
Akasa sesekali melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Ternyata jam udah nunjukin pukul 21.00. Akasa pun beranjak dari tempat duduknya dan melajukan motornya kerumah.
Masa lalu memang merupakan suatu bagian dari kehidupan seseorang. Setiap orang memiliki masa lalu entah itu buruk maupun baik. Jadi, Jangan sampai masa lalu ‘buruk’ terulang kembali kepadamu. Semangat!
-I Want To You Know-
⌛
Akasa sudah sampai dihalaman rumahnya. Kali ini berbeda, kenapa? Karna yang biasanya sepi entah kenapa sekarang tidak. Sepertinya Papa dan Mamanya sedang ada dirumah. Ia langsung memijakkan kakinya di teras rumah, kedatangannya pun disambut oleh wanita yang sangat ia sayangi yaitu Mama Roselin Alula, mama Akasa.
"Kok baru pulang sayang? Mama khawatir tau enggak? Astaga." Roselin langsung memeluk anak pertamanya, Akasa membalas pelukan dan merasa nyaman dalam pelukan ibunya.
"Kamu kenapa? Ada apa? cerita sini sama mama nak." Akasa hanya terdiam.
"Mah.. Masak apa? Akasa lapar." Mama langsung memandang Akasa dan tersenyum.
"Kari ayam kesukaanmu. Yaudah yuk makan. Mama siapin, kamu ganti baju dulu sana. Mandi dulu gitu, bau acem." tutur mama menghibur.
"Hm. Iyaiya mah.." Akasa tersenyum.
Saat melewati ruang tengah, Akasa cuek dengan keberadaan Pak Rustaka Ramatha Santoso dengan adik Akasa yang bernama Arletta Ramatha Putri. Arletta yang menyadari kakaknya baru pulang ia pun berkata.
"Ye. Kampret! Baru pulang, nyelonong aja kayak gak punya dosa. Gak liat apa? ada orang disini." tutur Arletta tapi Akasa tak menggubris tetap jalan ke lantai 2 dimana kamarnya berada.

Arletta Ramatha Putri
"Ih dicuekin. Papaaaa" keluh Arletta yang sedang dudum disamping papanya.
Mama Roselin masuk dengan Nafas berat yang ia hembuskan. Papa yang sedari tadi baca koran lalu mengalihkan pandangannya ke Roselin.
"Kenapa lagi tuh Akasa mah?" Mama Roselin hanya mengangkat bahunya.
"Aku kepo mah. Apa aku tanyain aja ya."
"Jangan sayang. Dia butuh waktu sendiri. Toh nanti dia bakal cerita kenapa."
"Hm. Baiklah."
"Pantesan baru pulang jam segini." ucap Papa cuek.
"Ih Papa. Jangan gitu ah. Kasian Kakak."
"Iya iya." Papa mengelus kepala Arletta.
"Mama ke dapur dulu ya. Mau nyiapin Akasa makan."
"Aku ikut mah. Bantuin." ucap Arletta lalu memeluk mamanya.
***
Tiba di kamarnya, ia menjatuhkan tas hitam miliknya dari punggung ke meja belajar. Kemudian ia melepas dasi dan menggantungnya di balik pintu, lalu melepas seragamnya dan menyisakan kaos putih polos yang ia kenakan. Sebelum ia memasuki kamar mandi, ia menatap wajahnya ke cermin. Terpampang jelas wajah putih mulusnya tanpa noda jerawat, kumis tipis yang manis, juga ada sedikit gigi ginsulnya yang bikin cute, mata kucing lucunya tapi ketika natap tajam bikin bergidik ngeri, alis tebalnya. Tapi sayang, Akasa sangat tidak memperdulikan ketampanannya selama ini.
Disekolah dari jaman masih MOS (Masa Orientasi Siswa) Kakak Kelas udah pada ganjen ke dia, nanyain nomer dan sosmed. Dan sekarang dia udah naik kelas, eh adik kelas banyak yang ngejar-ngejar dia. Teriak sana sini pas dia lewat, emang sih Akasa Famous banget di sekolahnya. Guru-guru juga suka, tapi gak suka kelakuan yang kadang minus sering telat pas Upacara bendera. Tapi, Akasa itu paling anti buat gak fokus ke kepelajaran. Kenapa? Karna dia cinta banget sama yang namanya pelajaran, buku, dan polpen. Udah deh, jangan dikata karna Akasa demen banget sama gituan katanya biar bisa dapet PTN yang dipinginnya.
Akasa menyibakkan rambutnya ke belakang lalu menatap wajahnya lagi.
