Leave The Time To Answer

Leave The Time To Answer
prajurit dan anjing



" halo, ya ada apa?, apa Dinda bersamanya?" ucap Rudi menerima telpon dari pengawal yang menjaga Dinda


" pa, ada apa yang Dinda lakukan? "tanya viana


" kita lihat sendiri oke " bergegas membawanya ke tempat di mana anaknya dan calon mertuanya berada


di sisi lain di ruang yang berbeda, di tempat yang berbeda. dua orang mengeluhkan hal yang sama


" ahh,, napa hidup gini amat sih, " teriak Raya dalam kamarnya


" Tuhan,, jangan jahat-jahat dong, baru kali ini bisa ngerasain apa itu cinta eh punya orang. lebih lagi punya sahabat gue, gue embat nanti nangis " rancau Alfin di taman belakang rumah sambil mondar-mandir


" Ya Tuhan aku tau engkau memiliki banyak ciptaan yang harus kau selesaikan masalahnya, tapi apalah daya makhluk mu ini lemah bila masalah hati " Rancaunya memeluk boneka kesayangannya


" apa yang harus saya lakukan pria yang ku cintai mencintai gadis milik orang lain, walaupun gadis itu tidak mencintainya dengan seiringnya waktu bukannya mereka akan saling mencintai dan melengkapi juga. Aku tau itu, lalu bagaimana dengan ku apa yang harus ku lakukan " sambungnya


" apa aku harus menggodanya, ah pikirkanmu begitu liar dan sempit. kau jadi bodoh karena cinta yang tak masuk akal ini " pikiran Raya pikiran dan hatinya benar-benar tidak bisa di ajak kerjasama, otaknya berantakan hatinya hancur benar-benar hancur.


.


.


" apa yang terjadi dengannya? " tanya Viana, melihat kondisi Rio yang terbaring lemah hampir semua tubuhnya membiru karena memar


" aku di suruh ayah buat latih dia dasar bela diri, terus aku kasih sambung(ngelawan) dia Rendy. baru dua ronde udah gini " jawab Dinda


" Andinda gak gitu caranya, gimana kalau pak salman sama buk puspa tau tentang ini. kamu mau bilang apa! " Viana mulai membentak anaknya. Viana tidak habis pikir anaknya bisa sekejam itu, bahkan pada calon suaminya sendiri


" Halah ma, gak papa anak laki harus kuat harus bisa bela diri, biar bisa ngelindungi keluarganya " Rudi membela putrinya


" tapi gak ngelawan Rendy, langsung pa. papa tau kan Rendy kalau udah masalah gitu " Viana cemas


" Rio gak papa te, yang om bilang memang benar sudah sewajibnya laki-laki bisa bela diri. lebih baik saya ngelawan Rendy dari pada langsung berhadapan dengan Dinda. " Ucap Rio mulai sadar dari pingsannya


" oh bangun juga nih pangeran tidurnya, gue kira lo gak bakal bangun. " ledek Rendy keluar dari bilik kamar mandi


" kau keluarlah urus administrasi! " Seluruhnya pada Rendy


" huh, baik tuan "


.


.


" apa aku harus menculik Dinda di hari pernikahannya dan memaksanya menikah denganku " pikiran Alfin semakin tidak masuk akal


" gak lo gak gak boleh ngelakuin itu Alfin, kalau lo emang cinta sama dia lo gak bakal ngelakuin hal gila seperti itu. Cinta gak gitu juga Alfin " perdebatan antara Hati dan Pikiran yang kacau membuat semakin merana


kedua makhluk yang lelah dengan hati dan pikiran yang kacau, mereka memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan perasaan yang mereka miliki


" kalau jodoh gak perlu di kejar dia pasti datang di waktu yang tepat " ucap mereka bersamaan walau bukan di tempat yang sama


.


.


" apa yang harus kita lakukan sekarang bu Puspa dan pak Salman akan segera datang " Viana panik sendiri


melihat hal itu Rudi hanya menggelengkan kepalanya dan sesekali menatap ke arah Rio


" emangnya apa yang akan kau lakukan? " tanya Rudi


" oh ayah ku sayang kau lupa anakmu ini siapa? " ucapnya, membuat kedua orang tuanya mengerutkan keningnya


Dinda menghampiri Rio, ia memjamkan matanya dan memulai aksinya


" sayang makasih ya, tadi udah nyelamatin Dinda. Dinda gak tau apa yang bakal terjadi kalau tadi Rio gak datang "


" ...... " semua orang yang ada di sana mengerutkan keningnya, mereka kebingungan apa yang di katakan oleh gadis yang berada di samping pria berbaring lemah di atas kasur


" Ya ampun cucu ku!, apa yang terjadi dengan mu nak?. " teriak wanita paruh baya, yang tak lain adalah nenek Rio, Puspa.


" Rio gak papa nek " ucap Rio lemah


" kenapa bisa begini?, Dinda bisa jelaskan sama kakek " pinta Salman


" jadi gini kek tadi itu, Dinda hampir di lecehkan sama orang kek. di minuman Dinda di kasih obat tidur, mau di bawa pergi tapi untung ada Rio yang nyelamatin Dinda " ucapnya


tentu saja dengan karangan cerita yang luas biasa dan akting yang mulus, semua akan berpikir itu nyata. lagi pula tidak semua orang tau kalau dalam hal membuat drama Andinda adalah ahlinya.


" Dinda apa kau bisa ngepas kan apel untuk ku " pinta Rio


" hmm, kau akan kesusahan memakan apel, bagaimana dengan pisang " tawar Dinda


" tidak masalah asal itu dari mu " ucapnya


" Di mana kalung keluarga kami? " tanya puspa menyelidik pada Dinda


" itu... itu..., nek,, kalungnya... " ucap Dinda mulai kebelagapan, pasalnya ia sendiri lupa meletakkan benda saklar kuno itu di mana


" Dinda gak sadar nek kalungnya jatuh, di meja coffee, ( sini gue pakek'in biar anjing gue gak lupa siapa pemilik nya )" ucap Rio menyuruh Dinda mendekatinya


" akting lo boleh juga, lo selamat kali ini. Tapi gak lain kali " bisiknya di telinga Dinda dengan sinisnya


" otak lo kayak dodol ya, kalau lo pengen gua mati napa lo nyelamatin gue " balasnya tak kalah sinis


" yah gak seru dong kalau gitu, biar kita impas juga. kan di lapangan gue prajurit yang bisa lo siksa, tapi di sini lo adalah anjing gue oke. sebagai anjing yang baik harus nurut sama pemiliknya " jelasnya


" awas lo gue gigit lo entar " tatapan matanya seolah siap menerkam ya kapan pun ia mau


.


.


" cih, sial!. sampai kapan gue kayak gini terus, gue gak dapat infomasi apapun tentang Dinda apa lagi keluarganya. "


" mana gue lagi yang harus urus pembayaran tuh anak, ah sial banget sih gue. Dari kecil sampai sekarang gue gak tau informasi apapun selain ngelatih prajurit "


" helo ini zaman modern, mana ada prajurit zaman sekarang. ya kecuali dia tentera atau polisi, tapi kan aneh polisi atau tentara kalau fisiknya lemah jelas gak ke terima dong. jadi bodyguard aja belum tentu bisa "


" ma, itu orang kenapa? kok ngomong sendiri? " ucap anak kecil yang dari tadi melihat Rendy berbicara sendiri


" biarin dia pasien, rumah sakit ini " jawab ibu dari anak itu


" katanya orang sakit gak boleh jalan-jalan, kok dia boleh lo? " guman anak itu