
" tuh kan kelas sepi, lo sih main tarik tangan orang. loh tas kita mana kok ilang? "
" udah santai aja, paling-paling ada di ruang BK "
" ya udah deh capek ia, apek mau cabut " pergi meninggalkan Rio
" Ray, pulang ma Dinda yah "
" oke, ada yang perlu gue omongin ama lo emang "
" ya udah kita ngomong di mobil aja "
" lo ikut gua! " menyeret Rio
" ceritain sejarah, gimana lo bisa jadi sama Dinda "
" sejarah?, lo pikir IPS apa ? "
" cepet ceritain "
" oke, jadi gini bapak gue ama bapaknya Dinda itu sahabatan udah lama banget sampai bapak gue anggap bapak Dinda tuh dah kayak adek sendiri. sampai pada akhirnya kakek gue pengen, gue sama Dinda nyatu dan bapak Dinda setuju. " jelas Rio pada Alfin
" udah gitu doang? "
" lo mau denger lebih dalam lagi? buat hati lo tambah sesak? gak papa masih mau gue bakal ceritain, lo mau tanya apa lagi? " dengan nanda menatang
" kapan lo di jodohin, pas waktu itu lo umur berapa dan Dinda umur berapa?. kapan lo tunangan?, kapan lo nikah " menginterogasi Rio layaknya polisi yang menginterogasi penjahat.
" heh!, lo udah kayak nayain penjahat aja " canda Rio agar susana tidak terlalu mencengkeram
" emang. pada nyatanya lo emang penjahat, penjahat cinta "ucapnya lemah, namun masih terdengar di telinga Rio
" kalau gak dapat gimana? "tanyanya lagi
" lo minta sama kakek atau oma "
" kakek, oma lo? "
" iyalah mau siapa lagi, yang ingin kita cepat menikah mereka. kalau tidak minta pada mereka minta siapa lagi? " penuturan Rio pada Alfin
" apakah kau nyakin mereka tidak akan menyuruh orang lain membagikan undangan, mengingat umur kakek dan oma mu aku rasa tidak mungkin menyebarkan undangan tanpa menyuruh orang " jelas Alfin
" kayaknya gitu "
.
.
" katanya lo mau ngomong ama gue? " Dinda membuka suara
" lo beneran di jodohin ama Rio sama keluarga lo? "menatap tajam mata Dinda, seolah ia menyelidik ada kebohongan atau tidak di matanya.
mulut bisa saja berbohong, tubuh bisa saja berdusta, hati bisa saja berkhianat, namun tidak dengan mata. Menurutnya mata adalah satu-satunya yang menurut paling jujur, dan tentu saja Raya, percaya dengan peryataan psikologi itu.
" menurut mu?, apa mata ku bisa menipu mu?. bukan kah percaya bahwa mata satu-satunya yang tidak bisa menipu ataupun berbohong, benar bukan? " Dinda menjawab sekaligus bertanya pada Raya
jujur saja Dinda tidak percaya mata tidak bisa berbohong ataupun menipu, kalau mata tidak bisa melakukan hal seperti itu bagaimana dengan drama-drama yang ia lihat entah di manapun itu berada. Mengingat dirinya juga lumayan berbakat dalam hal akting, oh sangat mustahil baginya untuk percaya dengan hal-hal yang seperti itu tidak ada dalam pikirannya, jikapun ada mungkin Dinda akan membuangnya jauh-jauh.
" mata tidak akan pernah salah Dinda, jika dia berbohong ataupun menipu aku nyakin itu tidak akan bertahan lama. " ucap Raya berpegang teguh pada keyakinannya
" lalu apa yang lo lihat?, katakanlah!. " tanya dengan nanda menantang