Jouska

Jouska
Chapter 36



Clek....


Pintu terbuka dan mama Diva melihat keadaan Dylan saat ini, ia panik dan mendekati Dylan.


"Astaga Dylan! Kamu kenapa nak? Kok bisa babak belur kayak gini sih ya ampun," panik Mama Diva.


"Hai tante, biasalah tan, namanya juga anak cowo, ya ga Dan?" tanya Dylan pada Zidan.


"I-iya tante."


"Gada biasa biasa, masuk kerumah! Tante obatin dulu," tegas Mama Diva sambil berbalik masuk kedalam rumah, "Kalo kamu kabur gausah main-main sama Diva lagi, ga ada restu ataupun ijin!"


Dylan bingung karena ancaman mama Diva, sedangkan Diva tersenyum puas menatap Dylan. "Mampus, makanya ayok masuk dulu!" ajak Diva sambil menarik-narik baju Dylan seperti anak kecil.


"Hehe gemes banget lu Div, yaudah deh aku masuk. Kalian semua balik dulu aja nanti gua balik sendiri kaga napa," kata Dylan pada Zidan.


"T-tapi Lan?" Zidan sedikit ragu pada Dylan karena dia belum kenal sama sekali siapa Diva dan siapa yang mengeroyok Dylan diam-diam tadi.


Dylan pun mendekat dan berbisik pelan pada Dylan, "Lu balik dulu sama anak-anak, cari tau siapa yang bikin gua sampe kayak gini! Gua inget ada logo ular di lengan jaket mereka. Gua mau istirahat bentar, bonyok semua ini badan! Kalo udah dapet kabar langsung telfon gua okay?"bisik Dylan.


Zidan pun mengerti dan mengangguk lalu menepuk pelan pundak Dylan, "Yaudah deh gua balik dulu sama anak-anak. Eh lu cewe, jagain bos gua! Awas dia kenapa-kenapa!" ujar Zidan pada Diva.


"Diva! Gua punya nama!" bentak Diva.


"A*njir galak!" ucap Zidan lirih. "Yaudah bos gua balik dulu, ati-ati disini, kalo ada apa-apa langsung kabarin gua ya!"


"Santai."


Zidan dan yang lain pun pergi lalu Dylan masuk kedalam rumah sambil dibantu Diva, ia duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu mama Diva mengambil kotak P3K.


"Siniin kunci motor lu?" pinta Diva sambil merentangkan tangan kepada Dylan.


"Heh buat apa? Jangan dijual a*njir, baru lunas itu! Masih baru neng Ya Allah," panik Dylan saat mendengar kata-kata Diva.


"Mana ada dijual, tanpa jual motor lu mah duit gua udah banyak dodol! Udah siniin kuncinya kok, susah banget dimintain!" Diva kesal lalu merebut kunci motor Dylan sendiri.


Dylan pun hanya menatap Diva dari kejauhan, tampak Diva menaiki motornya. Dylan khawatir Diva tidak akan kuat karena motornya yang besar dan berat, namun ternyata salah. Diva tampak santai menaiki motor itu dan menyalakan mesinnya lalu memasukkan motor itu ke garasi.


Diva berjalan santai menghampiri Dylan kembali, ia menyerahkan kunci motornya lagi. "Nih kunci motor lu, gak gua jual kan?" sindir Diva.


"Lah bisa naik motor gituan? Kuat? Ga berat?" tanya Dylan berkali-kali.


"Diva mah bisa naik semua jenis motor!" sahut Mama Diva yang tiba-tiba datang membawa kotak P3K. "Papanya Diva obsessed banget sama Motor GP, dulu pernah beli motor begitu juga. Dan ternyata diem-diem Diva diajarin naik motor gituan, marahin aja Lan. Udah mamah bilang jangan, bahaya, malah belajarnya diem-diem. Tiba-tiba aja mamah tau Diva udah lancar naik motor gituan."


"Hayoloh Diva..." Dylan mengompori.


"Hehe, ya papa loh ma, papa yang ajarin. Diva kan sebagai anak yang berbakti dan sayang orang tua ya nurut aja hehe," bujuk Diva sambil memeluk mamanya.


"Stop disitu aja okay! Kalo mau naik kendaraan pake motor biasa aja atau bawa mobil, atau ngga naik kendaraan umum aja. Kalo perlu mama papa yang anter! Gausah aneh-aneh, anak cewe duduk manis aja!" tegas Mama Diva.


"Iya-iya mamaaa."


"Ini bujang, habis ngapain tadi? Ada begal apa gimana?" tanya Mama Diva dengan nada sedikit tinggi karena kesal.


Dylan hanya terkekeh pelan, "Hehehe, ya kayaknya sih gitu tante. Soalnya ngikutin kita terus, mungkin iri sih Tan soalnya Dylan bawa cewek cantik, terus Dylan juga ganteng, keren, motornya bagus."


"Narsisnyaaa!" sela Diva.


"Loh fakta Div, orang mereka sama gua aja cakepan gua. Lebih kuat gua juga, gua lawan mereka yang keroyokan aja masih strong gini!" Dylan memamerkan otot nya.


Plakk...


"Aduhh!"


Mama Diva memukul pelan punggung Dylan, dan Dylan mengaduh kesakitan. "Gausah sok kuat! Ini obatin dulu, lepas jaket sama bajunya. Lain kali kalo diikutin langsung ngebut aja pergi ketempat yang rame, ngapain sih malem-malem lewat jalanan sepi juga! Bahaya tau ga, sekarang lagi rawan begal sama rampok. Kalian kalo mau keluar jangan malem!" Mama Diva memberikan saran dengan cerewet.


"Iya tante siapp. Lain kali ga keluar malem lagi kok!"


"Ini buka ayo jaket sama bajunya!"


"Loh Tan, Dylan punya otot sama badan yang bagus loh. Tante kalo terpesona gimana nanti?" gurau Dylan.


"Masih bagusan badan om daripada kamu! Istri saya mah ga bakal kegoda sama berondong buaya kayak kamu Lan, masih gagah saya!" sela Papa Diva yang tiba-tiba turun dari lantai 2.


"Halo om," Dylan menengok dan tersenyum melihat Papa Diva, "Pantesan tante ga bakal terpesona sama Dylan, suaminya aja spek oppa oppa korea. Ampun om, saya ga kuat nyaingin."


"Hehehe siap om!"


Dylan melepaskan jaketnya dan hendak melepaskan kaosnya juga, namun ia berhenti sesaat. "Tan, badan Dylan bagus, nanti kalo Diva mimisan liatnya gimana? Kalo Diva terpesona gimana?"


Wajah Diva memerah, "Hiihhhh narsis banget jadi orang! Mau pergi aja bye!" kesal Diva. Diva pergi kelantai 2 dan masuk kedalam kamarnya untuk ganti pakaian yang lebih santai.


Mama Papa Diva hanya terkekeh pelan melihat putrinya sedang salah tingkah. Mama Diva pun mengobati semua luka Dylan, membersihkan lukanya lalu mengompres beberapa bagian yang lebam. Kening Dylan pun juga diplaster karena luka.


"Dah, sana kamu istirahat dulu. Tidur aja di kamar tamu, besok pagi pulang!" kata Mama Diva.


"Iya buat istirahat dulu saja," Papa Diva menambahi.


"Lah ga ngerepotin Om? Tante?"


"Ngga, udah sana. Udah malem juga, bahaya kalo pulang jam segini."


"Makasih om, tante."


Dylan beristirahat di kamar tamu, mungkin benar kata Mama Diva, ia perlu istirahat sejenak. Ia berbaring dan memainkan ponselnya sebentar untuk mengirim pesan lalu tidur.



...***...


Dylan terbangun saat mentari sudah benar-benar naik dan bersinar cerah, ia langsung mengambil ponselnya dan melihat pukul berapa. Sebuah notifikasi pun juga muncul dilayar ponsel Dylan.



Dylan pun segera bangun dan berpamitan untuk pulang. Dylan keluar kamar dan menemukan Mama Diva yang sedang duduk bersantai diruang tamu, ia pun menyapanya.


"Pagi tante..."


"Eh udah bangun? Ayo sarapan dulu, Tante udah masak itu di meja makan. Panggil juga Diva, katanya mau makan bareng kamu aja tadi," jelas Mama Diva.


"Duh tante, lain kali ya. Dylan ada urusan mendadak dan udah ada temen yang nungguin ini jadi gabisa lama-lama hehe," Dylan beralasan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Loh ya sarapan dulu, nanti laper gimana?"


"Next time ya tan, Dylan mau pulang dulu."


"Dylan menyalami tangan Mama Diva lalu pamit pergi, ia mengambil motornya digarasi dan langsung menaiki motornya dengan kecepatan tinggi menuju markas gengnya.


...***...


"Lan!" sapa Zidan saat Dylan sudah tiba di markas.


"Jadi gimana?" tanya Dylan dengan tegas.


Zidan menunjukkan layar hpnya, terdapat seseorang dengan jaket hitam dan berlogo ular melilit di bagian lengan, Dylan fokus dengan logo itu lalu mengangguk.


"Iya ini!"


"Geng Snake Shadow, gengnya si Yoshi."


Tangan Dylan mengepal dengan wajah penuh amarah, "Sialan! Belum puas juga dia gua bikin babak belur! Bawa beberapa anak, kita ke markasnya sekarang!" tegas Dylan dengan nada tinggi.


"Siap bos!"


"Udah gua bikin babak belur, sekarang masih mancing-mancing emosi gua? Mau gua bikin ancur geng lu kah?" batin Dylan saat ini.


.


.


.


.


.


Tbc


Jangan lupa like dan komen ya :)