Lipra (Aulia & Prasetya)

Lipra (Aulia & Prasetya)
BAB 06 Rasa Yang Perlahan Muncul



Kini Prasetya sudah sampai di pekarangan rumahnya setelah tadi mengantarkan Aulia pulang ke rumahnya dan sekarang ia sedang memarkirkan motornya di garasi rumahnya yang bisa dikatakan luas itu, ia memarkirkan motornya di sebelah mobil Arka (Papahnya) lalu ia mematikan mesin motornya kemudian mencabut kunci kontak setelahnya ia pun turun dari motornya dan berjalan memasuki rumahnya.


     Di ruang tengah terlihat Ana (Mamanya) dan juga Arka (Papahnya) yang sedang duduk sembari menonton televisi Prasetya yang sengaja melihat Papah dan Mamahnya sedang menonton televisi pun menghampiri mereka lalu duduk di sofa single yang ada di ruang tengah.


     ”Mah Pah” panggil Prasetya.


     Ana dan Arka pun menoleh pada anak semata wayangnya itu.


     ”udah pulang kamu sayang?”.


     Tanya Ana basa-basi lalu dijawab dengan anggukan kepala oleh Prasetya.


     ”Mamah basa-basi banget sih Mah, kalo Pras udah disini itu berarti Pras udah pulang Mah”.


     Ucapan Prasetya disambut tawa oleh kedua orang tuanya.


     ”bentar deh, seperti ada yang beda dari wajah kamu”.


     ”beda gimana sih Mah orang biasa aja kok”.


     ”beda aja”.


     ”apaan sih Mah, Mamah nggak jelas banget deh”.


     Seketika Arka (sang Papah) angkat suara yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan antara ibu dan anak, ”sekolah kamu gimana Pras hari ini lancar?”.


     ”lancar lancar aja kok Pah emangnya kenapa ya Pah?”.


     ”tadi Papah dapet laporan kalo kamu tadi pagi telat datang ke sekolah”.


     Seketika Prasetya menjadi bungkam atas pernyataan yang sang Papah lontarkan pada dirinya.


     ”telat dikit aja kok Pah, tadi Pras sempet anterin anak baru dulu ke ruang kepsek”.


     Arka manggut-manggut paham, ”ohh anterin anak baru dulu”.


     ”iya Pah, Papah kenapa sih Pah?”.


     ”nggak apa-apa Papah”.


     ”yaudah Pras ke kamar dulu mau ganti baju”.


     Saat ia ingin bangkit dari duduknya Papahnya kembali menahannya agar tetap disini, ”Pras sebentar Papah mau bicara sama kamu”.


     Sontak Prasetya kembali duduk lagi, ”mau bicara apa Pah?”.


     ”Papah tau kamu sudah tak berhubungan dengan Vivi mantan kamu jadi Papah punya rencana untuk jodohin kamu sama sahabat Papah dulu”.


     Deg!!!


     Prasetya sedikit terkejut atas apa yang Papahnya bicarakan sama dia barusan sebelum Arka membicarakan ini beliau sudah membicarakan ini terlebih dahulu pada istrinya dan di setujui oleh sang istri untuk menjodohkan putranya kepada sahabatnya.


     ”Papah bercanda kan Pah?”.


     ”Papah serius Pras”.


     ”Pras ke kamar dulu, permisi” ucap Prasetya lalu bangkit dari duduknya menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua.


     ”Pah sepertinya anak kita nggak setuju atas keputusan yang Papah ambil”.


     Sang suami mengelus punggung tangan sang istri dan berkata, ”tenang Mah anak teman Papah ini anak baik-baik Papah yakin kok nanti setelah Pras ketemu sama Ray nama anak teman Papah pasti dia bakal setuju”.


     ”Papah serius yakin?” tanya sang istri yang merasa ragu.


     ”serius Mah percaya sama Papah” ucapnya lalu diangguki kepala oleh sang istri.


     ***


     Kini sekarang Prasetya tengah berada di kamarnya merebahkan tubuhnya diranjang kasurnya sembari melepas penat.


     Prasetya melihat ke arah langit-langit kamarnya sembari bergumam, ”gue tadi kenapa ya bisa banget nganterin dia pulang? Inisiatif banget gue, sebelum sebelumnya nggak pernah begini, apa gue mulai suka lagi sama cewek ya?”.


     Prasetya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya lalu membuka lockscreen handphonenya dan menekan aplikasi hijau kemudian ia mencari nomor Ashilla di daftar kontak setelah sudah menemukan nomor Ashilla ia pun menekan kontak Ashilla dan mengetikkan sesuatu di room chatnya.


     Shill.


     Ashilla : apaan?.