"Pantesan, trio kampret ngiri banget sama gue. Bacot muluk, nyuruh gue punya pacar." Akasa terkekeh kecil. Tanpa ia sadari, ia baru saja membanggakan dirinya.
"AKASA RAMATHA." Tiba-tiba seseorang memasuki kamar Akasa dengan membuka pintu lebar. Ya, itu Aaron, Arga dan Jordan. Akasa tersentak kaget, bahkan kinu jantungnya gak karuan.
"*******! KAGET GUE SETAN!" Akasa memaki ketiga sahabatnya. Mereka bertiga malah cengengesan. Lalu mereka bertiga dengan kompak menjatuhkan tubuhnya ke kasur Akasa yang lebar muat buat 5 orang.
"Ah. Nyaman banget sih kasur lo." tutur Aaron. "Adem borrr!" lanjut Arga. "Nyesss gitu." lanjut Jordan. "Ah, jadi pengen bobo syantik deh." lanjut Jordan lagi sembari memeluk guling Akasa.
Akasa menatap tajam ketiga sahabatnya itu, ia rasanya ingin ngehajar juga hanya saja mereka sahabatnya. Kalo bukan sih, udah babak belur kayak Fajril di sekolah tadi.
"Tumben lo disini." mereka bertiga sontak mengangkat kepala dan membelokan matanya.
"Siapa?" ucapnya bersamaan.
"Tuh pojok kanan sendiri." Jordan, Arga menatap Aaron eh Aaron malah natap tembok lalu memandang Akasa.
"Gue?" nunjuk diri.
"Iyalah babai! Siapa lagi."
"Yee... Masa gue gak boleh gabung sih. Jahat lo ka! Tau ah, gue nangis."
"Alay bege! Abisnya, lo bucin muluk sama Kepet itu."
"Keana *******. Bukan kepet!" kesal Aaron membela.
"Yaya.. itu pokoknya." ucap Akasa cuek. Aaron mendengus kesal.
"Udah ah. Sini Ka, bobo sama kita. Kelonan ber empat. Skuyy!" ajak Arga.
"Ogah. Najis! Ntar gue panuan." Ucap Akasa santai sambil nyengir. Lalu ia beranjak ke kamar mandi meninggalkan ketiga temannya rebahan dikasur.
Akasa juga bukan orang yang berlama-lama dikamar mandi, dia hanya butuh waktu 5 menit untuk mandi dan ditambah 2 menit untuk pakai baju. Setelah itu, ia kembali ke kamarnya dan membuka Laptop nya di meja belajar karna kasurnya sudah dipenuhi kotoran masyarakat yang lagi balapan ngorok. Kali ini, Akasa akan browsing Something di Internet.
Alfi mencari materi baru di google seperti kesehariannya. Tak pernah ia meninggalkan seharipun tanpa belajar dan belajar. Tiba-tiba adik perempuannya masuk.
"Kaka---k." matanya membesar dan mulutnya melongo menatap ke arah kasur lalu menatap Akasa.
"Sejak kapan?" nunjuk ketiga kampret yang sedang ngorok.
"Sejam yang lalu dek. Lah emang kamu gak tau?" Arletta menggeleng.
"Aku tadi lagi dengerin musik dikamar. Hehe"
"Hm." Akasa tersenyum. "Mau apa dek?" tanya Akasa.
"Oh iya kak. Makan dulu gih. Abis itu, Arletta mau tanya pelajaran bahasa inggris." ucap Arletta.
"Hm iya. Yuk." Akasa beranjak dari tempat duduknya dan merangkul Arletta ke bawah ,lebih tepatnya ke ruang makan.
"Mah. Pah." panggil Arletta.
"Lho kok berdua. Mana Aaron, Arga, Jordan. Kakak?"
"Ngorok tuh mah dikamar." sahut Akasa.
"Astaga. Yaudah, makan dulu ini. Adek makan juga?"
"Iya mah. Liat kakak kok enak ya. Jadi laper. Hehe" ucapnya Cengengesan.
"Nih."
"Makasih Mama Cantik." Mama tersenyum.
Papa yang tadi di ruang tamu. Ia pun berjalan ke dapur dan minum lalu menatap Akasa dan Arletta. Akasa yang menyadari, ia menatap balik ke papanya. Jujur, Walaupun ia membenci Papanya tapi ia tetap anaknya dan ia sayang ke Papanya.
"Mau pesen apa? Papa mau keluar sama mama nih." ucapnya sembari mengelus kepala Akasa dan Arletta yang lagi makan.
"Aku ice cream cornetto semua coklat." respon cepat Arletta.
"Baiklah. Kalo kakak?" tanya Halus Papa.
