Lipra (Aulia & Prasetya)

Lipra (Aulia & Prasetya)
Episode 04 Rasa Yang Tak Bisa Diartikan



Setelahnya mereka berlima sampai di kantin, dapat dilihat saat istirahat pertama pasti kantin ramai dipenuhi oleh siswa-siswi yang hendak mengisi perutnya seusai bekecamuk dalam pembelajaran.


”Duh... Nih kantin rame banget sih”.


Keluh Syaka bersuara saat mereka sampai di kantin, sebabnya melihat kantin yang saat ini penuh dengan kerumunan siswa-siswi.


”Yaelah Sya, ya biasalah istirahat pertama kan mesti rame”.


Sambung Ayya yang saat itu berdiri disebalah Syaka.


Ayya melihat keseluruhan kantin menyisiri setiap sudutnya niatnya ingin mencari tempat kosong untuknya dan juga keempat temannya untuk duduk.


Sedetik kamudian Ayya melihat tempat duduk yang tengah kosong di ujung kantin sana.


”Sya tuh disana ada tempat kosong”.


”Eh iya, yaudah kita disana aja yuk”.


Sontak Syaka mengajak keempat temannya menuju meja yang ada diujung sana. Walaupun tempat sangat amat dipojok tapi ya sudahlah daripada menuju ada meja yang kosong lagi bisa-bisa mereka tidak mendapatkan jatah istirahat pertamanya.


Mereka berempat menganggukkan kepalanya lalu kemudian mereka berjalan menuju meja tersebut, Setelahnya mereka berlima duduk di setiap kursi yang kosong.


Setelah mereka semua duduk di kursi masing-masing seketika Ashilla mengangkat suaranya.


”Lo lo pada mau pesen apa? Biar gue yang pesenin lo lo pada”.


Ashilla berdiri seraya menawarkan keempat temannya untuk memesan makanan dan minuman.


“Kita kayak biasa Shill”.


Syaka angkat bicara saat mendapat tawaran dari Ashilla, sebenarnya sih Ashilla memang seperti itu sering menawarkan diri untuk memesankan teman-temannya makanan ataupun minuman. Biar sekalian nggak bolak balik pikir Ashilla pada saat itu.


”Oke”. Jari telunjuk dan jempol disatu sehingga membentuk huruf 'o'.


Ashilla beralih menatap ke Aulia.


”Kalo lo Ray mau pesen apa? Sekalian sama mereka gue just mau pesen buat gue”.


Aulia memegang dagunya sembari berpikir.


”Hng? Itu aja batagor, ada?”.


”Oh batagor ada kok, kalo minumnya lo mau apa?”.


Ucap Ashilla menawarkan kembali.


”Jus jambu kalo ada, semisal nggak ada samain aja sama mereka”.


”Oke Ray”. Jari telunjuk dan jempolnya disatu sehingga membentuk huruf 'o'.


”Yaudah gue pesenin dulu pesanan kalian”.


Aulia mengangguk sebagai jawaban setelahnya Ashilla beranjak dari mereka berjalan menuju kedai guna memesan makanan dan minuman yang dipesan oleh keempat temannya.


”Aneh banget dah baru masuk belum sehari gue udah dapet circle aja, tapi seru juga sih mereka beruntung banget gue”. Batin Aulia bersuara.


Setelah menunggu hampir beberapa menit akhirnya Ashilla kembali dengan membawa nampan ditangannya yang berisi pesanan-pesanan para sahabatnya.


Ashilla pun meletakkan pesanan para sahabatnya di meja.


”Wih enak nih”.


Celetuk Syaka saat Ashilla datang lalu meletakkan semangkok bakso dihadapannya.


”Ray, sorry tadi jus yang lo minta udah habis jadi gue samain aja deh sama mereka. Nggak apa-apa kan?”.


”Oh ya nggak apa kok La. Santay”.


Nadia memicingkan mata menatap ke arah Aulia seketika merasa aneh dengan panggilan Aulia ke Ashilla.


”Bentar deh Li, tadi lo panggil apa ke Ashilla?”.


Tanya Nadia seraya menatap ke arah Aulia.


Dengan polosnya Aulia menjawab, ”La”.


Seketika Nadia mengembungkan mulutnya seraya menahan gelak tawa yang akan keluar dari mulutnya.


Aulia mengerutkan alisnya bingung, ”Kenapa? Aneh kalo gue manggil Ashilla itu?”.


”Nggak aneh sih cuma panggilan lo sama kayak panggilan nyokapnya ke dia”.


Mendengar itu seketika Aulia menolehkan pandangannya ke arah Ashilla yang tengah duduk di sebelahnya.


“Bener La?”.


Tanya Aulia seraya menoleh ke arah Ashilla.


Sontak Ashilla juga menoleh ke arah Aulia.


Ashilla sontak menjadi blank akan pertanyaan yang barusan Aulia tanyakan.