     Lo punya nmrnya anak baru itu ga?.


     Ashilla : mau lo buat apaan tuh nmrnya anak baru?.


     Ck tinggal lo jawab aja susah banget.


     Ashilla : punya gue, kenapa?


     Kirim ke gue kontaknya, gue ada urusan ama dia.


     Ashilla : ye, bentar.


     Tak lama Ashilla pun mengirimkan kontak Aulia pada Prasetya terlihat urat senyum yang terbit di bibir Prasetya saat Ashilla mengirimkan nomor Aulia padanya.


     Ashilla :  (send contact).


     Thanks.


     Ashilla : hm. Jangan macem-macem lo awas lo.


     Iye engga.


     ”tenyata namanya Aulia” Prasetya manggut-manggut, ”cantik juga namanya” gumam Prasetya mengagumi Aulia


    


     Kemudian Prasetya meng-save kontak Aulia di ponselnya setelahnya ia pun meletakkan ponselnya di nakas meja samping kasurnya.


     Sementara itu, di tempat lain tepatnya di rumah Aulia ia sedang berada dikamarnya sembari duduk di sofa single yang ada di kamarnya sambil membaca novel kesukaannya serta ditemani dengan coklat panas yang ia buat tadi.


     Drrttt....


     Terdengar suara ponselnya yang bergetar Aulia langsung menoleh pada ponselnya yang bergetar lalu meraihnya untuk melihat username tetapi tak ada nama yang tertera di ponselnya hanya nomor orang yang tak dikenal mampir ke ponselnya.


     Aulia mengerutkan keningnya, ”nomor siapa nih? Kalo nomor Ashilla kan udah gue save” gumam Aulia bingung.


     Meskipun Aulia tidak mengetahui siapa yang menelponnya tetapi ia tetap mengangkat panggilan tersebut dari nomor tak dikenalnya.


     ”hallo?” sapa orang di sebrang.


     ”Pras?!” gumam Aulia dalam hati.


     ”sorry, gue ganggu lo ya?”.


     Aulia yang tersadar dari lamunannya pun seketika berkata, ”Ahh, e-enggak kok enggak ganggu”.


     Disebrang sana semburat senyum yang terbit di bibir Prasetya saat mendengar suara Aulia.


     ”dari Ashilla”.


     ”Ashilla?”.


     Prasetya mengangguk, ”iya, kenapa emangnya?”.


     ”ohh nggak nggak apa-apa”.


     ”btw save nomor gue ya?”.


     ”ohh iya-iya nanti gue save kok”.


     ”yaudah, gue tutup teleponnya ya”.


     ”hah ahh iya”.


     Sambungan telepon pun ditutup oleh Prasetya dapat dilihat dari raut wajahnya Aulia yang merasa heran dan bingung pun hanya bisa mengernyitkan keningnya.


     Aulia tak ambil pusing ia pun meletakkan kembali ponselnya ke meja yang ada disebelahnya lalu melanjutkan kembali membacanya yang sempat tertunda tadi.


     Diluar kamar Aulia nampak Fasyilla sedang berjalan menuju kamar putrinya untuk mengajaknya makan malam karena hari sudah menggelap sekarang.


     Tok. Tok. Tok.


     Merasa ada yang mengetuk pintu kamarnya ia pun segera menyahuti ketukan pintu tersebut.


     ”iya?”.


     ”sayang, turun yuk Mamah udah nyiapin makan malam” ucap Fasyilla dibalik pintu kamar Aulia.


     ”iya Mah, bentar lagi Adek turun” sahutnya dari dalam.


     ”yaudah kalo gitu Mamah tunggu dimeja makan ya”.


     ”iya Mah”.


     Kemudian Fasyilla turun kembali ke bawah ke meja makan menunggu putrinya turun ke bawah dan makan bersama.


     ”Mah adek mana? Tidur?” tanya Alfian saat melihat Fasyilla turun dari kamar adiknya.


     Fasyilla menggeleng, ”bentar lagi juga turun kak tunggu aja” kata Fasyilla.


     Alfian mengangguk.


     Tak lama kemudian Aulia pun keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ke anak tangga dan turun ke bawah menuju ke arah meja makan dan duduk di salah satu kursi di sana.


     ”nah turun juga kan kak adeknya” kata Fasyilla yang sudah melihat putrinya duduk di kursi meja makan.


     Aulia mengernyitkan keningnya bingung, ”kenapa Mah kakak?”.


     Saat Fasyilla akan menjawab pertanyaan Aulia Alfian sudah lebih dulu menyahuti pertanyaan adiknya, ”nggak apa-apa udah makan tuh udah disiapin Mamah”.


