I WANT U To KNOW

I WANT U To KNOW
Throwback



"Lu sebenernya emang **** ya? Lu tau kan ini Study Tour bukan liburan." Akasa berujar ketus. "Kalo lo emang pengen lama-lama disini, ya mending sama keluarga lo sana. Lo bisa berbulan-bulan dan bertahun-tahun disini juga gak ada yang nglarang."


Geshia hanya mendengus kesal. "Kapan-kapan kita ber enam liburan lagi kesini yuk? Ke Jogja!!" Aaron berucap semangat. "Pasti bakalan seru deh. Kita bisa main dan jalan-jalan lama disini sepuasnya."


"Nah.. Setuju tuh gue." sahut Geshia heboh. "Bener, gue juga setuju nih. Kapan lagi cobak kita liburan bareng." sahut Keana tak kalah heboh dan antusiasnya.


"Nggak! Gue nolak." Akasa menolak. "Pergi 2 hari aja disini buat gue udah cukup. Kalo lo ber lima emang pengen banget liburan, ya silahkan tapi ber lima aja. Gue gak ikutan."


"Enggak sekarang juga Ka. Buat ntar kita lulusan SMA gitu." sahut Arga meyakinkan Akasa. "Toh, masih ada waktu panjang buat nabung mulai sekarang."


"Ogah ah. Gak minat." Akasa masih menolak mentah-mentah. "Sumpah, kalo gue boleh jujur. Gue males banget. Nggak tertarik sama sekali soal liburan jauh dari Bandung. Gue mau ikut ke Jogja ini karna kegiatan sekolah, sekalian gue mau nikmatin lagi keindahan Jogja lainnya yang belum pernah gue jajah."


"Ih, Akasa nggak asik." Geshia spontan menyahut. "Kalo nggak ada Akasa, gue gak mau ikut dan gak jadi ikut." dengan ekspresi murung.


"Dan kalo ada lo, gue nggak bakalan pernah ikut kali." cetus Akasa sembari nyengir.


"Jahat banget sih." Balas Geshia memukul dada bidang Akasa.


***


Saat Geshia merasa bosan, selalu saja Akasa mampir ke pikirannya. Dan ingatan pertama kali bertemu dengan Akasa pun muncul. Geshia masih ingat saat Akasa menjadi sorotan murid-murid cewek disekolah karna deruman motornya saat upacara sedang berlangsung dan parahnya saat Geshia menatapnya malah Akasa nyolot. Ia juga masih ingat saat pelajaran matematika bahwa Akasa membantunya mengerjakan soal dan walaupun isinya hanya ribut, omelan Akasa yang super menyebalkan. Sejak hari itu, Geshia menjadi sangat penasaran dengan sosok Akasa Ramatha yang terkenal dengan sebutan Prince Charming. Apalagi saat Arga bilang Miera mantannya lalu Akasa anti cewek-cewek club. Akasa si cowok Tempramental tapi gantengnya naudzubillah bikin mimisan. Itu semua membuat Geshia semakin penasaran dan kepo akan Akasa apalagi beberapa jam yang lalu Adem perempuan Akasa memberi tahu bahwa Akasa selalu menceritakan dirinya kepada Arletta Ramatha Putri. Sayangnya, Akasa terlalu galak dan menyebalkan bikin Geshia sakit hati dengan ucapannya yang ia lontarkan tanpa peduli dia sakit hati atau tidak.


"Ternyata lo punya adek cewek. Gue gak nyangka." ucap Geshia tiba-tiba.


Akasa menoleh sekilas ke arah Geshia yang sedang menatapnya, lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan. "Hm ya. Dan gue gak nyangka lo itu mantannya Fajril." ucap Akasa tiba-tiba.


"Hm?" Geshia cengo, "Ah.. Kok lo kenal Fajril?" tanya Geshia.


Kali ini, Akasa sepenuhnya menatap Geshia penuh arti. Ada beberap detik karna mata mereka bertemu. "Kenapa gue kenal Fajril? Hm.. Karna dia mantan Miera. Dan 2 tahun lalu, yah begitu.."


"Begitu gimana?" jeda Geshia tak mengerti lalu tiba-tiba membulatkan kedua matanya. "J-jangan bilang... Di hotel? cewek? Fajril? Miera?!" Akasa hanya berdehem dan mengangguk.


Geshia pun membuang muka dari Akasa. Akasa bingung dengan tingkah Geshia. "Lo kenapa?" tanya Akasa karna Geshia tiba-tiba diam.


Geshia menatap Akasa. Akasa kaget karna mata Geshia benar-benar seperti orang mau nangis.


"Eh, lo nangis?" ucap Akasa panik.


"Gue gak nyangka. Dan lo, kenapa baru bilang?" ucap Geshia dan akhirnya air mata itu jatuh.


"Kenapa gue harus bilang ke lo? Memang apa urusan lo?" ketus Akasa.


"Jelas ini urusan gue, Akasa!!" balas Geshia dengan nada sedikit membentak. Akasa pun kaget.


