
"...Kak Fajril?"
Geshia berjalan kedalam rumahnya, lalu perlahan mendekati cowok yang tengah duduk di sofa. Geshia memanggilnya berulang kali namun, tidak ada respon. Geshia heran, dia budek atau apasih?
"FAJRIL AUSTIN!." sekali lagi Geshia memanggil.
Akhirnya cowok itu mengadah dan menoleh ke arah Geshia. Matanya membelalak yang menandakan dia terkejut akan kehadiran si pemilik rumah.
"Geshia." ucap Fajril spontan lalu berdiri tepat di depan Geshia.
Namun, Geshia mundur selangkah untuk menjauhi Fajril. "Lo kok bisa ada disini? Kakak juga Papa gue belum pulang."
"Mama lo yang ngizinin gue masuk." Fajril berucap jujur. "Iya, sayang. Mama yang nguruh Fajril masuk." ucap mama yang tiba-tiba keluar.
Mata Geshia memincing tak percaya apa yang dikatakan mamanya. Karna Geshia benar-benar tak suka akan kehadiran Fajril dirumahnya.
"Mah.." lirih Geshia. Mama hanya memberi isyarat kepada Geshia agar mengobrol dan mendengarkan penjelasan Fajril.
"Tapi mah.."
"Udah ya. Tante tinggal dulu. Mama pamit keluar kesupermarket ya sayang. Jaga diri." ucap Mama Geshia yang keluar.
"Hati-hati mah." sahut Geshia. Lalu Geshia kembali menatap Fajril kembali.
"Mau apa lo kesini? Urusan kita kan udah selesai."
"Mau ketemu lo Ges." Fajril maju satu langkah ke Geshia namun, Geshia mundur selangkah lagi.
"Mas Ganen. Cepet pulang, Geshia takut." _batin Geshia.
Dengan risih, Geshia berkata. "Gak usah deket-deket gue. Gue gak suka bau rokok."
Ucapan Geshia berhasil membuat Fajril tak berkutik dan kehilangan kata-kata. Ia, mundur sedikit jauh dari posisi Geshia lalu memasang wajah memelas.
"Mending, lo pulang aja sana. Gue capek, abis pulang sekolah." Geshia memang bermaksud mengusir Fajril dari rumahnya. Ia tak perduli perasaan Fajril seperti apa.
"Gue cuma mau ketemu lo Ges. Gue kangen lo. Gue sadar Ges." Fajril kini mulai mendekat lagi ke posisi Geshia yang jaraknya hanya sejengkal jari tangan. Dengab cepat, Geshia mendorong cowok itu hingga terjatuh ke sofa agar menjauh darinya.
"Gue kan udah bilang. Jangan deket-deket. Lo budek atau apasih?" Geshia marah. "Gue gak suka kalau diginiin Kak! Mending lo pulang sekarang! Kumohon!"
"Ges... "
"PULANG!" teriak Geshia. Akhirnya Fajril keluar.
"Pergi! Dan jangan pernah kesini lagi. Gue gak mau liat lo! Gue muak!" Ucap histeris Geshia sembari menutup pintu rumahnya kasar *BRAAAK!!!
Geshia pun langsung berlari ke lantai dua dimana kamarnya berada. Ia masuk ke kamar juga membanting pintu kamarnya keras sekali membuat Bi Ina kaget.
"Astagfirullah. Non, kenapa?" teriak Bu Ina khawatir. Geshia menangis sejadi-jadinya membuat Bu Ina khawatir.
"Non. Apa saya harus menelpon Nak Ganendra?." tanya Bi Ina lagi tepat didepan pintu kamar Geshia.
"Tidak usah bi. Geshia gak mau bikin Mas Ganen khawatir. Bi Ina, istirahat aja. Ini juga udah hampir jam 18.30" ucap Geshia yang sembari menangis.
"Baiklah non. Bibi pulang dulu ya. Non jaga diri ya. Kalau ada apa-apa telfon bibi."
"Iya Bi. Terimakasih."
***
Aaron, Jordan, Arga yang posisi mereka berada dirumah Akasa. Arga dan Jordan yang hobby makan sedangkan Aaron yang lagi bucin ke Keana, ia melompat ke kasur tanpa memerdulikan pemilik kasur yang sibuk mengetik di Laptop juga 2 temannya duduk dilantai.
"Ka, lo lagi ngerjain apasih? Sibuk bener dari tadi." tanya Aaron sambil menatap layar ponsel miliknya yang terpampang foto keana sebagai wallpaper.
"Nih. Tugas Biologi, padahal besok kuis harian." Akasa berucap sambil mengetik mengerjakan tugas tersebut.
"Emang ya. Nih guru gak nanggung-nanggung kalau ngasi tugas, bukannya ulangan ya ulangan eh malah dikasih tugas."
"Ah, lo mah kerajinan banget ka. Mending disini rebahan bareng gue, kalau gak. Kayak duo curut dipojokan ntuh." nunjuk kearah Jordan dan Arga yang masih asik ngemil.
"Kebo! Lo ngatain kita apa?"
"Duo curut!."
