Jouska

Jouska
Chapter 42



Karena penasaran pun Surya membuka kotak kado didepannya. Matanya membelalak tak percaya, setelah itu Raina keluar menyapa Surya dengan senyum penuh bahagia.


"Tadaaa! Surprise!!!"


Surya terdiam tak percaya, tiba-tiba kakinya kaku dan bingung harus melakukan apa. Otaknya tiba-tiba kosong serta tak ada pikiran apapun untuk saat ini.


"Ih by! Kok diem aja!" kesal Raina.


Surya menatap Raina cengo, ia masih bingung menerjemahkan semua hal yang saat ini ada didepannya. "Babe? Ini serius?" tanya Surya memastikan.


"Of course my darling, ga ada yang bercanda disini hehe," jawab Raina dengan penuh senyum.


Surya langsung memeluk Raina dengan erat dan tanpa sadar air matanya menetes, "Makasih, makasih, makasih banget by, sekali lagi makasih banget," ucap Surya berkali-kali pada Raina.


Diva dan Dylan saling menatap canggung menjadi obat nyamuk diantara pasangan halal ini. Surya masih tak bisa melepaskan pelukan eratnya. Siapa yang tak akan terharu, setelah bersama Raina bertahun-tahun, akhirnya anggota keluarganya akan bertambah.


Ya, Surya menemukan 2 buah testpack dengan hasil positif semua. Surya benar-benar bahagia hingga tak bisa berkata-kata lagi, Raina menangis bahagia karena kehadiran malaikat kecilnya ini benar-benar berdampak besar dalam kehidupannya.


"Congratulation ya calon ayah bunda, gua ikut seneng banget sih asli! Ditunggu ya keponakannya, nanti pokoknya kalo ada apa-apa harus kabarin gua sih! Awas aja ya gua dilupain, ada senengnya dikabarin, ada bingungnya dilupain!" ucap Diva menyertai.


"Congratulation ya buat kalian, gua ikut seneng." Dylan ikut mengucapkan. Dylan sedikit menunduk dan berbisik pada Diva, "Div, ga pengen?" tanyanya.


"Hah? Pengen apa woi!" kaget Diva.


"Ya jadi couple halal, apalagi. Hayo lo mikir apaan coba!" terka Dylan.


"Ah engga hehe," Diva salah tingkah karena Dylan. "Sialan, kaget gua an*jir, gua pikir pengen hamil. Yakali gua bunting duluan buset, kalo yang inimah gapapa kan emang udah halal juga. Dylan ni emang makin kesini makin kesana!" batin Diva.


Raina dan Surya melepas pelukannya dan saling mengusap air mata. Surya berlutut dan mengusap perut Raina dengan penuh kasih sayang.


"Halo malaikat kecilnya papa, baik-baik ya diperut mama, jangan nakal! Nanti kita ketemu ya beberapa bulan lagi," Surya mengusap kembali perut Raina lalu memberikan kecupan hangat.


"Iya papa," sahut Raina sambil menirukan suara anak kecil.


Surya pun berdiri dan menatap Diva, "Kalian yok ikut gua sama bini, makan-makan sama nurutin bumil." Surya mengajak.


Diva paham dengan situasi ini, "Oh engga deh, gua mau ada acara. Lagian mau ngedate dulu sama si Dylan, kalian pergi berdua aja deh sekalian honeymoon lagi sono sebelum nanti ada yang gabung di tempat tidur kalian hahaha," ledek Diva sambil menggandeng lengan Dylan.


Dylan tersenyum melihat tingkah Diva, jujur saja dia salah tingkah namun berusaha menahannya. "Udah kalian berdua aja, jan ganggu gua mau ngedate sama cewe gua," jawan Dylan.


"Lah udah jadian?" tanya Raina.


"Udah."


"Belum."


Dylan dan Diva menjawab dengan bersamaan namun jawaban mereka berbeda, itu membuat Raina tertawa. "Hahahaha, yang bener yang mana ini nj*ir, udah apa belum?" tanya Raina.


"Belum woi! Ngarang Dylan nih!" jawan Diva dengan cepat sebelum didahului Dylan.


"Hehe, doain ya cuy. Ni orang rada susah didapetin soalnya," jawan Dylan cengengesan.


"Iya deh gua doain buruan dapet, jan lupa ntar pajak jadian kalo udah jadi yaaa," kata Raina.


"Ah kalian ga asik, gua mo keluar aja bye!" Diva langsung menarik tangan Dylan keluar karena tak bisa lebih lama lagi disana, jika tidak semua orang akan melihat wajahnya yang semerah kepiting rebus.


