
Raina gugup dan terdiam tanpa bergerak. Surya menaikkan kembali kursi Raina seperti sebelumnya dan kembali menyetir dengan kecepatan tinggi.
Surya menyadari Raina yang kikuk saat ini, "Udah gausah gugup, udah tau juga ukuranku seberapa. Btw itu juga lipstik nya bagus, besok beli lagi. Ga ilang buat c*pokan," kata Surya dengan entengnya.
Raina membulatkan mata dan menggeplak pundak suaminya itu karena berbicara terlalu terus terang, ia memang sudah melihatnya namun tetap saja masih sering gugup jika harus berurusan dengan hal itu.
"Sakit by, btw kita lanjut dirumah."
Surya menjawab cubitan Raina dengan singkat dan itu berhasil membuat Raina bulu kuduk Raina berdiri, karena terakhir kali ia membuat Surya cemburu, keesokannya ia sulit berjalan.
"Yang bener aja kamu mas!" tanya Raina memastikan.
"Ya siapa yang bohong? Kangen kamu, kangen si kembar juga. Mau n*nen juga by, itu yang paling utama sih!" kata Surya yang tersenyum miring.
Raina mengalihkan pandangannya dan hanya bisa terdiam pasrah, bagaimanapun Surya suaminya dan apa yang diminta Surya juga menjadi salah satu tugasnya sebagai istri. Lagipula dia juga menyukainya, munafik jika Raina bilang tak menyukainya.
"Mama, haduh harus apa aku. Mau juga, tapi takut susah jalan lagi, pengen nolak juga tapi aslinya juga enak. Eh apasih kok jujur banget! Haduh gatau lagi deh, kalo ga jadi ya gapapa, tapi kalo jadi tinggal nikmatin aja deh. Palingan juga Aya yang gerak, aku mah terima jadi aja," pikir Raina diam-diam sambil tersenyum.
"Nah loh mikir apa kok senyum-senyum,?" tanya Surya menyelidik. "Jangan-jangan kamu bayangin yang aneh-aneh ya! Astagfirullah ukhti, cowo itu dijaga bukan dirusak!" gurau Surya.
"Heh mana ada! Bohong banget, orang aku cuma keinget anu, itu..." Raina kebingungan harus jawab apa, kebetulan ada tukang es krim dipinggir jalan dan membuat Raina menemukan jawaban. "Orang aku keinget es krim, lagi pengen es krim aja. Bayangin enaknya makan es krim jam segini," Raina berdalih.
Surya tersenyum dan ia menaikkan kecepatan mobilnya hingga membuat Raina terkejut karena tiba-tiba mengebut. "Heh kenapa kok tiba-tiba ngebut?"
"Tenang sayang! Kamu mau es krim? Aku punya es krim, nanti kamu makan boleh, kamu abisin juga boleh. Es krimnya punya kamu doang, sabar sayang bentar lagi nyampe rumah!" kata Surya bersemangat.
Raina awalnya bingung memahami perkataan Surya lalu tiba-tiba otaknya berpikir kearah 21+ dan baru memahaminya. Raina langsung menarik telinga Surya.
"Hihhhh nakal banget! Bukan es krim itu," kata Raina sambil menunjuk kearah ************ Surya, "Tapi es krim yang bisa dimakan sama dijilat!" kesal Raina.
"Loh by, ini juga bisa dimakan, bisa dijilat bahkan ada creamnya juga. Enak loh, ketagihan nanti kamu pastinya."
"Hiihhhh nakal banget!"
Raina melepaskan jewerannya dan diam menatap jendela luar dengan wajah semerah kepiting rebus. Tak tau lagi ia harus bagaimana menghadapi suaminya ini.
...***...
Sesampainya di rumah, Surya menggandeng tangan Raina seperti anak kecil. Wajahnya full senyuman hingga orang-orang kebingungan saat melihat ekspresi Surya.
Sesampainya dilantai 2, Raina berusaha melepas genggaman Surya. "Ih udah, itu udah deket sama kamar. Masih gandengan terus kayak bocil, mana mukanya senyam-senyum," protes Raina.
Surya melepaskan tangannya dan menggendong Raina ala bridal style memasuki kamarnya, Raina pun sontak terkejut karena itu. Setelah menutup pintu, Surya tentunya langsung mengunci pintu kamar dan mengganti lampu kamarnya dengan lampu yang lebih redup.
Surya menaruh badan Raina diatas ranjang, saat itu juga ia langsung mengungkung Raina dari atas. Ia mengusap pelan bibir Raina yang lembut lalu menciumnya,
"Mhhh..."
Tangan Surya tak tinggal diam, ia langsung menelusuri setiap inci tubuh Raina. Perlahan-lahan kancing baju dan celana raina sudah terlepaskan hingga kini ia hanya memakai underwear.
Raina pun mulai terbuai, tangannya juga mulai melepaskan satu-persatu pakaian Surya hingga akhirnya Surya benar-benar naked.
Surya mendekap erat badan Raina, ia mendekati telinga Raina lalu berbisik, "Aku pengen kamu diatas sayang," Surya meniup telinga Raina lalu menjilatnya pelan hingga membuat Raina mulai terangsang.
Dengan cepat Surya membalik posisi mereka, kini Raina berada diatas badannya dengan wajah memerah karena terangsang. Surya hanya berbaring terlentang dengan kedua tangan dibelakang kepala.
"Lakuin semua hal yang mau kamu lakuin ke aku sayang, do what you want and be your self. I'm yours, and don't be afraid sweet heart," kata Surya dengan suara beratnya.
Raina melakukan apa yang ia mau begitu saja, ia ******* kembali bibir Surya dan tangannya bergerak kemanapun sesuai intuisinya. Untuk selanjutnya hanya mereka berdua dan kamar yang tau.
...***...
"Suka ga diajak muter-muter gini?" tanya Dylan.
Diva diam-diam tersenyum didalam helm, "Iya suka, udah lama ga keliling naik motor juga. Apalagi cuacanya pas banget, enak banget buat healing biar ga stres stress amat hahahaha," tawa Diva.
"Masya'allah tawanya, bagus banget. Kalo jatuh cinta ga salah kan ini, soalnya udah terpesona banget inimah."
"Ih modusnya ga ilang-ilang!"
"Hahahaha yaudah ga, mau makan ga? Lagi pengen makan apa?" tanya Dylan.
"Terserah."
Dylan dan Diva menjawab bersamaan dan Dylan pun tertawa, "Hahaha udah gua duga ini mah, kalo beneran cewe waktu diajak makan pasti jawabnya terserah. Yaudah deh, lu ngikut gua aja, nanti juga makan enak dan pastinya kenyang kok!" kata Dylan.
Dylan menaikkan kecepatan motornya dan melaju jauh menuju tempat makan yang ia tuju. Diva sekali lagi tersebut dengan jawaban Dylan, kebanyakan cowo akan bingung atau marah saat cewe menjawab terserah. Namun Dylan justru memberikan ide dan tak ambil pusing.
"Sumpah deh kek cowo idaman banget! Tapi tetep aja ga boleh lengah soalnya pasti cowo kayak dia banyak cewenya, atau banyak yang ngejar, atau emang buaya!" Batin Diva sambil menatap Dylan dari spion.
...***...
Dylan berhenti didepan sebuah tenda makan dipinggir jalan, Diva melongo melihatnya. Dylan yang menyadarinya langsung bertanya.
"Kenapa? Ga suka? Ga doyan? Atau ilfeel?" tanya Dylan.
Diva menggeleng, "Engga kok, aku suka. Malah sering makan beginian soalnya sambelnya enak. Ayok masuk," ajak Diva sambil berjalan duluan.
Saat ini bukan masalah doyan tak doyan, tapi kalau makan disitu pastinya makan dengan tangan langsung sedangkan Diva baru saja selesai melakukan perawatan kuku dan nail art.
"Bu ayam penyet sama es teh 2 ya dimakan sini!"
"Iya mas sebentar ya."
Tak lama pesanannya selesai disajikan diatas meja, Dylan mulai mencuci tangannya dan hendak memakan sesuap nasi namun berhenti saat melihat Diva masih terdiam dan belum mulai makan.
"Bu, ada sendok ga sama garpu?" tanya Diva yang sedikit sungkan.
"Yah ngga ada mbak."
Dylan melihat tangan Diva dan fokus ke jari Diva, Dylan peka dengan hal itu. Ia mengambil porsi makan Diva dan menyuapi Diva.
"Eh kenapa Lan?" tanya Diva yang kaget.
"Takut kukunya rusak ya? Sini udah gua suapin aja, enak kok pasti. Tangan gua juga bersih tenang aja," kata Dylan.
Lagi-lagi Diva kagum, Diva yang awalnya ragu membuka mulut, kini mulai menerima suapan dari Dylan dan makan sampai habis dengan disuapi oleh Dylan.
.
.
.
.
.
Tbc
Jangan lupa like dan komen ya :)