"Kakak pengen ice cream juga sama roti coklat aja pah. Oiya sama camilan buat trio kampret itu."
"Okedeh. Siap. Yaudah, baik-baik dirumah ya. Papa sama Mama tinggal dulu."
Disela-sela lagi menikmati masakan mama yaitu Kari Ayam. Arletta sesekali menatap Akasa. Akasa yang menyadarinya pun berkata tanpa menatap Adiknya, lebih tepatnya menatap makanannya sembari memainkan sendoknya.
"Kenapa dek? Kok natap kakak gitu banget." Arletta tersentak kaget.
"Ah enggak kak." sahutnya.
"Udah bilang aja, apa yang kamu pikirin. Pasti kakak jawab kok."
"Ah. Gak penting juga kak." sahutnya lagi.
"Hm."
"Tapi---" Akasa kali ini menatap adiknya tajam dan mengerutkan keningnya.
"Kakak ada masalah kah? Kenapa kakak pulang malem? Aku tadi tanya ke kak Arga katanya kakak habis ngajar anak orang. Emang bener kak? Siapa yang kakak hajar? Arletta pengen tau atuh." tutur Arletta.
Akasa tampak menghembuskan nafas berat. "Iya dek. Kakak ngehajar Fajril." ucapnya singkat.
"Kok namanya kayak gak asing sih." Arletta memiringkan kepalanya sembari berpikir.
"Iya. Mantannya Miera." Arletta langsung tersedak. Akasa dengan sigap memberinya minum.
"Duh dek. Pelan-pelan napa." tutur Akasa cemas.
"'Hehe maaf kak.Reflek kaget. Miera mantan kakak dulu? Fajril yang ngrebut Miera eh selingkuhan itu?" Akasa mengangguk malas.
"Ah. Tapi kenapa bisa kakak Hajar?"
"Dia bikin nangis temenku. Ah bukan temen tapi anak cewek baru kelasku. Yang katanya pacarnya tapi setauku mantannya sih. Ah taulah, males dek bahasnya." kesal Akasa. Arletta yang memahaminya pun terdiam.
"Kamu gimana sekolahnya? Bentar lagi ujian kan? Belajar yang giat biar bisa masuk ke SMA nya kakak."
"Iya kak. Pasti. Selagi ada kakak, aku semangat belajarnya." ucapnya cengengesan.
"Dasar."
***
Akasa kembali ke kamarnya, Akasa melihat ke kasurnya ternyata temannya masih tertidur pulas. Akasa dengus pelan dan samar-samar menggeleng.
"Kesini cuman numpang tidur. Kampret," lirihnya.
Tiba-tiba salah satu dari mereka ngigau. "AAAAAA..... AMPUN!" teriak Aaron. Sontak Akasa kaget yang tadinya mau duduk malah gak jadi dan liat ke arah suara itu. "HUWAAA... LARIIII! MAMPUS! ARGHHHH" teriak Aaron lagi dengan meronta-ronta dan menendang Arga yang tidur tepat disebalahnya. Arga pun melek.
"Nih bocah ngapa sih, ah! Ganggu orang tidur aja." kesal Arga lalu menidurkan kepalanya lagi dan tertidur lagi.
"Ye. Kampret! Tidur lagi." decak Akasa menatap Arga.
"Ron! Ngimpi apasih,ah! Kaget gue setan!" omel Akasa.
Aaron terbangun gara-gara Akasa memukulnya makai bantal. Sontak, Aaron malah tertawa keras melihat wajah panik Akasa.
"Lo ngimpi apa kampret? Gue kaget jantungan nih! Bangke lo." omelnya lagi.
"Tau. Gue ngimpi dikejar setan! Mukanya ancur. Gue takut mau diterkam." tuturnya dengan wajah takut dan keringat dingin.
"Yee.. Lo tidur gak berdoa palingan."
"Iya ka. Gue langsung terlelap nih."
"Dasar ******!" ketusnya. Aaron tertawa ngakak.
"Udah jam setengah dua belas nih. Lu pada gak pulang?" tanya Akasa.
"Gak ah. Mager. Gue nginep sini aja ya. Lagian besok libur." tutur Aaron yang mau terlelap lagi.
"Ye. ****! Lu tidur mau nginep? Lah gue ntar tidur mana?!"
"Bawah! Haha"
"*******!"
"Canda kucheng."
"Gak lucu, ****!" Akasa mendengus kesal. Akasa kembali ketempat duduknya dan menatap layar Laptopnya kembali.
"Lo tuh yang **** ka!" Aaron masih tertawa mengingat ekspresi Akasa. "Oiya gue mau ngomong ka."