"Urusan lo? Bukannya lo udah gak. mau lagi berurusan dengan mereka? Dan sekarang gue tanya, kenapa pas waktu itu saat ngeliat Fajril, lo nangis histeris kayak ngeliat hantu?"


Lagi-lagi Geshia mematung dan kali ini wajahnya memucat juga badannya bergetar. Geshia merasa seperti ada yang mencekik lehernya dan membuatnya sedikit sesak untuk bernafas juga seperti ada yang membungkam mulutnya. Ia sangat sulit berbicara, sulit juga memberi jawaban bahwa dia akan baik-baik saja. Geshia pun menunduk dan memejamkan kedua matanya seketika ia pun menangis lagi.


"G-gue gak tau Ka. Setiap ada yang tanya seperti itu ke gue, gue bakalan nangis dan takut." ucap Geshia terbata.


Akasa hanya diam karna ia tak tau harus menjawab apa. Namun, ia masih tetap memandang Geshia tanpa beralih sedikit pun.


"Gue ngerasa, kalo harga diri gue udah hancur. Gue ngerasa bahwa diri gue Hina banget, Ka." lirih Geshia yang semakin banjir air mata.


"Kenapa emangnya?" tanya Akasa.


"Gue sakit hati, Ka..." ucap Geshia dan tangisnya semakin menjadi. "Gue takut!" lalu menatap Akasa.


"Gue hampir..." Geshia gemetar hebat dan terisak, "Gue hampir diapa-apain sama dia.. Gue takut."


"Ngelakuin apa sih dia?" tanya Akasa lagi bingung.


"Fajril hampir nyentuh gue, Akasa. Dia hampir ngelakuin hal diluar nalar ke gue.." Geshia histeris. "Dia hampir ngebuat gue jadi cewek yang nggak Virgin lagi, Ka! Lo ngerti nggak sih, maksud gue?!"


Deg!


Akasa seperti dihujam tombak tepat dijantungnya. Entah kenapa itu sangat sakit untuknya. Wajahnya pun memanas, matanya pun tajam dan terlihat jelas dia sangat marah. Amarahnya pun kini memuncak hebat.


"Kalo saat itu, Mas Ganen sama Papa gak dateng tepat waktu. Pasti gue saat ini, gak Virgin Ka dan gue pasti udah---" Geshia masih menangis dan gemetar. "Gue gak bisa bayangin, kalo seumpama Kakak gue sama Papa dateng nya gak tepat waktu. Gue gak tau, apa yang akan terjadi sama gue dan hidup gue bakalan hancur berkeping-keping juga impian gue musnah karna dia."


Akasa masih diam dan setia. mendengarkan perkataan Geshia. Walaupun sebenernya Akasa sudah benar-benar dipucuk kemarahan dan nama pria brengsek itu selalu muncul. Sekuat hatinya, ia menahan emosi agar tidak keluar dan melampiaskan ke cewek yang ada didepannya. Tanpa sadar, Akasa menggertak giginya dan mengepalkan kedua tangannya.


"Kalo lo tau. Itu ketiga kalinya dia ngelakuin ke gue. Gue bener-bener takut, kenapa dia selalu ngejar gue saat timing Kakak gue gak ada dirumah atau sedang keluar kota." lanjut Geshis yang masih menangis mengingat kejadian tersebut. "Udah ketiga kalinya dia mau ngerusak gue, Ka.."


Mendengar tangisan Geshia membuat Akasa benar-benar dihujam beberapa pedang dan membuatnya kacau. Benar-benar, dada Akasa terasa sesak dan sangat perih mendengar tangisan Geshia. Apalagi gadis itu sesekali menatap Akasa dan memang tidak mengada-ada juga tampak jelas bahwa ia memang sangat tersakiti.


"Gue takut... Gue takut banget, kalo dia bakal gitu lagi ke gue Ka." lanjut Geshia. "Gue nggak mau liat muka dia lagi, gue gak mau ketemu dia lagi. Gue takut. Gue juga gak mau denger namanya lagi, karna setiap liat dia, gue ketakutan dan gue nangis. Karna saat gue inget apa yang dia lakuin ke gue, itu bener-bener nyakitin banget, Ka!"


Geshia menutup mukanya dengan kedua tangannya. Ia kali ini tak berani menatap Akasa karna Akasa masih menatapnya tanpa beralih sedikitpun.


"Ges.. Geshia. Dengerim gue." panggil Akasa. "Lo nggak usah tangisin dia lagi. Buat apa lo nangisin cowok brengsek dan gak bener kayak gitu? Buat apa lo masih inget kejadian yang udah berlalu? Buat apasih Ges? Lo sadar gak sih? Air mata lo kebuang sia-sia karna cowok brengsek kayak Fajril. Sekarang lo pikir deh, dengan cara lo nangis kayak gini, Si Fajril bakalan masuk penjara gitu? Gak bakalan Ges. Udahlah, lo jangan terlalu bawa hidup lo dramatis banget. Mending lo pikirin gimana caranya bikin dia ngebayar semua apa yang pernah ia lakuin. Karna gue pengen banget liat ia nyesel, sengsara dan mati."