     Aulia mengerucut mulutnya, seketika menyadari ada sosok yang hilang Aulia pun membuka suaranya.


     ”lho, Mah Papah belum pulang ya?” tanya Aulia.


     Fasyilla yang mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut putrinya sontak menghentikan aktivitas menyendok nasi ke piring.


     Fasyilla lalu menatap ke kedua anaknya secara bergantian kemudian menyunggingkan senyum tipisnya dan berkata, ”Papah tadi pagi sempet pulang sebentar tapi cuma buat ngambil koper sama pakaiannya terus berangkat lagi, katanya sih mau ditugasin buat kerja di luar kota”.


     Mendengar pernyataan dari sang Mamah seketika Aulia mengerucutkan bibirnya, ”yaaa bakalan lama dong Papah pulangnya”.


     Mendengar itu Alfian dan Fasyilla hanya bisa mengulum senyum tipisnya, lalu perlahan tangan Fasyilla tergerak mengusap lembut rambut putrinya.


     Fasyilla tersenyum lagi, ”sayang, kan Papah juga kerja buat kita, buat kamu sekolah jadi pasti nanti Papah bakalan pulang kok ya” kata Fasyilla.


     Kemudian Aulia mengangguk mengiyakan perkataan Fasyilla lalu Sang Mamah tersenyum samar.


     ”yaudah yuk makan hampir dingin tuh makanannya dari tadi dianggurin mulu” kata Fasyilla membuat senyuman di bibir Aulia terbit walaupun hanya sedikit.


     Akhirnya mereka bertiga pun melakukan makan malam tanpa kehadiran Kepala keluarganya, mereka mengantarkan makanan dengan hikmat tanpa adanya suara hanya ada suara dentingan sendok dengan garpu yang sesekali bersentuhan menimbulkan sebuah suara.


     Dering ponsel menginterupsinya membuatnya mengalihkan pandangannya dari laptop yang tengah menampilkan sebuah video yang sepertinya itu adalah tontonan favorit Aulia.


     Ya Aulia sudah berada dikamarnya seraya menikmati tontonan drama romantis yang ditampilkan di layar laptopnya. Ia pun meraih ponselnya yang berada di nakas samping ranjang kamarnya.


     Seketika Aulia mengernyitkan keningnya saat melihat siapa yang sedang menghubunginya malam-malam begini, meskipun begitu Aulia tetap menjawab panggilan telepon tersebut.


     ”hallo” sapa Aulia pada orang yang ada di seberang.


    ”hallo Li” jawabnya.


     ”iya kenapa?” tanya Aulia.


     ”sorry kalo gue ganggu lo malam-malam begini” katanya merasa tak enak hati.


     ”oh iya nggak apa-apa”.


     ”emm...... Li” panggilnya.


     ”iya Pras kenapa?” tanyanya lagi, mulai penasaran tuh si Aulia.


     Prasetya terdiam sebentar memikirkan apa yang akan ia sampaikan kepada Aulia.


     ”besok mau gak lo berangkat bareng sama gue?” tanya Prasetya menawarkan tebengan pada Aulia.


     Aulia terdiam setelah mendengar pertanyaan Prasetya yang dilontarkan untuknya ia tampak berpikir sejenak.


     ”boleh, kalo lo-nya gak keberatan” kata Aulia.


     ”sama sekali gak keberatan kan gue yang ngajakin” kata Prasetya.


     ”okelah, boleh”.


     Mendengar jawaban Aulia membuat sudut bibir Prasetya tertarik ke atas membentuk lengkungan tipis.


     ”oke, besok gue jemput lo ya” Aulia mengangguk, ”iya”.


     ”yaudah kalo gitu gue tutup ya teleponnya, lo jangan tidur malam-malam ya cantik” Prasetya pun mematikan sambungan teleponnya dengan Aulia.


     Wait wait apa nih, Prasetya bilang apa tadi? Cantik?. Seketika muncul semu merah dipipi Aulia ia merasa salah tingkah mendengar ucapan yang barusan Prasetya lontarkan padanya.


     ”apaan sih kok jadi salah tingkah gini gue” gumam Aulia sambil memegang pipinya yang muncul semu merah.


     ”tapi kok gue seneng ya, gue gak pernah ngerasain ini sebelumnya apa iya gue suka sama Pras. Tapi baru tadi gue ketemu sama dia masa udah suka aja sih” ucap Aulia bingung sendiri.


     ”udahlah ah ngapain gue pikiran dah mending juga tidur udah malam”.


     Lalu Aulia menutup laptop yang tadi ia buat untuk menonton drama dan memasukkannya kedalam laci meja kemudian ia membaringkan badannya di ranjang kasur dan segera tidur.


     *****