
Motor-motor yang mengklakson Dylan tadi pun ikut menyusul Dylan dari kejauhan, mereka berusaha mengejar Dylan dan mengimbangi kecepatan motor Dylan.
"Woi berenti lo!" teriak salah satu orang yang mengikuti Dylan.
"Div jangan dengerin mereka dan fokus pegangan sama gua okay!" pinta Dylan.
"Iya Lan."
Brummm.... Brummm... Brummm...
Suara gas motor mereka begitu keras hingga membuat Dylan sedikit panik karena ada Diva yang bersamanya.
"Sialan! Ngapain sih ngejar gua waktu sama Diva, kalo ga bawa Diva, udah gua bantai lo semua a*jing!" batin Dylan yang semakin kesal lantaran pengejaran mereka tak kunjung selesai.
Dylan terus menaikkan kecepatannya semakin tinggi, hingga orang-orang tadi sedikit tertinggal. Dylan pun berhenti didepan sebuah minimarket dan menurunkan Diva disana.
"Diva, dengerin gua okay! Tunggu gua disini maksimal 15 menit, kalo dalam 15 menit gua belum balik, tolong lu telfon nomer ini dan bilang ke dia kalo gua dalam masalah, terus kasih tau posisi lu sekarang okay?!" pinta Dylan sambil memberikan ponselnya pada Diva.
"Lan lu mau kemana? Jangan pergi, gua takut disini sendiri!" pinta Diva yang menggenggam tangan Dylan.
Dylan tersenyum, "Kenapa? Kok perhatian? Suka ya sama gua?" ledeknya.
"Dylannnn! Gua serius!"
"Hahahaha, gua ga kenapa-kenapa manis, pokoknya lakuin sama yang gua suruh okay. Percaya deh sama gua, gua pergi dulu ya cantik," ujar Dylan sambil berjalan menjauh.
"Dylannn!"
Diva berteriak namun tak digubris sama sekali oleh Dylan, justru Dylan segera menaiki kembali motornya dan berputar balik untuk menemui orang-orang yang mengejarnya tadi.
"Gua abisin lo semua bangs*at, berani-beraninya lo udah ganggu waktu gua sama cewe gua!" kata Dylan dalam hatinya sambil menatap tajam keseluruh penjuru jalanan.
Dylan pun akhirnya bertemu dengan 3 orang yang mengejarnya tadi, Dylan mematikan mesin motornya dan turun lalu berjalan menemui mereka dengan helm ditangannya.
"Heh, lu siapa? Ngapain ngejar gua? Ada masalah apa lu sama gua?" tanya Dylan dengan nada tinggi.
"Gausah banyak b*cot deh lu! Serang!"
Tiba-tiba 3 orang tadi mengeroyok Dylan dan menyerangnya secara bersamaan, dengan sigap Dylan menangkis serangan mereka.
Dylan menangkis tendangan mereka dengan sikunya lalu memukul rahang mereka sekuat tenaga. Tak lupa Dylan menghantam kepala salah satunya dengan helm ditangannya.
Buaghhhh....
Salah satunya tumbang karena pukulan keras dikepalanya, 2 orang yang tersisa saling beradu pandang. Dylan pun semakin menantang mereka.
"Apa liat-liat, maju lo semua a*jing!"
Salah satunya mengayunkan tangannya untuk memukul Dylan, reflek Dylan menunduk dan memberikan pukulan dibagian kepala belakang lawannya.
Dylan berlari dan melompat tinggi menendang dada salah satunya lagi lalu memukul rahang samping orang yang satunya.
Brakk....
Mereka berdua tergeletak dijalan dengan badan lemas, namun tak menyerah, ketiganya bangkit dan menyerang Dylan terus-menerus.
...***...
Sudah 15 menit Diva menunggu dan Dylan tak kunjung kembali, Diva semakin khawatir dan tangannya benar-benar tak bisa diam. Ia langsung menelfon orang yang dimaksud Dylan tadi.
"Halo?"
"Yoi bos, ada apa nih malem-malem telfon? Katanya tadi jangan ganggu gara-gara ada acara pribadi?"
"A-anu, itu..."
"Heh? Lo siapa? Ngapain pegang hp bos gua? Cepet balikin!"
"Anu, Dylan lagi ada masalah. Dia kasih hp nya ke gua, katanya kalo 15 menit ga balik suruh telfon lu. Dari tadi dia belum balik-balik."
"A*njir, lu dimana berdua?"
"Jalan cendrawasih didepan minimarket."
"Aish, tunggu gua kesitu!"
"Iya."
Diva menunggu sebentar, tak sampai 5 menit ada 4 orang datang dengan motor sport dan pakaian serba hitam, aksesoris rantai-rantai dan tampang sangar seperti preman.
Salah satu pria berambut gondrong datang mendekati Diva, "Lu cewe yang telfon gua bukan?" tanyanya.
"I-iya, itu gua."
"Dylan sekarang dimana?"
"Tadi dia diikutin orang terus suruh gua nunggu disini, abis itu dia pergi balik lagi kayaknya nyariin orang tadi deh."
"Sialan!"
Pria itu mengumpat dan kembali menemui teman-temannya, "Cari Dylan sekarang! Kayaknya ada yang ngeroyok Dylan, cepet!"
"Siap!"
Mereka berempat pergi mencari Dylan secepatnya agar tak terjadi hal yang parah pada Dylan.
...***...
Dylan terus melawan meski bolak-balik terkena pukulan tongkat besi itu. Dylan menendang salah satu orang itu hingga ia terpental dan sayangnya ada yang memukul punggungnya dengan tongkat besi.
Buaghh....
Dylan jatuh tersungkur karena pukulan keras itu, dan sebuah ayunan tinggi hendak menghantam kepala Dylan, Dylan pasrah dan menutup matanya.
Tangggg.....
Tongkat besi itu terjatuh karena pria berambut gondrong tadi menendang tangan orang yang hendak memukul Dylan. 3 orang lainnya mengeroyok kembali orang yang mengikuti Dylan.
"Dan, lama banget lu sialan!" umpat Dylan.
"Yaelah lu juga kaga bilang dari awal kalo kayak gini," jawab Zidan, pria berambut gondrong yang datang membantu Dylan.
"Bantu gua berdiri woy!" pinta Dylan.
Zidan membantu Dylan berdiri dan tanpa sadar 3 orang yang mengeroyok Dylan berhasil kabur, Zidan hendak berteriak menyuruh temannya mengejar namun Dylan menggeleng.
"Gausah, biarin aja. Ayo dah gua mau anter balik cewe gua, lu ikutin gua dari belakang yee!" pinta Dylan.
"Yoi bos, tapi kuat lu?"
"Kalo lemah lembek mana bisa jadi bos kalian elah."
"Hahaha sa ae."
Dylan menaiki motornya kembali dan menjemput Diva dengan wajah lebam dan tangan berdarah, Diva yang melihatnya langsung berteriak panik.
"Aaaaa Dylan, lu kenapa? Astaga!" panik Diva sambil mendekat melihat keadaan Dylan dari dekat.
"Hahahaha perhatian ni yee?" ledek Dylan.
"Dylaannnn! Ih gua serius, jangan bercanda ya ampun. Lu ngapain aja sih hihhh, ngapain sih berantem-berantem kayak gini? Ga bikin keren tau ga sih, nyebelin banget jadi orang!" protes Diva.
"Udah shutt gausah banyak nye nye nye, ayok gua anter balik!" Dylan kembali naik keatas motornya.
"Ih lu mah!"
"Ayo sayangku, pulang dulu nanti dicariin mertua. Ayok sini," ajak Dylan sambil menepuk-nepuk jok belakangnya.
Diva mengangguk pasrah dan naik keatas motornya, sedangkan teman-teman Dylan melongo karena Diva berani memarahi Dylan didepan semua orang.
"Ni cewe nyawanya berapa weh? Berani bener" bisik Zidan pada yang lain.
"Gatau bos, ngeri bener kaga bosnya kaga pawangnya," bisik yang lain
...***...
Dylan selesai mengantar Diva sampai depan rumahnya dan saat Dylan hendak pergi, Diva menahan tangannya agar tak pergi.
"Jangan pulang dulu, sini gua obatin!" pinta Diva.
"Gua ga papa Div, tenang aja!" jawan Dylan sambil melepaskan pegangan Diva.
"Itu lebam semua Dylan! Tangan lu juga berdarah," kesal Diva.
"Biasa ini mah, namanya juga cowo."
"Ya tetep aja mau cewe mau cowo masih bisa mati dodol!"
Clek....
Pintu terbuka dan mama Diva melihat keadaan Dylan saat ini, ia panik dan mendekati Dylan.
"Astaga Dylan! Kamu kenapa nak? Kok bisa babak belur kayak gini sih ya ampun," panik Mama Diva.
"Hai tante, biasalah tan, namanya juga anak cowo, ya ga Dan?" tanya Dylan pada Zidan.
"I-iya tante."
"Gada biasa biasa, masuk kerumah! Tante obatin dulu," tegas Mama Diva sambil berbalik masuk kedalam rumah, "Kalo kamu kabur gausah main-main sama Diva lagi, ga ada restu ataupun ijin!"
Dylan bingung karena ancaman mama Diva, sedangkan Diva tersenyum puas menatap Dylan. "Mampus, makanya ayok masuk dulu!" ajak Diva sambil menarik-narik baju Dylan seperti anak kecil.
"Hehe gemes banget lu Div, yaudah deh aku masuk. Kalian semua balik dulu aja nanti gua balik sendiri kaga napa," kata Dylan pada Zidan.
"T-tapi Lan?"
.
.
.
.
.
Tbc
Jangan lupa like dan komen ya :)