
Sepanjang perjalanan kembali ke hotelnya, Baekhyun kembali teringat kejadian tadi siang di restoran.
Flashback on.
"Hyunku yang tampan. Kamu benar-benar tumbuh dengan baik, sayang. Dan kamu sangat mirip sama ayah."
"Berhenti memanggilku seperti itu. Tentu saja aku tumbuh dengan baik, ayah selalu ada untukku."
"Maafin Mama, Hyun. Kamu jangan benci mama seperti ini." Tiba-tiba wanita itu menangis.
"Mama?. Ckk, berhenti berlagak seperti anda sosok ibu yang baik. Aku bahkan tidak pernah berharap anda masih hidup." Ucap Baekhyun mengalihkan pandangannya.
"Maaf Hyun, kamu hanya salah paham.."
"Salah paham?. Kalau anda benar ibu yang baik, tidak sepantasnya anda meninggalkan anak yang bahkan masih kecil. Soonyoung bahkan belum genap setahun waktu itu."
"Mama bukannya sengaja meninggalkan kalian. Tapi ada situasi serius yang harus membuat Mama meninggalkan kalian bersama ayah."
"Apa alasan yang bisa membuat anda meninggalkan kami?. Bahkan aku sangat terpukul dengan perubahan anda itu."
"Hyun, jangan benci Mama seperti ini. Mama gak sanggup melihat kamu seperti ini.."
"Sudahlah, anda tidak bisa menjelaskan alasannya kan?. Kalau begitu saya permisi. Dan ingat, jangan pernah mendekati adik-adik saya, terutama Taehyung."
Flashback selesai.
"Cih, Mama?. Aku gak ingat aku punya seorang ibu." Lirih Baekhyun, namun tanpa dia sadari airmatanya mengalir.
Ibu Baekhyun dan adik-adiknya sebenarnya memang masih hidup. Hanya saja pada Taehyung dan Soonyoung, dia beserta ayahnya mengatakan kalau ibu mereka sudah meninggal.
Baekhyun benar-benar tidak bisa memaafkan ibunya itu. Bukan dia tidak sayang pada ibunya, jujur saja dia sangat sayang pada ibu yang telah melahirkannya itu. Tapi di sisi lain, dia sangat kecewa dengan ibunya itu.
Sesampainya di hotel, Baekhyun kembali ke kamarnya dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper untuk ke Jepang besok.
Sedangkan di Korea. Taehyung sedang berkunjung ke rumahnya ditemani Jungkook. Selain dia ingin memastikan keadaan ayahnya, dia juga ingin menemani ayahnya itu.
Sesampainya di rumah, Taehyung dan Jungkook masuk ke dalam rumah.
"Kamu lakuin aja apa yang kamu mau. Aku akan menemui ayah dulu." Ujar Taehyung.
"Oke kak."
Taehyung pun mencari keberadaan ayahnya. Di balkon lantai dua, dia melihat ayahnya yang sedang menelfon dengan seseorang yang dia tebak adalah kakaknya.
Awalnya dia ingin memeluk ayahnya diam-diam untuk memberi kejutan, namun dia segera berhenti saat dia mendengar ayahnya menyebut nama yang dia tau itu adalah nama Ibunya.
"Ayah akan mengurus wanita itu. Kamu jangan khawatir, ayah akan menjaga Taehyung dengan baik agar tidak bertemu Yoojung."
"Yoojung?. Apa Mama masih hidup?." Tanya Taehyung yang membuat Junmyeon sang ayah kaget.
"Hyun. Kita lanjutkan nanti ya?. Adikmu ternyata datang. Kamu jaga kesehatan dan selalu hati-hati." Ucap Junmyeon segera mematikan telfonnya.
"Apa maksudnya, Ayah?. Apa yang Ayah dan kak Baekhyun sembunyiin?."
"Kami tidak menyembunyikan apa-apa, nak. Apa kamu sudah sampai daritadi?." Tanya Junmyeon mengalihkan pembicaraan.
"Jawab aku dengan jujur, Yah. Apa Mama masih hidup?." Tiba-tiba airmata Taehyung berlinang.
"Ayah kan selalu bilang jika mama kalian udah gak ada, kamu jangan cengeng seperti itu. Ayah dan kakakmu tidak membicarakan Yoojung mamamu."
"Tapi.."
"Sudahlah, tidak usah mengingat orang yang sudah pergi."
Taehyung mengangguk dan memeluk Ayahnya. Junmyeon cukup lega semua bisa di atasi.
Sejujurnya Taehyung mulai curiga dengan ayahnya. Tapi dia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Dia tau Ayahnya tidak suka dengan topik ini.
Taehyung beserta ayahnya turun kelantai satu dan bertemu Jungkook yang sedang memainkan ponselnya.
"Selamat malam, om." Sapa Jungkook membungkuk.
"Iya selamat malam, apa kalian udah makan?."
"Sudah om." Jawab Jungkook.
*******
Hari demi hari berlalu, Baekhyun mulai ketat memperhatikan setiap jadwal adiknya. Dan dia juga menyewa seorang penguntit ahli untuk melihat aktifitas adik-adiknya.
Siang itu, Soonyoung yang sedang belanja di salah satu pusat perbelanjaan bersama DK, mereka dikagetkan dengan kehadiran seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba menabraknya dan memberikan surat pada Soonyoung.
