Jouska

Jouska
Chapter 40



Jam menunjukkan pukul 9 malam, Diva bermain beberapa game diponselnya dan sesekali mengecek media sosial. Sudah lama juga Diva hilang dari media sosial dan tak seaktif dulu.


"Gabut, mau cek ig lah."


Terlihat Dylan sedang membuat instastory, Diva penasaran dan langsung mengeceknya untuk melihat apa yang sedang dilakukan Dylan saat ini.



Mata Diva fokus ke botol alkohol didepan Dylan, matanya melotot dan tiba-tiba kesal. Ia langsung mengirim chat pada Dylan untuk meminta kejelasan.



Diva kesal dan mematikan ponselnya lalu berusaha tidur, tiba-tiba ia badmood hanya karena hal yang dilakukan Dylan padahal itu sama sekali tak merugikannya.


"Kenapa gua ngurus banget? Kan gua bukan siapa-siapanya njir, toh juga itu ga ngerugiin gue ataupun ada hubungannya sama gua. Apaan banget sih Dylan, bikin kebiasaan gua jadi aneh semua, kayak sekarang rasanya dunia berputar hanya tentang Dylan Dylan Dylan! Taulah pusing gua," Diva berperang dengan dirinya sendiri.


Jujur saja ia belum bisa melupakan Faris, namun Dylan seperti tanpa sadar perlahan-lahan masuk kedalam kehidupannya dan merubah semuanya. Dan anehnya, Diva tak menolak sama sekali.


Diva merasa seperti bisa menerima semuanya dengan senang hati, kadang pun ia merasa menerima semuanya tanpa sadar dan bahagia-bahagia saja untuk semua hal.


...***...


"Lan, ga minum lu tumben?" tanya Zidan yang mulai berada dibawah pengaruh alkohol.


"Ga lah, Diva ga bolehin gua minum," jawab Dylan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Zidan langsung berhenti meneguk alkohol ditangannya, "Buset dah bucin bener keknya. Lu kena hidayah apaan an*jir kok bucin bener tiba-tiba, lagian juga banyak cewe yang suka sama lu. Banyak juga yang lebih cakep daripada dia, walaupun sebenarnya dia kayak punya aura yang beda dari yang lain sih," oceh Zidan.


"Lu ga nyadar? Mata dia mirip sama almarhumah nyokap gua, cara dia natap gua juga mirip banget kayak nyokap. Kadang gua ngerasa aman banget dideket dia, kayak gua tuh punya orang yang bisa jadi sandaran gitu. Buat pertama kali sih gua ngerasa nyaman," Dylan mengutarakan isi hatinya dan tangannya tanpa sadar mengambil botol alkohol didepannya.


Tanpa sadar dan terus bercerita, ia meminum beberapa teguk alkohol hingga perlahan-lahan kesadarannya mulai bertekuk lutut dibawah alkohol.


"Gatau kenapa kalo gua natap dia kayak rasa kangen gua ke nyokap tuh terobati, walaupun ga sepenuhnya tapi ya tetep aja dikit-dikit ada bedanya lah."


Zidan terdiam, jarang sekali Dylan mau menceritakan isi hatinya bahkan saat berada dibawah pengaruh alkohol pun Dylan lebih sering diam. Zidan pun menepuk pundak Dylan.


"Bro keknya lu beneran udah jatuh hati dah sama dia, tapi gua saranin kalo emang kisah lu sama Amara belum selesai, gausah mulai dulu sama Diva. Kasian!" tutur Zidan.


Amara adalah mantan kekasih Dylan di SMA yang sempat membuat Dylan patah hati dan gagal move on. Mereka putus karena Amara lebih memilih fokus pada studinya di Amerika dan Amara menemukan kekasih baru disana.


"Gua udah lupa sama Amara, dan gua udah ga ada rasa apa-apa lagi sama dia. Pikiran gua, hati gua, bahkan fokus gua tiap hari cuma ke Diva Diva Diva. Kadang pun gua sampe salah ngelakuin sesuatu karena mikirin Diva. Padahal lu tau kalo gua orangnya gapernah ceroboh hahaha," Dylan menertawakan dirinya sendiri yang sedang kasmaran.


"Tapi asli Lan Diva tuh cakep banget gila, pertama kali gua liat dia langsung kek diem gitu. Kok ada cewe secakep dia, banyak cewe cakep yang pernah gua liat tapi aura nya ga ada yang nyamain punya Diva," Zidan berpendapat.


"Istimewa kan?"


"Yoi."


"Dia punya gua. Dan bakalan gua kejar sampe dapet!" ucap Dylan sambil meneguk kembali alkohol ditangannya.


...***...


Pagi-pagi sekali Diva ditelfon oleh Raina sampai Diva kesal dan terpaksa mengangkat telfon Raina.


"Halo, apasih pagi-pagi telfon!"


^^^"Heh atheis lu? Pagi tuh bangun sholat subuh dodol!"^^^


"Yayayaya apaan buru!"


^^^^^^"Temenin gua nyariin kado buat suami yok!"^^^^^^


"An*jing lu pagi-pagi spam telfon cuma buat ngajak gua nyariin kado suami lu? Gila apa gimana an*jir, bocah stress!"


^^^"Heh serius gua ini! Ntar gua traktir dah lu minta apa aja!"^^^


"Srius?"


^^^"Iya sayangku!"^^^


"Gua mau sarapan fire chickennya Richesse sama pengen seblak baliknya!"


^^^"Aman dek! Ntar jam 9 yee gua jemput!"^^^


"Yodah gua mau tidur dulu, ntar lagi aja gua bangun."


^^^"Heh sholat! Ya Allah lu atheis apa begimane?"^^^


"Gua ga sholat sialan! Gua lagu halangan, pen gua gampar pembalut ni anak Ya Allah!"


"Bye."


Diva langsung menutup telfonnya karena kesal. Siapa yang tak marah jika pagi-pagi dispam telfon dan dalam kondisi datang bulan. Kesal itu pasti untuk Diva.


~If our love is tragedy, why are you my remedy?....~


Ringtone ponsel Diva berbunyi kembali, ia kesal dan langsung duduk meraih ponselnya dengan kasar dan mengangkat telfonnya tanpa melihat lagi siapa yang menelfon.


"Heh bocah! Iya iya nanti keluar Ya Allah, ngapain sih telfan telfon. Tinggal ntar jam 9 jemput terus kita berangkat, udah selesai. Gua mau tidur Ya Allah bini orang, ga keinget suami lu mah udah gua makan lu!" kesal Diva.


^^^"Lah gua salah apa kok dimakan?"^^^


Kesadaran Diva langsung terkumpul dan melihat kembali layar ponselnya karena saat ini yang terdengar bukan suara Raina melainkan suara pria.


"Hah, ahahahaha sorry sorry gua kira tadi temen gua Lan. Sorry ga fokus baru bangun tidur."


^^^"Ooo kirain gua yang mau dimakan."^^^


"Hehe ngga kok."


^^^"Btw mau keluar ya? Ikut dong"^^^


"Hehe iya, temen ngajak hang out sekalian nyariin kado buat suaminya."


"Lah ngapain gua ceritain? Kan gapenting banget arghhh!" batin Diva yang menyesal.


^^^"Oh yaudah gua ikut, jam 9 kan. Yaudah ntar gua kesitu, daahh cantik."^^^


Diva memukul jidatnya sendiri karena kecerobohannya kini Dylan akan ikut keluar. Apa yang akan dipikirkan Raina mengenaini ini, loh kenapa Diva memikirkan itu padahal tak penting.


"Udahlah males banget sumpah! Mau tidur aja!"


...***...


Jam menunjukkan pukul 8.45 pagi, dan Diva masih berposisi sama dari tadi pagi. Ia masih memeluk guling kesukaannya dengan penuh kasih sayang dan cinta.


~If our love is tragedy, why are you my remedy?....~


Diva meraih ponselnya dan mengangkat telfon itu dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, bahkan matanya saja masih terpejam.


"Halo, napa?"


^^^"Heh gua udah didepan anjir, mana ini ada cowo yang lu pernah liatin ke gua itu. Gatau deh gua lupa namanya, buruan turun anjir. Gua gaenak mau keluar dari mobil!"^^^


"Hah serius lu?"


^^^"Iyalah, makanya buruan turun!"^^^


Diva langsung buru-buru turun dengan pakaian yang berantakan, rambut berantakan dan muka khas bangun tidur. Ia tak peduli dengan penampilannya dan ingin segera melihat apakah benar Dylan datang.


Cklek...


Diva membuka pintu dan Raina melambai dari dalam mobil, Diva sedikit ngos-ngosan karena turun dari lantai 2 sambil berlari.


"Hai Div..." sapa Dylan dengan senyum polosnya.


"D-Dylan?"


Dylan menatap penampilan Diva dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu tertawa kecil, "Hahaha baru bangun ya? Masih acak-acakan, tapi tetep cakep sih!"


Diva baru teringat tentang penampilannya dan menatap dirinya sendiri dan menyesal karena keluar dengan buru-buru. Hilang sudah pencitraan dirinya sebagai gadis cantik yang pintar memilih outfit.


.


.


.


.


.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya :(