
Seharian ini Akasa duduk sendirian tanpa adanya Geshia di samping tempat duduknya. Biasanya Geshia ada disamping tempat duduknya tapi kali ini cewek itu gak ada, entah kenapa dia gak masuk sekolah. Akasa sempat mengira dan menebak bahwa Geshia pindah tempat duduk karna gak betah atas sikapnya yang gak peduli ke dia. Tapi, ternyata Geshia memang gak hadir di kelas. Akasa mulai heran, tuh anak sakit atau bolos sih? Ck! Ngapain gue mikirin tuh cewek. -batin Akasa yang bodo amat.
"Vania!" panggil Arga ke sekretaris kelas. Suara gelegar Arga membuat Akasa menoleh sekilas ke arahnya yang berlari dari luar kelas ke tempat Vania duduk. "Nih cuy, gue dapet kabar kalo si Geshia sakit. Dia demam. Barusan kakaknya si Geshia dateng ke sekolah."
Mendengar nama Geshia, Akasa pun menoleh lagi kearah Arga. Namun, lagi-lagi Akasa memindahkan pandangannya ke ponselnya yang asik membaca materi fisika yang belum ia mengerti.
Masak cuman gara-gara seharian sial terus di sekolah trus sekarang jadi sakit. Lemah amat sih lo Ges. -pikir Akasa.
"Geshia sakit?" tanya Aaron. lalu memandang Keana yang berdiri disebelahnya.
"Gue gak tau. Dia gak ngasih kabar ke gue, semalem gue mau main kerumahnya tapi dia larang. Gak tau kenapa sih, tapi malah sekarang sakit. Tuh anak ya, gue kesel. Kalo ada apa-apa gak mau cerita." Keana mencak-mencak Kesel banget karna Sahabatnya masih aja mendem masalah dan gak mau cerita. Aaron pun memegang pundak Keana dan menenangkannya. "Sabar neng."
"Dia kenapa bisa sakit ga? Lo gak tanya??" lanjut Keana.
"Enggak. Gue tadi mau tanya abangnya Geshia eh dia keburu pergi, kayak buru-buru gitu. Trus tampangnya kayak lagi emosi gitu." jelas Arga.
"Serius lo?!!" ekspresi Keana tak percaya.
"Iye nyet! Mana gue pernah bohong cobak?"
"Duhh... Masa iya sih?!" gumam Keana yang khawatir, Akasa sedari tadi mendengarkan lalu sesekali memandang Keana dan mendapati wajahnya yang cemas.
"Iya apanya Na?" sahut Akasa tiba-tiba dan membuat Vania, Arga, Aaron, Keana menoleh.
"Ah. Enggak." sahut Keana lalu ia sesegera mungkin buka ponselnya, menghiraukan Akasa.
"Na! Gue tanyak serius! Lo tau apa soal Geshia?!" ketus Akasa.
"Gue gak bisa cerita. Dan ini juga Privasy Geshia ka! Ngerti?!"
Keana pun menempelkan Ponselnya ke telinga. Dengan wajah cemas juga khawatir, mondar-mandir seperti setrika.
"Na! Lo bisa duduk gak sih? Aelah, kek setrika aja lo." ucap Jordan nimpuk tangan Keana.
"Udah lo diem! Bacot amat sih!" ketus Keana.
Geshia Bontot Call
Geshia: Halo, Kenapa na? tumben telpon. Lo kangen ya sama gue? Hehe.
Keana: Bangke! Masih bisa-bisanya lo canda. Gue tanyak, tuh Brengsek kerumah lo lagi?
Geshia: Sorry nyonya. Ah enggak kok.
Keana: Jangan bohong! Gue tau, Lo gak jago buat bohong Ges! Jujur, lo diapain sama tuh brengsek?! Ngomong ke gue!
Geshia: Tau ah! (Geshia nangis)
Keana: Kan nangis! Gue bolos sekolah ya, gue kerumah lo sekarang. Dan ceritain semua. Tunggu gue!
Tut.. tut.. tut..
Semua mata hanya memandang Keana tak mengerti maksudnya. Palagi Akasa yang kebingungan.