Begitu diluar, Dylan pun bertanya pada calon kekasihnya itu, "Neng cantik mau kemana? Nanti a'a turutin," Dylan menawarkan.


"Tiba-tiba pengen ke pasar malem deh, tapi kan ini masih sore. Mana buka jam segini," ujar Diva dengan nada rendah.


"Yaudah ayo ikut gua aja, pasti nanti waktu berhenti udah buka pasar malemnya."


"Yaudah ayo."


Dylan memesan taxi online dan pulang kerumah Diva terlebih dahulu untuk mengambil motornya. Setelah mengambil motor, ia mengajak Diva jalan-jalan sambil menikmati pemandangan.


......***......


Di motor, Diva penasaran kemana Dylan mengajaknya pergi kali ini. "Ini mau kemana Lan? Masi jauh kah?" tanya Diva.


Setelah sekitar 10 menitan, mereka sampai dipinggir sebuah danau yang memiliki pemandangan cukup indah. Diva turun dari motor dan langsung menatap pemandangan indah sunset hari ini.


"Wah cantik banget, kok kamu tau tempat ini?" tanya Diva yang terpukau dengan pemandangan indah ditepi danau.


"Iya dulu waktu masih bocil diajak mama kesini mulu, terus jadi tempat favorit deh," jawab Dylan.


Mereka berdua duduk dipinggir danau sambil menikmati pemandangan yang begitu indah. Dengan perlahan tangan Dylan mendekati tangan Diva, sedikit ragu dan gemetar ia terus mendekati tangan Diva.


Diva tak menggubris lagi, ia hanya fokus dengan pemandangan indah didepan matanya. "Demi apa ini cantik banget, gua suka banget pemandangan alam kek gini!"


"Iya, kalo lo suka ntar gua sering ajak lo jalan-jalan buat liat pemandangan kek gini lagi," jawab Dylan.


Dengan keberanian seadanya, Dylan memegang tangan Diva dan menggenggamnya. Diva yang menyadarinya tak berani menengok dan memilih berpura-pura bodoh.


"Lo cantik Div," kalimat ini terlontar begitu saja dari mulut Dylan.


"Bisa gua percaya nggak kata-kata lo?" tanya Diva sambil melihat sunset.


"Lo ga bisa pegang omongan gua, tapi lo bisa percaya, buat jaga kepercayaan lo, itu urusan gua," Dylan menjawab dengan tegas.


Jawaban itu cukup membuat Diva puas kala itu, ia tak ingin memikirkan apapun saat ini, hanya ingin menjalani semuanya dengan begitu saja tanpa harapan dan keinginan yang kuat karena takut kecewa lagi untuk kesekian kalinya.


"Ris, lo apa kabar disana? Asli sih gua jahat banget jadi orang, gua bisa disini gandengan sama orang baru tapi hati dan pikiran gua masih tertuju ke orang lama. Apa gua berhak bahagia? Apa gua pantes?" batin diva yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Hari mulai gelap dan Dylan pun mengajak Diva pergi ke pasar malam sesuai yang diinginkan Diva. Begitu sampai, Dylan menatap Diva dan bertanya, "Mau kemana?"


"Mau ngelukis, boleh?" tanya Diva.


"Iya ayo."


Mereka berdua pergi ke tempat melukis dan memilih gambar dasar untuk dilukis. "Gua mau Frozen deh, Elsa sama Anna lucu hehe," ujar Diva.


"Gua mau si kembar botak aja deh, gua mau bikin mereka versi sangar hahaha," pilih Dylan.


Diva mengambil gambar dasar Frozen dan Dylan memilih Upin Ipin. Entah berapa lama mereka keasikan melukis sambil bercanda hingga akhirnya lukisan mereka selesai.


"Mana punya lo liat sini!" Pinta Diva.


"Ga bisa dong, ladies first. Sini liat dulu punya lo!" Dylan mengelak.


Diva pun mengalah dan menunjukkan hasil lukisannya.



"Hehe gua gabisa ngelukis terus warnanya terbatas, tiba-tiba aja gua lupa warnanya si Elsa sama Anna apa aja," Diva cengengesan.


"Wih keren asli cuy, tapi masih kerenan punya gua sih!"


"Mana liat?"



.


.


.


.


Bersambung


Hy guys, Diagaa disini. Aku minta maaf banget ya kalo tiba-tiba hiatus lagi karena akunku tiba-tiba aja ilang HUHU T_T, and Thank God sekarang udah balik. Kedepannya akan aku usahain rajin update, kalian juga jangan lupa like nya yaa...


Yuk baca karyaku yang baru juga dengan judul "Calon Suami Mudaku"


Kalian bisa cek di profilku, bye guys n see u in next chapter 😉