
"Heh geseran dikit napa! Gua ga dapet tempat duduk ini, Arkan ni pasti yang bikin ga muat!" ujar Dika saat hendak duduk didalam mobil.
"Lah kok gua sih? Gua ga ngapa-ngapa juga, ngadi-ngadi dah lu!" jawab Arkan.
"Ya lu lah, pantat lu gede sih! Gua yang body goals dan berotot ini jadi ga dapet tempat duduk nih!" gurau Dika.
Seisi mobil langsung tertawa menggelegar mendengar gurauan itu kecuali Arkan pastinya. "Heh! Gua tabok juga mulut lu pake pantat!" kesal Arkan.
Semua hanya tertawa. Mereka bersiap-siap dan pergi menuju Rumah sakit. Sesampainya mereka disana, Raina sedikit kebingungan karena tidak melihat Diva, pikirnya Diva pasti sudah datang lebih awal.
Raina mendekati Surya dan berbisik, "Ay, kok Diva ga ada? Dia belum dateng atau emang baru aja balik?" tanyanya pelan.
Surya menggeleng dan ikut berbisik kepada Raina, "Ga tau aku yang, tapi masa sih beneran ga dateng? Tadi udah kamu chat dia?"
Raina menggeleng karena memang ia tidak chat Diva sama sekali. Tak lama Mama Faris keluar dari ruang ICU dan menemui semuanya. Mama Faris tersenyum ramah menyapa mereka.
"Eh ada kalian? Diva nya engga ikut ya?" tanya Mama Faris sambil melihat-lihat dimana Diva.
Mereka semua hanya saling lempar pandang karena mengira kalau Diva sudah datang lebih dulu, "Diva nya emang belum dateng tan? Soalnya saya kira udah datang duluan, jadi ga kita ajak barengan gitu."
Mama Faris menggeleng, "Engga kok. Dia belum datang dari kemarin, apa mungkin kecapean ya? Atau ga sanggup liat Faris?"
"Kurang tau juga tan."
Merekapun bergantian satu persatu memasuki ruang ICU dengan pakaian khusus dan melihat keadaan Faris. Raina tak tega melihat sahabatnya terbaring lemas dan tak sadar dengan luka disekujur tubuhnya. Alat-alat bantuan medis seperti selang infus yang terpasang ditangan Faris, monitor yang menunjukkan detak jantungnya, juga oksigen bantuan yang terpasang dihidung Faris.
Raina mengusap lembut tangan Faris, "Ris, bangun yuk. Gua kangen kita bercanda lagi, gua kangen lawakan lu. Tongkrongan sepi Ris kalo ga ada lu, kasian Diva juga. Katanya lu mau nikah sama dia? Ayo bangun, kasih kejutan buat dia lah Ris." Raina meneteskan air matanya saat mengucapkan kata-kata itu.
"Gua ga berharap lu langsung bangun terus sadar sekarang, ga kok Ris. Gua cuman berharap lu cepetan sadar aja, ntah nanti atau besok. Moga-moga lu denger kata-kata gua ini lewat alam bawah sadar lu ya friend. Gua tunggu sadarnya bro."
Raina mengepalkan tangannya, dan menempelkannya ke tangan Faris seolah-olah melakukan tos. Setelah itu Raina keluar dan memeluk Surya. Memang Raina tak punya perasaan khusus untuk Faris, namun tetap saja ia sahabatnya, perhatiannya pun juga beda.
Mereka semua ada di rumah sakit sekitar 2 jam lalu pamit pulang. "Tante, kita semua pamit ya. Nitip Faris, semoga cepet bangun terus membaik ya tan," ujar Dika.
Mama Faris mengangguk sambil tersenyum tipis, "Iya-iya, makasih ya kalian semua juga udah mau dateng kesini. Doain Faris semoga cepet sadar ya."
"Aamiin...."
"Kita semua pamit dulu tan, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
......***......
Di Bawah
Raina, Naya, Arkan dan Dika menunggu Surya mengambil mobil dilantai bawah sambil sedikit berbincang-bincang.
"Eh kira-kira kenapa ya kok si Diva belum dateng? Walaupun ga tega, tapi tetep aja Faris kan cowonya. Katanya dari kemaren belum dateng, masa sampe sekarang aja juga belum?" tanya Dika.
Arkan mengendikkan bahu, "Gatau juga sih, emangnya lu-lu pada ada chat dia? Tanya dia gitu, soalnya gua ga denger kabar apapun dari dia sih," jawab Arkan.
"Gua ga berani chat, kemaren gua anter dia balik aja mukanya pucet abis. Gua cuma bisa nunggu dia chat duluan, kliatan banget dia masih trauma. Takutnya kalo gua chat duluan nanti dia keinget lagi," jelas Raina dengan jujur.