Soonyoung yang terheran-heran pun hanya memperhatikan punggung wanita itu yang semakin menjauh.
"Kamu baik-baik aja, kak?." Panik DK yang memperhatikan Soonyoung.
"Iya gak apa-apa kok. Kita balik aja yuk?." Ajak Soonyoung.
Sesampainya di dorm mereka, Soonyoung hanya terus berjalan ke kamarnya. Mereka memang sudah berada di Korea setelah konser di Indonesia sebelumnya.
Dikamar, Soonyoung membuka surat yang menurutnya mungkin penting itu.
Isi surat
"Putraku Kwon Soonyoung..
Kamu sudah tumbuh besar dan sangat tampan seperti kedua kakakmu.. Dan lagi cuma kamu yang mewarisi mata sipit mama..
Mama bersyukur kamu bisa tumbuh sehat dan sukses.. Maaf.. Mama gak bisa hadir dalam proses pertumbuhanmu..
Mama sangat merindukan kamu dan kakak-kakakmu.. Mama sangat berharap kita bisa berkumpul lagi..
I Love you Honey.."
"Lagi apa?." Kepo Jeonghan yang masuk ke dalam kamar Soonyoung, hingga membuat Soonyoung kaget.
"Ah.. Kak.. Kakak membuatku kaget aja."
"Itu surat kan?.. Wah kamu udah sangat terkenal sekarang.. Semuanya, Soonyoung dapat surat!.. Sepertinya dari perempuan!!!." Teriak Jeonghan yang membuat semua berkumpul di kamar Soonyoung.
"Kamu dapat surat dari siapa?." Semangat Jun mencoba merebut surat yang masih dipegang Soonyoung.
"Jangan rese deh Jun." Mencoba merebut kembali surat tersebut.
"Mama?." Heran Jun setelah membaca pengirim surat tersebut. Yang sontak membuat semua heran, karena yang mereka tau Soonyoung sudah tidak memilki Ibu.
"Sudahlah, mungkin orang iseng aja." Ujar Soonyoung mencairkan suasana.
"Masa sih orang iseng kayak gini banget.. Lapor kak Baekhyun coba." Usul Joshua.
"Aku tanyain ke ayah aja, kasian kak Baekhyun masih dalam tour konser."
"Kita ikut dong kesana."
"Boleh."
"Kita pergi sekarang aja, beberapa jam lagi kan kita bakal ada acara." Usul Woozi.
"Tapi, kalau jam segini ayah masih di kantor."
"Sekalian aja kita ke perusahaan milik keluargamu, kan kita juga belum pernah kamu ajak kesana."
Soonyoung tampak berfikir sejenak lalu kemudian menyetujui usulan itu.
Akhirnya Soonyoung beserta anggota membernya keluar dari basecamp dan pergi ke perusahaan ayahnya dengan memakai dua mobil.
Setelah menempuh perjalanan yang sedikit macet, mereka sampai di depan perusahaan milik ayah Soonyoung. Mereka masuk ke dalam perusahaan. Banyak yang sudah mengenali mereka.
"Selamat datang Tuan Muda." Sapa manajer perusahaan.
Member Seventeen yang mendengar sapaan untuk Soonyoung itu sangat takjub dan tidak menyangka memiliki teman anak konglomerat.
"Ah iya, apa ayah ada di ruangannya?."
"Ada Tuan."
"Ruang meeting kosong kan?."
"Kosong, Tuan."
"Kalau gitu tolong bawa teman-temanku kesana ya?. Dan tolong juga siapkan cemilan yang ada di kantin ke ruangan meeting." Perintah Soonyoung yang langsung di setujui manajer tersebut.
Soonyoung pun berpisah dengan yang lain dan naik ke lantai paling atas menggunakan lift. Sesampainya di lantai atas, Soonyoung juga di sapa ramah oleh karyawan ayahnya. Dengan senyum manisnya, Soonyoung menyapa sembari menunduk hormat.
Di depan ruangan ayahnya, Soonyoung membuka pintu dan masuk. Saat dia baru masuk, dia melihat ayahnya sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya.
Melihat Soonyoung datang, wanita itu disuruh pergi. Sekilas saat wanita itu melewatinya, dia menyadari kalau wanita tersebut sedang menangis.
"Anak ayah, akhirnya nyamperin juga. Gimana?, lancar konsernya?." Senyum Junmyeon sang ayah sembari mendekati Soonyoung dan memeluknya. "Ayo duduk sayang."
"Ah iya, Yah. Lancar kok. Ayah gimana kabarnya hari ini?"
"Seperti yang kamu liat, ayah baik-baik aja."
"Oh iya, Yah. Tadi aku dapat surat yang isinya kayak gini." Tanpa basa basi, Soonyoung menyodorkan surat itu pada ayahnya. Sekilas terlihat wajah ayahnya berubah kesal setelah membaca surat itu.
"Kamu dapat darimana surat ini?."
"Mm..Tadi ada yang nabrak aku pas lagi jalan di Mall, trus dia ngasih ini. Emang kenapa Yah?.,Bukankah itu surat orang iseng saja?."
"Kamu jangan percaya sama surat kayak gini. Kamu tau kan?. Mama udah gak ada sejak kamu bayi. Jadi jangan percaya sama orang yang mengaku-ngaku mama kamu."
"Mmm.. Iya Yah.."