"Ngomong ya tinggal ngomong." Ketusnya.
"Lo tau enggak?" ucap Aaron terputus. "Kalo Fajril itu mantannya Geshia."
"Oh ya?" Akasa sontak menoleh. "Serius lo? Gue sebenernya asal nebak waktu ngajar dia. Dia bilang kalo Geshia pacarnya dan.. Gitu deh."
Aaron mengangguk seraya menidurkan lagi kepalanya. Lalu Akasa baru sadar, kan tadi yang ada disana cuma Arga dan Jordan lah Arga dah balik. "Lo kok tau? Bukannya lo tadi udah balik sama Keana?"
"Gue balik lagi ke sekolah. Ada barang gue yang ketinggalan. Lah gue liat lo ngajar anak orang dan ya, itu cowok sama persis yang gue liat di twitter. Ternyata Fajril Austin, mantan Geshia 2 tahun yang lalu." jelas Aaron.
"Oh. Trus yang gue heranin kalo seumpama lo tadi di tempat kejadian ya Ron. Geshia itu histeris nangisnya, takut banget gitu liat Fajril. Entah apa yang pernah dilakuin tuh brengsek sampe si Geshia kayak gitu." ucap Akasa sembari mendengus berat dan menatap Layar Laptopnya kembali sedangkan Aaron melanjutkan tidurnya kembali.
***
Hari Senin pun datang kembali. Akasa paling males kalo berurusan dengan upacara bendera. Ya, dia telat lagi namun guru piket tidak menghukumnya melainkan memperingatkannya kembali agar tidak telat lagi. Akasa berjalan menuju ke kelasnya, ternyata di bangkunya sudah ada Geshia yang duduk disana. Akasa meletakkan tasnya di bangku dan duduk memposisikan diri dengan nyaman, ia takmelirik sedikitpun ke arah Geshia namun, Cewek itu meliriknya diam-diam.
"Hai, ka." Geshia mencoba menyapa Akasa tapi malah dicuekin.
"Masnya Budek ternyata." Geshia mendengus kesal.
"Bukan budek." celetuk Akasa tiba-tiba. "Tapi emang pura-pura nggak denger aja."
"Ih. Jahat!" kesal Geshia.
"Jahat? Ya suka-suka gue dong. Emang kenapa kalo gue pura-pura gak denger?" sahut Akasa. "Lagian lo kenapa gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba nyapa gue. Gak jelas!"
"Asata, Akasa. Galak banget sih, jadi cowok? Kalem dikit napa?" protes Geshia. "Ntar lo cepet tua, gimana? Hobby kok marah-marah."
"Tua? Buta ya mbaknya? Nih liat, muka gue masih mulus nan kinclong,gak kriput." Akasa ketawa jahat. "Mau apa lo?" dengan menyunggingkan senyumnya.
"Ih. Tau ah. Ngeselin banget jadi orang!" kesal Geshia. "Pengen pindah kelas aja deh gue, males banget ketemu lo."
"Oh gitu? Ya silahkan. Saya tidak. melarang. Kenapa gak dari kemarin-kemarin aja lo pergi dari kelas ini. Pas banget, gue kangen duduk sendirian." ucap Akasa.
"Tau ah. Gak denger gue!" Geshia menjauh dan jaga jarak dengan Akasa.
"Ck! Ngambek mulu lo. Hobby bener sih." celetuk Akasa.
"Bodo! Suka-suka gue dong." balas Geshia.
"Nanti disamperin Fajril, pas nangis lagi kayak kesetanan." ejek Akasa. Meski Akasa merasa jijik. mengucapkan nama si brengsek itu.
"Apaan sih." Geshia bener-bener bete atas perlakuan Akasa.
"Cengeng banget." ledekan Akasa. "Eitss.. Nangis."
"Mending lo diem. Lo nggak tau apa masalahnya." cetus Geshia. "Jadi nggak usah ngeselin dan nyebut nama itu lagi." kali ini ekspresi Geshia datar dan bener-bener badmood
"Hm aja deh." Akasa tak peduli. Akasa mengeluarkan buku dan melanjutkan tugasnya yang belum selesai, sebelum itu ia memperingatkan sesuatu. "Gue mau ngerjain tugas. Jadi lo jangan berisik, kalo lo berisik mending lo keluar kalo enggak pulang sekalian. Okay?"
Geshia tak menjawabnya dan hanya melirik Akasa yang berbisik kepadanya barusan lalu mendengus kesal.
Untung lo ganteng ka. Walaupun ngeselin kadang lo ngajak bercanda tapi kadang lucu kadang bikin bete. Tau ah! Ngeselin banget! -batinGeshia