Jouska

Jouska
Chapter 21



Andra langsung melepas kemejanya dan memakaikannya ke kepala Diva agar tak terlihat orang apabila Diva sedang menangis. "Ayok Div kita pergi aja, dan lu gausah ganggu dia deh!" ancam Andra pada Alvaska.


Diva dan Andra pergi meninggalkan Alvaska ditaman sendirian, "Div, Diva, Div!" panggil Alvaska yang tak dihiraukan oleh Diva.


Andra mengajak Diva duduk dibawah pohon rindang besar dan bertanya tentang apa yang terjadi saat ini. "Div lu kenapa? Kalian ada masalah? Lu bisa kok cerita ke gua."


Diva langsung memeluk Andra, tangisnya pecah begitu merasakan pundak tegap milik Andra. "Hiks kak, aku ga kuat kak demi apapun. Aku mau pergi aja, aku mau pergi sama Faris. Aku ga bisa tanpa Faris hiks!" keluh Diva dengan suara yang begitu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya.


"Heii, tenang dulu... Coba cerita, kamu kenapa sebenernya?" tanya Andra sambil mengusap-usap punggung Diva.


Diva belum bisa bercerita, ia masih saja menangis dan tidak bisa berhenti hingga dadanya terasa sesak, matanya pun terasa panas karena begitu lama menangis. Andra tetap setia menemani Diva sambil terus menenangkannya.


"Udah ya, jangan nangis lagi. Nanti kamu sakit, sekarang tenangin diri dulu terus cerita kenapa deh biar hatimu lega."


Diva menceritakan tentang apa yang terjadi pada Faris, sesekali ia berhenti dan merasa tak sanggup melanjutkannya. Andra terkejut mendengar kabar mengenai Faris, ia langsung memeluk Diva dengan erat agar Diva lebih kuat.


"Sorry ya udah buka luka lama kamu, aku bener-bener ga tau."


"It's okay kak."


Cukup lama mereka saling diam karena tak tau harus melakukan apa. Andra pun berdiri dan mengulurkan tangannya pada Diva, "Ayo pulang, aku anter kamu."


Diva mengangguk, dan ia berdiri dengan bantuan uluran tangan Andra. Andra mengantar pulang Diva dengan mobilnya, Diva terlalu lama menangis hingga tak sadar ia tertidur dimobil Andra.


...***...


Begitu sampai didepan rumah Diva, Diva masih tertidur. Andra tak melakukan apapun, dia mematikan mesin mobilnya dan bermain hp, jujur ia tak tega membangunkan gadis cantik disebelahnya itu. Langit mulai gelap dan Diva terkejut ketika ponselnya berdering, ia langsung terbangun dan mengangkat telfon.


"Halo mah."


"Diva kamu dimana? Udah sore ini, kok belum pulang? Katanya main ke taman sebentar, mau mama jemput aja?"


"Engga mah, aku udah dianterin temenku kok."


"Yaudah, cepet pulang ya soalnya kamu belum makan siang juga loh. Mamah tunggu di rumah okey."


"Iya mamah."


Diva mematikan telfonnya dan tersadar kalau ia tadi pulang diantar oleh Andra, ia membuka matanya dan menengok kesamping melihat Andra yang bermain ponsel.


"Udah bangun? Ini bukan rumah kamu? Aku takut salah, mau bangunin kamu juga gak tega jadi yaudah aku diem aja," kata Andra.


"Uhm iya bener kok kak, makasih ya udah dianter pulang, maaf juga kalo ngerepotin. Kakak ga mau mampir dulu?" tanya Diva basa-basi walau sebenarnya ia sedang tak ingin menerima tamu saat ini.


Andra menggeleng, "Ngga, aku masih ada acara nanti malem jadi mau langsung pulang aja. Yaudah kamu pulang gih, udah dicariin mamahmu," ucap Andra.


"Iya kak, makasih sekali lagi. Bye."


"Yeah, bye."


Diva turun dari mobil Andra dan masuk kedalam rumah tanpa menengok lagi, ia langsung naik ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya kembali. Namun sebuah notifikasi mengusik pendengarannya.



Setelah melihat notifikasi itu, Diva tak membalasnya dan melanjutkan tidurnya kembali.


...***...


Ding dong... Ding dong...


Bel rumah berbunyi di pagi hari, tentu saja membuat Diva harus turun ke bawah untuk membuka pintu. "Siapa?" tanya Diva dari dalam rumah.


Cklek....


Pintu terbuka, terlihat Alvaska sedang berdiri didepan pintu dengan plastik besar ditangannya. "Hai," sapanya singkat.


"Kok lu tau rumah gua sih?" tanya Diva ketus.


"Ehm kan manusia punya mulut untuk berkomunikasi, jadi gua memanfaatkan itu buat tanya ke orang-orang," jelas Alvaska.


"Gausah melebar, to the point aja lu mau ngapain kesini?" tanya Diva masih dengan nada yang ketus.


"Gua gak mau!"


"Terserah deh lu mau buang atau bakar ataupun digimanain, asal lu terima aja Div," pinta Alvaska.


"Gausah sokap deh, lagian kalo gua bilang ga ya ga!"


Jder...


Diva membanting pintu tepat didepan wajah Alvaska dengan kasar, Alvaska hanya menghela nafas dan berpikir mungkin memang ia terlalu keras dan memaksakan pada Diva.


"Haih..." Alvaska menghela nafas panjang dan mengacak-acak rambutnya sendiri.


Ding dong...


Bel kembali berbunyi dan Diva siap-siap memaki Alvaska kembali jika ia belum juga pergi saat ini, namun saat pintu terbuka, Diva hanya diam melihat sekitar karena tak ada orang didepan pintu. Pandangan Diva tertuju kebawah, plastik besar berisi jajanan yang dibawa Alvaska ada disitu.


"Sumpah ya kesel banget gua anj*ng!" umpat Diva.


Diva mengambil jajanan itu dengan kasar dan kembali ke kamarnya, sesampainya dikamar, Diva membanting jajanan itu kekasur hingga jajannya berserakan.



Terdapat sebuah kertas yang ikut terlempar bersama jajanan itu, Diva pun mengambilnya. Kertas itu berisi tulisan 'SORRY'. Diva menghela nafas panjang dan duduk di ranjangnya.


"Gua udah maafin, demi apapun udah maafin. Lagian ini semua takdir, bukan manusia yang mau Tapi tolong kasih gua waktu buat nerima ini semua, hiks..."


Diva kembali menangis karena sedari tadi ia menahan sesak di dadanya, dan sekarang ia tak bisa menahannya lagi. Ia menangis sampai berhenti dengan sendirinya, lalu memilih bermain hp untuk menghibur diri, tiba-tiba notifikasi muncul di ponselnya.



Diva mengiyakan karena memang ia ingin jalan-jalan untuk menyegarkan pikirannya kembali, ia sangat jenuh dirumah sendirian, ayah dan ibunya bekerja tiap pagi, pulang selalu sore.


Diva pergi untuk bersiap-siap dan memilih outfit yang cocok hari ini, mungkin ia sedang rapuh. Namun dunia tak perlu tau itu, cukup dirinya sendiri dan Tuhan yang tau bagaimana kondisinya saat ini.



"Hmmm outfit keknya cocok nih, kece abis sih."


Diva menunggu didepan rumah sesuai seperti jam yang sudah ditentukan, Andra terdiam sesaat melihat penampilan Diva yang menurutnya sangat cantik saat ini.


"Whoaa, ini beneran Diva? Cantik banget gila!" puji Andra spontan.


"Hahaha, kakak bisa aja."


"Emang beneran cantik loh, anyway ayok masuk mobil."


Mereka pergi bersama dan ternyata Andra mengajak Diva pergi ke salah satu coffe shop terbaru dikota, cukup banyak pengunjung namun tak terlalu berisik. Desain caffe yang minimalis, monokrom dan beberapa dekorasi yang tak terlalu mencolok membuat caffe ini terlihat tenang serta aesthetic.


"Whoa, caffe baru ya kak? Keren abis sih," ujar Diva sambil melihat sekeliling.


"Iya hahahaha, punya temen gua sih, disuruh kesini gitu katanya baru opening. Gua ga ada temen jadi yaudah ajak kamu aja," jelas Andra pada Diva.


"Oh gitu."


"Div mau gua fotoin ga? Soalnya kamu cantik banget, outfitmu pun cocok banget sama tema caffenya, pencahayaan juga mendukung banget," Andra menawarkan.


.


.


.


.


.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya