
Aulia turun dari lantai dua rumahnya menuju ke meja makan untuk melakukan aktivasi sarapan sudah ditunggu oleh Kakak dan juga Mamahnya disana.
”selamat pagi, Kakak Mamah” ucap Aulia penuh semangat. Entah mengapa dengan perasaannya pagi hari ini ia hanya merasakan kesenangan didalam hatinya.
”pagi, yuk makan udah Mamah siapin makanan kamu” kata Fasyilla.
Alfian yang merasa heran dengan sikap Adiknya ini pun bertanya, ”tumben semangat banget, habis kesambet apaan?” bukan Aulia yang membalas pertanyaan Kakaknya melainkan Mamahnya yang menyahuti pertanyaan Alfian.
Plak. Fasyilla menggeplak punggung tangan Alfian dengan reflek Alfian menghindar tetapi terlambat punggung tangannya menjadi sasaran geplakan Mamahnya.
”kamu tuh Kak orang Adiknya udah semangat begitu kenapa kamu yang jadi curiga” heran Fasyilla.
”ya curiga aja” kata Alfian.
”sudah-sudah mending sarapan-nya dimakan nanti terlambat” lerai Fasyilla. Lalu mereka bertiga melakukan aktivasi sarapan pagi mereka dengan hikmat dan tenang.
***
Aulia sudah sampai di sekolah Parungga ia melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong kelas untuk menuju ke kelasnya.
Hari ini Aulia sedikit merasa senang ia berjalan penuh dengan langkah semangatnya. Entah mengapa sekarang hatinya seperti ada yang menjaganya.
Aulia memasuki ruang kelasnya dan duduk di bangku sebelah Ashilla gadis itu sedang asyik bermain dengan ponselnya sehingga tidak menyadari kedatangan Aulia. Aulia pun tak memperdulikan itu ia duduk lalu mengeluarkan ponselnya dan berjelajah disana.
Menit kemudian Syaka, Nadia, dan Ayya datang bersamaan masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing. Syaka yang seperti biasa setelah menaruh tasnya langsung mendekat ke meja Ayya dan Nadia. Biasalah para cewek-cewek kalau udah pada ngumpul biasanya ngapain?. Iyap betul gosip. Yang pasti yang mulai duluan adalah Syaka gadis itu sepertinya banyak sekali bahan untuk digosipin bersama kedua sahabatnya.
***
Di sisi lain tepatnya di area rooftop sekolah Parungga terdapat Prasetya, Kurniawan, Ravindra, Rassya, dan juga Bima yang sedang nongkrong ala para cowok.
”nggak ada Adrian kayak ada yang kurang” celetuk Bima.
”ck malah bahas Adrian. Kita tuh diajak nongkrong disini tuh ngapain dah kelas mau masuk ini” ujar Rassya.
”gue mau ngomong sama lo pada” kata Prasetya keempat remaja cowok itu lantas menoleh ke arahnya.
”gue dijodohin sama orang tua gue” sontak Kurniawan, Rassya juga Bima membelalakan mata terkejut atas perkataan Prasetya barusan. Berbeda dengan Ravindra ia biasa saja karena ia sudah mengetahuinya duluan.
”dijodohin!!!” ucap mereka bertiga bersamaan.
Kemudian Prasetya mengangguk mengiyakan.
”lo dijodohin sama siapa emang” tanya Ravindra kemudian.
”Aulia, anak kelas IPA 7” jawab Prasetya to the point.
Nampak Kurniawan membelalakan matanya terkejut dua kali lipat dari tadi bisa-bisanya Prasetya dijodohkan sama sepupunya sendiri.
”serius lo, Pras? Sama Aulia? Anak baru yang kemarin itu?” tanya Kurniawan masih tak percaya. Lantas Prasetya mengangguk lagi.
”terus lo terima perjodohan itu, Pras?” tanya Kurniawan lagi kemudian Prasetya mengangguk lagi.
”udah lo rekrut jadi pacar lo belum?” tanya Bima.
”rekrut apaan anying lo pikir anak orang apaan main rekrut-rekrut gitu” sahut Rassya seraya menggeplak kepala Bima.
Prasetya lantas menggeleng, ”belum sih” katanya.
”yaaa HTS dong lo berdua” sahut Bima.
Ravindra menyenggol siku Prasetya kemudian berbisik ketelinganya, ”takut Vivi tau lo dijodohin sama Aulia? Buat apa Pras? Dia kan udah gak ada hubungan apa-apa sama lo lebih baik lo seriusin dia jangan digantungin anak orang dalam Hubungan Tanpa Status kasian Pras kalo dia udah berharap sama lo gimana” kata Ravindra menyadarkan Prasetya yang terlihat sedikit ragu untuk memulai hubungan kembali tetapi dia juga mulai suka sama Aulia. Gimana dong ini? Pusing dah.
Ravindra menjauhkan kembali bibirnya dari telinga Prasetya lalu menepuk pundak Prasetya dua seraya memberikan semangat kepadanya dibalas Prasetya dengan senyuman tipis.
Kemudian Prasetya menatap kosong kearah depan seraya memikirkan perkataan Ravindra tadi padanya.
”bener juga kata Ravin kenapa gue harus takut kalo suatu saat nanti Vivi tau hubungan gue sama Aulia. Gue harus kasih kepastian buat Aulia” tekad Prasetya dalam hatinya.
*****