"Kemarin Geshia pulang sama siapa?" tanya Keana tiba-tiba. Lalu Arga nunjuk ke Akasa.
"Lo Ka? Pas lo nganter Geshia, lo ngerasa ada yang aneh gak?"
"Gak ada." ketus Akasa.
"Gue serius, Anjeng!" emosi Keana.
"Ada. Mobil tapi bukan milik keluarganya."
"Item?"
"Hm"
"*******!" satu kata yang diucapkan Keana lalu langsung menyaut tas nya dan beranjak pergi daei kelasnya.
"Njirr.. Keana serem amat!" tutur Jordan.
"Tau ah." sahut Aaron.
"Lo gak nyusul?" lanjut Arga.
"Gak. Gue tau, dia butuh sendiri. Kalo lagi kayak gitu jelas ngeri."
"Bangke! Bilang aja lo takut ke sergap Keana jadi pelampiasan kemarahan."
"hehe"
"Ye, Kadal!"
"Ye, Biawak!"
Disisi lain, Akasa mikir tapi juga bodo amat.
"Geshia kenapa sakit ya?" tanya Arga madep Ke Jordan.
"Ya mana gue tau nyet! Lo kira gue bapaknya?"
"******!" sahut Aaron dengan kekehan. Arga hanya mendengus kesal.
"Tapi kan kemarin dia pingsan dilapangan tuh." lanjut Vania.
"Oiyaya bener juga. Kemarin kan dia pingsan!" Jordan menyaut.
"Pingsan boongan!" cetus Akasa tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Boongan?! Maksd lo?!" Arga memekik tak percaya.
"Lu pada berisik banget sih?!" Akasa mengamuk dan menatap mereka tajam. "Kalo pada mau bahas Geshia, sono keluar kelas aja. Gue pusing denger lu pada bacot ga guna disini! Yang ada gue tambah ngamuk!"
"Ye! Kucing Gurun kalo ngamuk serem!" Akasa tak menggubris.
"AKASA!" teriak Jordan tiba-tiba.
"APA?!" ujar Akasa nyolot.
"Ye. Mukanya biasa aja jangan nyolot bang!"
"Ka! pulang sekolah, njenguk Geshia kuy." ucap Jordan sambil melirik teman-temannya.
"Kuylah!" sahut Aaron dan Arga.
"Gue gak bisa! lo bertiga aja sono! " ketus Akasa.
"Yahh.. Gue gak tau alamatnya pe'a! kan lo yang sering nganter dia pulang ka." sahut Arga kesal atas jawaban Akasa tapi juga tersenyum jahil.
"Gue kasih alamatnya aja. Tapi gua gak ikut."
"Yahh.. Lo mah gitu sama temen. Lo kan tau sendiri, gue kalo nyari alamat gak becus ka.. Ayolah ikut." ucap Arga memelas.
"Ikut ya ka." lanjut Jordan lalu Aaron.
"GAK!" ketus Akasa dan melotot ke arah 3 temannya.
"OKAY!" Arga, Jordan, Aaron bersorak riang dengan memukul pundak Akasa dan tak peduli jawaban dari Akasa.
"SERAH LO PADA!" ketus Akasa.
***
Keana memang kabur dari sekolah. Dia alasan jika saudaranya sakit, dia ijin pulang. Untung saja hari ini guru piketnya adalah Bu Nuri, dia baik banget dan paling pengertian. Keana pun pergi ketempat parkir dan menaiki mobilnya.
Diperjalanan Keana mendapati telfon dari Aaron.
Aaron **** Call
"Na, lo dimana? Seriusan lo bolos?"
Iya. Gue bolos, nih gue udah dijalan mau kerumahnya Geshia. Tapi ya gue udah ijin sih, ntar surat gue dianterin dikelas.
"Bolos. Gak ajak-ajak."
Ya sorry. Gue udah gak mikir yang lain, gue saking khawatirnya sama Geshia. Udah dulu ya, gue lagi nyetir nih. Takut gak konsen. Bye Ron!
"Iya. Hati-hati bae"
Tut.. tut... tut..
"Lo ****. Tapi selalu berhasil buat gue senyum ron." ucap Keana sembari tersenyum.
Sejam lebih perjalanan kerumah Geshia. Keana pun turun dari mobilnya, ternyata dihalaman rumahnya terparkir mobil yang tak asing yaitu milik Mas Ganendra kakak dari Geshia.
"Tumben, Bang Ganen gak ngantor." gumamnya.
Lalu Keana mengetuk pintu Geshia dan yang membuka pintu adalah Mas Ganen.
"Eh. Keana. Gak sekolah kamu? eh tapi seragaman, Bolos ya?!" pertanyaan banyak dari Mas Ganen. Keana hanya cengengesan.
"Bang, Geshia?" tanya Keana, ekspresinya seketika berubah juga Mas Ganen.
"Yok. Masuk."
Akhirnya Mas Ganen dan Keana masuk dan langsung menuju ke kamar Geshia. Mas Ganendra terlihat sangat sedih, cemas, khawatir, juga emosi.
"Bang. Kenapa?" tanya Keana.
"Gara-gara si brengsek itu. Gue ngerasa gagal jadi kakaknya Geshia."
"Bang. Lo kok ngomong gitu? Geshia udah cerita?"
"Udah. Dia nangis, ketakutan juga. Gue gak bakal tinggal diam, sekali lagi gue liat tuh cowok ganggu Geshia. Dia gak akan bisa selamat!"
"Yaudah. Gue mau bikinin Geshia makan. Lo jagain dia dulu ya, pumpung lo disini. Bujuk dia buat makan." Keana pun mengangguk lalu memasuki kamar Geshia.
Geshia tampak lemah, pucat, dan matanya bengkak terlihat sehabis menangis.
"Ges." panggil Keana yang lalu duduk di sebelah Geshia.
Geshia pun membalik dan menatap Keana, seketika langsung memeluknya.
"Gue takut!"
"Lo belum makan kan? Gue pengen lo makan. Kasian noh Mas Ganen, sampe sedih pucet dan nyalain diri sendiri ngerasa gagal dari kakak lo."
Geshia pun membelalakkan kedua matanya. Lalu Mas Ganen masuk dan tersenyum Sedangkan Geshia malah nangis lalu beranjak dari kasurnya dan memeluk kakaknya.
"Lho, lho, lho kenapa nih? Kebiasaan ya." kata Mas Ganen.
"Mas Ganen. Maafin Geshia. Geshia janji bakal makan dan minum obat. Geshia bersyukur punya kakak kayak Mas Ganen. Mas Ganen... Geshia sayang Mas banyak-banyak!" ucap Geshia.
"Huhuuu... Iya. Mas Sayang kamu lebih banyak-banyak-banyak. Udah, yok makan. Mas juga mau keluar bentar, mau ke supermarket nganterin mama."
"Mas. Makasih juga gak nyeritain ke mama sama papa."
"Iya. Udah ih. Ngapain malah mellow gini."
Akhirnya tawaan mengisi kamar Geshia.
***
Tak terasa, hari demi hari berganti seperti malam yang berganti pagi begitu seterusnya. Geshia pun memasuki kelasnya dengan memakai Sweater berwarna pink warna kesukaannya. Sesekali matanya menyapu seisi kelas lalu menunduk lagi, dia seperti ketakutan namun ia berpikir sejenak apa yang ia takutkan.
Geshia pun duduk dibangku sebelah Akasa, Akasa masih terfokus pada buku didepannya entah apa yang ia tulis. Akasa masih belum menyadari kehadiran Geshia disebelahnya kalau saja cewek itu tidak sengaja menyenggol tangannya.
Akasa menoleh sekilas ke arah Geshia namun ia kembali menatap ke buku tulisnya.
Geshia juga sesekali melirik Akasa yang sedang sibuk menulis, tapi ternyata bukan. Akasa menggambar abstrak pemandangan di buku khusus menggambar abstrak. Geshia lalu membuang nafasnya pelan. Akasa yang menyadari langsung berkata, "Kenapa?." kata Akasa.
