Jouska

Jouska
Chapter 37



"Lan!" sapa Zidan saat Dylan sudah tiba di markas.


"Jadi gimana?" tanya Dylan dengan tegas.


Zidan menunjukkan layar hpnya, terdapat seseorang dengan jaket hitam dan berlogo ular melilit di bagian lengan, Dylan fokus dengan logo itu lalu mengangguk.


"Iya ini!"


"Geng Snake Shadow, gengnya si Yoshi."


Tangan Dylan mengepal dengan wajah penuh amarah, "Sialan! Belum puas juga dia gua bikin babak belur! Bawa beberapa anak, kita ke markasnya sekarang!" tegas Dylan dengan nada tinggi.


"Siap bos!"


"Udah gua bikin babak belur, sekarang masih mancing-mancing emosi gua? Mau gua bikin ancur geng lu kah?" batin Dylan saat ini.


Dylan pergi bersama anak-anak gengnya menuju markas Snake Shadow untuk meminta kejelasan atas kejadian semalam.



...***...


Brakkk....


Zidan menendang pintu masuk markas geng itu dan menjadi pusat perhatian saat ini. Dylan berdiri ditengah dengan tangan mengepal dan siap menghajar siapapun yang melawannya saat ini.


"Heh lo siapa n*jing seenaknya datang kayak gini? Mau dihajar lo?" teriak salah satu anggota geng Snake Shadow.


"Lo? Mau hajar gua?" Dylan bersuara dan seketika tak ada satupun suara yang muncul. "Panggil bos lu atau gua bakar markas ini?" bentak Dylan.


Salah satu anggota geng itu pun memanggil Yoshi, tak lama Yoshi keluar menemui Dylan yang masih dibawah pengaruh amarah.


"Woa woa woa, lu kenapa? Dateng-dateng kayak gini, gua ada salah apalagi? Come on, ga harus war kan?" tanya Yoshi yang sedikit panik saat melihat keadaan Dylan.


"3 orang anggota geng lu semalem ngeroyok Dylan diem-diem tanpa sebab dan bikin Dylan sampe kayak gini? So, gimana pertanggung jawaban lu? Atau mungkin ada yang bisa dijelaskan Tuan Yoshi?" pancing Zidan.


"Lah? Serius lu? Semalem gua sama anak-anak ada acara jir, semuanya ikut. Bahkan habis selesai acara pun anak-anak masih ngumpul lagi di markas Lan, mungkin ada orang yang sengaja pake nama geng gua buat adu domba kita Lan!" Yoshi menjelaskan semuanya.


Dylan mulai berbicara, "Lebih baik ada salah satu dari kalian yang sekarang ngomong ke gua ini ulah siapa, atau gua obrak-abrik ini markas."


Seketika semua terdiam dan saling beradu pandang memikirkan ulah siapa yang berani mengusik Dylan Xabiru pemimpin geng Vandalaz. Saat Dylan terusik maka seluruh anak Vanz siap mengikuti langkah Dylan.


"B-bos, kemaren ada si Adi sama yang lain ga ikut balik, mereka datengnya telat," seseorang berbisik pada Yoshi.


Dylan mengangkat salah satu alisnya, "Gua pikir kayaknya lu udah tau siapa pelakunya?" tanya Dylan.


"Bentar deh gua panggil mereka!"


Yoshi menyuruh anak buahnya memanggil orang yang di curigai mengeroyok Dylan. 10 menit kemudian ada 3 orang datang dan Dylan tersenyum miring menatap orang-orang itu.


"Ini orangnya, jadi gimana? Ada masalah apa nih sama gua?" tanya Dylan pada 3 orang itu.


Yoshi terkejut, "Kalian beneran ngeroyok Dylan? Tanpa gua tau? Kalian siapa berani kayak gitu hah, ga hargain gua?" bentak Yoshi.


"A-ampun bos, ki-kita cuma belain si Ando gara-gara motornya diambil Dylan. Kita ga tau kalo Dylan yang Ando maksud itu Dylan anak Vanz," Adi membela diri sendiri.


"Gua udah buka helm loh, masa ga kenal gua? Apa perlu gua kalungan papan terus tulis nama gua disitu?" sindir Dylan.


"A-ampun Lan, gua ga tau serius!"


