Jouska

Jouska
Chapter 8



Surya langsung menelfon Rumah Sakit agar segera mengirimkan ambulance. Diva memegang erat tangan Faris yang tampak setengah sadar itu, Faris tersenyum melihat Diva yang menangis panik.


"J-jangan di pe gang by... S,sakit tang an ku."


Diva langsung meletakkan tangan Faris diatas dadanya dan mengusap pipinya lembut sambil menangis. Buliran bening itu tak henti-hentinya mengalir dari sudut mata cantik milik Diva.


"Sayang ayo tetep sadar ya, aku mohon hiks."


Diva terus memohon agar Faris tetap sadar dan membuka matanya. Faris memegang tangan Diva dengan tangannya yang berlumuran darah, ia menatap Diva dengan tatapan penuh cinta.


"S,sayang... Aku cin ta k-kamu baby," ucap Faris yang terbata-bata namun terdengar jelas ditelinga Diva. Diva mengangguk cepat mendengar kata-kata Faris.


"Iya sayang iya, aku juga cinta banget sama kamu hiks. Kamu jangan tinggalin aku ya, aku mohon hiks, aku ga bisa tanpa kmu." Diva bergetar ketakutan memegang erat genggaman Faris.


Tak lama ambulan pun datang, pihak medis langsung mengangkat Faris dan memasukkannya kedalam ambulan. Diva ikut duduk disebelah Faris, selagi beberapa pihak medis melakukan pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan yang terus terjadi.


Kemungkinan tangan kanan Faris patah, pihak medis langsung memberikan papan lalu mengikatnya dengan perban supaya tulang Faris tidak tergerak-gerak lagi. Tak lama, mereka sampai di rumah sakit, Faris langsung dibawa ke IGD dan ditangani oleh dokter dan beberapa perawat.


Faris mengalami pendarahan hebat yang berada di kepala hingga mengharuskan segera dioperasi, tanganny yang patah pun juga perlu segera ditangani. Surya dan Raina datang menyusul Diva setelah mengabari mama papa Faris. Tak lama mama papa Faris juga datang melihat keadaan anaknya.


Papanya langsung menangani semua administrasi termasuk penandatanganan surat operasi. Setelah itu Dokter langsung menyiapkan ruang operasi untuk Faris, Faris masih tergeletak tidak sadar di IGD. Diva dan mamanya menangis tanpa henti melihat keadaan Faris yang seperti ini, namun tiba-tiba tangan Faris bergerak.


Diva dan mamanya langsung berdiri dan mendekat, Faris menunjuk kearah kantong bajunya. Mamanya langsung merogohnya dan menemukan sebuah kertas serta sebuah cincin indah berwarna perak. Diva jatuh terduduk lemas, ia tak mengira ini terjadi dihari dimana ia akan dilamar.


"Sa-sayang, baca, pake."


Diva berusaha berdiri lagi meski kakinya bergetar hebat, ia mengangguk dan tersenyum penuh kepalsuan. Ia mengambil cincin itu dari tangan mama Faris, lantas memakainya dijari manisnya yang lentik. Diva menunjukkan cincin dijarinya pada Faris.


"Babe, cantik kan? Cocok kan dijariku, kamu pinter milihnya. Ayo cepet sembuh, aku mau kamu yang pakein sayang, aku gamau make sendiri!" pinta Diva dengan air mata yang tak bisa ia tahan lagi.


"Cantik," kata Faris.


Mamanya mendekat dan mengusap tangannya lembut, "Faris ayo bangun nak, jangan kayak gini, ayo sembuh ya. Mama masih mau main sama kamu lagi, mau cerita-cerita sama kamu, mau liat kamu nikah, mau punya cucu dari kamu sayang," pinta Mama Faris sambil menangis.


"Aku sayang mama."


Tak lama papanya datang, Diva paham situasinya, dia keluar dan memberikan waktu untuk mereka. Faris tersenyum menatap ayahnya, "Kenapa disini? K,katanya aku hidup mati ga perduli?" tanya Faris to the point.


"Nak ayo cepat sembuh, papa gak sengaja ngomong kayak gitu. Papa sayang kamu, papa cuma mau yang terbaik buat kamu," tutur Papa Faris sambil menunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


Faris menutup kembali matanya karena merasa begitu mengantuk, baginya hari ini sangat melelahkan. Diva tak sengaia mendengar percakapan Faris dengan papanya, dapat ditebak kalau mereka berdua baru saja bertengkar. Tak lama pihak medis kembali datang untuk segera membawa Faris ke ruang operasi.


