
Tak lama pesanannya selesai disajikan diatas meja, Dylan mulai mencuci tangannya dan hendak memakan sesuap nasi namun berhenti saat melihat Diva masih terdiam dan belum mulai makan.
"Bu, ada sendok ga sama garpu?" tanya Diva yang sedikit sungkan.
"Yah ngga ada mbak."
Dylan melihat tangan Diva dan fokus ke jari Diva, Dylan peka dengan hal itu. Ia mengambil porsi makan Diva dan menyuapi Diva.
"Eh kenapa Lan?" tanya Diva yang kaget.
"Takut kukunya rusak ya? Sini udah gua suapin aja, enak kok pasti. Tangan gua juga bersih tenang aja," kata Dylan.
Lagi-lagi Diva kagum, Diva yang awalnya ragu membuka mulut, kini mulai menerima suapan dari Dylan dan makan sampai habis dengan disuapi oleh Dylan.
Dylan tersenyum manis menatap Diva yang selesai makan dan habis seporsi penuh dari suapan tangannya. Diva salting sendiri saat ditatap oleh Dylan.
"A-apasih, natapnya gitu banget," celetuk Diva yang salah tingkah sendiri.
Dylan tersenyum lagi, "Manis banget ceweku, lucu banget bisa makan sampe abis. Gemesin banget sih," kata Dylan sambil mengusap-usap rambut Diva dengan tangan kirinya.
"Ih apasih kayak sama anak kecil aja!"
"Hahahaha gemes banget kalo ngambek."
"Dylannnn!"
"Apa sayangku?"
"Gatau ah!"
"Udah, nih minum dulu," kata Dylan sambil menyodorkan segelas es teh kedepan Diva.
Diva langsung meminum es teh itu tanpa basa-basi dan memalingkan wajahnya agar tak semakin salting.
"Tunggu gua abisin dulu ya cantik."
Dylan memakan semua makanannya dan menghabiskannya segera agar Diva tak terlalu lama menunggu. Ia membayarnya segera lalu pergi lagi.
"Mau kemana ini?" tanya Diva.
"Mau keliling-keliling dulu ga manis?" tanya Dylan pada Diva sambil mengangkat salah satu alisnya.
"Arghhhh ganteng banget gila! Makan apaan sih ni anak sumpah, cool banget anjir!" batin Diva sesaat. "Ah iya? Anu, kemana aja deh nurut aku, tapi motoran dulu aja ya soalnya masih kenyang banget."
Dylan tersenyum, "Yaudah ayo deh motoran keliling-keliling, enak ya gua suapin? Sampe abis banyak gitu, kenyang ga?"
Diva mengangguk dan mengeluarkan ekspresi seperti anak kucing, Dylan sangat gemas dan sampai duduk jongkok karena tak kuat terkena pesona Diva.
"Arghhh gemes banget, ga kuat a*njing! Makan apasih sumpah gemes banget," kata Dylan memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Ih apasih Lan! Ayo berdiri ih keburu malem," ujar Diva sambil menarik tangan Dylan biar berdiri.
Dylan berdiri dan menatap Diva dengan tatapan yang dalam, ia mencubit kedua pipi Diva gemas. "Gemes banget sih, ini pipinya dibikin dari apa sih kok kayak cimol gini kenyal-kenyal banget!"
Diva menghalau tangan Dylan dan menghindar, "Lan! Ih tangan manusia tuh ga higenis, rugi nanti gua skincare an his. Nanti jelek gua kalo breakout!" kesal Diva.
Dylan terkekeh pelan dan mengacak-acak rambut Diva, "Nanti gua temenin ke salon biar tetep cantik. Lagian mah mau gimanapun juga lu tetep cakep Div."
"Ih cowo mah emang gabisa paham!"
"Hahahaha iya deh iya."
Dylan naik keatas motornya dan menepuk-nepuk jok belakangnya, "Sini naik, ayo berangkat kita."
Diva mengangguk dan naik keatas motor Dylan lalu mereka pergi lagi berkeliling kota sambil berbincang-bincang santai, namun tiba-tiba gerimis, Dylan pun langsung menepi dan mencari tempat meneduh.
"Gerimis Div, padahal tadi keliatannya cerah banget ga mendung kok malah tiba-tiba gerimis," kaya Dylan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Diva sedikit manyun, "Biasalah cuaca mah suka prank, kadang cerah banget taunya ujan, giliran mendung banget malah ga ujan."
"Sorry ya gua ga bawa mobil, kalo gua bawa mobil mah pasti lu ga bakal keujanan terus bisa trabas aja ini gerimis."
"Alah santai aja, malah enak lah lagian jarang-jarang juga bisa liat ujan langsung. Biasanya gua di kamar mulu kalo ujan, males keluar."
"Ngapain tuh hayoloh, kinda sus!"
"Heh apasih, orang palingan nonton sambil chill aja. Ngemil, nge-game, nonton, main hp, dengerin musik, udah si gitu doang."
"Kirain yang aneh-aneh."
"Ya kan dah gede, bisa aja."
"Gua anaknya ga macem-macem and stay kalem juga, say no to hal-hal aneh!"
"Keren dah, pertahanin yee."
...***...
15 menitan mereka menunggu hujan reda, dan saat sudah reda, Dylan mengajak Diva berkeliling kembali.
"Udah reda, jalan lagi kuy?" ajak Dylan.
"Ayok."
Dylan mengusap jok belakangnya yang basah karena hujan dengan bajunya sendiri, "Bentar jangan naik, biar kering dulu. Jadi celana lu ga basah, nyaman duduknya."
Diva tersenyum, wanita manapun pasti tersenyum mendapatkan acts of service yang benar-benar sweet seperti ini.
"So sweet and perhatian banget," batin Diva saat melihat apa yang dilakukan Dylan.
"Dah nih kering, ayok naik kita muter-muter lagi."
Diva mengangguk dan naik keatas motor Dylan lalu berpegangan pada pundak Dylan. Dylan menarik tangan Diva lalu menaruhnya kembali dipinggangnya.
"Jangan di pundak, mending disini lebih aman."
"E-eh, iya."
Mereka berdua berputar-putar di kota sampai matahari benar-benar digantikan oleh bulan. Sinar bulan begitu terang malam ini, Diva yang melihatnya langsung tersenyum.
"Perfect banget rasanya bulan malem ini, bagus banget kalo diliat. Bulat sempurna and sinarnya juga terang banget," celetuk Diva saat melihat bulan.
Dylan menepikan motornya dan ikut melihat bulan, mereka berdua menatap rembulan yang sama. Dylan juga tersenyum, "Iya manis banget bulannya."
"Kamu suka bulan juga?" tanya Diva.
Tinnn... Tinnnn... Tinnn...
Suara klakson dari kejauhan terdengar ditelinga Dylan, Dylan menengok dan melihat siapa yang akan lewat. Ada beberapa anak dengan motor sport yang melaju kencang menuju Dylan. Dylan langsung kembali menyalakan mesin motornya.
"Div gua minta tolong sama lu, jangan banyak tanya dan pegangan yang erat okay! Jangan lengah, kalo takut tutup mata aja. Jangan nengok ke belakang dan terus pegangan!" pinta Dylan dengan nada sedikit panik.
"Hah? Ah, iya."
Diva sedikit sulit memahami maksud Dylan, namun Diva iyakan saja. Dylan langsung mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Motor-motor yang mengklakson Dylan tadi pun ikut menyusul Dylan dari kejauhan, mereka berusaha mengejar Dylan dan mengimbangi kecepatan motor Dylan.
"Woi berenti lo!" teriak salah satu orang yang mengikuti Dylan.
"Div jangan dengerin mereka dan fokus pegangan sama gua okay!" pinta Dylan.
"Iya Lan."
Brummm.... Brummm... Brummm...
Suara gas motor mereka begitu keras hingga membuat Dylan sedikit panik karena ada Diva yang bersamanya.
"Sialan! Ngapain sih ngejar gua waktu sama Diva, kalo ga bawa Diva, udah gua bantai lo semua a*jing!" batin Dylan yang semakin kesal lantaran pengejaran mereka tak kunjung selesai.
.
.
.
.
.
Tbc
Jangan lupa like dan komen ya :)