"Coba nanti kita chat, sekalian tanya kabar dia," celetuk Naya memberi ide.
Raina, Dika dan Arkan mengangguk. Mobil sudah tiba dan mereka semua masuk lalu pulang. Ditengah perjalanan, Surya membuka obrolan.
"Heh Dik, lu jangan bab beb bab beb ke bini gua ye... Jan gatel lu, gua garuk mampus!" peringat Surya yang cemburu.
"Elah say, cuman bercanda," jawab Dika dengan nada seperti bencong.
"Anj*r kayak bencong, btw profil chat lu gada yang laen apa? Gua liat-liat kok kayak uke dah? Gay lu?" tanya Surya sambil bergurau.
"Pala bapak kau, gua ni macho yee... Nih liat badan gua berotot kayak Mike Tyson, kece banget ga sih gua, ngeri-ngeri, ck ck ck mesti ntar bini gua beruntung dapet gua yahahahay Wahyuuu," bantah Dika.
"Heleh, kek udah mo punya bini ae lu," ledek Arkan.
"Kek gini minta masuk surga," ledek Raina.
"Hahahaha."
......***......
Selesai mengantar Arkan, Naya dan Dika, Surya mengobrol singkat dengan Raina. "Sayang mau langsung pulang aja ini?" tanya Surya.
Raina berpikir sejenak, "Ah aku mau siomay!" Raina pun memegang paha Surya dan menggoyang-goyangkannya, "Aaaaa ayang mau siomay, mau siomay!"
"Sayang, jangan gitu ah, kalo mau pegang mah ini yang ditengah aja yang," ucap Surya sambil melirik Raina dan tersenyum.
"Hiihhh modus banget sih ni om-om satu! Ayo ah, mau muter-muter sebentar terus beli siomay dideket rumah Diva, maunya disana, enaknya disana tok. Kalo yang lain ga mau pokoknya!" rengek Raina.
Surya terkekeh kecil, "Hahahaha iya-iya bayi sabar ya sayang, ayo muter-muter nurutin bayi kecilku terus beli siomay."
Rain tersenyum puas, lalu ia berinisiatif mengirimkan pesan pada Diva karena siapa tau Diva mau menemuinya.
Raina khawatir karena Diva hanya melihat pesannya dan tidak membalasnya, ia bingung sekaligus bertanya-tanya kenapa Diva membalasnya begitu.
"Yang nanti habis beli siomay mampir ke rumah Diva ya, aku khawatir, aku chat cuman di read ga di bales," ajak Raina.
"Iya sayang, tenang aja jangan khawatir."
...***...
Mereka berdua sampai dirumah Diva dan kebingungan karena hanya melihat Mama Diva. "Tante, Diva nya gimana? Udah baikan belum?" tanya Raina.
"Na, coba kamu bujuk Diva biar keluar kamar Na. Tante khawatir, dari kemarin dia ga keluar kamar sama sekali, tante bujuk buat makan, sampe taruh makanan didepan pintu kamarnya tapi tetep aja utuh ga kesentuh, tante mau bujuk dia terus tapi ga tega juga," keluh Mama Diva yang kebingungan.
Surya dan Raina pun berpikir, akhirnya Raina meminta kunci cadangan kamar Diva dari mamanya dan membuka kamar Diva perlahan. Raina melihat Diva tertidur pulas diatas ranjangnya.
Mama Diva duduk diranjang lalu berusaha membangunkan Diva, "Div ayo bangun makan dulu, ini ada Raina sama Surya loh dateng liatin kamu. Ga mau bangun dulu?" tanya Mama Diva dengan lemah lembut.
Tak ada respon dari Diva, mamanya pun membangunkan kembali dengan menggoyang-goyangkan badan Diva. Alangkah terkejutnya Mama Diva saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Diva yang memiliki suhu sangat tinggi.
"Astagfirullah nak! Raina, kayaknya Diva demam!" panik Mama Diva
Surya menempelkan telapak tangannya didahi Diva, dirasanya suhu begitu tinggi dan seperti membakar tangannya. Mama Diva memanggil suaminya dan mengangkat Diva masuk kedalam mobil untuk pergi ke rumah sakit.
Raina dan Surya mengikuti dari belakang, suhu Diva terlalu tinggi saat ini, wajahnya begitu pucat, belum lagi traumanya serta tubuhnya yang lemas karena tidak mendapatkan asupan makanan dari kemarin.
...***...
Dirumah sakit yang sama tempat Faris dirawat, Diva langsung diberikan penanganan dan diawasi karena suhu badannya terlalu tinggi. Mamanya takut kalau Diva sampai kejang, mamanya menangis menyalahkan diri sendiri karena tidak tau kondisi putri kesayangannya.
Tak lama Raina langsung mengabari teman-temannya untuk kabar Diva saat ini.
.
.
.
.
.
Tbc