
Pagi yang cerah dan udara yang segar bagi Geshia Tynetha, gadis kalem nan cantik idaman semua kaum Adam. Pagi ini, Geshia berangkat ke sekolah dengan diantar pak Rudi karna Mas Ganendra memang tidak pulang semalem karna nglembur. So, gitu deh.
Senin pagi, Geshia selalu bangun pagi agar tidak telat kesekolah karena Upacara bendera setiap senin selalu on time yang gak kurang dan lebih, lebih pun 5 menit masih dimaklumi. Sesampainya Geshia disekolah, ternyata udah ramai dan kurang 5 menit lagi bel bunyi. Geshia berjalan menyusuri koridor sekolah, dan tibalah dia dikelas yang sudah disambut oleh Keana, Arga, Jordan kecuali Aaron dan Akasa. Mata Geshia menyapu seisi kelas, ia mencari sesosok manusia dingin itu.
"Lo nyari Akasa, Ges?" celetuk Arga menebak. Geshia kaget lalu cengengesan dan mengangguk.
"Duhh.. Dia ya, pinter pake banget. Tapi urusan Upacara tuh mesti telat." sahut Jordan.
"Masa iya sih? Gue gak percaya."
"Yee... Dibilangin kok." kata Arga.
"Udah ih.. Yuk kelapangan aja, ntar lagi bel." ajak Keana melerai.
Geshia mengangguk, selama perjalanan menyusuri koridor untuk menuju ke lapangan. Geshia menatap Keana dengan ragu ingin bertanya, Namun siapa sangka Keana peka.
"Mau tanya apa? Gak usah ragu gitu sih. Kayak sama siapa aja lo." ucapnya lalu mengarahkan pandangannya ke Geshia.
"Hehe.. Abisnya gue takut. Lo udah gak pa-pa kan?"
"Gue udah gak pa-pa kok." balas Keana senyum.
"Lo udah baikan? sama si inu, mamang Aayon (ucap Geshia manja)"
"Apasih ah. Jelek lo kalo kayak gitu, Ges."
"Alah Bodo. Rese' lo, kampret."
Upacara berjalan dengan hikmat tanpa ada kendali, namun saat ditengah-tengah Kepala Sekolah ingin memberi amanat upacara terdengar deruman motor yang tak asing bagi Geshia yaitu motor Akasa Ramatha.
"Noh, liat. Telat kan?" bisik Arga yang barisnya didepan Geshia. Geshia hanya berdehem karna pandangannya menanti munculnya sosok Akasa.
Dan ya, ketika batang hidungnya kelihatan. Semua mata memandang kearahnya seperti kagum dan terpesona.
"Yaampun, pangeran gue dateng." ucap salah satu murid cewek.
"Ganteng banget sih, pujaan hatiku"
"Astaga, Akasa.. Kill me baby."
Geshia sesekali melirik ke cewek-cewek yang mulutnya nyerocos kagum dengan ketampanan Akasa.
"Apasih, alay." gerutu Geshia. Keana yang mendengar hanya tersenyum.
Akasa pun berjalan ke arah barisan teman sekelasnya XI MIPA 2. Saat hampir sampai, guru piket berkata.
"Akasa, kau baris disini. Lagi, lagi kau telat. Udah bosen sekolah?" Akasa hanya merespon jutek. Dan terpaksa menuruti Guru piket tersebut.
***
Upacara pun selesai, Akasa menghadap guru yang bertugas hari ini yaitu Bu Rani. Dia guru lucu dan paling sabar.
"Akasa. Kenapa kamu telat lagi?" tanya guru itu lembut.
"Iya bu, maaf. Saya tadi masih bantu-bantu mama sebentar."
"Hm. Yauda---" belum menyelesaikan omongannya, tiba-tiba salah satu guru killer yang biasanya ngehukum murid telat, bandel, dll. Ia menatap bu Rani tajam, mengisyaratkan untuk tegas dan memberi hukuman.
"Ibu akan menghukummu. Bersihin semua toilet disekolah tanpa terkecuali. Setelah itu, laporan ke ibu. Dan baru kamu boleh mengikuti pelajaran dikelas. Mengerti?!" ucap Bu Rani dengan tegas.
"Semuanya bu? cewek juga?"
"Iya, semuanya. Mau nolak?!"
"E-enggak bu. Iya saya bersiin semuanya."
"Bagus. Yaudah sana."
Akasa dengan wajah bete nya terpaksa mengikuti hukuman, sebelum itu. Ia kembali kekelas untuk menaruh Tas nya. Disana udah ada Geshia, Keana, Arga dan Jordan. Minus Aaron karna sakit.
"Yo, Man. Gimana? Dapet hukuman apa?" ucap Arga sembari merangkul Akasa.
"Bersihin Toilet." ketus Akasa.
"Alah gampang. Kan toilet cowok." sahut Arga. Akasa mengerutkan keningnya dan menatap Arga.
Arga yang menyadari langsung melepas rangkulannya. "Ngapa muka lo gitu? Creepy banget."
"Ya kalik toilet cowok doang. Cewek juga, ****! Kesel gue." murka Akasa.
