I WANT U To KNOW

I WANT U To KNOW
Thanks Akasa



Weekend yang ditunggu telah tiba. Hari Sabtu dan Minggu. Malam ini adalah malam minggu, Satnight. Akasa punya niatan untuk pergi sebagai kencan pertamanya setelah menembak gak jelas Geshia di kantin sekolah. Akasa sembari rebahan ia membuka ponselnya, terpampang foto Geshia sebagai Wallpaper lalu Foto mereka berdua sebagai lockscreen.


Akasa memulai untuk mengirim pesan.


"Ges, lo udah siap?"


"Ha? Siap apa? jangan ngaco lo"


"Anjirrr.. Otak lo ternyata mesum ya. Keluarlah, malam ini malam minggu keles."


"Mau kemana emang?"


"Mau lo kemana?"


"Ke Mall yuk."


"Ngapain?"


"Ih, lo tanya gue kemana, giliran gue jawab malah ngapain."


"Iya iya. 5 menit gue sampe rumah lo."


"Lah ka. Gue belum mandi."


"Sialan! Serius lo?! Jorok banget."


"Ah, bodo. Yaudah gue mandi dulu, gak usah keburu. Okay."


"Iye"


Akasa pun merampas kunci motor nya yang diletakkan diatas meja souvenir dan berlari kecil menuruni tangga. Terlihat Arletta sedang belajar di ruang tamu dengan Papanya juga Mamanya yang sedang menyiapkan minum dan cemilan di dapur.


"Lho, Kakak mau kemana?" tanya letta.


"Mau kencan." ketus Akasa. Lalu Papa dan Mama berpusat ke arah Akasa. "Kenapa mah, pah?"


"Seriusan?" tanya Papa serius.


"Siapa sih? Mama kok jadi kepo."


"Serius atuh pah. Geshia Tynetha mah." ucap Akasa malu.


"Ooooo." spontan Arletta berucap dengan mulut berbentuk O sangat bulat. Mama dan Papa juga Akasa sekarang beralih menatap Arletta.


"Kenapa?" ketus Akasa bingung.


"Katanya ogah, ternyata demen trus digebet. Ceileeehhh, berarti bener kata kak Arga. Akasa Ramatha yang terkenal dingin ternyata gengsi juga buat nyatain perasaannya." seru Arletta.


"Ha?" Papa tak percaya.


"Ih, tau apa kamu dek?!" tanya Akasa. "Sialan emang, Arga." lanjutnya.


"Papa sama Mama gak usah dengerin Arletta. Dia cuman ngarang."


"Ih, ngarang katanya. Aku serius kakakku yang dinginn kayak kulkas berjalan."


"Gak ngaca?!"


"Ihhhh.." kesal Arletta.


"Yaudah. Akasa pamit ya. Assalamu'alaikum." ucap Akasa berpamitan dengan mama dan papa dan seperti biasa, dia mengacak rambut Arletta kasar.


"Pulang bawa sesuatu! Kalo enggak, gak boleh pulang. Gak kubukain pintu." teriak Arletta. Papa menepuk pundak Arletta. Arletta cengengesan. "Canda pah." Mama dan papa hanya bergeleng samar dan terkekeh.


***


Akasa sudah tiba didepan rumah Geshia. Ia pun tak sungkan-sungkan untuk masuk ke halaman rumahnya yang telah disuruh masuk oleh sopir Ganendra yaitu Pak Rudi.


Tok... Tok.. Tok... Akasa mengetuk tiga kali pintu rumah Geshia. Yang membukanya adalah Papanya.


"Halo Om." ucap Akasa lalu bersalaman.


"Geshia ya?" Akasa mengangguk dan tersenyum. "Yaudah masuk dulu. Geshia palingan masih mandi, kebiasaan banget kalo males. Dia gak mandi,"


Akasa terkekeh dalam hati dengan gelinya. Lalu Ganendra keluar dari kamarnya dan menuruni tangga ke ruang tamu dan tersenyum dengan manisnya kepada Akasa.


"Udah lama, ka?" tanya Ganendra sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Ah, enggak bang. Baru aja sih."


"Tumbenan lo kesini. Mau kemana nih?"


"Ke Mall bang. Katanya pengen nonton si Geshia," bohong Akasa.


"Oh, ceritanya lagi kencan toh." goda Ganendra, Akasa hanya cengengesan malu. " Btw, Mau tanya nih"


Akasa pun menatap Ganendra tegang, takut diberi pertanyaan menjebak. Dan Blarrr!!!


"Sejak kapan, lo suka sama adek gue?"


"S-sejak---" tiba-tiba Geshia menyaut. "Sejak awal dia nganterin dedek pulang, mas." spontan Ganendra dan Akasa menoleh kesumber suara itu.


"Kok kamu yang malah jawab sih. Padahal mas pengen denger dari suara Akasa."


"Jangan gitu mas. Akasa orang yang pemalu, dia biasanya kan kayak kulkas jalan. Kasian tau." goda Geshia dan terlihat Akasa sedikit kesal, Geshia terkekeh dalam hati.


"Udah ih, Geshia mau berangkat kencan sama cogan dulu ya. Mama sama Papa mana?" ucap Geshia spontan membuat Akasa sedikit memerah pipinya.


"Didapur keknya." sahut Ganendra.


Geshia berlari kecil kearah Dapur untuk berpamitan. Sedangkan Ganendra masih aja kepo dengan hubungan Akasa dan Geshia.


"Jangan bikin adek gue nangis Ka. Jangan biarin dia sendirian, gue takut dia kenapa-kenapa. Dan lagi, jagain dia. Gue percaya sepenuhnya ke lo, Okay." ujar Ganendra pelan dan serius.


"Iya Bang. Gue janji bakalan jagain Geshia dan gak bakal bikin dia nangis." Ganendra mengangguk.


"Yaudah yuk, Ka." ucap Geshia yang terlihat seneng banget. "Mas. Geshia berangkat ya." Geshia mencium pipi Ganendra dari belakang.


"Iya. Hati-hati. Ntar kalo Akasa kurang ajar,, telpon mas. Ntar mas susulin dan mas slepet cowokmu."


Geshia dan Akasa malah terkekeh melihat gaya Ganendra yang lucu. Mereka berdua pun keluar dan Akasa menghidupkan motornya hingga berderum sedikit keras. Ia melajukan motornya,


Diperjalanan Geshia menikmati Angin semilir dimalam hari sembari membayangkan moment indah bersama Akasa. Ia terlihat senyum-senyum sendiri.


"Ges. Lo kok diem aja. Lo gak pa-pa kan?" ucap Akasa.


"Gue gak pa-pa. Gue lagi nikmatin sejuknya angin malam ini." Akasa tersenyum dibalik helmnya.


"Ka." panggil Geshia.


"APA?!" Akasa sedikit berteriak.


"Jujur! Gue pernah menyukai seseorang tapi gue gak pernah berani buat ngungkapin perasaan gue ke dia, Sampai akhirnya dia pergi tanpa tau kalo gue punya rasa ke dia." ujar Geshia. Akasa hanya terdiam mendengarkan.


"SIAPA?" tanya Akasa.


"Orang di SMA gue, sebelum pindah ke Sekolah lo ini."


"Fajril?"


"NO!!" spontan Geshia berteriak dan memukul bahu Akasa.


"Trus siapa?"


"Ada pokonya. Akhirnya dia ngalemin kecelakaan dan..." Geshia sedikit nangis. "Ah, gue jadi nangis anjirrr."


"Ya lo sih. Ngapain malah cerita masa lalu lo." kesal Akasa.


"Ya itu karna gue, liat lo jadi inget gue yang dulu. Lo tuh sebenernya sama kayak gue, tapi bedanya. Gue cewek dan wajar kan kalo gengsi. Tapi lo cowok, ****. Ya kalik" ucap Geshia sembari membego-begoin Akasa.


"Lo kok malah ****-begoin gue sih! Mau gue turunin disini ha?"


"Ih, masih aja galak. Tapi gue suka, makin sayang Akasa banyak-banyak."


"Gue gak!"


"Bodo. Pokonya gue sayang lo." ucap Geshia sembari memeluk Akasa dari belakang karna masih posisi dalam perjalanan.


Akasa tersenyum dibalik helmnya.


