
Vivi berlari tergesa-gesa menuju kelas Prasetya tetapi cowok itu tidak ada didalam kelasnya lantas Vivi memutar langkahnya untuk mencari keberadaan Prasetya hingga pada akhirnya ia teringat rooftop sekolah dengan langkah cepat ia menuju ke rooftop menemui Prasetya disana.
Sampai disana Vivi nampak tersenggal-senggal akibat berlari dari kelas Prasetya sampai pada saat ini ia menginjakkan kakinya dirooftop ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Prasetya di tiap sisi rooftop hingga saat pandangannya melihat lima cowok diujung sana yang ia yakini adalah Prasetya disalah satu dari mereka ia pun berlari menghampiri mereka.
Vivi menerobos masuk dalam kumpulan para cowok itu membuat mereka yang sedang asyik nongkrong pun terusik dengan kedatangan makhluk yang tak diundang.
”dateng lagi nih makhluk satu” celetuk Bima saat melihat kedatangan Vivi diantara mereka.
Vivi yang mendengar itu pun menoleh ke arah Bima menatap tajam ke arahnya.
”melotot ae lo awas tuh mata nanti copot gak ada gantinya” kata Bima.
Vivi tak mempedulikan Bima lantas ia menoleh ke arah Prasetya yang tampak kebingungan atas kehadiran Vivi kesini.
”Pras” rengek Vivi memanggil Prasetya.
Prasetya memasang wajah datar, ”kenapa?” tanyanya.
Vivi mengerucutkan bibirnya ke depan, ”ihh kamu dari mana aja sih aku cariin juga dari tadi” rengek Vivi pada Prasetya.
”lha emang dari tadi gue disini kenapa?” tanya Prasetya heran.
Vivi berdecak sebal, ”aku udah tau semua” ucap Vivi tiba-tiba membuat mereka yang sedari tadi menyimak ikut terheran-heran padanya.
”tau apa?” tanya Prasetya.
Vivi berdecak lagi, ”kamu dijodohin kan sama orang tua kamu” ungkap Vivi.
”iya, kenapa emang?” tanya Prasetya datar.
”ihhh Pras kenapa kamu nggak nolak aja permintaan orang tua kamu buat jodohin kamu” rengek Vivi membuat Prasetya muak bila berlama-lama didekatnya.
”dih apaan dah diterima nggak-nya itu urusan Prasetya kali nape lu ikut campur dah” sahut Ravindra.
Vivi tambah mengerucutkan bibirnya ke depan lalu menatap tajam ke arah Prasetya, ”pokoknya aku nggak setuju kamu dijodohin sama orang tua kamu” kata Vivi lalu langsung meninggalkan Prasetya dan keempat teman-temannya.
“stress kali tuh cewek. Udah dia yang mutusin di yang ngejar Prasetya terus sekarang ngerengek-rengek nggak jelas” cerocos Bima.
Nampak Kurniawan menatap ke arah Prasetya dan bertanya, ”Pras, lo kasih tau Vivi soal perjodohan lo?” Prasetya menggelengkan kepalanya.
”lha terus dia tau dari mana soal lo dijodohin?” tanyanya lagi Prasetya mengangkat bahunya tidak tahu.
Mereka tampak bingung kenapa Vivi bisa tau jika Prasetya dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Apa mungkin saat pertemuan dua keluarga Vivi membuntuti Prasetya dari belakang? Haduh bahaya nih kalau Vivi tahu siapa yang dijodohkan oleh Prasetya.
Di sisi lain nampak Vivi kesal dengan respon Prasetya yang sebenarnya tidak mempermasalahkan perjodohan itu sama sekali ia terus-menerus menendang udara melampiaskan kekesalannya.
”AAAAARRRRGGGGGHHHHHH!!!!!!” teriak Vivi pada dunia untuk melampiaskan semua kekesalannya.
”gue nggak akan terima kalo Pras jadi milik orang lain kalo gue nggak bisa milikin Pras lagi lebih baik Pras mati biar semua orang juga nggak bisa milikin Pras termasuk orang yang dijodohin sama dia sekalipun” murka Vivi.
Vivi menjentikkan jarinya lalu tersenyum miring, ”oke gue bakal memperbudak si Adrian itu gue buat dia biar semakin jauh dari Pras dan keempat teman-temannya” ia pun berbalik badan lalu melangkahkan kakinya menuju dimana Adrian berada.
***
Vivi melepaskan sepatunya lalu ia letakan dirak depan perpustakaan Parungga. Ya disinilah Vivi berada sekarang perpustakaan hanya karena ia ingin memperlancar rencananya jika bukan karena seseorang ia juga tidak akan menginjakkan kakinya di perpustakaan ini.
Lalu Vivi ia masuk ke dalam perpustakaan itu ia menyedarkan pandangannya mencari seseorang hingga pada akhirnya ia menemukan seseorang yang sedang fokus membaca buku dan duduk sendirian diujung meja perpustakaan seperti biasanya.
Vivi menghampirinya dan duduk dihadapannya, ”hai, udah lama gue nggak ngeliat lo lagi ternyata masih suka baca buku sini lo” ucap Vivi membuat orang itu tersadar akan kedatangannya lantas ia menutup bukunya dan menatap datar gadis didepannya ini.
”mau perbudak gue apa lagi lo dateng kesini?” tanyanya seakan tau isi pikiran Vivi.
Vivi tersenyum miring, ”gue ada tugas buat lo” katanya.
”tugas?” beo-nya.
Vivi mengangguk antusias.
”lo harus buat Pras menderita” ucap Vivi membuat pria itu membelalakan matanya tak percaya.
”gila lo” cerca pria itu.
”lo nggak mau ya? Gampang biar sahabat kesayangan lo itu gue bikin mati aja gimana?” ancam Vivi membuat tangan pria itu terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih.
”lo jangan berani sampe sentuh Nayra” emosi pria itu.
”makanya turuti aja mau gue dan sahabat kesayangan lo itu bisa hidup tenang” ucap Vivi tidak tahu diri.
Nampak pria itu menghembuskan napas kasar, ”oke lo mau gue berbuat apa?” tanyanya.
”nah gitu kek dari tadi gue kan nggak perlu ngancem-ngencem lo dulu”.
”cepetan ngomong!!!!” sarkasnya.
”iya iya”.
”gini. Lo culik Pras terserah mau lo bawa kemana yang penting dia nggak akan jauh lagi dari gue” jelasnya.
”kalo gue berhasil bawa Pras pergi lo mau apa?” tanyanya.
”gue bakal bebasin lo” ucap Vivi.
”gimana? Mau kan lo Dri?” tanya Vivi pada Adrian.
Dengan berat hati Adrian menganggukkan kepalanya membuat Vivi tersenyum senang. Selangkah lagi ia akan mendapatkan kembali hatinya Prasetya.
*****