Sontak Nadia yang menyadari ke-ngeblank-an Ashilla seketika menyahutinya.


”Lo denger apa nggak denger sih, jelas-jelas tadi gue liat lo ngedengerin gue ngomong sama Aulia”.


Seketika Ashilla langsung berkata, ”Hng? Aahh yang soal Aulia manggil gue itu?”.


Nadia menjetikkan tangannya, ”Nah iya, nyambung juga akhirnya”.


Ashilla menganggukkan kepalanya seraya menjawab pertanyaan Aulia tadi.


Tetapi Aulia tidak menggubris jawaban Ashilla melainkan ia menatap ke arah seberang.


Ashilla yang menyadari itu pun menepuk bahu Aulia dua kali untuk menyadarkannnya.


”Hng? Iya kenapa?”.


Sontak Ashilla terkekeh pelan melihat tingkah Aulia yang sepertinya melamun, namun ia tak mengetahui Aulia sedang melihat siapa atau melamunkan siapa.


”Lo kenapa sih? Ngeliatin apaan coba?”.


Melihat Aulia yang tak kunjung meggubris perkataannya seketika mengikuti arah mata Aulia yang tengah melihat Prastya bersama dengan seorang gadis yang bisa terlihat gadis itu begitu kegatelan ke Prastya.


Ashilla yang paham dengan arah pandang Aulia seketika bersuara, ”Itu Pras, Prasetya Arkana anak kelas 10 IPA 6”. Ucap Ashilla memperkenalkan Prasetya pada Aulia.


Seketika membuyarkan lamunan Aulia kemudian ia beralih menatap ke arah Ashilla.


”Jadi nama dia Pras”. Batin Aulia bersuara.


”Dan cewek yang lagi sama dia itu mantannya Pras namanya Vivi”.


”Vivi?”.


Ashilla mengangguk, setelah itu melanjutkan ceritanya.


”Putusnya udah lama sih sekitar dua tahun yang lalu tepatnya saat Pras masih kelas 8”.


”Putusnya kenapa?".


Tanya Aulia penasaran.


”Nah waktu Pras lagi bucin-bucinnya sama Vivi intinya si Pras sayang banget sama dia tapi setelah memasuki bulan ke lima Vivi kayak nggak peduliin Pras gitu dan waktu malam itu saat gue, Pras, sama yang lainnya ngumpul di cafe sorot mata Pras nggam sengaja nyorot seseorang yang mirip banget sama Vivi alhasil Pras nyamperin orang karena penasaran”.


Ashilla menghembuskan napasnya setelahnya melanjutkan ceritanya kembali.


”Karena penasaran Pras nyamperin orang seketika Pras kaget ngeliat pacarnya sama sahabatnya berduaan ditaman depan cafe tempat kita ngumpul”.


”Pras disitu ngerasa kecewa karena dikhianati sama Vivi, terus tanpa lama-lama dia langsung putusin hubungannya dengan Vivi udah habis Pras pergi gitu aja, sempet di kejar sama Vivi tapi Pras udah lebih dulu pergi dari hadapannya”.


”Sahabatnya Pras yang selingkuh sama Vivi siapa namanya La?”.


Tanya Aulia saat Ashilla sudah menyelesaikan ceritanya.


”Namanya Adrian”.


Aulia bertanya kembali, ”Adrian siapa?”.


”Anak IPA 5 dia”. Ucap Ashilla.


”Oh”. Jawab Aulia.


”Udah jangan terlalu lo pikirin”.


Ashilla berkata saat melihat Aulia memikirkan cerita Ashilla barusan.


Seketika Aulia mengangguk kemudian melanjutkan memakan batagor yang ia pesan lewat Ashilla tadi.


Tetapi Aulia tetapi Aulia yang tak mudah untuk melupakan cerita atau ucapan yang sempat ia dapatkan.


Saat ini Aulia tengah menatap ke arah dimana terdapat Prasetya bersama seorang gadis yang ia ketahui adalah mantannya Prasetya.


Tetapi saat Aulia menatapnya dengan begitu intens ia merasa hatinya sedikit tercabik-cabik.


”Aneh, kenapa kok gue ngerasa sakit ya waktu ngeliat Pras deket sama mantannya itu padahal tadi gue bentak-bentak dia terus marah-marahin dia padahal dia kan cuma mau bantuin gue”. Batin Aulia bersuara.


”Apa gue suka ya sama dia?”. Tanyanya pada dirinya sendiri.


Seketika ia langsung mengusir pikiran aneh-aneh yang muncul di otaknya.


Setelahnya ia pun melanjutkan memakan batagornya.


Tetapi walaupun begitu ia ia tak lepas dari ingatan yang diceritakan Ashilla tadi.


Aulia merasakan ada keanehan di dalam hatinya, tetapi Aulia tak tahu rasa apa yang sedang ia rasakan kini.


...****...