
Rencananya berhasil, ia mengambil uang dari dompet mamanya. Meraih infusnya dan melepasnya dari tiangnya. Ia sudah memesan taksi online. Begitu mamanya pergi, Diva langsung keluar dengan diam-diam dan pergi ke rumah Faris.
Ditengah perjalanan hatinya tak henti-henti berdoa dan berharap agar semua ini tidak nyata. Dengan kaki tanpa alas kaki, ia berjalan masuk menuju halaman rumah Faris.
Kaki Diva mulai bergetar ketika melihat bendera kuning terpampang didepan rumah kekasihnya itu. "F-Faris? Sayang, kamu masih disini kan sama aku?" tanya Diva dengan suara bergetar dan mata memerah.
Raina yang berada didalam rumah menyadari sesuatu, ia panik dan mencari Surya. "Sayang, aku... Aku ceroboh banget! Ya Allah, aku takut Diva nekat kesini yang. Ini gimana?" tanya Raina dengan nada sedikit panik.
Surya kebingungan, "Hah? Kamu kenapa? Diva juga kenapa, coba jelasin pelan-pelan biar aku paham!" pinta Surya.
"Jadi tadi aku ngabarin Diva kalo Faris udah ga ada, karena sekarang kan mamahnya Faris juga nunggu Diva. Dia ga tau kalo Diva masuk RS, aku ceroboh banget Ya Allah kasih tau Diva gitu aja! Kalo Diva nekat kesini gimana?" tanya Raina.
Surya mengusap-usap pundak Raina, "Engga kok sayang, kamu tenang aja. Meskipun Diva nekat juga ga bakalan bisa, kan dia dirumah sakit. Ya masa bisa keluar dengan gampangnya? Terus juga ada mamanya kan yang jagain, mana bisa keluar gitu aja?" Surya memberikan banyak alasan agar Raina tenang.
Raina berusaha percaya dengan kata-kata Surya. Ia memilih ingin mencari angin diluar, ia pergi keluar. Namun Raina mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihat sosok Diva yang berdiri dihalaman dengan infus ditangannya dan pakaian pasien yang masih melekat di badannya.
"Diva? Ah ga, ga mungkin itu Diva. Mana bisa dia kesini?"
Namun Raina berusaha mendekati Diva juga untuk memastikan. Saat jarak mereka sudah dekat, barulah Raina sadar kalau orang yang ada dihadapannya saat ini benar-benar Diva.
"D-div? Lu ngapain disini?" tanya Raina dengan sedikit gugup. Pandangan Raina menurun dan menatap kearah pergelangan tangan Diva, "Astaga Div?! Itu darah kamu balik keatas, ayo gua anterin lu balik ke RS!" ajak Raina.
Diva masih terdiam memaku dan berusaha mencerna semua yang dilihatnya saat ini, dia menggeleng menolak ajakan Raina. "Na, lu bercanda aja kan waktu tadi bilang kayak gitu di chat. Lu ga serius kan Na? Ga mungkin Na Faris ninggalin gua gitu aja, gua kemarin ketiduran kelamaan kan, dia pasti udah sadar dan cuma mau prank gua doang kan Na?" tanya Diva memastikan.
Raina bingung harus menjawab apa kali ini, ia sebenarnya ingin berkata kalau semua ini hanyalah kebohongan, namun kenyataan menyatakan sebaliknya. Raina pun memeluk Diva dengan lembut, "Div lu yang kuat ya, harus sabar."
"Hah? M-maksudnya?" Suara Diva mulai bergetar mendengar jawaban dari Raina.
"Faris beneran udah ga ada Div, dia udah pergi."
Perlahan buliran bening mengalir dari sudut mata cantik milik gadis bernama Diva itu. Perlahan Diva menangis sejadi-jadinya karena benar-benar merasa tak sanggup mendengar kabar ini.
"Na ga mungkin Na, Faris masih disini Na. Dia aja mau lamar gua na kemaren, sekarang aja cincinnya gua pake Na hiks. Sumpah lo jahat banget, kalo bercanda kelewatan!" ujar Diva dengan nada meninggi karena masih belum bisa menerima kenyataan.
Raina melepas pelukannya, ia menggandeng tangan Diva dan menuntunnya masuk kedalam rumah. Dilihatnya begitu banyak orang yang membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan sebuah meja dengan penutup kain panjang.
"I-itu bukan Faris kan?" tanya Diva dengan mata memerah, suara bergetar dan tangan yang tremor.
Raina tak sanggup menjawabnya. Mama Faris langsung menghampiri Diva dan terkejut melihat Diva datang dengan baju pasiennya.
"Nak kamu kenapa? Kok pake baju beginian, kamu sakit?" tanya Mama Faris yang sedikit panik juga.
"Diva sakit tan, kemarin masuk rumah sakit ditempat Faris dirawat juga. Dari kemarin dia baru sadar ini," jawab Raina.
Mama Faris langsung memeluk erat Diva layaknya anak kandung sendiri. Ia tak tega melihat kondisi Diva, "Ya Allah nak maafin mama, mama ga tau kalo kamu sakit."
Mama Faris perlahan ikut menangis juga, wajah Diva mulai memucat kembali hingga akhirnya pandangannya mulai kabur juga gelap dan...
Diva jatuh pingsan didepan jenazah Faris karena tak sanggup melihat semuanya. Orang-orang pun langsung panik dan menolong Diva, Diva dibawa ke kamar tamu agar bisa beristirahat. Raina ikut mendampingi Diva di kamar, dan tak lama Surya pun menyusul.
"Sayang, kok Diva bisa disini?" tanya Surya yang terheran-heran.
Raina menggeleng, "Aku juga ga tau. Waktu aku keluar tadi aku udah liat dia didepan dengan kondisi kayak gini, mungkin dia kabur dari rumah sakit."
Surya hanya mengangguk. Setelah diam beberapa saat, mereka berdua menyadari sesuatu. "Lah, kalo Diva kesini terus bilangnya gimana? Mamanya gimana?" tanya Raina.
"Yang cepet chat!"
Raina langsung membuka ponselnya lalu mengirim chat ke mama Diva untuk memberikan kabar tentang Diva saat ini agar ia tidak panik.
Tak perlu menunggu lama, mama Diva langsung sampai dan mencari keberadaan Diva. Mamanya datang lalu memeluk Diva yang masih pingsan sambil menangis karena masih panik.
"Ya ampun nak kamu kemana aja sih sebenernya, mama khawatir banget sama kamu. Kenapa harus begini sih,"ujar Mama Diva.
Mendengar tangisan mamanya, Diva mulai sadar dan membuka matanya. "Mama?" tanyanya.
"Iya sayang, ini mama. Mama disini."
"Kok mama tau Diva disini?"
"Raina tadi yang kasih kabar."
Diva turun dari ranjang dan kembali keluar, dia pelan-pelan berjalan menuju ruang tamu. Ia duduk di samping jenazah Faris, tangannya bergetar kala berusaha membuka kain yang menutupi wajah Faris. Ia rindu sekaligus tak siap menerima kenyataannya.
Dengan keberanian seadanya Diva membuka kain itu, benar adanya kalau Faris telah tiada. Diva kembali menangis sejadi-jadinya saat melihat Faris yang sudah terbujur kaku tak bergerak sama sekali.
"Faris! Kenapa kamu pergi dulu hiks, aku ga bisa, aku ga bisa tanpa kamu hiks."
Mamanya memeluk diriny erat untuk menguatkan putri tersayangnya itu.
.
.
.
.
.
Tbc