Jouska

Jouska
Chapter 22



Mereka pergi bersama dan ternyata Andra mengajak Diva pergi ke salah satu coffe shop terbaru dikota, cukup banyak pengunjung namun tak terlalu berisik. Desain caffe yang minimalis, monokrom dan beberapa dekorasi yang tak terlalu mencolok membuat caffe ini terlihat tenang serta aesthetic.


"Whoa, caffe baru ya kak? Keren abis sih," ujar Diva sambil melihat sekeliling.


"Iya hahahaha, punya temen gua sih, disuruh kesini gitu katanya baru opening. Gua ga ada temen jadi yaudah ajak kamu aja," jelas Andra pada Diva.


"Oh gitu."


"Div mau gua fotoin ga? Soalnya kamu cantik banget, outfitmu pun cocok banget sama tema caffenya, pencahayaan juga mendukung banget," Andra menawarkan.


Diva merasa tidak ada mood untuk berfoto kali ini, namun juga tidak enak untuk menolak permintaan Andra. "Eum, sekali aja ya kak, lagi ga ada ide pose nih hehe," ucap Diva agar tak semata-mata.


"Okey."


Andra pun mengambil posisi untuk menyesuaikan angel foto Diva, ia memberikan aba-aba lalu memotret Diva setelah dirasa sesuai.


1...


2...


3...


Ckrek...


Andra pun kembali duduk disebelah Diva untuk menunjukkan hasil fotonya. "Bagus Div," ujar Andra.


Diva pun melihat hasil fotonya itu, "Ih iya bagus kak, kakak jago banget fotonya," Diva memuji.


"Ah biasa aja."


Diva memandangi fotonya beberapa saat dan tanpa sadar Andra mengucapkan sesuatu. "Kamu cantik Div."


Diva terkejut dan hanya bisa tersenyum canggung saat ini, "Hehe makasih kak. Anyway share dong fotonya itu!" pinta Diva.


"Tukeran WhatsApp sini, biar ga burem hasil fotonya."


Diva pun mengiyakan, mereka bertukar nomor dan Andra mengirimkan fotonya. Diva senang melihat hasil fotonya yang begitu perfect menurutnya.



Diva mulai merasa terkuras tenaganya karena terlalu lama berada diluar rumah. Ia segera menghabiskan minumannya dan mengajak Andra pulang.


"Kak aku mau ada perlu sama mamahku, boleh pulang sekarang ga?" bohong Diva agar bisa segera pulang.


"Oh iya deh ayo aku antar," tawar Andra.


Diva menggeleng, "Ngga kak, aku nanti naik taxi online aja. Ini drivernya udah OTW, aku nunggu dihalte depan sana itu aja."


"Mau aku temenin?"


"Ngga kak makasih, aku pulang dulu ya kak."


"Iya Div ati-ati."


Diva segera pergi kearah halte untuk menunggu taxi pesanannya, setelah taxinya sampai, ia langsung pergi ke Gramedia untuk mencari buku keperluannya.


"Huh, kak Andra baik tapi gua ga bisa nyaman sama sekali waktu sama dia, gua masih segan dan juga gampang ngerasa gaenak. Apalagi dia masih orang baru buat gua, kayak rasanya dia terlalu sokap banget ke gua. Bukan ke-pd-an sih, tapi ya gimana orang gua ngerasanya gitu. Berasa dikejar buaya gua kalo sama dia," batin Diva didalam Taxi sambil memikirkan tentang Andra.


Tak lama, Diva sampai di Gramedia. Ia langsung masuk dan berkeliling mencari buku yang cocok untuknya. Begitu sudah ketemu, ia langsung membayarnya dan bergegas pulang.


Brukkk...


"Ah it's okay, gua juga jalan barusan ga liat-liat."


Tatapan mereka saling bertemu dan Diva terkejut melihat Alvaska berdiri didepannya. "Lu? Kok lu disini sih?" tanya Diva dengan nada tinggi.


"Gua nyari buku buat bahan kuliah sekaligus buku bacaan buat adek gua, lu ngapain disini?" tanya Alvaska balik.


"Gua juga cari buku buat kuliah lah. Jangan bilang lu ngikutin gua ya? Eh lu parah banget sih asli, emangnya ga cukup ya kemaren gua jelasin ke lu didepan rumah gua?" tanya Diva dengan kesal.


"I know lu udah kasih gua, tapi pertemuan kita kali ini pure ga sengaja, gua kesini karena ada tujuan bukan karena ngikutin lu Div," Alvaska menjelaskan.


"Serah deh, gua mo balik." Diva menjawab dengan ketus sambil berjalan melewati Alvaska.


"Kalo ada apa-apa bilang ke gua aja, atau kalo pengen gua lakuin sesuatu bilang aja," ujar Alvaska.


Diva menghentikan langkahnya dan berbalik, kini mereka saling bertatapan lagi. "Gua kasih tau ya sama lu, apapun yang terjadi, gua udah maafin lu ataupun adek lu. Gua cuman belum bisa nerima kenyataan, jadi please gausah kejar-kejar gua bisa? Gua juga butuh waktu buat damai sama diri sendiri, lu jangan tekan gua dengan permintaan maaf lu itu. Tiap kali lu ucapin kata maaf, lu sama aja kayak robek luka lama gua. Jadi please berhenti minta maaf, berhenti usik gua dan pergi aja yang jauh dari gua. Kalo emang ketemu, mending lu hindarin gua okay!" jelas Diva dengan tegas.


Alvaska terkejut sekaligus sadar saat mendengar kata-kata Diva, mungkin selama ini ia memang terlalu memaksakan dan menekan Diva. Padahal kejadian ini baru berlalu beberapa hari yang lalu.


"Yaudah sorry kalo gua ganggu lu banget, gua cuma takut lu masih punya dendam ke adek gua aja."


Alvaska berbalik dan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi, ia berjalan menjauh dari Diva. Diva berpikir sekali lagi apakah kata-katanya terlalu kasar dan menyinggung.


"Apa gua terlalu kasar? Alah ga sih, orang disini gua yang ditekan." Diva bodo amat dengan apa yang terjadi dan bergegas pulang untuk mengisi energinya dikasur.


...***...


Beberapa bulan telah terlewati dari hari kematian Faris, Diva tampak lebih baik dari sebelumnya. Jangan lupakan Andra yang terus mengusiknya dan tak kunjung pergi.


"Kangen banget sama dia..."


Diva mengambil ponselnya dan mengirimkan beberapa pesan pada nomor Faris untuk mengobati rasa rindu dihatinya yang tak kunjung selesai.



Diva menghela nafas panjang, mungkin seperti ini tak akan ada effort kembali. Namun ini bisa membuatnya sedikit lega serta mengobati rasa rindu yang mendalam dihatinya.


"Aku mau datengin dia aja, siapa tau dia kangen aku juga."


Diva bersiap-siap untuk datang ke makam Faris karena dia benar-benar bingung harus cerita ke siapa tentang apa yang dia alami akhir-akhir ini, Diva merasa tak bisa dekat dengan siapapun lagi setelah kepergian Faris. Bahkan dengan teman-temannya pun ia merasa canggung tak seperti dulu.


Diva lelah terus merasa asing dengan siapapun, bahkan terkadang ia merasa telah kehilangan dirinya sendiri. Namun tak ada siapapun yang mengerti karena Diva memang terlihat baik-baik saja dari luar.


Diva melihat kembali fotonya bersama Faris yang dipajang didalam bingkai dimeja belajarnya. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan mengusap pelan dibagian wajah Faris.


"I lose you and i lose my self."


.


.


.


.


.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya :)