Jouska

Jouska
Chapter 23



Diva bersiap-siap untuk datang ke makam Faris karena dia benar-benar bingung harus cerita ke siapa tentang apa yang dia alami akhir-akhir ini, Diva merasa tak bisa dekat dengan siapapun lagi setelah kepergian Faris. Bahkan dengan teman-temannya pun ia merasa canggung tak seperti dulu.


Diva lelah terus merasa asing dengan siapapun, bahkan terkadang ia merasa telah kehilangan dirinya sendiri. Namun tak ada siapapun yang mengerti karena Diva memang terlihat baik-baik saja dari luar.


Diva melihat kembali fotonya bersama Faris yang dipajang didalam bingkai dimeja belajarnya. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca dan mengusap pelan dibagian wajah Faris.


"I lose you and i lose my self."


...***...


Diva pergi ke makam Faris sebelum hari semakin terik, ia tak lupa membeli bunga untuk ditaburkan diatas makam kekasihnya itu. Diva duduk disamping makam Faris dan membersihkan rumput-rumput yang tumbuh diatas makamnya.


Diva menaburkan bunga dengan keikhlasan dan berharap ini akan membantunya lebih ikhlas, ia tau tak seharusnya ia berusaha melupakan kesedihannya, namun Diva sadar kesedihannya bisa menyiksa Faris disana.


"Hai sayang, aku dateng nih. Kamu apa kabar? Aku kangen kamu banget, kamu kangen aku ga ya kira-kira? Aku cape banget sama semuanya, aku pengen berhenti berjuang lagi. Kenapa hidup harus berat banget sih? Belum lagi masih harus interaksi sama


Tak terasa Diva meneteskan air matanya saat mengusap batu nisan Faris. Ia memeluk batu nisan Faris dengan penuh kasih sayang.


"I miss you," bisiknya.


Setelah merasa cukup puas berlama-lama di makam kekasihnya, Diva kembali pulang dengan berjalan kaki sebentar dan berencana menemui Mama Faris. Sudah kama rasanya mereka tak saling sapa.


Tringgg.. Tringgg...


Ponsel Diva berbunyi, Diva melihat layar ponselnya dan mengecek siapa yang menelfonnya. "Kak Andra? Ngapain dia telfon jam segini?" bingung Diva saat ini. Diva pun mengangkat telfon itu.


"Halo Div!"


"Hal kak, kenapa ya kok tiba-tiba telfon"


"Ehm kamu bisa datengin aku sebentar ga? Darurat banget ini asli!"


"Kenapa kak? Ada apa? Ada masalah kah?"


"Udah kamu dateng aja ke lokasi yang aku asih sekarang ya. Penting banget ini asli, sekarang ya jangan lama-lama!"


"Iya udah sebentar ya, aku perjalanan kesitu!"


Dengan berat hati Diva mengiyakan permintaan Andra walaupun sebenarnya Diva tak ada mood untuk meladeninya saat ini. Diva menghela nafas panjang dan berharap semoga Andra memang benar-benar punya hal yang sangat penting untuk diberitahukan.


"Moga aja beneran penting deh, gua bener-bener ga ada mood buat ladenin dia. Gua juga ga pengen buang-buang waktu hari ini, tugas kuliah gua banyak banget yang belum dikerjain. Haih, go harder girl," ucap Diva pada dirinya sendiri.


Diva memesan sebuah taxi online untuk pergi kesana karena matahari mulai terasa terik saat ini. DIva datang ke sebuah tempat persis seperti yang dikirimkan oleh Andra.


...***...


Memakan waktu 15 menit untuk sampai ditempat tujuannya, Diva sudah lelah sendiri dengan kemacetan dan suasana yang panas. Suasana sekitar terasa sepi dan tidak ada orang. Diva mngambil ponselnya untuk mengabari Andra, dipikirnya salah alamat.



"Ih apaan banget sih, di read doang dong sialan. Ngartis bener sih ni orang!" Gerutu Diva selama beberapa saat.


Tiba-tiba Andra datang dengan buket bunga besar ditangannya, dengan wajah tersenyum ia berjalan kearah Diva, sedangkan Diva saat ni hanya bisa diam mematung memahami entang apa terjadi saat ini.


Sekarang Andra berdiri tepat dihadapan Diva, "Kak ini maksutnya apa ya?" tanya Diva kebingungan.


Andra berlutut didepan Diva dan menyerahkan buket bunga itu kearah Diva, "Div, gua sayang sama lu, gua cinta sama lu, udah lama gua mendem perasaan suka gua ini dan sekarang gua rasa waktunya udah tepat. Lu mau ga jadi pacar gua?" tanya Andra spontan.


Jujur hal seperti ini tak pernah ada dibenak Diva, bahkan sekalipun tak pernah terlintas dibayangannya bahwa dia akan terjebak dalam situasi seperti ini.


"Kak gausah bercanda deh, udah sekarang kakak berdiri aja. Ngapain sih kayak gini juga, ga lucu tau!" kesal Diva.


"Gua ga bercanda Div, gua serius. Gua beneran pengen lu jadi cewe gua. Dar pertama kali gua liat lu, gua udah suka sama lu, makin kesini kita akrab pun gua makin nyaman dan susah banget kalo ga lagi sama lu, jadi please ya terima gua," Andra memohon dengan sepenuh hati.


Andra menggenggam tangan Diva dengan lembut untuk meyakinkan hati Diva, sedangkan Diva benar-benar merasa tak nyaman saat ini. Diva pun menarik tangannya perlahan dan tersenyum kaku.


"Sorry banget nih kak bukannya gimana-gimana tapi gua gabisa nerima pernyataan cinta ini, gua ga ada rasa apa-apa sama sekali, perasaan gua masih sama. Hati gua masih milik Faris dan gua belum bisa berpaling dari dia," jelas Diva dengan tegas tanpa sungkan agar Andra tak berharap lebih kepadanya.


"Oh ini cuma masalah waktu doang, gua ga papa kok nunggu lu. Gua bisa bantu lu buat lupain Faris, jadi tolong jangan tolak gua ya!" pinta Andra.


Diva terkejut dengan perkataan Andra barusan, "What? No! I don't need you, sampai kapanpun gua ga akan pernah lupain dia. Emangnya lu siapa sih sampe mau bikin gua lupa sama dia, lagian selama ini gua cuma anggep lu kating doang ga lebih, jadi gausah berharap lebih deh!" Diva merasa kesal dengan perkataan Andra.


"Div please kasih gua kesempatan!"


"No! Don't you hear it? Ga mau! Lagian lu suka gua diawal juga karena muka kan bukan karena murni sikap gua, rasa sayang lu tuh ga tulus, itu cuma nafsu kak sadar! Sekarang aku rasa ga ada yang perlu dijelasin deh, mending kita jaga jarak aja."


Diva berbalik badan dan melangkah pergi, namun baru beberapa langkah, ia sudah berhenti. "Oh iya selama ini aku iyain ajakan dan permintaan kamu cuma karena kamu ini kating aku ya. Aku sebenernya risih dan ga nyaman sama kamu, jadi jangan berharap lebih karena udah lama bareng pun aku masih belum bisa nyaman sama kakak. Aku pergi dulu!" Diva melanjutkan langkahnya dan pergi tanpa menengok sekalipun.


"Diva! Div... Diva! Arghhh, aku bakalan kejar kamu terus sampe kamu mau nerima aku sebagai pacar kamu, inget itu!" teriak Andra meski tak digubris oleh Diva.


.


.


.


.


.


Tbc


Jangan lupa like dan komen yaaa :)