang menyuruh Aulia untuk masuk ke dalam.


”Gue masuk tapi tungguin gue ya.”


”Gue mau ada ulangan ini.”


Protes pria itu setelah mendengarkan ucapan Aulia.


”Sebentar aja.”


Aulia memohon kepada pria itu yang membuat tak tega melihatnya.


Detik kemudian ia menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan permintaan Aulia yang membuat gadis menerbitkan senyum manisnya.


”Yes, thanks.”


”Lo tunggu disini bentar ya gue masuk dulu.


Pria itu mengangguk lagi lalu Aulia memasuki ruang tata usaha tersebut.


Dan menit kemudian Aulia keluar dari ruang tata usaha itu lalu menghampiri pria itu yang sudah menunggunya sedari tadi.


”Udah?.”


”Udah tapi suruh ke ruang kepala sekolah dulu, baru habis itu bisa ke kelas.”


Mendengar itu pria itu sontak menarik tangan Aulia yang lagi-lagi membuat gadis itu tersentak dan mengikuti langkah pria itu yang tak tahu akan kemana.


”Eh lo ngapain sih narik-narik gue.”


Protes Aulia saat tangannya ditarik-tarik lagi oleh orang yang sama sekali ia tak kenal.


Seketika Aulia menghempaskan tangannya dan terlepas tangannya dari cengkraman pria itu.


”Lo mau bawa gue kemana?.”


”Kata lo mau ke ruang kepala sekolah ya gue anterin lah biar urusan gue sama lo cepet kelar dan gue bisa masuk kelas dan ikut ulangan hari ini.”


Aulia yang mengetahui itu sontak mendelikkan mata.


”Tapi nggam nggak usah acara tarik-tarik bisa kan?.”


”Kalo gue nggak tarik lo yang ada gue nambah telat dan nggak bisa ikut ulangan hari ini.”


”Terus emang itu urusan gue?.”


Mendengar ucapan Aulia yang menurutnya nyolot itu seketika ia mendelikkan matanya terkejut melihat sifat gadis dihadapannya ini.


”Lo kok nyolot sih.”


”Gue nggak mungkin nyolot kalo lo nya nggak narik-narik tangan gue, sakit tau nggak?.”


Ringis Aulia yang merasa sedikit sakit di pergelangan tangannya karena pria itu terlalu kencang memegangnya sehingga kukunya ikut menancap di pergelangan tangannya.


”Ya udah gue minta maaf.”


”Hm.”


”Masih mau gue anterin ke ruang kepala sekolah nggak?.”


Aulia mengangguk.


Lalu keduanya pun berjalan beriringan menuju ke ruang kepala sekolah.


Menit kemudian mereka telah sampai di ruang kepala sekolah.


Pria itu mengepalkan tangannya ke arah pintu berniat untuk mengetuknya.


Tok. Tok. Tok.


Pintu itu terbuka memperlihatkan seorang pria bayu baya dengan memakai setelan jas dan juga dasi panjang dan sepatu kerja khas kepala sekolah.


”Selamat pagi pak.”


Pria itu mengucapkan selamat pagi saat pintu sudah terbuka lebar dan memperlihatkan kepala sekolah SMA Saturnus.


”Pagi. Eh Pras kok kamu disini?.”


Tanya bapak kepala sekolah itu kaget.


”Iya pak, saya mau anterin murid baru pak.”


”Mana dia?.”


”Itu pak.”


Tunjuk pria itu yang bernama Pras kepada Aulia, sontak Aulia yang merasa tertunjuk akhirnya mendekat ke arah mereka.


Bapak kepala sekolah itu tersenyum manis pada Aulia.


”Ya sudah pak kalau begitu saya pamit mau ke kelas.”


Pamit Pras yang diangguki kepala oleh bapak kepala sekolah tersebut.


Dan Pras lalu berlalu dari tempat bapak kepala sekolah menuju ke kelasnya.


Aulia yang hanya memandang punggung Pras hingga menghilang dari balik tangga.


”Ayo silakan masuk.”


Ujar bapak kepala sekolah itu mempersilahkan Aulia untuk masuk.


Aulia mengangguk lalu berjalan masuk ke dalam ruangan bapak kepala sekolah itu.


”Silakan duduk dulu saya mau ambil data-data kamu dulu.”


Ujar bapak kepala sekolah itu seraya berjalan menuju mejanya yang terdapat tumpukan map-map yang mana salah satunya berisi data diri Aulia yang diserah orang tuanya seminggu setelah ia pindah.


Setelah mengambil data Aulia bapak kepala sekolah itu kembali dimana Aulia duduk.


Lalu bapak kepala sekolah itu mendudukkan tubuh di sofa yang berhadapan langsung dengan Aulia.


Bapak kepala sekolah itu membuka map yang berisi data diri Aulia.


”Nama kamu Aulia Arayka Fasyilla pindahan dari surabaya, benar?.”


Aulia mengangguk, ”Iya pak benar.”


Lalu bapak kepala sekolah itu menutup kembali map tersebut kemudian menatap manik mata Aulia.


”Oke sekarang kamu bisa langsung ke kelas kamu.”


”Maaf pak, kelas saya dimana ya.”


Tanya Aulia kepada bapak kepala sekolah.


”Oh maaf saya lupa beritahu kamu dimana kelas kamu.”


Bapak kepala sekolah itu tersenyum.


”Kamu diterima di kelas 10 IPA 7 letaknya didekat peradaban kantin.”


“Iya pak terima kasih, kalau begitu saya permisi.”


Bapak kepala sekolah itu mempersilahkan Aulia untuk keluar dan menuju ke kelasnya yang berada didekat kantin, mungkin kedengaran sangat aneh tapi itulah kenyataannya.


Aulia berjalan gontai menuju ke kelasnya.


Saat ia menuju ke kelasnya sorot matanya melihat sesosok pria yang baru saja membuatnya geram. Pras. Ya benar pria itu ada disana tepatnya ia sedang terduduk di lantai depan kelas yang mungkin bersebelahan dengan kelasnya.


Aulia berjalan menghampiri Pras setelah sampai dihadapan Pras ia tidal mengeluarkan suaranya melainkan menatapnya ke Arab bawah yang mana posisinya sekarang seeing terduduk lemas dilantai.


”Ngapain lo disitu?.”


Tanya Aulia yang langsung ditatap balik oleh Pras.


”Dihukum.“


Ucapnya seketika membuat Aulia mengernyitkan alisnya bingung.


...*****...