
Ponsel Aulia berdering ia pun merogoh saku-nya dan melihat siapa yang sedang menelponnya. Nampak nama Ashilla terpampang di layar ponselnya. Ia pun langsung mengangkat telepon tersebut.
”halo, La” sapa Aulia.
”Ray, Pras hilang” ucap Ashilla to the point.
Aulia menghembuskan napasnya panjang, ”gue udah tau, La” kata Aulia.
”udah tau?” beo Ashilla. Aulia pun lantas mengangguk.
”tadi Kurniawan ke rumah gue ngasih tau gue soal hilangnya, Pras” beritahu Aulia.
”terus sekarang Kurniawan lagi sama lo, Ray?” tanya Ashilla.
“iya, ini anaknya ada sama gue” kata Aulia.
”bisa kasih handphone lo ke dia nggak? Gue mau ngomong” ucap Ashilla.
”bisa bentar” Aulia pun memberikan handphone-nya kepada Kurniawan.
”nih, Ashilla mau ngomong” kata Aulia lantas Kurniawan menerima handphone-nya Aulia.
”kenapa, Shill?” tanya Kurniawan.
”lo udah ada info soal keberadaan Pras belum?” tanya Ashilla. Lalu Kurniawan mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.
”lo buka chat gue” kata Kurniawan. Ashilla pun menurut dan ia pun membuka room chat-nya Kurniawan.
”gudang tua?” gumam Ashilla.
Ashilla tampak bingung dengan yang dikirimkan oleh Kurniawan kepadanya.
”maksudnya ini gimana, Wan?” tanya Ashilla meminta penjelasan.
”lo dateng aja ke Markas Abang gue nanti gue share location ke chat lo” kata Kurniawan kemudian mematikan sambungan telepon itu secara sepihak lalu mengembalikan ponsel itu kepada Aulia.
Lalu Kurniawan membuka ponselnya dan mengirimkan share location kepada Ashilla.
Kemudian Kurniawan pamit kepada Aulia beralaskan dia ada urusan penting yang harus ia jalankan.
***
Kini Kurniawan dan Faisal sudah berada di Markas Vendos yang ternyata ada Hana dan Ashilla yang sedang berbincang disana.
”udah nyampek aja lo” kata Kurniawan basa basi.
”basa basi banget sih?! Udah buruan ceritain gue nggak ada waktu banyak ini udah larut” ucap Ashilla.
”oke oke. Kalem nggak usah jutek jutek gitu kek” kata Kurniawan.
Kemudian Kurniawan duduk disebelah Ashilla dan Faisal duduk di sebelah Hana. Mereka mulai menyimak pembicaraan Kurniawan dan Ashilla.
”jadi gini, Shill. Kemarin itu kan gue sama Pras habis ekskul gue lihat seluruh sekolah udah sepi banget nggak ada siapa-siapa kecuali gue sama Pras. Terus habis itu gue nawarin buat Pras pulang bareng gue istilahnya gue anterin dia pulang tapi dia nolak nggak mau waktu itu gue masih bujuk dia terus tapi dia tetep kekeh sama pendiriannya. Yaudah akhirnya gue mutusin buat pulang sendiri gue tinggalin Pras disana sendirian” jelas Kurniawan.
”tapi tadi Bang Faisal lacak keberadaannya Pras ada di daerah rumahnya dan........” Kurniawan menjeda kalimatnya sebentar sebelum melanjutkannya kembali, ”gudang tua” beritahu Kurniawan.
Seketika Ashilla mengingat sesuatu, ”bentar, Wan. Apa lo nggak curiga sama Vivi?” tanya Ashilla.
“Vivi?” beo Kurniawan. Lantas Ashilla menganggukkan kepalanya.
Seketika Kurniawan menepuk jidatnya, ”kenapa gue nggak kepikiran dari tadi sih?!”.
”coba lo telepon dia” suruh Ashilla yang diangguki oleh Kurniawan. Ia pun mengeluarkan ponselnya dalam saku celananya lalu menelpon Vivi.
Nampak ponselnya berdering tetapi tak kunjung ada yang menelponnya Kurniawan pun mencoba lagi untuk menghubunginya.
Kurniawan menggelengkan kepalanya, ”nggak ada jawaban” katanya.
”apa hilangnya Pras ada hubungannya dengan Vivi?” spekulasi Ashilla.
”bisa jadi iya dan bisa jadi juga enggak” jawab Kurniawan.
Seketika Faisal bersuara saat tadi hanya menyimak pembicaraan mereka berdua, ”oke anak-anak sekarang kalian berdua bisa pulang karena sudah larut malam masalah ini bisa besok dilanjutinnya” tutur Faisal sok asik.
”iya bener tuh apa yang dibilang Bang Ical mending kalian berdua pulang dulu ini bisa di handle sama Bang Ical dulu besok kalian bisa ke sini lagi melihat perkembangannya” sahut Hana menuturkan kepada Kurniawan dan Ashilla.
”yaudah deh Bang kalo gitu kita pamit ya” ucap Kurniawan diangguki oleh Faisal dan Hana.
”aku juga Bang” sahut Ashilla.
”kamu dianterin sama Sanja ya. San anterin bahaya kalo cewek pulang sendirian malam-malam begini” ucap Hana diangguki Kurniawan.
”ayo Shill gue anterin lo pulang” ucap Kurniawan diangguki oleh Ashilla.
Setelah itu mereka berdua pun pamit pulang dan meninggalkan Markas Vendos itu.
***
Disisi lain nampak Prasetya terbangun sebab suara pintu dibuka ia mengerjap-ngerjapkan matanya menetralkan pandangannya saat melihat empat orang masuk ke dalam. Seketika Prasetya terkejut siapa yang ada dihadapannya ini.
”Vivi?” gumam Prasetya. Saat melihat gadis itu berjalan ke arahnya.
Vivi tersenyum smirk, ”apa kabar, Prasetya Arkana?” ucap Vivi.
Prasetya menggerak-gerakkan badannya namun tidak bisa karena borgol yang terpasang ditangannya juga tali yang mengikat kedua kakinya membuat Prasetya sulit untuk menggerakkan tubuhnya.
”LEPASIN GUE!!!”.
Vivi tersenyum smirk kembali, “apa lepasin? Nggak bakalan aku lepasin sayang karena nanti kalo aku lepasin kamu bakal pergi lagi sekarang nikmati aja ya prosesnya aku bakal buat kamu jadi milik aku lagi”.
”ambil handphone-nya” perintah Vivi lalu diangguki oleh anak buahnya.
Anak buahnya pun mendekat ke Arah Prasetya dan mencoba mengambil ponselnya disaku celana namun Prasetya dengan cepat menghindar. Anak buahnya pun seketika memukul keras perut Prasetya membuatnya terkulai lemah diatas kasur membuat anak buahnya dengan mudah untuk mengambil ponselnya. Setelah ia ambil ponsel Prasetya lalu anak buahnya itu memberikan ponselnya kepada Vivi.
”hancurin handphone-nya” perintah Vivi pada semua anak buahnya yang langsung diangguki oleh mereka bertiga. Lalu anak buahnya keluar dari situ tersisa Vivi dan juga Prasetya. Vivi mendekat ke arah Prasetya dan berkata, ”sakit ya? Makanya kamu jangan macam-macam sama aku jadi kamu sendiri yang tau akibatnya kan” ucap Vivi lalu meninggalkan Prasetya yang sudah terkulai lemah diatas kasur.
”keterlaluan Vivi” gumam Prasetya dalam hati.
*****