***


Akhirnya mereka sampai di Mall yaitu tepatnya di basecamp tempat parkir kendaraan bermotor. Lalu mereka berdua berjalan ke lift. Mereka berdua masuk kedalam lift, Geshia memejamkan matanya dan berpegangan tangan Akasa begitu erat.


"Lo kenapa?" bisik Akasa.


Setelah sampai di lantai dua, mereka keluar. Akasa menggandeng Geshia dan menepi juga Akasa berhenti mendadak dan berbalik, membuat Geshia menabraknya karna Geshia menunduk.


"Lo takut naik lift?" Geshia mengangguk. "Kenapa? Trauma?" Geshia mengangguk.


"Yaudah. Yuk." Akasa menggandeng Geshia sembari meliriknya sekilas. "Lo mau ice cream?"


Geshia pun mengadah dan terlihat senang lalu mengangguk, Akasa tersenyum menang karna berhasil membuat Geshia tersenyum lagi. Akhirnya Akasa memesankan Ice Cream yang Geshia pilih, mereka berdua bercanda dan tertawa lalu Akasa diam-diam mengabadikan itu lewat video.


"Ternyata bener ya." ucap Akasa tiba-tiba dan membuat Geshia menoleh dengan spontan.


"Bener apanya?"


"Tanpa kita sadari sebenernya cinta itu gak perlu dicari karna pasti dengan berjalannya waktu, ia pasti akan datang sesuai dengan apa yang kita alami sebelumnya."


Geshia masih asik dengan ice creamnya dan sesekali sendok ice cream itu dimulutnya dengan ia bertampang polos. Itu membuat Akasa gemes.


"Pasti lo gak paham?" ucap Akasa.


Geshia cengengesan, "Enggak"


"Hm." Akasa menghembuskan nafasnya pelan. "Maksud gue, Gue gak perlu cari pengganti miera dan lo tau kan, gue bodo amat soal masalah cewek. Siapapun itu karna gue udah pernah dikecewain dan disakiti dalam sekaligus. Tapi, dari semua itu, gue dipertemukan oleh seseorang yang selalu bikin gue emosi dan akhirnya bikin gue jatuh hati sama dia."


"Gue?" balas Geshia.


"Iya lo. Siapa lagi, ****!" kali ini Akasa bener-bener emosi dengan pertanyaan Geshia.


"Ih, jangan marah!" rengek Geshia.


"Lo sih, ngeselin banget."


"Biarin!" Akasa mengacak rambunya dan merangkulnya.


Geshia melahap ice creamnya dan sesekali melirik mengadah ke arah Akasa karna Akasa lebih tinggi darinya.


"Thanks Ka. Akasa Ramatha, lo udah ngebuat hari-hari gue dipenuhi suka, duka dan akhirnya berakhir dengan kebahagiaan yang gak pernah gue pikiran sebelumnya." batinGeshia.


Akasa menyadari Geshia sedang menatapnya.


"Jangan lama-lama natapnya, ntar makin sayang lho." goda Akasa.


Geshia menimpuk muka Akasa. Akasa mengerang sakit.


"Ah.. Sorry. Gue spontan, lagian lo hobby banget godain gue sih belakangan ini."


"Iya gue gak pa-pa. Gimana gak jadi hobby, lah yang ngajarin gue kan lo."


"Eh, iya juga. Gue kan suka bikin lo baper sampai hati luluh sama gue. Ya kan?"


"Iyain, biar seneng."


"Ih, ngeselin lagi." Lalu Akasa terkekeh.


"Thanks Ges. Lo berhasil cairin hati gue yang beku." ucap Akasa lagi.


"Hm." Geshia hanya berdehem.


"Kalo udah makan ice cream emang ya, langsung lupa."


"Eh enggak. Gue sayang lo," Cupp!


Bibir Geshia mendarat di pipi kiri Akasa, lalu Geshia berlari karna merasa malu. Pipinya memerah. Akasa masih mematung tak percaya.


"Ges!!" teriak Akasa. Geshia sudah sedikit tak terlihat dari pandangan Akasa karna jarak mereka sekarang sangat jauh. "Eh, cepet banget sih jalannya tuh manja."


Akasa pun berlari mencari Geshia. Ternyata Geshia tengah duduk didekat taman Mall, wajahnya memerah dan sedikit teriak menutup wajahnya.


"Lo, kenapa?" panik Akasa.


"Maafin gue." ucap Geshia.


"Ih, gak pa-pa kalik."


"Gak mau. Maafin gue." Geshia masih menutup wajahnya.


"Iya iya gue maafin. Jangan teriak gitu, diliatin orang-orang tau. Anjirr lo!" omel Akasa.


"Ahh.. Maaf," Geshia merasa bersalah.


"Ikut gue yuk." ajak Akasa.


"Kemana?"


"Cafe nya Jordan. Nongki sama anak-anak. Mau?" Geshia mengangguk.


Akhirnya mereka berjalan ke tempat parkir dan melajukan kendaraannya. Hanya butuh setengah jam, akhirnya sampau di cafe jordan. Geshia turun dari motor Akasa, Geshia berdiri tepat didepan Akasa sembari melepas helm. Dengan sigap Akasa tiba-tiba memiringkan kepalanya dan Cup!!


Bibir Akasa menyentuh bibir Geshia. Geshia hanya mematung dan cengo, tak percaya apa yang baru saja terjadi padanya. Wajah Geshia seperti. kepiting kebakar, Sedangkan Akasa terlihat seperti tak merasa bersalah.


"Yuk. Ngapain lo malah ngelamun." ajak Akasa dan membantu Geshia melepas helm.


Geshia mengikuti Akasa. Geshia mematung dan menatap lekat Akasa, ketika Akasa menatapnya balik, Geshia menunduk dan membuang muka.


"Geshia kenapa sih?" tanya Arga.


"Kesambet.".ketus Akasa.


"Mulut lo ka!" protes Geshia.


"Akhirnya ngomong juga." balas Akasa tersenyum.


"Ih, sejak kapan lo---"


"Sejak kapan yaaa..."


"Ih"


Lalu Akasa berdiri dan meraih tangan Geshia. "Mau kemana lagi sih?"


"Udah ikut gue"


"Hm, yaya."


Ternyata Akasa mengajak Geshia ke atas rooftop milik Jordan yang terlihat luasnya bandung dan terlihat banyak bintang-bintang dilangit berhamburan.


"Wahhh!! Baguss banget ka!" Geshia berseru senang. "Kenapa lo baru sekarang sih ngasig tau gue kalo ada tempat sekeren ini?"


Akasa mendekat dan mensejajarkan tubuhnya ketubuh Geshia.


"Kenapa gue ngajak lo kesini terlambat. Karna gue mau ngajak lo kesini pada waktu yang tepat, moment spesial bareng lo agar gak pernah terlupakan. Lo ngerti maksud gue kan?" Geshia menatap Akasa dan mengangguk.


"Thanks Ges. Kehadiran lo, ngrubah segalanya. Yang awalnya hidup gue tanpa warna sekarang hidup gue berwarna warni karna lo." ujar Akasa.


"Iya Ka. Gue juga, makasih for everything."


Lalu bibir Akasa menyentuh bibir Geshia dan bersatu dalam malam yang langitnya dihiasi banyaknya bintang-bintang bertaburan sangat indah juga pemandangan indah diatap rooftop. Akhirnya mereka berdua saling melengkapi satu sama lain setelah melewati banyaknya rintangan dan permasalahan dimasalalu.


"Lo suka senja atau pagi?" tanya Akasa.


"Kenapa lo tanya gitu?"


"Jawab aja."


"Pertanyaanmu gak penting buat kujawab."


"Kenapa? Kok bisa?"


"Karna aku tidak suka keduanya. Tapi aku lebih suka kau bersamaku berada diantara keduanya tanpa memilih salah satunya."


💜💜


Kamu boleh saja terlihat cuek seperti kulkas berjalan dihadapan mereka. Tapi tidak saat bersamaku, kau memang cuek namun kau sangat memperhatikan ku dan selalu menjagaku. Terimakasih, itu tandanya kau mencintaiku.


-Geshia Tynetha-


🍃


-END-


Thanks untuk semua yang udah baca dari awal. Maaf jika ceritanya agak acak-acakan dan kurang bagus. Aku masih belajar kok guys, maklumin ya. Maaf juga kalo masih banyak Typo bertebaran bagaikan ranjau.


Love You 💜💜


I PURPLE U