Jouska

Jouska
Chapter 38



Dylan kesal dan diam saja, ia tak berani protes masalah handsaplastnya karena itu pemberian dari calon mertuanya.


Tinggg...


Notifikasi berbunyi dan dengan cepat Dylan mengecek ponselnya. Ternyata pesan dari Jovan bukan Diva, Dylan berdecak kecewa.



"Ck, kirain Diva!"


"Cie kecewa, dicuekin cewenya ya?" tanya Zidan.


"Paan sih lu gaje, dahlah gua mau cabut. Jovan minta pizza, lu join ga?" tanya Dylan menawari Zidan.


"Ikut! Kapan lagi makan gratis."


Dylan dan Zidan pergi membeli satu paket Pizza jumbo untuk dimakan bertiga, Zidan dibonceng oleh Dylan. Setelah selesai membeli pizza, mereka langsung kembali kerumah, tapi sebelum itu, mereka mampir kerumah Diva.


...***...


Tok... Tok... Tok...


Dylan mengetik pintu rumah Diva dan berharap Diva masih ada dirumah, "Diva!" panggil Dylan.


"Iya sebentar!"


Dylan tersenyum mendengar suara Diva. Saat membuka pintu, Diva terkejut ada Dylan dan Zidan didepan rumahnya.


"Lu? Ngapain kalian disini?" kesal Diva.


"Hehe sorry tadi lupa pamit, anyway lu udah makan belum? Mau makan bareng?" Dylan menawari Diva sembari mengangkat box pizza besar ditangannya.


"Udah makan." Diva menjawab singkat karena kesal.


"Ini Pizza loh, enak, yang paket jumbo."


Diva berpikir sejenak dan mengangguk pelan, "Yaudah deh masuk aja."


"Eh nggak makan disini, kerumah gua. Adek gua yang minta ini, sekalian temenin dia biar dia punya temen soalnya sering gua tinggal sendirian dirumah." Diva terdiam lagi, "Tenang aja kita ga bakal aneh-aneh kok."


Diva melirik ke garasi disamping lalu melihat motor ayahnya ada dirumah dan tersenyum, "Yaudah deh bentar gua ganti baju tapi, yakali keluar pake baby doll kayak gini."


"Gapapa gemes."


"Gemes palalu botak!"


Diva naik keatas dan memilah-milah bajunya untuk dipakai, kebetulan mamanya tidak ada dirumah. Tak akan ada yang memarahinya karena keluar naik motor.


Dylan dan Zidan menunggu berdiri didepan pintu, "Lan kita kenapa kaga nunggu didalem aja? Panas ini diluar, mana berdiri lagi," protes Zidan.


"Udah diem aja, yang punya rumah kaga nyuruh. Ga boleh nyelonong masuk gitu aja, ga sopan."


"Btw cewe lu cakep juga ya."


"Aamiin."


"Lah kok amin?"


"Belum jadian, semoga yang disemogakan tersemogakan."


"Kalo gua ambil duluan gimana Lan? Kan gua lebih cakep."


"Besok pala lu gua tebas pake pedang Levi AOT."


"Aduh aduh ampun bos."


Cklek...


Diva keluar dan menutup pintu rumahnya, ia berbalik dan menatap Dylan dengan helm full face ditangan kirinya. "Udah kan? Ayok berangkat."


Dylan dan Zidan masih diam melongo menatap penampilan Diva saat ini. "Woahhh cantik banget gila!" ucap Dylan tanpa sadar.


"Terimakasih."


"Bisa gini ya cewe-cewe, kalo dirumah kayak gembel giliran mau keluar langsung kayak artis Korea," ceplos Zidan.


"Heh mana ada gua kek gembel! Mulut lu gua tebas! Gua cakep ye mau dirumah ataupun diluar," ancam Diva.


"Buset, kaga cowonya kaga cewenya sukanya nebas orang. Ngeri ngeri."


"Dah dah ayo berangkat, godain cewe gua mulu lu!"


Diva mengeluarkan motor sportnya, ah lebih tepatnya motor ayahnya dan menyalakan mesinnya. Mereka bertiga berangkat bersama.


Di jalan Dylan berbicara pada Zidan, "Dan ntar fotoin ya dia waktu lagi motoran!" pinta Dylan.


"Yehh si bucin!"


"B*acot!"


Di perjalanan diam-diam Zidan memotret Diva sesuai keinginan Dylan dan menyimpan foto itu lalu dikirimkan ke Dylan.



...***...


Mereka bertiga sampai didepan rumah Dylan. Terlihat sangat sepi dan tidak berpenghuni, setelah turun dari motor, Diva pun bertanya pada Dylan.


"I-ini rumah lu?" tanya Diva.


"Iya kenapa?"


"Ah ngga, kok keliatan sepi banget."


"Hahahaha ya emang yang tinggal disini cuma gua sama adek gua, apalagi gua jarang dirumah jadi ya keliatan sepi emang."


"Oh... Emang ortu lu dimana?"


"Udah sibuk sama dunianya masing-masing."


"Ah sorry gatau."


"Sans aja kali, yok masuk."


Dylan memasukkan kode password rumahnya lalu pintu terbuka, didalam terasa sepi dan sunyi. Dylan mendahului masuk lalu memanggil adiknya.


Masih sunyi, Zidan dan Diva kebingungan kenapa bisa benar-benar sepi begini. Dylan pun melihat keseluruh arah namun masih belum menemukan Jovan.


"Bentar deh gua cek keatas."


"Iya."


