Lipra (Aulia & Prasetya)

Lipra (Aulia & Prasetya)
BAB 21 Mencari Titik Terang



     Hari ini Kurniawan, Ashilla, Ravindra, Rassya, dan Bima sudah berkumpul di Markas Vendos seperti yang dibilang oleh Faisal kemarin bahwa ia siap untuk membantu pencarian Prasetya yang hilang.


     ”terakhir kali gue lacak keberadaannya ada di gudang tu tua tapi ini kok.........” Faisal menjeda kalimatnya sebentar lalu berpikir sejenak, ”ini kok lokasinya udah nggak terdeteksi lagi?” heran Faisal. Membuat kelima remaja itu mendekat ke arahnya.


     ”kok bisa, Bang? Terus gimana?” tanya Kurniawan.


     ”ini masih gue coba” kata Faisal. Dan hasilnya nihil Faisal serta kelima remaja itu tidak menemukan apa-apa.


     ***


     Di sisi lain Vivi sedang berada di gudang tua itu menikmati tiap-tiap penderitaan yang Prasetya rasakan didalam sana. Anak buahnya sedang menjalankan tugasnya atas perintah Vivi tadi pagi.


     Bugh!!!


     Bugh!!!


     Bugh!!!


     Terdengar pukulan yang diciptakan oleh anak buah Vivi yang memukuli seluruh tubuh Prasetya. Entah sekarang bagaimana dengan kondisi fisik Prasetya. Sementara Vivi gadis itu sedang tersenyum puas melihat ini semua.


     ”ini akibatnya karena kamu sudah berkali-kali nolak gue dan lebih memilih wanita lain selain gue” gumam Vivi dalam hati.


     Menit kemudian ketiga anak buah itu keluar dari tempat Prasetya disekap salah satu dari mereka mengunci pintu itu dari luar dan meninggalkannya dalam keadaan kacau.


     Kini Prasetya sedang pingsan diatas kasurnya dan juga terdapat lebam disekujur tubuhnya serta lebam-lebam lainnya di berbagai bagian tubuhnya.


     ***


     Sementara itu, di Markas Vendos kelima remaja itu dibuat bingung dengan lacakan terakhir Prasetya yang tiba-tiba menghilang dari web. Membuat mereka semua bingung harus cari keberadaan Prasetya dimana lagi.


     Tiba-tiba Aulia datang ke Markas Vendos dengan langkah yang gelisah. Ia masuk ke dalam Markas Vendos itu mendapati kelima temannya berada disana.


     ”Aulia?”.


     ”gue ada kabar mengejutkan, San” lalu Aulia memilih duduk disebelah Faisal. Ia pun langsung mengambil ponselnya di-saku-nya lalu menunjukkannya kepada mereka semua.


     Mereka semua nampak sangat terkejut dengan apa yang Aulia tunjukkan kepada mereka semua.


     ”ini lo tau nggak siapa pengirimnya?” tanya Kurniawan.


     Aulia menggelengkan kepalanya, ”gue nggak tau ini nomor siapa yang jelas dalam pesan ini orang itu ngancem kalo sampe kita lapor ke polisi makan Pras bakal kenapa-kenapa” ucap Aulia khawatir dan itu disadari oleh Kurniawan yang melihat raut wajah sepupunya ini yang sangat khawatir dengan Prasetya.


     Faisal yang peka pun mengikuti arah pandang mata Kurniawan yang menyorot langsung ke arah Aulia yang sedang berada disebelahnya seketika Faisal tersenyum tipis lalu meraih punggung tangan Aulia.


     Dielus-elusnya punggung tangan Aulia seraya berkata, ”sabar ya, Abang dan teman-teman kamu pasti temuin Pras kamu tenang jangan terlalu mengkhawatirkan dia” ucap Faisal yang diangguki oleh Aulia.


     ”eh Wan kemarin perasaan lo nyaranin buat ke rumah Adrian kenapa nggak sekarang aja” ucap Ravindra tiba-tiba membuat Kurniawan mengingat ucapannya kemarin.


     ”yaudah sekarang kita ke sana samperin, Adrian. Lo ikut nggak Ray?” tanya Kurniawan membuat Aulia berpikir sejenak jika dipikir-pikir dia sudah lama tidak berjumpa dengan sahabat lama ini apa ini waktu yang tepat untuk bertemu dengan sahabat lamanya itu? Entahlah sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu Adrian ia akan mencari hari lain untuk bertemu dengan Adrian. Sekarang ia harus fokus untuk pencarian hilangnya Prasetya.


     Aulia mengangguk, “gue ikut” jawab Aulia. Setelah itu mereka semua bangkit termasuk Faisal juga pria itu turut andil dalam pencarian Prasetya.


     Mereka semua menuju ke kediaman Adrian dengan menumpangi mobil Faisal tentunya dikemudikan dengan pria itu.


     ***


     Tak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk sampai dirumah Adrian. Kini mereka semua sudah berada di depan rumah Adrian. Kurniawan meraih bel yang terpasang di dekat pagar rumah Adrian.


     Nampak Satpam yang menjaga rumah Adrian membukakan gerbangnya. Dan tanpa disangka ternyata Satpam itu mengenali Aulia seketika Aulia langsung meletakkannya telunjuknya didepan bibir untuk tidak memanggil namanya Satpam itu pun paham ia menuruti apa yang dikodekan oleh Aulia.


     ”permisi, Pak kedatangan kami kesini untuk bertemu Adrian anaknya ada nggak, Pak” tanya Kurniawan dengan sopan.


     ”oh Den Adrian? Ada kok kalian masuk saja” ucap Satpam itu mempersilahkan mereka semua untuk masuk kedalam.


     Satpam mengantarkan mereka semua sampai didepan pintu utama setelah itu Satpam itu mengetuk pintu rumah Adrian yang langsung dibuka oleh Adrian.


     ”ada apa, Pak tumben ngetuk segala biasanya juga langsung masuk” ucap Adrian saat sudah membuka pintu rumahnya.


     ”maaf Den ada yang cariin Aden” ucap Satpam itu seketika Adrian terkejut melihat kedatangan teman-temannya ke rumahnya.


     ”yaudah ya Den Bapak permisi mau ke balik ke pos lagi” pamit Satpam itu.


     ”iya, Pak” jawab Adrian.


     Kurniawan tersenyum kepada sahabatnya itu, ”boleh kita masuk?” tanya Kurniawan.


     Adrian terkesiap, ”i-iya bo-boleh masuk aja” ucap Adrian sedikit gugup. Setelah itu mereka semua pun masuk ke dalam rumah Adrian dan duduk di sofa ruang tamunya.


     Adrian pun ikut duduk di sofa single berhadapan dengan mereka, ”kalian mau minum apa? Biar gue ambilin” ucap Adrian menawarkan mereka semua.


     ”oh nggak usah, Dri. Kita kesini mau ngobrol sama lo doang kok” ucap Kurniawan menolak halus tawaran yang diberikan oleh Adrian.


     Tampak Kurniawan menghela napas panjang, ”soal hilangnya Prasetya” ucap Kurniawan membuat Adrian seketika terdiam dan terkejut.


     ”Pras hilang? Perasaan gue belum jalani perintah yang Vivi tugasin ke gue kemarin? Kenapa tiba-tiba Pras hilang? Apa ada hubungannya sama Vivi?” gumam Adrian dalam hati.


     ”lo tau rencana apa yang Vivi tugasin ke lo?” tanya Bima tiba-tiba seketika membuyarkan lamunan Adrian serta teman-temannya sontak menatap ke arah Bima.


     ”lo tau dari mana, Bim?” tanya Rassya penasaran.


     ”ceritanya panjang males juga gue ceritanya” jawab Bima.


     ”sekarang lo kasih tau apa yang udah Vivi rencanain” desak Bima.


     Adrian terdiam bingung harus mulai dari mana.


     ”cepet kasih tau any*ng!! Ngomong lo” desak Bima lagi.


     ”oke oke gue kasih tau” ucap Adrian memulai ceritanya.


     ”jadi itu.......”.


     Flashback On.


     Vivi melepaskan sepatunya lalu ia letakan dirak depan perpustakaan Parungga. Ya disinilah Vivi berada sekarang perpustakaan hanya karena ia ingin memperlancar rencananya jika bukan karena seseorang ia juga tidak akan menginjakkan kakinya di perpustakaan ini.


     Lalu Vivi ia masuk ke dalam perpustakaan itu ia menyedarkan pandangannya mencari seseorang hingga pada akhirnya ia menemukan seseorang yang sedang fokus membaca buku dan duduk sendirian diujung meja perpustakaan seperti biasanya.


     Vivi menghampirinya dan duduk dihadapannya, ”hai, udah lama gue nggak ngeliat lo lagi ternyata masih suka baca buku disini lo” ucap Vivi membuat orang itu tersadar akan kedatangannya lantas ia menutup bukunya dan menatap datar gadis didepannya ini.


     ”mau perbudak gue apa lagi lo dateng kesini?” tanyanya seakan tau isi pikiran Vivi.


     Vivi tersenyum miring, ”gue ada tugas buat lo” katanya.


     ”tugas?” beo-nya.


     Vivi mengangguk antusias.


     ”lo harus buat Pras menderita” ucap Vivi membuat pria itu membelalakan matanya tak percaya.


     ”gila lo” cerca pria itu.


     ”lo nggak mau ya? Gampang biar sahabat kesayangan lo itu gue bikin mati aja gimana?” ancam Vivi membuat tangan pria itu terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih.


     ”lo jangan berani sampe sentuh Nayra” emosi pria itu.


     ”makanya turuti aja mau gue dan sahabat kesayangan lo itu bisa hidup tenang” ucap Vivi tidak tahu diri.


     Nampak pria itu menghembuskan napas kasar, ”oke lo mau gue berbuat apa?” tanyanya.


     ”nah gitu kek dari tadi gue kan nggak perlu ngancem-ngencem lo dulu”.


     ”cepetan ngomong!!!!” sarkasnya.


     ”iya iya”.


     ”gini. Lo culik Pras terserah mau lo bawa kemana yang penting dia nggak akan jauh lagi dari gue” jelasnya.


     ”kalo gue berhasil bawa Pras pergi lo mau apa?” tanyanya.


     ”gue bakal bebasin lo” ucap Vivi.


     ”gimana? Mau kan lo Dri?” tanya Vivi pada Adrian.


     Dengan berat hati Adrian menganggukkan kepalanya membuat Vivi tersenyum senang. Selangkah lagi ia akan mendapatkan kembali hatinya Prasetya.


     Flashback Off.


     ”Wan, gue sama sekali nggak tau soal hilangnya Pras dan rencana itu gue sama sekali nggak nuruti kemauannya Vivi buat culik Pras” ucap Adrian jujur.


     ”terus kalo bukan lo siapa?” tanya Bima bingung. Seketika mereka terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing-masing hingga pada akhirnya Adrian berucap.


     ”Mayor, Andra, Lestat” ucap Adrian membuat mereka semua menatap penuh tanda tanya pada Adrian.


     ”mereka siapa?” tanya Bima.


     “anak buahnya, Vivi” ucap Adrian.


     *****