Dylan tersenyum miring, ia menatap Yoshi. "Mereka bertiga urusan lo, tapi si Ando mana siniin. Urusan gua cuma sama dia, terserah mereka bertiga mau lu apaain."


Beberapa orang langsung mendorong Ando yang sejak tadi bersembunyi sambil mengumpat dibelakang, Dylan langsung merangkul Ando sambil tersenyum.


"Eh Ando..."


"H-hai Lan."


"Tambah ganteng ya, nanti gua bikin makin ganteng deh tenang," ucap Dylan sambil tersenyum.


"N-nggak usah Lan."


"Oh iya, katanya ngamuk gara-gara motor lu gua ambil ya?" tanya Dylan.


"Nggak kok Lan, cuma salah paham aja ini."


Yoshi ikut bersuara, "Dia anak baru, join juga beberapa hari yang lalu. Ga rugi gua kehilangan dia, ambil aja Lan. Urusan lu, males gua punya anggota cemen kek dia," ujar Yoshi.


"Okay, udah denger kan apa kata pemimpin lu. Zidan, bikin dia inget sama taruhan gua kemarin-kemarin, dan dibikin ganteng sekalian ok!" kata Dylan sambil menepuk-nepuk pipi Ando.


"Lan, gua salah Lan. Lan gua minta maaf!"


"Telat bro!" kata Zidan sambil menyeret Ando pergi.


3 orang yang mengeroyok Dylan dipukuli habis-habisan oleh geng Yoshi, sedangkan Ando dipukuli juga oleh anak-anak Vanz sampai babak belur. Ando tergeletak lemas dijalan setelah dipukuli beramai-ramai.


Dylan berdiri tegap didepan Ando lalu berjongkok, ia menarik kerah Ando keatas lalu tersenyum, "Jangan main-main kalo sama gua, nyawa lu masih satu. Gua ga suka berantem tapi kalo lu mancing duluan juga bakalan abis lu ditangan gua!" Dylan memberikan peringatan.


Buaghhh....


Dylan melayangkan sebuah pukulan keras di pipi Ando hingga Ando jatuh tersungkur kembali, Dylan berdiri dan mengajak anak-anak Vanz kembali ke markas.


"Ayo balik, urusan kita udah selesai!" perintah Dylan.


"Siap bos."


Semua anak-anak Vanz kembali ke markas dan membiarkan Ando tergeletak dijalan.


...***...


Di markas Dylan duduk santai menikmati waktu, lalu ia teringat Diva dan mengirimkan chat padanya karena khawatir.



Diva yang sedang makan saat ini langsung membuka ponselnya saat ada notifikasi masuk, jujur saja dari tadi Diva menunggu notifikasi dari Dylan. Jika tidak lewat WhatsApp, ada postingan dari instagramnya.


"Ck, ngeselin banget sih ni orang! Udah main pergi-pergi aja, mana chat seenak jidat!" gerutu Diva saat melihat notifikasi dari Dylan.


Karena kesal, Diva tidak membalas pesan dari Dylan dan membiarkannya begitu saja bahkan tidak dibuka sekalipun. Dylan bingung sedang apa Diva saat ini karena lama tak membalas pesannya.


Dylan terus menunggu sambil menatap terus layar hpnya dengan serius. Zidan yang melihatnya tertawa renyah.


"Hahahaha bucin nih?" ledek Zidan.


"Apaan sih lu gaje banget bujang lapuk!" ejek Dylan balik.


"Ngadi-ngadi! Diliat noh muka, udah galak kayak preman hajar orang tapi jidat dihandsaplast gambar dinosaurus hahahaha, kek bocah a*njir!" Zidan terus mengejek Dylan.


Dylan kesal dan diam saja, ia tak berani protes masalah handsaplastnya karena itu pemberian dari calon mertuanya.


Tinggg...


Notifikasi berbunyi dan dengan cepat Dylan mengecek ponselnya. Ternyata pesan dari Jovan bukan Diva, Dylan berdecak kecewa.



"Ck, kirain Diva!"


"Cie kecewa, dicuekin cewenya ya?" tanya Zidan.


"Paan sih lu gaje, dahlah gua mau cabut. Jovan minta pizza, lu join ga?" tanya Dylan menawari Zidan.


"Ikut! Kapan lagi makan gratis."


.


.


.


.


.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya :)