Jouska

Jouska
Chapter 39



Diva melihat kaki Jovan sedikit ada tergores pecahan kaca tadi, Diva pun berdiri bertanya pada Jovan dimana kotak P3K lalu mengambilnya. Ia membersihkan luka Jovan lalu memplasternya.


"Sakit ga?" tanya Diva sambil membersihkan luka Jovan.


"Ngga."


"Kalo sakit bilang ya."


"Ngga sakit, Jo-Jovan kuat. Jovan n-ngga nangis," ujar Jovan dengan mata berkaca-kaca.


Diva tersenyum, "Hebat banget Jovan ga nangis. Keren banget loh." Selesai memplaster lukanya, Diva menepuk-nepuk kepala Jovan dengan lembut, "Udah selesai, Jovan pinter banget ga nangis."


Jovan tiba-tiba grogi karena Diva bersikap lembut padanya, ia bingung saat ini harus apa. Diva pergi lebih dulu untuk kembali keruang tamu, ia duduk lalu bermain hp.


Dylan turun setelah selesai mandi, ia menemui Diva dan Jovan. Mereka mengobrol dan bercanda di ruang tamu sedangkan Zidan hanya tidur dan tak terganggu sama sekali. Pandangan Jovan benar-benar tak berpaling dari Diva sama sekali.


Ting tong...


Bel rumah Dylan berbunyi, ia berhenti bercanda dan berdiri untuk membuka pintunya, "Bentar ya gua mau buka dulu pintunya siapa tau ada tamu."


"Oh iya."


Dylan berjalan dan membuka pintunya, ia belum sempat menatap kedepan dan menyapa, "Cari siap-” perkataan Dylan terpotong saat menatap kedepan.


"Halo Lan, gimana kabar kamu?"


"Kenapa? Cari Jovan? Bentar." Dylan acuh tak acuh langsung pergi dan memanggil Jovan.


"Lan, papa juga mau tau kabar kamu. Lan, Dylan!"


Teriakan itu tak digubris oleh Dylan, ia pergi menghampiri Jovan. "Van, dicariin papa."


"Papa?"


Yap, yang datang saat ini adalah papa Dylan. Papa Dylan setiap seminggu sekali akan datang untuk mengajak Jovan jalan-jalan dan sekedar quality time.


"Jovan," panggil papa Dylan sambil merentangkan tangan.


Jovan berdiri dan memeluk papanya itu, "Papa. J-Jovan kangen papa."


"Papa juga, Jovan mau jalan-jalan sama papa ga?"


"M-mau."


"Makin gede makin ganteng aja anak papa."


Papa Dylan menengok dan mendapati Zidan sedang tidur dan Diva yang hanya tersenyum canggung. "Zidan disini dari tadi?" tanya Papa Dylan.


"Ya."


"Ini..."


Diva langsung berdiri dan menyapa papa Dylan, "Hai om, saya Diva. Saya temennya Dylan, baru temenan sih om jadi maaf saya gatau kalo om papanya Dylan."


"Baru temenan? Oh mau pacaran?" Papa Dylan salah paham dengan perkataan Diva barusan.


"Ah bukan om. Maksudnya baru temenan, eh baru-temenan. Loh, baru temenan, aduh gimana sih jelasinnya. Baru temenan kemarin-kemarin gitu loh om, baru kenal gitu," jelas Diva yang berputar-putar karena bingung.


"Hahahaha iya saya tau kok, tumben Dylan ajak cewe kerumahnya apalagi baru kenal?" tanya Papa Dylan.


"Udah sana pergi, udah ajak Jovannya kan? Kasian Jovan nunggu terus," sela Dylan yang ketus.


"Ehm yaudah, papa keluar dulu ya sama Jovan. Kamu gamau ikut lagi?"


"Ga."


"Yaudah, kalo ada apa-apa kabari papa ya Lan, papa pergi dulu."


"Ya."


Papa Dylan pergi bersama Jovan dan tinggal Dylan yang hanya diam juga Diva yang merasa canggung. Diva kebingungan harus apa saat ini.


"Eh ada balkon ga? Atau cari angin yuk?" ajak Diva.


Dylan hanya mengangguk, ia menggandeng tangan Diva dan naik ke lantai atas. Dylan berjalan menuju ruang santai lalu pergi ke balkonnya. Dylan berdiri dengan tumpuan tangan bersilang dibalkon.


