Jouska

Jouska
Chapter 29



"Kalo lu suka sama orang, harusnya orang itu juga suka balik sama lu dan orang itu harus nerima lu apa adanya bukan ada apanya. Apa Diva tau aslinya lu cewe? Apa Diva tau kehidupan lu? Apa Diva tau kalo lu itu beneran cewe yang terobsesi jadi cowo?" tanya Vior. Pertanyaan itu membuat Andra bungkam dan tak menjawab sama sekali.


"Mau gimanapun, lu tetep cewe Ndra. Kalo lu emang cewe suka cewe silahkan, tapi jangan nipu orang yang lu suka juga. Dan jangan ajak orang lurus buat belok!" tegas Vior.


"Sumpah lo jahat banget Vi. Kenapa sih lu sampe segininya? Parah banget lu asli, sampe nyesel gua temenan sama lu!" ujar Andra.


Vior terkejut dengan perkataan Andra. Iapun membuka pintu mobilnya dengan mata berkaca-kaca, "Gua kayak gini karna gua suka sama lu dari lama, tapi sayang lu nya buta!" jawab Vior.


Brakkk....


Vior membanting pintu mobil dengan keras lalu masuk kembali masuk kedalam caffe untuk mengambil tasnya, sementara Andra masih terdiam tak menyangka dengan perkataan Vior barusan.


"Hah? Serius? Vior suka sama gua? Tapi kan dari kecil kita cuma temenan ga lebih, kenapa dia bisa suka sama gua? Karna udah temenan dari lama, harusnya dia lebih tau baik buruknya gua dan ga bakal suka sama gua. Kenapa malah jadi gini anj*r!" umpat Andra.


Mata Vior memerah, ia meraih tasnya dengan kasar dan tanpa menjelaskan apa-apa pada teman-temannya. "Gua pergi duluan," ujar Vior dengan singkat.


"Vi... Vior! Vi!" panggil teman-temannya yang tak digubris sama sekali. Teman-temannya kebingungan tentang apa yang tengah terjadi saat ini.


"Abis berantem kah sama Andra?"


"Kayaknya sih."


Andra tersadar dari lamunannya dan berlari menyusul Vior kedalam caffe. Sorot matanya melihat keseluruh ruangan dan tetap saja tak menemukan Vior. Andra pun memilih bertanya pada teman-temannya Vior.


"Eh lu pada tau ga Vior kemana?" tanya Andra dengan nada yang terdengar khawatir.


"Ehm dia barusan pergi Ndra."


"Napa ga lu hentiin sih nj*r!" umpat Andra.


Andra pun langsung pergi berlari berharap Vior masih terkejar. Ia berlari menyusuri jalan-jalan dekat caffe itu berharap menemukan Vior. Sudah 10 menit lebih, Andra masih tak menemukan Vior.


"Sial!" umpat Andra.


Andra kembali kedalam mobilnya dan terus mengirim pesan spam bahkan telfon berkali-kali, namun ponsel Vior justru tak aktif. Andra kesal dan memukul setirnya.


"Argh! Sialan!" umpat Andra yang dilanjutkan dengan mengacak-acak rambutnya sendiri.


...***...


Ini hari ke-6 Diva dirumah sakit, akhirnya ia diperbolehkan untuk pulang setelah trombositnya mulai normal dan tak mual-mual lagi.


"Ah akhirnya bisa pulang coy! Bosen gua asli disini," ucap Diva sambil meregangkan badan.


Mama dan Papa Diva mengemasi semua barang-barang dan membawanya turun untuk dimasukkan kedalam mobil. Mama Diva membawa beberapa barang lalu pergi turun lagi.


"Diva, kamu tunggu sini dulu ya sebentar. Mama taruh yang ini abis itu jemput kamu, soalnya mobil papa udah didepan IGD. Bentar ya sayang," ujar Mama Diva sambil mengangkat beberapa barang.


"Iya siap mama!"


Mama Diva pun pergi turun dan Diva berdiri menunggu didepan ruang inapnya. Ia senyam-senyum melihat video lucu diponselnya. Tak lama Dylan yang tak sengaja lewat pun menyapa Diva.


"Hai manis," sapa Dylan ramah.


"Eh Dylan, hai," sapa Diva balik


Dylan melihat barang-barang disekitar Diva, "Cie udah sembuh ya bidadarinya. Mau check out sekarang?" tanya Dylan basa-basi.


"Alhamdulillah udah sembuh, iya. Ini masih nunggu mamah, tinggal ini doang soalnya."


"Hahaha buaya bisa laper juga ternyata, tapi nanti ngerepotin loh," jawab Diva yang merasa tak enak.


"Udah santai aja, kuy kebawah."


"Yaudah ayok."


Mereka berdua pun berjalan bersama kebawah menuju depan pintu IGD. Mama Diva terkejut karena tiba-tiba Diva datang bersama pria yang tak dikenal.


"Loh kok turun duluan?" tanya Mama Diva.


"Subhanallah ciptaan Allah," celetuk Dylan saat menatap Mama Diva.


"Eh, kenapa? Terus kamu siapa?" tanya Mama Diva kebingungan sambil menatap Dylan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Dylan menyalami tangan Mama Diva lalu mencium punggung tangannya. "Kenalin tante, Dylan. Temennya Diva, tante daritadi liatin saya terus pasti bingung ya. Jadi gimana tante, saya ganteng ga? Udah siap belum tan jadi besan bunda saya?" gurau Dylan.


"Heh Astagfirullah, Diva belum boleh nikah, masih kecil. Kuliah aja belum selesai, tapi kamu emang ganteng sih Lan," jawab Mama Diva.


"Mamaaa!" ujar Diva dengan lirih sambil memberikan kode mata pada mamanya.


"Alhamdulillah saya ganteng, mirip bunda saya tante. Bunda saya cantik, kayak tante. Saya bingung waktu liat Diva kenapa cantik banget, kok bisa gitu. Sekarang saya tau, tante aja cantik begini. Pantes aja anaknya spek bidadari, mamanya aja kayak Dewi Yunani."


Dylan sangat pintar mengambil hati Mama Diva, tapi Mama Diva termasuk pawang buaya saat muda, jadi tak mudah terbawa kata-kata Dylan.


"Buaya Jakarta sekarang ngeri-ngeri juga ya, kirain jaman mama muda aja," kata Mama Diva.


"Eh Dylan bukan buaya tante, Dylan itu calon menantunya tante. Kalaupun buaya ya bukan sembarang buaya, buaya premium ini tante. Buaya cuma buat Diva doang," balas Dylan tak mau kalah.


"Ih Dylan gombal terus! Tau ah, mah ayok pulang. Takut digigit buaya," selah Diva agar rayuan maut Dylan segera berhenti.


"Yaudah Dylan, tante sama Diva mau pulang dulu. Jangan godain tante terus, nanti diamuk pawang tante loh. Pawang tante dulu ketua tongkrongan buaya Jakarta," bisik Mama Diva pada Dylan.


Dylan pun ikut membalas perkataan Mama Diva sambil berbisik juga, "Wah bagus tante, Dylan bisa berguru sama Papa Diva biar berhasil dapetin bidadari hehe."


"Ampun deh rayuannya, profesional ya say. Kita pulang dulu ya Lan."


Diva mendorong mamanya agar segera masuk kedalam mobil. "Dylan, gua pulang dulu, bye."


"Ati-ati mobilnya terbang soalnya bawa bidadari-bidadari cantik," teriak Dylan setelah mobil berjalan.


Jantung Diva benar-benar tak aman lagi, Dylan sangat pintar berbicara dan pandai mengambil hati mamanya.


"Bahaya banget sumpah dideket dia, buaya elite paling premium. Arghhh, dia pinter banget sih ngomong, omongannya semua persis omongan playboy tapi gua suka. Sialan!" umpat Diva didalam hatinya.


.


.


.


.


.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya :(