I WANT U To KNOW

I WANT U To KNOW
Capek



Dengan terpaksa Geshia masuk ke rumah dan langsung memasuki kedalam rumah juga berjumpa dengan lelaki yang datang kerumahnya. Geshia melirik dengan sinis, yang menandakan ia tak suka akan kehadiran cowok tersebut dikediaman rumahnya. Apalagi Dirumah sedang sepi, entah Mama sedang dimana dan hanya ada Pak Satpam dirumah yaitu pak Rudi, supir Mas Ganendra.


"Ngapain lo kesini lagi?!" Suara Geshia dengan wajah datarnya. Fajril yang awalnya asik memainkan ponsel miliknya pun akhirnya mengalihkan pandangannya ke Geshia yang sudah berdiri diujung kursi dengan melipat kedua tangannya didada.


"Gue kan udah bilang. Kalo gue ogah liat muka lo lagi, tapi kenapa lo ngeyel dan masih aja nampakin muka lo lagi sih." ucap Geshia yang mulai marah.


Fajril pun bangkit dari posisi duduknya. Lalu menghampiri Geshia dengan senyuman jahil andalannya membuat Geshia bergidik ngeri. Senyuman seram dan benar-benar tidak Geshia sukai karna senyuman itu sangat jelek dan ngeri juga menyebalkan.


"Gue kangen lo, Ges." akuan dari Fajril. "Gue kesini karna gue mau ajak lo jalan. Gue pengen kayak dulu sama lo ngelakuin hal yang lo seneng kayak nonton bioskop, main ke tempat yang lo suka, dan beliin lo ice cream. Emang lo gak kangen itu semua, Ges? "


"Enggak!" Geshia menjawab tanpa ragu. "Kalo lo emang kangen ngelakuin hal seperti itu, mending cari cewek lain. Kenapa harus gue? Kalau enggak, sama tuh cewek lo yang dulu ngirimin gue foto gak masuk akal lo sama dia dikamar!"


"Ges, lo kenapa sih? Kenapa lo bilang gitu? Cewek yang lo maksud siapa? Gue sama siapa? Gue gak pernah ngelakuin hal-hal aneh ya." Fajril maju selangkah ke posisi Geshia. "Dan kenapa lo benci banget sama gue? Maafin gue yang dulu Ges."


"Gue Capek! Gue males berurusan sama lo. Gue gak mau liat muka lo lagi, Fajril! Ngerti dikit napa sih?" Geshia membentak dan Nafasnya naik turun. "Pergi dari rumah gue sekarang! atau gue teriak, biar lo digrebek warga sini?" ancam Geshia menatap tajam Fajril.


Fajril menggeleng sambi tertawa paksa menatap cewek yang dihadapannya marah dan sangat menggemaskan. "Gue gak baka pergi, sebelum lo kabulin keinginan gue kesini."


"Lo ngaca! Lo bukan siapa-siapa gue lagi. Lo gak ada hak buat minta ini itu sama gue dan gue juga gak bakal ngabulin itu semua karena gue ogah! ngerti gak lo!" Geshia tak kuasa menahan Amarahnya, ia sudah kesal dan sangat kesal menatap wajah Fajril.


Fajril pun terdiam. Lalu menatap Geshia mendalam dan penuh arti. Yang terjadi adalah, Fajril tiba-tiba membungkuk dan mengangkat Geshia lalu membopong tubuh Geshia ke bahunya berjalan menaiki tangga.


"Lepasin!" Geshia meronta dan teriak histeris. Luka dilututnya semakin sakit dan perih. "Lepasin gue, Fajril! Turunin gue! Lo ngapain sih."


"Oh. No Baby, I will never let you go" Ucap Fajril dengan senyuman jahatnya. Senyuman yang sangat dibenci Geshia semenjak mereka dalam hubungan dahulu.


"PAK RUD-- AAA..." Geshia teriak memanggil Pak Rudi namun Fajril memukul paha dan lututnya juga dipukul Fajril. Geshia pun memukul-mukul punggung Fajril dengan keras agar cowok itu menurunkannya dari gendongan Fajril. Geshia pun menangis histeris.


"Percuma. Pak Rudi tadi gue suruh beli makanan. Sekarang gak ada siapa-siapa disini. Percuma lo teriak karna gak ada yang denger." ucap Fajril dengan senang.


"Lepasin gue, brengsek!" Geshia masih mencoba membebaskan dirinya dari Fajril. Walaupun usahanya sia-sia.


"Kamar lo, lo kunci nggak?" Fajril bertanya tanpa ragu, sedangkan Geshia semakin takut dan histeris. Ia terus memanggil Mas Ganendra dalam hatinya.


"MAS GANEN!!!" teriak Geshia histeris. Dia takut dan merasa kenapa disaat genting seperti ini, orang rumag gak ada dan sibuk sendiri. Mengapa kejadian mengerikan ini terjadi kepada Geshia.


Ceklek!!


Pintu kamar Geshia terbuka, Fajril pun tersenyum lebar. Sebab ia pikir, kamar Geshia terkunci ternyata tidak. Fajril tersenyum senang, karna keberuntungan berpihak padanya dan merasa bahwa demi apapun semesta mengizinkannya melakukan sesuatu pada Geshia dengan keinginannya yang selalu gagal.


"Jangan masuk kamar gue!" Geshia menggertak kesal. "JANGAN MASUK, FAJRIL!!!"


"Terlambat sayang. Aku udah masuk, eh maaf. Maksudnya kita udah masuk sayang." Senyuman nakal makin terukir diwajah brengsek Fajril tanpa rasa dosa apapun.


"Lo mau ngapain sih, Jril?! Jangan aneh-aneh lo!" Geshia menggertak. "Jangan berani lo, macem-macem sama gue atau lo bakal nyesel!"


"Gue gak macem-macem sayang, gue cuman mau main sama lo. Karna kapan lagi, lo bisa main sama gue." Fajril tertawa sinis dan terlihat jahat. "Lo pasti seneng bisa main sama gue. Nikmatin aja, sayang"


Tanpa Geshia duga, Fajril melempar badannya diatas Kasur. Geshia meringis, karna lututnya semakin sakit juga tubuhnya masih sakit akibat dari Akasa yang menjatuhkannya kelantai. Geshia yang hendak kembali keposisi semula, tapi Fajril menahannya dengan kuat. "Mau kemana sih sayang? Kita kan belum mulai mainnya."


"Apaan sih! Lo jangan gila!" Geshia menepis tangan Fajril yang memegang Bahunya. "Asal lo tau! Lo gak bisa memperlakukan lo seenak jidat lo. Dan pergi dari kamar gue!"


"Enggak mau ih." Fajril tersenyum sok imut didepan Geshia membuat Geshia eneg.


"PERGI!!!" teriak Geshia lagi, membuat ia menangis semakin menjadi karna takut.


"Gue bilang gak mau, ya gak mau sayang!" Nada bicara Fajril menekan naik turun membuat Geshia takut. Geshia kembali terlentang dikasurnya, Fajril mengunci Geshia dengan cara sedikit menduduki Geshia agar tidak bisa bergerak.


Geshia pun terkejut bukan main. Ia meronta, ketakutan dan sangat takut ,sekaraang tangannya ditahan oleh Fajril. Tubuhnya bener-bener dikunci oleh Fajril.


"Apasih mau lo itu ,Jril? Lo gak capek ganggu gue terus? Gue capek jril! capek!"


"Lo. Gue maunya Lo! Puas?!" Fajril menjawab. "Gue maunya lo, Geshia"


Tanpa berpikir panjang, Fajril benar-benar sakit jiwa. Ia menampar wajah Geshia agar tidak sadarkan diri dan akhirnya pingsan.


***


Hujan begitu deras, mengguyur ibukota sejak dua jam yang lalu. Seperti biasa, Akasa tiduran dikasur dengan diauguhi laptop miliknya. Akasa dengan kebiasaan sehari-hari yang tak lain adalah mencari berbagai sumber pelajaran dan mencatat pokok inti dari pengetahuan yang ia cari di browser.


Sejak lama, ia ingin sekali masuk didunia kedokteran. Entah kenapa, menurur ia asik dan banyak tantangan membuat ia semakin semakin untuk meraih impian dan cita-citanya itu. Tapi, walaupun Akasa gak masuk kedokteran tapi ia mempunyai simpanan yaitu masuk kedua Keperawatan. Yang gak jauh beda dari Kedokteran. Untuk saat ini, semuanya ia serahkan pada SNMPTN/SBMPTN sesuai harapan doa juga usahanya. Akasa juga akan berjuang keras agar bisa masuk SNMPTN dan juga dapet Beasiswa. Karena dunia perkuliahan itu sangatlah mahal.


"Akasa?" panggil seorang perempuan dari balik pintu kamar akasa dan sesekali mengetuk pintu kamarnya.


Akasa pun menoleh kearah sumber suara itu lalu beranjak dari kasurnya dan membuka pintu tersebut.


"Ayok makan dulu sayang. Mama udah bikinin masakan kesukaan kamu tuh. Sama Papa juga udah nunggu dibawah." ucap Roselin Alula, Mama Akasa.


Akasa pun mengangguk, "Kalo Tugas Akasa udah selesai, Akasa turun dan makan ma."


Roselin mendengus pelan, "Kamu tuh ya telat makan terus, nanti kalau sakit gimana? Siapa yang susah?"


"Aku sedari tadi ngemilin jajan kok mah. Tenang aja, ntar tugas ini selesai, Akasa turun kebawah, Okay?"


"Akasa---," Mama Akasa menggeleng samar.


"Dadah mah!" Akasa memotong ucapan mamanya seraya menutup pintu.


"Jangan lama-lama! Cepet kebawah." seru Mama Akasa.


Setelah itu, Akasa kembali ke kasurnya dengan membanting diri juga memagang bantal bergambar bendera inggris itu. Saat Akasa hendak meraih buku, polpen dan laptopnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, terpampang nama Aaron kampret di layar ponselnya.


"Ni Bocah ngapain lagi sih?" dercakan Akasa sembari menatap layar ponselnya.


Akasa pun mengangkat telfon Aaron.


"Hm, paan?" sahut Akasa ditelfon.


"Uhu.. Sans bro. Jan nge gas. Ka! Gue punya kabar baik nih. Ini news aduhai digeboy-geboy dan menurut gue lo kudu dan harus tau news ini deh." Aaron berucap heboh sendiri.


"Apaan? Buruan, gue gak ada waktu buat bahas ga guna."


"Anu Ka!," ucap jeda Aaron. "Ini Bentar ye nyet."


Diposisi Aaron, ia sedang sibuk mengotak atik laptopnya dan menscrolling twitter milik Geshia. Entah apa yang ia cari hingga heboh menelpon Akasa.


semenit kemudian, Aaron kembali berbicara. "Akasa!"


"hm?!"


"Nih ya. Dengerin gue. Gue pengen ngasih tau lo, soal Geshia. Lo kudu tau." Aaron terdengar bahagia gak ketulungan.


"Lah. Ngapa ngomong soal Geshia ke gue? Gue bukan siapa-siapanya juga. Anjirr lo ya!" jawab Akasa.


Aaron pun tidak menanggapi ucapan Akasa, karna ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Eh Bor! Ternyata si Geshia itu jomblo lho. Hahha... Gue gak nyangka nih ya. Padahal dia cantik, lucu lagi. Tambah, dia orangnya Asik lagi walaupun masih asik dan cantikan Keana nya gue sih. Hahahahh"


"Terus nig ya. Geshia tuh barusan putus sama cowoknya, gak barusan sih tapi lebih tepatnya 2 tahun yang lalu." ucap Aaron yang matanya masih tertuju di layar laptopnya. "Dan itu terakhir, dia pacaran sama cowok."


"Ya. Syukurdeh kalo dia normal bisa pacaran sama cowok. Gue kira Upnormal." ucap Akasa. Sembari mengingat curhatan Geshia awal bertemu dengannya dulu, sebelum Geshia sekolah di tempatnya sekarang.


"Maksud gue. Dia terakhir pacaran sama Anak SMA BHAKTI bor. Yang terkenal, cowoknya brengsek-brengsek tuh." Aaron meralat dan gak percaya. "Lumayan sih cowoknya, tapi masih gantengan lo bor! Serius deh, gantengan lo Sat!"


"Kenapa jadi gue dibandingin sama mantannya Geshia sih?!" Akasa mulai kesal.


"Ternyata dari dulu Geshia itu emang udah cantik dari sononya ya. Gemes deh, liat fotonya dulu." ujar Aaron kagum. "Kalo lo pengen tau lebih soal Geshia, lo bisa nih buka Twitter nya, dia juga sering lewat TL nya dan sering banget curhat. Tapi lo jangan kaget, kalo ada Batu Es nama lain dari lo. Hahahah... Udah lo cari aja at geshiatynetha"


"Nggak guna! Buat apa gue cariin. Bikin capek aja udah ngetik eh scroll, dih Ogah!" celetuk Akasa. "Niat amat sih lo nyecrol tuh twitter nya anak Manja"


"Sieehh.. Lo udah punya nama panggilan sayang aja nih. Haha. Alesan gue ya, karna gue kasian ke lo Ka! Ngejomblo muluk. Pumpung nih ada dan duduknya sebangku sama lo, untung-untung deh Ka! Hahahah" cerocos Aaron.


Akasa mengangkat alisnya satu, "Maksud lo?"


Di rumahnya, Aaron menepuk jidatnya keheranan punya temen udah galak, jomblo, gak pekaan lagi. Ia menahan tawa agar Akasa gak ngamuk "Gak ah. Ntar gue telfon lagi kalo waktunya pas. Lo lagi belajar kan, yaudeh semangat my bro! Lop youu"


Akasa menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat layarnya, memastikan bahwa telfonnya benar-benar terputus atau belum. Ia pun meletakkan ponsel di dekatnya lalu menghembuskan napasnya berat.


"Dasar! Manusia kampret, gak jelas banget!" dengus Akasa sembari menggeleng samar.