"Lo enak bisa ngomong kayak gitu. Lo gak tau, gimana rasanya jadi gue, Ka." Geshia mendorong Akasa, menatap Akasa tajam menandakan ia kecewa dengan ucapan Akasa yang spontan. "Lo gak tau rasanya, gimana saat tubuh lo hampir disentuh oleh lawan jenis dengan cara yang gak bener. Dan lo gak bakaln ngerti apa yang gue rasain karna lo bukanlah gue. Lo cuman bisa marah-marah, ngomong spontan tanpa mikir, seenak jidat lo nyuruh gue gak usah nangis. Ha? Lo pikir gue gak punya perasaan?! Gue perempuan ka! Dan perasaan gue sangat sensitif dengan fisik maupun non fisik, Akasa! Rasanya sakit banget, ketika seorang cewek dianggap remeh dan gak dihargai juga gak dihormati sama cowok sedikit pun. Ya gue sadar, cewek itu lemah tapi gak gitu juga caranya. Dan gue ngerasain itu semua, Sakit Ka!"


"Gue tau dan gue ngerti gimana perasaan lo sekarang. Tapi, nggak seharusnya lo itu nangis terus-terusan kayak gini Ges, karna itu gak baik dan asal lo tau dengan lo nangis, masalah itu gak akan pernah kelar. Kalo memang lo nggak terima diperlakukan kayak gitu sama cowok, seharusnya lo bersikap lebih tegas,Geshia. Gue tau, lo pasti bisa bersikap lebih tegas." Akasa memandang Geshia tepat dikedua matanya dengan serius. "Lawan dia Ges. Lawan!"


"Akasa! Gue serius. Kenapa lo malah kayak gini?" Geshia teriak karna kesal melihat Akasa.


"Gue juga serius, Geshia Tyneta." balas Akasa. "Lo emang gak merhatiin tampang gue ha? Gue naham marah, lo tau kan Singa kalo udah pengen bunuh incerannya? Seandainya disini ada Fajril, udah gue bunuh tuh orang."


Geshia mengusap air matanya. Geshia masih menangis dengan menundukkan kepalanya dan menekuk kedua kakinya. Posisi mereka adalah di sebuah taman dekat hotel. Geshia menangis yang hanya terdengar tarikan nafas tersendat-sendat dari hidungnya. Sebenarnya disisi lain, Akasa sangat kasihan melihat Geshia, tapi ia tidak mengerti harus berbuat apa dan caranya bagaimana menghadapi seorang perempuan yang sedang menangis seperti itu.


"Bisa diem gak? Jangan nangis terus, atau gue tinggali lo disini. Mau?!" omel Akasa karna bingung mau nenangis Geshia bagaimana.


Geshia pun mengadah lalu menatap Akasa penuh kekesalan. "Kenapa sih, lo nggak bisa ngertiin cewek sama sekali? Lo masih tetep aja selalu marah-marah sama gue, padahal gue sedang sedih. Kenapa lo jadi cowok nyebelin banget sih, Ka?!"


Geshia pun bangkit dari duduknya, lalu berlari meninggalkan Akasa namun Akasa dengan sigap membuat langkah Geshia terhenti saat Akasa menarik tangannya.


"Lepasin! Gue mau balik ke hotel. Gue capek, Gue mau mandi. Gue mau istirahat." ucap Alana seraya menahan air matanya yang ingin jatuh.


"Geshia, gue emang gak ngerti soal cewek. Gue emang gak paham segalanya tentang masalah cewek. Lo tau sendiri kan, dunia gue beda banget sama lo yang lebih berwarna dibanding gue. Dunia gue hanya tentang belajar, materi, pelajaran, web materi, dan bukan tentang cewek. Jadi, Maaf kalo gue bikin lo kesel karna gak bisa ngertiin lo. Tapi, satu hal yang memang gue tau. Kalo cewek emang lagi nangis dan sedih pasti dia butuhnya pelukan." Akasa menjeda lalu menghela nafasnya. "I Want To You Know, Ges"


"Jujur, Emang lo mau dipeluk sama gue?"


"Seharusnya lo gak usah nanya gitu, Akasa." Geshia menunduk membuat Airmatanya berjatuhan.


Tanpa sepatah katapun, Akasa menarik Geshia kedalam pelukannya. Untuk menenangkan Geshia. Tubuh Geshia jelas menegang, lidahnya kelu, Matanya membelalak, pikirannya kacau dan tak percaya apa yang Akasa lakukan kepadanya saat ini. Benar-benar, Jantung Geshia tak terkontrol lalu Geshia perlahan membalas pelukan Akasa dengan menyentuh punggung Akasa.


"Gue janji. Gue bakal ngelindungin lo dari Fajril. Jadi lo gak usah takut lagi. Mulai hari ini, gue selalu ada buat lo." ujar Akasa.


"Thanks, Ka." Geshia pun menangis dalam pelukan Akasa.