Diva berjalan seperti tanpa tenaga, ia duduk didekat kantin yang sedikit lebih sepi, lalu membaca kertas yang ada disaku Faris tadi. Ia membukanya dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca.


...***...


...Untukmu......


...Bidadariku...


...Pertemuan pertama...


...Dengan surai seindah purnama...


...Tangan sehalus sutra...


...Senyummu bagai gerhana ...


...Yang bisa membuatku buta...


...Atas nama cinta...


...Aku akan keras kepala...


...Menyebut namamu dalam doa...


...Dalam khayal yang dikara...


...Dengan hati penuh gelora...


...Kuceritakan tentangmu pada sang Candra...


...Kartika juga menjadi saksinya...


...Ku berkata dengan lega...


...Hai semesta...


...Aku sedang jatuh cinta...


...Kan kuanggap Tuhan merestuinya...


...Hai renjana...


...Dirimu berhasil mengalihkan dunia...


...Alam menghipnotisku...


...Hingga aku terbuai malu...


...Suara alam yang begitu merdu...


...Terdengar indah bagai lantunan lagu...


...Saat aku duduk termangu...


...Tanpa sengaja kuciptakan ruang rindu...


...Didalam istana penuh halu...


...Hingga bayangmu terus menghantuiku...


...Delusi tinggi yang kau ciptakan...


...Membuatku terus berangan-angan...


...Memelukmu andai bayangan...


...Lalu mencintaimu bagai sandingan...


...Wahai kesayangan...


...Berbicara manis aku tak berkebolehan...


...Menyusun metafora pun tiada kawakan...


...Sajak khusus ini kutuliskan...


...Untukmu salah satu ciptaan Tuhan...


...***...


Matanya memerah, ia tak lagi bisa menahan air matanya. Ia berdiri sebisa mungkin, berlari menuju ruang operasi untuk menemui Faris berharap prianya segera bangun dan memeluknya, lalu menyandarkan bahwa semua ini hanya mimpi.


"Hiks... Faris, jangan pergi sayang, cepat sadar dan peluk aku hiks!" ucap Diva pada dirinya sendiri.


Kepalanya terasa pusing, kakinya melemah, ia hampir terjatuh ke lantai. Namun tiba-tiba Surya datang dan menangkap badan Diva dengan sigap, Raina terkejut melihat keadaan Diva saat ini.


Kebetulan Raina dan Surya sedang berputar-putar mencari Diva, Raina yakin kalau Diva tidak akan baik-baik saja dalam kondisi seperti ini. Raina membantu Diva berdiri dan merangkulnya dengan erat.


"Div, sadar Div, ayo yang kuat. Kamu bisa Diva!" tutur Raina sambil memeluk Diva erat dan sesekali mengusap-usap lembut punggung Diva.


Diva menangis keras dipelukan Raina, ia merasa tidak sanggup menghadapi semua ini secara tiba-tiba. "Hiks, Faris Na Faris hiks. Aku mau Faris, Farisku mana hiks!" pinta Diva disela tangisannya.


"Sayang, ayo bawa Diva ketempat lain aja. Gaenak disini diliatin orang banyak," bisik Surya pada Raina. Raina mengangguk dan membawa Diva pergi.


Diva masih terus menangis tanpa henti, batinnya tak henti-hentinya mengucap doa. "Faris mana Naa hiks, aku mau dipeluk Faris hiks, semuanya mimpi aja kan?" tanya Diva memastikan.


Raina memeluk Diva semakin erat dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, "Diva... Sadar Div, udah ya jangan nangis. Masih ada gua sama Surya disini Div, kamu harus kuat, ayo banyakin doanya ya."


"Div, Faris disana juga lagi berjuang, ayo temenin dia berjuang Div. Bantu Faris pake doa, jangan nangis lagi, semua pasti akan membaik kok," Surya meyakinkan Diva.


Diva melepaskan pelukannya dan menatap Raina dengan mata memerah dan air mata yang tidak bisa ia bendung, "Kenapa harus hari ini? Kenapa? Kenapa disaat dia mau lamar gua sih Na?!" ungkap Diva yang sedikit kesal juga sedih.


.


.


.


.


.


Tbc