
Diva turun dari ranjang dan kembali keluar, dia pelan-pelan berjalan menuju ruang tamu. Ia duduk di samping jenazah Faris, tangannya bergetar kala berusaha membuka kain yang menutupi wajah Faris. Ia rindu sekaligus tak siap menerima kenyataannya.
Dengan keberanian seadanya Diva membuka kain itu, benar adanya kalau Faris telah tiada. Diva kembali menangis sejadi-jadinya saat melihat Faris yang sudah terbujur kaku tak bergerak sama sekali.
"Faris! Kenapa kamu pergi dulu hiks, aku ga bisa, aku ga bisa tanpa kamu hiks."
Mamanya memeluk diriny erat untuk menguatkan putri tersayangnya itu. "Ya Allah nak, kamu yang sabar ya, kamu harus kuat. Faris ga mau pastinya lihat kamu kayak gini," Mama Diva menenangkan Diva padahal matanya sendiri juga tak kuasa menahan tangis.
"Ma ini gak bener ma hiks, Faris ga mungkin ninggalin aku. Dia cuma tiduran aja, dia sayang aku dan ga bakalan tega pergi gini aja!" Diva terus membantah dan belum bisa menerima atas semua yang terjadi.
Mama Diva memeluk putrinya semakin erat, pelukannya melonggar kala Mama Faris datang dan menggandeng Diva seolah mengajak berdiri. Diva pun berdiri dan pergi mengikuti langkah Mama Faris.
Mereka berdua pergi menuju kamar Faris, Mama Faris memegang kedua pundak Diva dengan erat dan senyum palsu tak lupa ia tampilkan diwajah cantiknya yang tak lekang oleh usia.
"Diva harus ikhlas ya, kasian Faris kalo kamu tangisin terus. Di doain ya cantik jangan di tangisin, oh iya kamu tau ga? 1 hari sebelum kecelakaan itu tuh Faris sempet ngobrol sama mamah," Mama Faris menarik tangan Diva dan mengajaknya duduk di ranjang milik Faris.
"Sini mama ceritain...."
Flashback On
"Baby, aku sayang banget sama kamu. Kamu mau ga nikah sama aku?" ucap Faris sambil berlutut dan berlagak seolah-olah melamar orang didalam kamarnya. "Ah ga ga ga, ini mau nikah apa mo ngajak ngedate sih! Oke ulang."
Faris berpindah posisi, "Wahai rembulanku, cahayamu membuatku terus merasa hidup. Maukah dirimu menjadi teman hidupku wahai adinda tersayang? Menjadi seseorang yang menemaniku dan menikmati dunia sampai usia kita menua?" Faris berdiri dengan ekspresi tampak ragu.
"Ah sok formal banget gila! Apa gua lamar pake acara khusus aja yee, bawa paduan suara, pemain alat musik, dipinggir pantai, suasana sunset. Cakep sih tapi kaga kreatif, masa cowo se-cool gua niru gaya orang sih? Ga banget anj*r!"
Mama Faris menahan tawanya diluar pintu kamar Faris. Yap, sedari tadi Mama Faris melihat putranya yang sedang bertingkah kesana-kemari dengan lagak yang penuh keraguan.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi ganteng, maaf ganggu waktu lamarannya ya tapi lebih baik kalo kamu lamar pake cara dan gayamu sendiri. Memang kelihatan sepele dan ga romantis mungkin, padahal kebanyakan cewe berharap dilamar dengan acara yang romantis. Tapi tetep aja perempuan bakalan lebih menghargai pria yang ngasih effort lebih daripada yang lain, karena keliatan bedanya mana cowo yang bener-bener perjuangin dia dan yang cuma main-main.” Mama Faris masuk perlahan kedalam kamar sambil memberikan saran.
Faris langsung memeluk mamanya layaknya anak kecil yang merengek, "Mamaaaaa Ayiss takut ditolak huwaaaa!" Faris berlagak seperti anak kecil yang khawatir.
Mama Faris mengusap kepala putranya lembut dan berkata, "Ga usah takut, kalian sama-sama suka. Jadi cowo jangan ragu-ragu kalo ambil keputusan, nanti kalo keduluan sama yang lain nyeselnya seumur hidup loh."
Faris menggeleng cepat lalu merengek lagi, "Huwaaa gamauuuu, dedek Diva punya Ayis doang huwaaa, gamau diambil orang. Ga boleh, itu punyaku tok his!"
"Iya makanya cepet dikasih tanda biar ga diambil orang. Kamu lamar aja pake cara yang unik, kalau memang Diva suka sama hal-hal romantis, kamu bisa maksimalin waktu wedding atau honeymoon. Siapa tau mama dapet bonus cucu yakan," ledek Mama Faris.
"Ih mama mah, cucu cucu terus!" jawab Faris dengan wajah yang memerah.
"Hehe maklum boy, ini rumah sepi banget kalo papa kerja terus kamu keluar sama ayang beb mu itu. Mama kan butuh hiburan juga," Mama Faris mengeyel dan memberikan alasan.
"Ya mama aja bikin bayi lagi, Ayis mau kok punya adek!"
"Lah, di umur segini mah mama mau rebahan aja hari-hari. Menikmati masa tua, masalah bayi ya urusan kalian yang muda-muda. Kamu pikir lahiran itu ga sakit apa, tinggal bersin bayinya keluar ha? Dipikir bayi datangnya dari check out Sh*pee?"
"Hehe kan dede Ayis nda tawuuu."
"Eh kenapa bilang gitu? Ya pasti lah, kamu ga liat dia ketawa-ketawa terus kalo lagi sama kamu?"
Faris menggeleng dan diam sejenak, "Ga gitu, kemarin Faris lihat ada quotes yang bilang kalo cewe itu kuat ma. Bisa sembunyiin banyak lukanya dan cuma dipendem tanpa siapapun tau, aku percaya aja karena sebenernya mama juga gitu kan?"
Mama Faris tertegun dengan perkataan anaknya sampai bingung mau menjawab apa. "Perempuan emang susah dipahami sayang, tapi kalo emang Diva bahagia sama kamu pasti kelihatan dari tatapannya. Perempuan kalau memang sayang dari cara ngelihat aja udah bisa dibaca, matanya bakalan kelihatan lebih berbinar daripada biasanya."
"Aku pengen banget Diva bahagia mah, aku suka senyumnya. Manis, candu dan lucu. Aku mau dia terus senyum dan aku bakalan usahain biar dia ga akan pernah nangis selama sama aku."
"Mama bangga banget sama kamu!"
"Mama jangan hiaru-in aku sama papa kalo lagi berantem ya ma. Papa emang gitu orangnya, papa mungkin aja gagal jadi ayah, tapi dia berhasil jadi suami kan ma? Aku ga masalah kok beda pendapat sama papa, yang penting mama selalu bahagia disini. Mama ga boleh nangis gara-gara aku ya, Faris mohon. Faris minta maaf banget kalo pernah nyakitin mama, dan Faris harap papa bisa maafin semua kesalahan Faris selama ini. Semoga kelak ada seseorang yang bisa bener-bener bikin papa bangga ya."
Mama Faris terdiam, nafasnya terasa tercekat di tenggorokan m Sedangkan Faris perlahan meneteskan air mata tanpa ia sadari. Ia tersenyum sebentar dan perlahan tertidur dengan sendirinya.
.........
Faris terbangun saat mendengar suara adzan dari ponselnya, ia langsung mengecek ponsel dan melihat chat lalu berbincang sebentar sambil mengumpulkan nyawa.
Note : Watashi adalah sebutan kata saya atau aku dalam bahasa jepang. (CMIIW)
Micheosoe adalah kata yang berarti gila dalam bahasa korea.
Akhir-akhir ini Faris sering overthingking dan tiba-tiba saja memiliki firasat buruk tanpa ia ketahui apa penyebabnya. Ia tak ambil pusing, ia berpikir ini hanya karena kekhawatiran masalah lamarannya.
Flashback off
"Ini penyebab mama ga mau banyak nangis, dan mama harap kamu jangan terus tangisin ya. Faris ga mau kamu nangis terus kaya gini, kelak kalo mama dipanggil juga dan ketemu Faris, mama harus jawab apa?" tanya Mama Faris dengan suara terbata-bata karena mulai menangis lagi.
.
.
.
.
.
Tbc