"Seriously?" tanya Keana. Akasa hanya berdehem.
"Yaudah. Gue cabut dulu, beresin hukuman." ucap Akasa langsung berlalu begitu saja.
"Lo nyadar gak sih?" ucap Geshia tiba-tiba. Semuanya diam menatap Geshia.
"Apa? Nyadar apa?" balas Keana.
"Akasa bete banget, keliatan dari mukanya tau"
"Alah biasa. Makhluk satu itu." ucap santai Arga.
"Beda, gue ngerasa beda." sahut Geshia serius.
"Feeling lo doang kalik." ucap Jordan.
"Ah, serah deh."
"Btw, ntar pulang sekolah. Mampir kerumahnya Akasa ya." ucap Jordan.
"Ngapain?" tanya Geshia.
"Liat Aaron." sahut Arga.
"Ha? Jadi sampai sekarang masih dirumahnya Akasa?" Geshia kaget.
"Iyap."
"Kenapa?" sahut Keana. Arga dan Jordan hanya mengangkat bahunya berartikan tidak tahu.
***
Akasa berjalan menyusuri setiap kelas menuju ke toilet cewek dengan sangat terpaksa. Di dalam toilet cewek ada Miera and the genk. Akasa membuka pintu toilet dengan kasarnya sembari membawa Alat Pel lantai.
Braaak!!
"Ahh.." mereka bertiga kaget, lalu memandang ke arah pintu toilet ada Akasa dengan tatapan sadianya.
"Oh, Akasa sayang. Kok lo disini? mau ngapain?" tanya Miera.
"Gak liat apa?" Miera menatap alat yang dibawa Akasa.
"Oh, hukuman. Kok di toilet cewek sih?"
"Bacot muluk. Bisa keluar gak?!" ketus Akasa.
"Bentar ih. Gue belum selesai pakai Lip tint nih."
"Keluar!." bentak Akasa.
"Ih.. Gak usah galak-galak kalik mas. Ganteng-ganteng tapi galak." ucap Clara.
"Bacot. Keluar!"
"Iya-iya Sabar kalik. Kita keluar kok."
Disaat mereka keluar, Arga dan Jordan dateng.
"Heh. Gak usah galak-galak napa sama cewek. Suara lo kedengeran dari luar noh." ucap Arga.
"Bodo. Abisnya bikin gue makin bete aja."
"Haha." Jordan ketawa.
"Ngapain lo ketawa? bantuin gue."
"Eh tunggu. Sini aja, temenin gue" tahan Akasa ke Jordan.
"Lo juga Ga. Kalo kebelet disini aja."
"Lah ini tempatnya cewek." ucap Jordan. "Tau nih." sahut Arga.
"Iya. Tapi kan gak ada ceweknya. Dan gue bersihin ini, pasti gak ada yang berani masuk." jelas Akasa sembari mengepel.
"Oiyaya. Yaudah deh. Gak tahan nih." ucap Jordan.
"Yaudah sono."
Akhirnya Jordan memasuki toilet. Sedangkan Arga juga sepertinya kebelet, Akasa yang menyadarinya langsung kesal.
"Kenapa? Kebelet juga?" ketus Akasa.
"Iya nih nyet."
"Yaudah sono, sekalian."
Lalu mereka berdua didalam WC, sedangkan Akasa masih mengepel dengan seksama hingga bersih.
"Btw, Ka." Arga berucap tiba-tiba. Akasa hanya berdehem.
"Lo gak ada masalah kan sama Geshia?" pertanyaan Arga membuat Akasa terhenti.
"Kenapa lo tanya gitu?"
"Hm. Kenapa ya? Gak tau sih, cuman gue ngerasa lo sedari tadi gak natap Geshia sama sekali. Padahal tiap ketemu kan selalu ada aja yang diributin. Ye gak dan? Jordan, lo tidur?" ucap Arga.
"Iya bener banget. Ngaco lo, kagak lah. Ya kalik gue tidur di wc sambil boker."
"Lo berdua emang bener ngerasa gitu ya?" Akasa tanya balik. Mereka berdua dengan kompak berdehem.
"Gue sih, baik-baik aj--" belum Akasa nyelesaiin ucapannya, tiba-tiba sosok yang ia bicarakan datang.
"Baik-baik apanya ka?" teriak Arga.
"Tau nih, bikin penasaran. Kebiasaan deh, gak ngelanjutin ucapan malah berhenti tengah jalan. Ada apasih ka?" sahut Jordan kesal.
Ketika Arga dan Jordan ngomel. Akasa masih diam mematung menatap Geshia. Geshia tersenyum manis ke arah Akasa dan ia pun sendiri tanpa ditemani Keana.
"Hallo, Akasa. Kok lo ngelamun sih." Geshia membuyarkan lamunan Akasa.
"O-oh.. G-gue gak ngelamun kok." balasnya terbata-bata. "Lo ngapain disini?"
"Gue mau buang air kecil." ucap Geshia dan langsung nyelonong masuk toilet, Namun Akasa menahannya.
"Kenapa? ini kan toilet cewek."
"Iya, gue tau. Tapi sekarang ada gue. Takutnyaa..."
"Apa?" respon cepat Geshia.
Tak butuh waktu lama, Arga dan Jordan keluar dari wc sembari merapikan bajunya. Mereka berdua kaget melihat Geshia, begitu sebaliknya. "Geshia!" ucap Arga dan jordan bersamaan.
"Lho. Arga, Jordan. Ngapin lo berdua pakai toilet cewek disini?" ucapnya sedikit teriak karna ekspresi kagetnya.
"Gue yang nyuruh mereka disini. Daripada jauh-jauh ke toilet cowok." Akasa berucap ketus.
"Jauh? hanya lima langkah doang, jauh?!" wajah Geshia seperti kesal dan sangat kesal.
"Udah. Ngapasih, malah ributin soal toilet." lerai Arga.
"Tau nih. Udahlah Ges. Lo kesini mau buang air kecil kan? nih, silahkan tuan putri." ucap Jordan mempersilahkan.
"Ck!" kesal Geshia. Blaamm! Geshia menutup pintu Wc dengan kerasnya.
"Mampus! Marah anak orang." ucap Arga.
"Salah lo berdua!" ucap kesal Akasa.
"Kok kita?" balas Arga jordan bersamaan dan saling pandang.
"Ya karna lo berdua tadi ngomongin gituan, dan ngomongin kenapa gak ribut. Lalu terjadi kan, hanya karna toilet gue sama begituan ribut. Rese' lo." lirih Akasa.
"Yakan. Berarti telepati." balas Jordan lalu melirik Arga. "Iyoi." sahut Arga.
"Bodo, serah lo berdua."
Kurang lebih semenit Geshia di dalam Wc, ia pun keluar dengan ekspresi juteknya. Akasa masih sibuk ngepel dan menyadari bekas pijakan Geshia sangat kotor.
"Woyyy! Lo tuh ya." teriak Akasa.
"Apa lagi sih?"
"Tuh liat bawah. Kotor banget, ****! Gue capek-capek ngepel, lo malah ngotorin."
"Upps! Sorry. Itu salah, sepatu gue. Bukan gue." ucap Geshia, lalu keluar dan pergi begitu aja.
"Sialan! sini lo. Cewek Manja!" murka Akasa terdengar hingga ke koridor sekolah. Geshia hanya menghembuskan nafas dan bergeleng samar.
***
Entah kenapa Keana hari ini emang beda dari Keana yang Geshia kenal. Kenapa beda? Karna Keana yang ia kenal biasanya jutek, dingin, dan galak tapi sifat itu malah pindah ke Geshia. Sedangkan Keana sering Galau, Nangis dan ngaco dan itu sifat Geshia pindah ke Keana.
"Dorrrr! Ngelamun aja lo." ucap Geshia mengageti.
"Apasih. Gue gak mood bercanda."
"Ih, iya tau. Napa sih? Aaron lagi?"
"Hm."
"Udahlah. Gak usah dipikirin banget, ntar lo sakit gimana?"
"Abisnya dia ngeselin." ucap Keana lesu.
"Iya gue tau. Kalo dia sembuh, ntar tampol aja mukanya biar kapok." balas Geshia sembari cengemgesan dan diikuti Keana yang mulai tertawa.
Tak terasa pelajaran pun berlalu, sekarang sudah bel pulang berbunyi. Dan ya, mereka ber empat setelah pulang sekolah langsung menuju kerumah Akasa. Namun, Akasa dan Geshia hanya diam seperti musuh. Sesekali Geshia melirik Akasa, begitupun sebaliknya.
"Ngapain lo ngeliatin gue?" ucap ketus Akasa.
"Ha? apa lo bilang? ngeliatin lo? Woyy ngaca, siapa juga yang ngeliatin lo. Ge er banget jadi orang." cerocos Geshia.
Disepanjang jalan Geshia dan Akasa hanya ribut dan ribut. Arga, Jordan dan Keana sampai kewalahan melerai mereka berdua.
"Ngapain lo ikut kerumah gue? rumah gue gak nerima anak manja kek lo!" ketus Akasa.
"Cih. Gue kerumah lo karna Aaron, kalo bukan Aaron. Gue ogah kerumah lo, ngerti!" Akasa hanya diam dan mendengus kesal.
"Udah dong ributnya. Gue pusing liatnya, Setan!" kesal Arga.
"Ih, Arga. Serem." ucap Geshia berekspresi imut ketakutan.
"Abisnya, lo ribut mulu sama Akasa. Kan kesel gue."
"Maaf. Itu salah dia." ucap Geshia nunjuk ke arah Akasa.
"Kok gue? Lo yang mulai." balas Akasa tak terima.
"Lo."
"Lo."
"Lo pokoknya, gue gak nerima penolakan." ucap tegas Geshia.
"Lo! Anak manja."
"Diem! udah. Kalo gak diem, gue turunin di hutan mau?!" tegas Jordan. Akhirnya Akasa dan Geshia terdiam dan saling membuang muka.
"Nah.. Gitu. Kan adem." ucap Arga.