Dylan menaruh pizzanya diruang tamu lalu naik kelantai dua untuk mencari Jovan dikamarnya. Dylan membuka pintu kamar Jovan dan memanggilnya lagi.


"Van, ayo jadi makan pizza gak?" panggil Dylan.


"Dorrr!"


"An*jing!"


"Hahahahaha, D-Dylan kaget hahaha."


Jovan diam-diam mengagetkan Dylan yang baru datang, Dylan juga tak bisa marah karena adik kesayangannya itu memang suka seperti itu. Ia merangkul Jovan dan mengusap-usap kepalanya.


"Ayok turun, Jovan mau pizza kan? Dibawah ada Zidan juga, nanti kita makan bareng ya."


"Y-yeyyy ma-makan bareng."


Dylan dan Jovan turun bersama kebawah, Zidan tersenyum melihat Jovan, sedangkan Diva sedikit bingung dengan situasi ini.


"Eyyow Jovan, apa kabar? Nih ada pizza, nanti gua minta ya," sapa Zidan.


"I-iya, tapi Jovan ma-mau juga," jawab Jovan.


"Iniii?"


Dylan memperkenalkan Diva pada Jovan, Jovan yang tiba-tiba melihat Diva terkejut dan langsung bersembunyi dibelakang Dylan.


"Kenalin ini adik kembaran gua namanya Jovan, Jovan kenalin ini Diva. Diva ini Dylan ajak biar Jovan juga ada temennya," jelas Dylan.


Diva tersenyum, ia baru menyadari bahwa dibalik buayanya Dylan tersimpan banyak teka-teki dalam hidupnya. Diva menyadari kalau Jovan sedikit berbeda dari yang lain, ia pun mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Hai Jovan, namaku Diva. Kamu mau kenalan ga sama aku?" tanya Diva ramah.


Pelan-pelan Jovan keluar dan tak sembunyi lagi dibelakang Dylan, dengan keberanian seadanya Jovan menjabat tangan Diva. "Di-Diva? Aku Jo-Van," jawab Jovan.


"Semoga kita bisa temenan dengan baik ya Jovan."


Jovan hanya mengangguk dan menunjuk kearah box Pizza diatas meja. "Dylan, Jo-Jovan mau pizza Lan!" pinta Jovan.


"Iya udah ayo makan Pizza."


Dylan membuka box pizza yang ia beli tadi. Mereka berempat makan bersama seperti keluarga kecil, mata Jovan sedari tadi sulit dialihkan dari Diva. Diva yang menyadari itu sering tersenyum pada Jovan.



"D-Diva cantik, J-Jovan suka." batin Jovan saat ini.


Mereka makan hingga habis, Zidan pun ketiduran di sofa ruang tamu karena kekenyangan. Dylan membereskan sisa-sisa makanan dan pergi keatas untuk mandi dan berganti pakaian yang lebih santai karena dari kemarin belum berganti baju.


"Bentar gua mandi dulu ya, dari kemarin belum mandi bau pasti," ujar Dylan.


Diva terkekeh, "Haha bau banget pantesan, sana mandi. Bahaya kalo semut-semut nyium bau badan lu langsung keracunan."


"Ih ngeledek bener, awas kalo gua dah wangi, jangankan semut, lu aja nemplok sama gua Div."


"Yeee ge'er banget!"


Dylan pun pergi mandi, tersisa Jovan dan Diva saat ini yang berada di situasi yang canggung. Jovan pun berdiri dan melihat sekitar.


"Jovan mau kemana?" tanya Diva.


"J-Jovan mau susu, mau bi-bikin susu. Diva mau?" Jovan menawari Diva.


"Em boleh deh."


Jovan pun pergi ke dapur untuk membuat susu, diam-diam Diva mengikuti Jovan dari belakang. Ia mengamati semua pergerakan Jovan.


Diva pun berpikir sendiri, "Dia emang beda dari orang normal biasanya tapi dia pinter juga sih. Dia cuma kayak anak kecil doang, kalo udah ngelakuin sesuatu gini kayak normal sebenarnya." Diva tersadarkan dari lamunannya saat


Diva pun menghampiri Jovan dan membantunya, tanpa sadar Jovan pun grogi dan tiba-tiba menjadi ceroboh. Jovan tak sengaja menyenggol gelas hingga terjatuh.


"Jovan awas!"


Ctarrr...


Gelas itu terjatuh dan pecah, Diva langsung menyuruh Jovan untuk mundur. "Jovan mundur dulu ya jangan main-main, ini bahaya."


Jovan hanya mengangguk patuh, Diva mengambil sapu yang ada di dapur dan membersihkan pecahan-pecahan gelas itu tadi hingga bersih. Ia menarik Jovan untuk duduk.


"Sini liat kakimu!"


Diva melihat kaki Jovan sedikit ada tergores pecahan kaca tadi, Diva pun berdiri bertanya pada Jovan dimana kotak P3K lalu mengambilnya. Ia membersihkan luka Jovan lalu memplasternya.


"Sakit ga?" tanya Diva sambil membersihkan luka Jovan.


"Ngga."


"Kalo sakit bilang ya."


"Ngga sakit, Jo-Jovan kuat. Jovan n-ngga nangis," ujar Jovan dengan mata berkaca-kaca.


Diva tersenyum, "Hebat banget Jovan ga nangis. Keren banget loh." Selesai memplaster lukanya, Diva menepuk-nepuk kepala Jovan dengan lembut, "Udah selesai, Jovan pinter banget ga nangis."


Jovan tiba-tiba grogi karena Diva bersikap lembut padanya, ia bingung saat ini harus apa.


.


.


.


.


.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya :(