
Diva bingung dengan apa yang dirasanya saat ini, ia ingin sekali menjauhi Dylan karena benar-benar seperti pemain wanita, namun selalu saja ada tingkah Dylan yang membuatnya tertarik dan bisa membuatnya tersenyum.
Ting...
Berbunyi lagi notifikasi Diva, ia langsung membuka pesan itu seolah-olah memang sedang menantikannya.
Naya pun menyindirnya, "Bilangnya gamau pacaran tapi dapet notif langsung gercep ya ngalahin ibu-ibu kejar diskon hahaha," tawa Raina dan Naya terdengar diseluruh kamar Diva.
"Apasihhh kalian! Nyebelin!"
"Ih apasih ni orang! Sumpah ga jelas banget! Mana maksa banget," kaget Diva saat membaca Chat Dylan.
"Napa Div?"
"Si Dylan, ngajak jalan seenak mulutnya aja kayak gada beban. Padahal gua belum bilang iya, eh dia udah main oke-oke aja," gerutu Diva sambil membaca ulang chat Dylan.
"Ehm bau-bau makin deket nih. Tapi bagus lah, keliatan lebih gentle. Lu yang dijemput kan?" tanya Raina memastikan.
"Iyalah pasti!"
"Nah itu bagus Div, manly, gentleman, modal, cakep, kurang apalagi? Tapi kok kalian udah kayak deket aja sih?" tanya Raina sambil memikir-mikir kembali.
Naya pun terpikirkan sesuatu, "Oh jangan-jangan kalian udah lama deket tapi baru bilang kita ya? Iya kan, hayo ngaku aja!" tuduh Naya.
Diva pun langsung membantah kata-kata itu, "Mana ada orang baru kenal beberapa hari, serius dah gua! Baru kenal di RS kemarin itu," jelas Diva.
"Iya-iya, detail bener jelasinnya kayak pasangan ke-gep aja neng neng, besok nyalon kuy? Sekalian kita dandanin Diva biar ga pucet-pucet amat sebelum ketemu doi hahahaha," ejek Naya.
"Gas ae gua mah!"
...***...
Keesokan harinya Raina, Diva, dan Naya pergi bersama pukul 12 siang untuk pergi ke salon. Mereka pergi dengan diantar suami Raina, Surya bersikeras pergi mengantar karena takut saat istrinya semakin cantik setelah keluar salon akan ada banyak pria-pria yang meliriknya.
"Udah? Ada yang ketinggalan ga?" tanya Surya memastikan.
"Ga ada."
"Yaudah berangkat."
Mereka pergi kesebuah salon terkenal dan sudah memesan reservasi tempat terlebih dahulu agar mendapat bagian pelayanan.
30 menit mereka tempuh di perjalanan hingga akhirnya sampai, mereka masuk bersama dan pergi ke salon, Surya juga tetap mengikuti Raina sampai kedalam salon.
"Ih by mau ikut juga sampe dalem?" tanya Raina memastikan.
Surya mengangguk sambil tersenyum seperti anak kucing, "Iya, nanti kalo ada cowok-cowok yang liat kamu gimana? Nanti kamu dilayani yang cewe-cewe aja ya, jangan cowo. Kamu punyaku doang, ga boleh dipegang yang lain okay!" tegas Surya.
Raina hanya mengangguk patuh daripada jatah ranjang, ehm maksutnya jatah jajan bulanannya di kurangi. Mereka segera masuk dan memilih beberapa treatment yang akan dijalani.
Mereka bertiga memiliki body spa, hair spa dan manicure. Pada awalnya Diva tak ingin membuat nail art, namun saat mendengar ada potongan 30% khusus bulan ini untuk anggota member, Diva langsung mengiyakan tawaran itu.
Berjam-jam menyelesaikan hair spa dan body spa, akhirnya mereka tinggal melakukan manicure. Diva melihat beberapa referensi diinternet untuk nail art yang akan dipilihnya.
"Kak aku mau yang kayak gini ya," pinta Diva sambil menunjukkan foto referensinya dilayar ponselnya.
"Okay kak."
Pegawai salon itu pun segera memulai pembuatan nail artnya, Raina dan Naya pun memberikan saran pada Diva.
"Div mending lu make up sekalian deh, jadi sampe rumah tinggal pilih outfit.
"Lah ngapain make up an khusus? Tinggal make up dirumah aja napa orang gua juga punya make up. Toh gua cuma mau jalan bukan akad nikah sista," jawab Diva sambil menghela nafas.
"Shutttt udah nurut aja, lu terima jadi ajalah," pinta Raina. Raina memanggil salah satu pegawainya, "Kak, tolong dandanin temenku ini ya. Yang cantik pokoknya!"
"Lah maksa!"
"Siap kak."
Pegawai itu pun mulai menata meja rias dan menyiapkan alat dan make up-nya. 45 menit Diva menunggu nail art-nya jadi lalu pergi ke ruang make up.
"Kak bisa ga sih request konsep make up nya kayak gimana?" tanya Diva penasaran.
Pegawai itu mengangguk, "Bisa kak. Mau request konsep yang kayak gimana? Atau ada contoh fotonya?" tanya Pegawai itu.
"Kayak gini bisa ga kak? Tapi kira-kira cocok ga ya di muka ku?" tanya Diva sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Cocok kak pastinya, jadi mau yang ini aja?"
"Iya kak ini aja."
Diva pun di make up in sedemikian rupa hingga terlihat sangat cantik dan terlihat cocok dengan skin tone aslinya.
...***...
Mereka bertiga pun pulang setelah selesai melakukan banyak hal di salon dan masih mampir kerumah Diva untuk membantu Diva memilih style.
Diva masuk ke ruang gantinya lalu keluar dengan outfit sederhana. Sweater polos dan rok panjang kotak-kotak, itu memberikannya kesan imut dan manis.
"Ini gimana?" tanya Diva
Naya dan Raina melihat outfit Diva dari atas sampai bawah lalu menggeleng, "No! Kalo bawa mobil bagus, kalo bawa motor bakalan susah soalnya pake rok apalagi atasannya perlu ditata-tata, nanti turun dari motor berantakan semua," komentar Raina untuk outfit Diva yang pertama.
...Contoh outfit Diva yang pertama...
Diva kembali masuk kedalam ruang ganti dan memakai dress one set dengan warna hitam dan putih, panjangnya hanya sampai paha.
Naya langsung menyilangkan tangannya, "No! Lu mau bawa motor, mau pamer paha dijalan? Ngeri loh kalo diliatin orang-orang di lampu lalin nanti waktu berenti," Naya memberikan alasan.
Diva merasa itu lumayan masuk akal dan kembali masuk keruang ganti untuk berganti baju lagi.
...Contoh outfit Diva yang kedua...
Yang ketiga, Diva mencoba memakai kaos oversize dan celana high waist agar terlihat tak terlalu formal juga bisa tetap terlihat kece.
Raina menggelengkan kepalanya lagi, "No deh kayaknya, kayak lagi mau main sama kita."
"What's wrong? Itu bagus," Naya membantah.
"No, Dylan udah mau kasih effort lebih buat Diva. Dia jemput kerumah dan berani ajak duluan, ayolah kasih effort lebih juga ke dia," Raina memberikan alasan pada Naya.
"Okay masuk akal."
Diva menghela nafas panjang, "Udah cape ganti baju gua, awas abis ini masih ngga cocok lagi. Kalian ajalah yang berangkat sama Dylan!" kesal Diva.
...Contoh outfit Diva yang ketiga...
Diva kembali masuk dan sekali lagi berganti pakaian agar teman-temannya itu puas, ia berganti baju sambil menggerutu.
"Gua yang mau jalan, mereka yang ribet. Hadeh dasar ciwi-ciwi!"
Diva keluar, Naya dan Raina terdiam sebentar dan saling mengacungkan 2 jari jempolnya pada Diva.
"Div kece! Pake yang ini ajalah!" pinta Naya yang sangat excited.
"Nah ini baru cocok, keren, sesuai sama kendaraan dan yang jelas style nya bestie gua banget. Dahlah, dah cakep, baju bagus, wangi, cowonya juga ganteng. Perpaduan yang sangat sempurna!" ucap Raina yang terkagum dengan penampilan Diva.
Diva memakai kaos putih dan boyfriend jeans, tak lupa ia kenakan kemeja kotak-kotak sebagai outer agar tampak lebih menarik dan tak membosankan.
...Contoh outfit Diva yang terakhir...
Drtttt.... Drtttt....
Diva mengangkat ponselnya saat ada nomor yang muncul menelfonnya.
"Halo."
"Sore manis, turun gih gua udah didepan rumah. Udah siap kan?"
"Hah cepet banget, yaudah tunggu bentar gua turun. Masuk aja kedalam rumah ga papa."
"Udah gampang, gua tunggu didepan ya."
"I-iya Lan."
Diva langsung menengok Dylan dari jendela kamarnya. Tampak seorang pria muda dengan helm full face dan motor sportnya sedang menunggu didepan rumah.
"Arghh gimana nih, Dylan udah didepan. Gua gugup banget asli!" ceplos Diva tak sengaja.
"Lho ngapain gugup?" bingung Raina.
Naya tersenyum penuh arti, "Hayo kok gugup, mau ngapain hayo? Jangan-jangan.... Hayoloh," ucap Naya menggantung yang membuat Diva semakin salah tingkah.
.
.
.
.
.
Tbc
Jangan lupa like dan komen ya :)