"Udah Ga. Makan aja, enak nih." tutur Jordan menenangkan Arga.
"Ah. Ngantuk gue." keluh Aaron sambil memeluk guling Akasa dengan memejamkan matanya.
"Gue ngejar biar masuk NEGERI bro. Univ idaman gue," "Trus nilai gue setiap semester, gue usahain selalu naik walaupun gak 90% tapi setidaknya gue bisa 60%"
"Aelahh ka! Lo emang gak sadar diri aja. Padahal Nilai lo selalu 90,95 bahkan 100 Bangke!" dengus Aaron. "Kalo gue jadi lo, gue banyakin rebahan buat santai, ngerehat otak."
"Kan jalan pikiran setiap orang beda-beda ron. Gak semua orang sama." kata Akasa. "Lo dengan jalan pikiran santai tapi gue engga, gue berjuang sampai gue bisa dapetin apa yang gue mau."
"Contohnya? Geshia?" tiba-tiba Arga manyaut.
"GBLK! kaga lah. Univ impian gue." spontan Akasa menatap Arga.
"Kata-kata lo, sadis banget ka!" ucap Aaron sambil tepuk tangan.
"Gaya lo ka." sahut Arga.
"Tapi... Beruntung banget dong, buat cewek yang lo taksir nanti. Pasti dia bakal lo perjuangin abis-abisan seperti lo perjuangin masa depan lo dan impian lo ini." lanjut Arga sambil nyemil.
"Cih! Cewek mulu pikiran lo ga! Kesel gue." Akasa memang menanggapi Arga juga Aaron yang ngebacot tanpa henti, namun ia alih-alih tetap fokus mencari materi. Akasa sangat rajin mengerjakan tugas apapun, apalagi ketika dirumah ia selalu membantu pembantunya membersihkan rumah walaupun pembantunya menyuruhnya jangan, juga Akasa sangat rajin ibadanya tanpa bolong-bolong sedikitpun.
He is the ideal guy of every woman with the criteria of boyfriend goals.
"Tapi. Masih mending gue, bisa ngelirik cewek. Daripada lo yang gak pernah ngelirik cewek ka!" cibir Arga.
"Betul tuh." sahut Aaron bangun dan memposisikan tengkurap.
"Itukan kewajiban gue, ****! Gue sebagai murid kan tugasnya kudu gitu. Lalu ngapain gue sekolah kalo gak belajar? Buang-buang duit aja." ketus Akasa.
"Yaelaah nyett! Lo kira sekolah cuman buat gitu doang? Sekolah itu buat kita juga bisa ngeliat cewek cantil apalagi gebetan. Duhh" sahut Arga.
"Bacot lu pada! Mending kayak noh, Jordan. Diem, makan muluk." ketus Akasa.
"Apalagi sih ah? Gue lagi makan aja kena, gue bacot kena. Serba salah deh." keluh Jordan.
"DERITA LO!" ucap Arga dan Aaron bersamaan.
"BNGST!" ketus Jordan.
"Ka! Masa lo gak nikmatin masa SMA lo sih, masa lo isinya cuma belajar dan belajar. Ka, inget! Masa SMA itu gak bisa keulang lagi sekali moment itu indah bareng seseorang yang berharga." tutur puitis Jordan tiba-tiba dan membuat Akasa berhenti memandang Laptop-nya melainkan mengalihkan pandangannya ke Jordan. Sedangkan Jordan masih asik makan, Jordan yang menyadari Akasa menatapnya dia pun angkat bicara lagi.
"Kenapa? Gue salah?." tanya Jordan dengan mengangkat alisnya sebelah. Akasa hanya menghembuskan nafas dan menggeleng.
"Gue udah nikmatin semua kok. Lo liat sendiri, gue masih main bareng kampret macem lo bertiga juga sering kena hukum di SMA setiap senin. Dan asal lo bertiga tau, dunia gak harus semuanya tentang cewek bro! Lo bisa habisin masa muda lo bareng temen itu aja udah hal terindah yang lo lakuin tanpa lo sadar itu. So, bagi gue, cewek itu cuman bikin lo pada gak fokus buat belajar. Ngerti?" tutur Akasa panjang lebar. "Dikit-dikit mikir cewek, makan mikir cewek, tidur mikir cewek, minum mikir cewek. Trus pas lagi belajar, malah gak fokus belajar karna mikirin cewek. Dan ujung-ujungnya pas lagi Broken Heart patah hati, ogah-ogahan ngelakuin segala hal menyenangkan trus isinya hidup bakal galau terus. Sebenarnya, hidup yang suram itu kalian bertiga atau gue sih?"
"Ah, lo gak paham sih ka!" Aaron berdecak kesal. "Karna lo gak pernah ngalamin sih."
"Lebih baik gue gak paham daripada paham," celetuk Akasa. "Jadikan gue aman, karna gue gak perlu tau seburuk apa lagi punya pacar ron."
"Punya pacar itu gak buruk, Anjaayy!" Aaron mulai stress dan pusing ngehadepi Akasa yang emang kerasa kepala juga Batu Es. "Asal lo tau. Tipe pacar itu gak harus satu, Ka. Ada yang pengertian ka, yang bakal bisa ngertiin lo yang suka banget sama belajar. Trus ada juga yang sabar, sabar ngadepin sikap dan sifat lo kek batu es, galak kayak gini. Ada juga yang cuek, yang gak peduli sama sekali apa yang suka dan lo lakuin. Setiap orang itu mesti punya perbedaan Ka, semua gak sama. Lo jangan sering kali cuma bisa ngeliat mereka dari satu sisi aja Ka." cerocos Aaron.
"Gue mau nyangga." sahut Arga.
"Nyangga apaan?" sahut Jordan.
"Lo diem. Makan aja!" nglempar plastik snack.
"Cih." kesal Jordan.
"Menurut gue. Yang lo bilang "BURUK" itu mungkin tipe cewek yang dikit-dikit ngajak jalan, mintak ini itu, ngajak keluar malem, ngajak main ke kamar, ngajak lo yang gak bener. Seperti masa lalu lo kan? dan semua itu bikin lo lupa sama belajar." sanggaan dari Arga. "Jadi menurut gue, lo cari cewek yang bener. Liat-liat dulu orangnya. Yang dulu si Miera, jadiin aja dia pembelajaran buat lo. Ngerti kan?" lanjut Arga.
"Au ah. Pusing gue!" kesal Akasa. "Gue lagi pusing cari materi Biologi, tambah lagi kalian nyerocos tentang cewek panjang lebar bikin gue pusing sama omongan lo berdua. Lebih baik, lo kayak Jordan. Anteng tuh!"
"Sakarepmu lah!" sahut Jordan.
Akhirnya keheningan dikamar itu terjadi.
***
Geshia keluar dari mandi dengan keadaan mengeringkan rambutnya yang basah karna habis keramas. Ia berjalan duduk disebalah kasurnya lalu menghembuskan nafasnya berat. Ia berpikir sejenak lalu meraih ponselnya yang tergeletak di sebelahnya. Ada pesan notice dari kakaknya.
Mas Ganendra 💜: Dek, mas bentar lagi pulang. Kamu mau makan apa? Mas beliin kesukaan kamu tapi mas pengen kamu makan nasi. Pengen apa sayang? sekalian pulangnya mas mampir beli.
Senyuman Geshia lebar dan bersyukur memiliki seorang kakak yang sangat pengertian kepadanya. Dengan cepat, Geshia membalas pesan bahwa dia ingin makan Ayam Krispy langganannya bersama kakaknya.
Usai mengirim pesan, tiba-tiba Mama memanggil Geshia.
"Geshia.." Geshia kaget.
"Ah. Mama sudah pulang ternyata." gumamnya. "Iya ma. Kenapa?" ucap Geshia sembari berjalan menghampiri mamanya di dapur.
"Kenapa ma?" ucap Geshia lagi yang posisinya dekat dengan mamanya.
"Bantuin mama." Geshia mengangkat kedua alisnya. Tak mengerti maksud dari mamanya.
"Ah. Ini sayang.." menunjuk ke arah bawang merah. Akhirnya Geshia tersenyum mengerti maksud dari mamanya.
"Ngupas bawang ya mah?" Mamanya pun mengangguk.
"Hm. Geshia kira, kenapa. Yadeh, semua mah?"
"Iya sayang. Mama mau bikin bawang goreng, kan kamu suka."
"Ih.. Iya mah." ucap Geshia sembari tertawa.
Selang beberapa jam. Kakak dan Papa pulang.
"Assalamu'alaikum. Papa pulang"
"Mas pulang."
"Wa'alaikumsalam" jawab Mama dan geshia.
"Mas...." teriak Geshia dan berlari memeluk Mas Ganendra.
"Eh, eh.. Kenapa nih? Kok tiba-tiba peluk mas? Kangen ya?."
"Ih.. Mas!" pukul kecil Geshia.
"Haha.. Bercanda sayang. Nih.. Dimakan, sana makan dulu biar kenyang."
"Wahhh... Ada Ice Cream juga. Makasih Mas Ganen ganteng."
"Masama Cantik."
Papa dan Mama hanya melihat tingkah kedua anaknya yang sangat manis banget membuat mereka tersenyum gemas.
Ckling!! (Bunyi ponsel)
Ponsel Geshia kembali berbunyi lagi. Ia langsung berpikir, pasti Keana kalo enggak si Batu Es and the geng. Namun ternyata bukan.
Fajril Austin: Gue masih disini. Diluar gerbang rumah lo. Gue liat Papa dan Kakak lo barusan pulang. Ges, gue kangen lo.
Wajah Geshia seketika memanas dan mood nya kembali buruk. Emosinya perlahan meluap dan membuatnya menggenggam tangannya. "Ngapain lagi sih, nih orang!" gumam Geshia.
Kakak, Papanya dikamar masing-masing. Mama sibuk di dapur. Geshia di meja makan sambil mengupas bawang merah. Geshia tak mau ambil pusing. Ia pun hanya menelpon Pak Rudi, sopir dari kakaknya sekaligus satpam dirumah Geshia. meminta Pak Rudi untuk mengusir Fajril dari rumahnya.