Dylan tersenyum dan menengok ke Diva, "Cie aku kamu, udah mulai akrab ni?" tanya Dylan.


Diva memukul pelan pundak Dylan, "Lan ih! Kamu mah godain terus hih."


"Hahahaha bercanda. Iya tadi papa gua, kenapa? Kaget ya? Atau ngerasa ga nyaman?" tanya Dylan sambil menatap sepasang netra indah milik gadis disebelahnya.


"Ehm ngga kok cuma bingung aja tiba-tiba dateng apalagi situasinya lagi kayak gitu."


Dylan menghela nafas, "Mama gua udah meninggal dan papa gua udah punya istri baru, gua punya adek di hubungan papa sama istri barunya. Anaknya ga suka sama Jovan dan ga mau deket-deket Jovan jadi gua ajak Jovan tinggal disini aja daripada papa ribut terus sama istri barunya," jelas Dylan pada Diva.


Diva bingung kenapa Dylan tiba-tiba bercerita hal seperti ini. Tak disangka orang sekonyol Dylan menyimpan cerita seperti ini, "Lo, cerita ke gua?" tanya Diva ragu-ragu.


"Kenapa? Gua udah lama ga cerita masalah ini ke siapapun, cuma gua pendem sendiri dan ternyata mendem apa-apa sendiri itu kadang ada capeknya. Berhubung gua punya lo ya gua cerita ke lo aja," perkataan Dylan membuat Diva bingung.


"Tapi kita baru kenal, dan mungkin aja lu gatau kalo gua ini sebenarnya jahat atau ga bisa manfaatin cerita lu Lan. Kenapa cerita ke gua?" tanya Diva.


Dylan terkekeh, "Hahaha, lu berani minta tolong dan cerita apa alasan lu minta tolong ke gua, lu mau gua ajak jalan padahal baru kenal, dan lu juga berani kenalin gua ke orang tua lo walau nggak secara langsung. Itu artinya lu udah percaya sama gua dan lu juga lumayan terbuka. Sekarang pun sama, gua juga percaya sama lu, gada salahnya juga kan saling percaya?" tanya Dylan.


Diva mengangguk, "Makasih ya udah percaya sama gua, nice to know you boy," Diva menepuk-nepuk kepala Dylan.


Jantung Dylan berdebar saat ini karena perlakuan Diva, sudah lama ia tak mendapat perlakuan ini. Selama ini orang lain hanya akan menganggapnya sebagai ketua geng Vandalaz yang gagah dan berani, tak ada yang berani macam-macam padanya apalagi menyentuh kepalanya.


"Udah ah jangan dipegang-pegang terus nanti gua makin suka," Dylan menurunkan tangan Diva.


"Emang sekarang udah suka?" tanya Diva.


"Dikit," jawab Dylan blak-blakan.


"Hahahaha gapapa suka, lanjutin aja sukanya toh ga salah. Tapi kalo mau dibales perasaannya harus berjuang, jangan cuma diem tanpa kepastian."


Jawaban Diva membuat Dylan senang saat ini karena merasa mendapat lampu hijau dari gadis yang dicintainya, ah cinta atau suka?


"Ayo gua anter pulang, nanti kalo kelamaan main dimarah mama lu guanya," ajak Dylan.


"Ngga ah, masih pengen disini."


"Cie betah, gamau jauh dari gua ya?"


"Ih Dylan! apasih."


"Hahahaha bercanda Div."


Mereka berdua menikmati pemandangan dari balkon, kebetulan udara saat ini juga lumayan segar dan dingin tak terlalu panas.


...***...


Jam menunjukkan pukul 9 malam, Diva bermain beberapa game diponselnya dan sesekali mengecek media sosial. Sudah lama juga Diva hilang dari media sosial dan tak seaktif dulu.


"Gabut, mau cek ig lah."


Terlihat Dylan sedang membuat instastory, Diva penasaran dan langsung mengeceknya untuk melihat apa yang sedang dilakukan Dylan saat ini.



Mata Diva fokus ke botol alkohol didepan Dylan, matanya melotot dan tiba-tiba kesal. Ia langsung mengirim chat pada Dylan untuk meminta kejelasan.


.


.


.


.


.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya :(


Kira-kira Dylan itu cuma suka atau cinta ke Diva ya? Tebak coba.