
"Tapi maunya beli ke Malang by, langsung ke Malang."
Surya diam melongo, "Hah? Malang? Tapi kan jauh sayang, nanti kamu kecapean manis. Kita beli yang disini aja ya tapi Bakso Malang."
Raina melepas pelukannya lalu tidur kembali dengan wajah cemberut, "Yaudah aku mau tidur aja."
Surya mengernyitkan dahinya dan berpikir sejenak, "Iya udah ayo, kamu siap-siap sana. Abis ini kita berangkat ke Malang." Surya mengusap-usap rambut Raina lembut.
Raina langsung berbalik badan dan tersenyum, "Hah serius?" Pertanyaannya dibalas anggukan oleh sang suami tercinta. "Yeyyy!!!"
"Tapi makan dulu ya, soalnya kan Malang jauh. Makan baksonya nanti kalo udah disana aja," ujar Surya.
"Siap bos!"
Raina langsung beranjak bangun dan cuci muka, ia turun kebawah dan mengambil makanan. Ia menggoreng nugget kesukaannya dan dimasak bersama saos asam pedas. Raina makan dengan senyum yang tak pernah pudar.
Surya merapikan kembali tugas-tugasnya kebetulan mereka berdua besok tidak ada mata kuliah jadi ada waktu bersantai. Tepat pukul 03.00 pagi mereka berangkat bersama Pak Bambang, salah satu supir pribadi keluarga Surya.
"Ada yang ketinggalan ga barangnya? Hp? Charger? Tas? Dompet? Make up?" tanya Surya dengan penuh pengertian dan perhatian.
Raina menggeleng dan tersenyum, "Ndaaa, udah aku bawa semua kok hehe."
Surya pun menggenggam tangan istrinya dan membukakan pintu mobil agar istrinya bisa masuk dengan nyaman. Lalu Surya menyusul duduk disebelah Raina. Mereka bertiga pun berangkat ke Malang sambil berbincang-bincang diperjalanan.
"Pak, Pak Bambang udah punya istri kan?" tanya Raina tiba-tiba
"Udah non, ada apa ya?"
"Ngelahirin itu sakit ga sih?"
Pak Bambang tertawa menanggapi pertanyaan random dari Raina sedangkan Surya terheran-heran, "Hahahaha non non, saya mah mana tau. Kan yang lahiran istri saya bukan saya."
"Ih ya kan siapa tau ikut nemenin waktu istrinya lahiran!" kesal Raina dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut.
"waktu kelahiran anak pertama saya itu lahiran normal, istri saya setelah lahiran marah-marah dan sempet diemin saya karena katanya lahiran itu sakit dan dia gamau hamil lagi. Cuman dia pernah cerita, lahiran emang sakit tapi waktu dia tau selama persalinan saya temenin, dan dia bisa peluk anak kami setelah selesai lahiran, semua rasa sakit itu seolah terlupakan dan diganti sama rasa bahagia dan senang," jelas Pak Bambang panjang lebar.
"Ohhh gituuuu..."
"Lah pak? Kan katanya istrinya gamau hamil lagi, lha itu ada anak kedua? Gimana bisa?" tanya Surya.
"Oh, itu mah kami aja den yang kebablasan hahahaha... Waktu istri saya tau dia hamil, dia marah ke saya lagi. Tapi ya mau gimana lagi, anak itu titipan Tuhan, kami juga ngerasa sudah siap jadi orang tua juga saat itu, akhirnya ya kami terima apa adanya saja. Dan ternyata waktu mendekati hari kelahiran, bu bidan bilang istri saya harus dioperasi caesar karena air ketubannya hampir habis. Jadi istri saya siap begitu aja buat lahiran lagi."
Raina mengangguk seolah memahami semua perkataan dari Pak Bambang. "Emang ada apa non kok tanya begitu? Lagi isi ya?" tanya Pak Bambang.
Raina menggeleng dengan cepat, "Ah belum pak, cuma ngebayangin aja betapa sakitnya orang lahiran. Soalnya tadi lihat di internet ada video animasi proses ngelahirin, ngilu saya liatnya."
Surya mencubit hidung istrinya gemas, "Kalo mau punya bayi gapapa, nanti kita cari rumah sakit paling bagus dan profesional biar kekasih Tuan Pradipta ini tidak kesakitan saat proses persalinan," goda Surya.
"Saya sih kasih saran aja ya non, den, ga papa kalian mau punya anak kapanpun. Tapi saya saranin nikmati dulu waktu yang sekarang biar puas, sambil upgrade diri sendiri agar beneran bisa jadi orang tua yang siap lahir batin. Soalnya punya anak bukan cuma hamil terus lahiran dan selesai, tanggung jawabnya seumur hidup. Sampai kapanpun kita sebagai orang tua masih terikat tanggung jawab atas anak. Apalagi kalo udah punya anak otomatis waktu buat diri sendiri berkurang, waktu awal-awal saya sama istri saya punya anak, kita sering berantem karena masih sama-sama egois dan merasa paling sibuk. Tapi lambat laun kami makin sadar kalau tanggung jawab atas anak itu harus ditanggung oleh kedua orang tua bukan salah satu. Kalo sekarang masih bisa main, nongkrong terus seneng-seneng sama temen, belum tentu kalo udah punya anak masih bisa begitu, kalo anaknya udah gede gapapa, tapi kalo masih bayi?"
Raina berpikir sejenak, "Tapi kan ada baby sitter Pak? Jadi bisa punya banyak waktu luang, ada yang bantu urusin bayi juga."
"Namanya anak ya tetep anak non, tetep butuh peran kita sebagai orang tua. Sekarang mungkin biasa aja kalo punya anak terus dikasih baby sitter, tapi nyeseknya dibelakang kalo tau ternyata anak lebih akrab sama orang lain dibandingkan sama kita yang orang tua kandungnya bahkan orang yang ngelahirin dia."
"Iya juga ya pak, jadi takut mau punya anak... Udahlah paling bener rawat boneka sama kucing aja, ga nakutin hehe, ya sayang ya," Raina menunjukkan puppy eyes nya ke Surya.
"Tapi aku juga takut kalo kita punya anak by, nanti perhatian mu ke aku bakalan terbagi. Aku belum terbiasa, biasanya tiap malem bobo sama aku, dikelonin aku terus tiba-tiba tiap malem bobo sama bayi terus. Biasanya suapin aku mam terus tiba-tiba suapin bayi terus, nanti kamu ga ada waktu buat aku by," suara Surya terdengar khawatir dan belum rela jika perhatiannya akan terbagi.
"Ih apasih cemburu sama bayi, kayak bocil. Tapi gapapa, kamu emang bocil, bocil no life hehe..."
"Ih nakal banget ya bayi satu ini dasar. Nih rasain nih!"
"Ahahahaha hahahaha by geli by hahaha."
Surya menggelitiki pinggang Raina hingga Raina tak tahan lagi dengan rasa gelinya dan terus tertawa. Mereka terus bercanda diperjalanan dan sampai akhirnya tertidur.
Surya tidur lebih lama karena semalam dia bergadang untuk mengerjakan tugas lalu langsung berangkat ke Malang demi istri tercintanya. Raina memaklumi itu dan membiarkan suaminya tertidur pulas.
Raina sengaja mengirimkan foto ke grup chatnya untuk melihat apakah Diva akan merespon.
Raina menghela nafas karena tak melihat satupun pesan dari Diva, "Apa dia masih mau sendiri ya? Kasian banget, tapi aku juga ga bisa apa-apa. Simalakama asli deh," ujar Raina yang merasa serba salah dalam keadaan ini.
Tinggg....
Sebuah notifikasi masuk, Raina terkejut melihat notifikasi dihpnya, seketika ia langsung tersenyum sambil memandangi layar ponselnya dengan antusias.
.
.
.
.
.
Tbc