Namun, Geshia tak menggubris. Sekarang ia menidurkan kepalanya di atas meja dengan posisi wajahnya mengarah ke Akasa. Geshia tersenyum kecil melihat wajah Akasa yang serius banget menggambar.
Makin ganteng aja sih Ka. Gemes gue liatnya. -batin Geshia.
Memang sih, Geshia tidak masuk sekolah selama 3 hari. Dan itu semua membuat ia merindukan kelas barunya juga teman konyolnya apalagi si Batu Es disebelahnya, ia merindukan debat gak jelas bersama Akasa.
Heran gue, bisa-bisanya kangen sama cowok model kek lo Ka! Padahal lo selalu aja nyakitin perasaan gue lewat ucapan lo, lo juga sering banget bentak gue. Tapi, gue malah kangen banget.. Anjirr deh ya. -pikirGeshia.
"Lo ngeliatin gue ya? Lo mikir yang gak bener ya?" Akasa melirik Geshia dengan sinisnya. Tatapan yang seharusnya bikin marah tapi malah bikin salah tingkah juga bikin pipi Geshia seperti kepiting rebus.
"Geer banget sih jadi orang! Siapa juga yang ngeliatin lo, siapa juga yang mikir gak bener." Geshia memecahkan semua suasana terutama salah tingkahnya agar tidak ketahuan oleh Akasa. "Lo lucu ya, ternyata selain lo galak, nyolot, songong. Tapi ternyata geer an juga ya?" ucap Geshia dengan sedikit tersenyum lalu mengangkan sebelah alisnya.
"Nggak mungkin gue bakalan ngomong kayak tadi, kalo lo gak ngeliatin gue terus. ****!" Ketus Akasa.
"Iyain aja deh. Biar cepet" Geshia pun memposisikan diri duduk tegak. "Lo tuh, pagi-pagi udah ngomel kek emak-emak sih, Ka!"
Setelah itu, keheningan mengitari Merek berdua. Kali ini, Akasa tidak menggambar melainkan membuka buku paket dan merangkum materi dan menulis materi yang tidak ia mengerti. Sedangkan Geshia masih anteng merhatiin Akasa yang sibuk nulis sedari tadi. Ia pun iseng, mendekatkan diri ke Akasa untuk melihat tulisan Akasa dan apa yang ia tulis.
"Wah.. Tulisan lo bagus juga ya? Gue baru liat nih, cowok nulisnya rapi, bagus kayak gini." ucap Geshia lalu menatap Akasa. Namun, Akasa tak menggubris. Dia diam dan matanya fokus ke tulisan. Geshia mendengus kesal.
"Kerajinan banget sih lo. Nulis materi kayak gitu, kalo gue mah mending di kasih stabillo lighter gitu yang penting-penting daripada capek nulis kayak lo sih."
"Tapi.. Itu yang lo tulis bukan PR kan?" tanya Geshia. "Yahh.. Ka! Lo kok gak ngasih tau gue sih?" Geshia reflek mukul tangan Akasa.
"Bawel! Diem gitu, bisa gak?" Akasa memberhentikan pekerjaannya lalu memandang Geshia, mata mereka beradu temu. "Lo tuh jadi cewek kenapa ceriwis banget sih? Bawel lagi, Lo gak inget apa? Waktu lo pertama kali duduk sama gue?!."
Geshia terdiam lalu berekspresi mengingat-ingat waktu pertama kali ia duduk disebelah Akasa. "Ah.. Kalo lo gak suka duduk sama orang yang bawel. Trus kalo bawel, lo suruh pindah kelas."
"Nah tuh ngerti. Kalo lo masih aja bawel disini, mending lo pindah ke kelas lain! Daripada nambah gue pusing denger lo bacot mulu." bentak Akasa.
"Ih, Akasa, Gak mau! Gue maunya disini!"
"Kalo emang gak mau. Lebih baik lo kurang-kurangin tuh bawel kalo pas lagi duduk sama gue. Ngerti?" Akasa menatap tajam Geshia.
"Ih. Gak mau ka!" Geshia menggeleng-geleng. Akasa kehilangan kesabaran dan akhirnya membuat dia ngularin kata-kata kasar.
"Gak mau apalagi sih, Ges?!"
"Nggak mau jauh-jauh dari Akasa." Geshia memasang wajah imutnya, "Hehe" lalu cengengesan.
"Najis!" ketus Akasa.
"Aelah, Bercanda Ka!" sahut Geshia sembari tersenyum kecil melihat respon Akasa yang menurutnya lucu.
"Gue anggepnya Serius! Bukan bercanda." ketus Akasa.
"Ih. Baperan ih." goda Geshia.
"Serah lo!"
***
Pada jam istirahat, Geshia tidak pergi ke kantin karna ia baru sembuh walaupun belum pulih total. So, dia bawak bekal dari rumah yang dibuatin oleh Mamanya. Yaitu Roti panggang selai Cokelat kesukaan Geshia juga Susu Strawberry Banana.
Senyum Geshia melebar, ia pun langsung melahap rotinya. Menikmati setiap gigitan juga tak lupa menyeruput susu nya. Dia merasa beruntung memiliki Mama, Kakak, Papa yang sangat pengertian kepadanya. Karna apa yang ia pengen selalu terkabulkan.
"Geshia!." Panggil Arga yang datang bersama Akasa. Disusul Aaron, Keana juga Jordan. Tangan mereka semua terpenuhi oleh makanan juga minuman masing-masing.
"Oh Hai Ga!" Geshia tersenyum manis. "Sini-sini gaess, makan bareng." pinta Geshia.
Akasa duduk dibangkunya, sedangkan Keana menyeret kursi kemeja keana juga Jordan menyeret kursi di meja Akasa. Sedangkan Aaron dan Arga hanya tinggal madeo kebelakang. Jadi, mereka ber enam dimeja Geshia dan Akasa dengan melahap makanan.
"Bawa apaan lo Ges?" tanya Keana.
"Nih..."
"Hm. Kebiasaan, tuh Banana Milk?" tebak Keana lalu Geshia mengangguk cengengesan.
"Dasar, Bontot!" ucap Keana dengan mengacak rambut Geshia.
"Ih. Berantakan!" kesal Geshia. Keana terkekeh.
"Mau gak?" tawar Geshia menyodorkan roti bakar miliknya.
Semua menggeleng, "Buat lo aja. Lo kan abis sakit dan gak boleh makan ngawur. Jadi, makan itu aja, kita gak mintak." tutur Arga.
"Lo juga harus banyak makan, Ges. Biar cepet sembuh. Hehe" lanjut Arga.
"Alah, Sok perhatian! Najis!" ceplos Akasa yang tanpa memandang Arga.
"Alah, iri aja lo." skak Arga disusul tawaan.
"Biasa. Kalo lagi gengsi suka gitu." sahut Aaron.
"Sok-sokan nyeplos, padahal mah--" lanjut Jordan.
"BACOT!" Akasa pun melahap nasi gorengnya dan melahapnya, dia merasa bersyukur akhirnya bisa makan karna sedari tadi pagi perutnya berdentang ria.
"Ges." panggil Arga. Geshia pun menoleh ke arah Arga.
"Gue sebenernya pas pertama lo gak masuk itu nge jenguk lo pulang sekolah. Sama Akasa, Aaron, juga Jordan tapi kata Papa lo. Lo lagi keluar berobat sama Abang juga Keana." Arga berucap sembari mengaduk es teh miliknya.
"Iya. Papa juga bilang kok ke gue. Kalo kalian kerumah. Katanya Papa itu ada 4 cowok kerumah yang tiga tampang tidak meyakinkan yang satu ganteng. Eh ternyata kalian toh" ucap Geshia sembari terkekeh.
"Duhh.. Jahat banget papa lo. Tapi yang dimaksud ganteng itu siapa? Gue?" jawab Arga sambil menaik-naikkan alisnya.
"Gak. Kayaknya si Akasa sih. Katanya naik motor item gitu. Ya berarti dia," ucao Geshia sambil melirik Akasa.
"Cih.. Kesempatan nih Ka!" tutur Arga. Akasa tak menggubris.
"Trus ya Ges. Kalo lo tau, Akasa tuh yang maksa kita bertiga buat nemenin jenguk lo. Dia khawatir karna lo seharian gak disamping dia." ucap Arga fitnah ke Akasa. Akasa yang merasa difitnah tentunya tak terima.
"BOHONG! Lo kalik yang maksa gue buat nganterin kerumah Geshia karna lo gak tau alamat, Setan!" sahut Akasa.
Arga, Aaron, Jordan pun terbahak-bahak karna ekspresi Akasa lucu menurut mereka.
"Slowly... Menn! kayak lagu Despacito."
"Gak jelas lo!" ucap bete Akasa.
Geshia yang sedari tadi hanya mendengarkan dan memperhatikan debatan lucu itu sembari menikmati mengunyah makananannya. Geshia pun tak sengaja menatap Arga begitupun sebaliknya.
"Lo tuh demam karna apasih? Trus kemarin waktu Keana telpon bahas brengsek-brengsek itu apa maksudnya?" Tanya Arga.
"Apa karna gara-gara lo jatoh kemarin pas dilapangan? nggak mungkin gara-gara itu kan Ges?" lanjut Arga memastikan.
Tiba-tiba ekspresi Geshia berubah dan mencoba menelan roti yang masih ia kunyah. Ia menelan tapi kenapa radanya berhenti didada, ia memukul dadanya berulang kali. Keana lalu memberinya minum. Dan entah kenapa, pertanyaan Arga itu membuatnya menangis.
"Gu-gu-gue..." rasanya tenggorokan Geshia tercekik, susah ngomong. Nafsu makannya tiba-tiba hilang dan ia menaruh rotinya dan menutup kotak bekalnya. Dan akhirnya, ia pun menangis.
"Eh.. Ges. Kok lo nangis? Ges, gue gak bermaksud." Arga panik
Akasa pun menoleh kearah Geshia, memastikan bahwa Geshia beneran nangis atau enggak. Geshia semakin menjadi nangisnya, Keana juga panik apalagi Arga. Geshia menidurkan kepalanya diatas meja dan menangis.
"Yahh.. Ges, kok lo nangis sih? Ges kenapa? Cerita aja. Ada kita yang siap bantu lo." tutur Arga, yang masih panik mendekat ke Geshia lalu menatap Akasa yang masih menatap Cewek disebelahnya menangis. "Ka, gimana nih?" tanya Arga yang duduk didepannya.
Akasa hanya bisa melihat Geshia tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun untuk Geshia. Akasa sebenernya ngeh, Arga hanya tanya masalah demam tapi kenapa Geshia tiba-tiba bertingkah seperti ini. Respon yang menurut Akasa aneh, seakan-akan pertanyaan yang dilontarkan Arga sangat menyakiti dirinya.
"Geshia... Maaf Ges." Arga menepuk pelan pundak Geshia. "Udah dong, Jangan nangis...." Arga sangat merasa bersalah.
"Mampus lo!" kata Akasa. "Gue gak ikut-ikut ya, kalo dia kenapa-kenapa." lanjut Akasa.
Dan setelah itu, ia malah melanjutkan melahap nasi gorengnya dan meminum es teh miliknya tanpa memerdulikan Geshia yang sedang menangis di sebelahnya.
Tega banget lo ka. Gue pengen lo, tanya kenapa gue. Tapi lo... -batinGeshia.
***
Sejak kejadian Geshia yang menangis sewaktu istirahat tadi, dia lebih banyak diam dan melamun sepanjang hari. Kejadiannya yanh sangat membuatnya seperti ini adalah sewaktu ia telat disekolah, jatuh dilapangan, dan jatuh dari gendongan Akasa. Dia diam termenung, matanya kosong, pucat dan sesekali menidurkan kepalanya diatas meja dan wajahnya hanya berekspresi datar. Seperti orang tidak memiliki semangat hidup.
Akasa pun melirik Geshia dengan tajam. "Lo tuh niat sekolah gak sih? Sekolah tuh buat nyari ilmu bukan buat tidur." celetuk Akasa.
jleb, lagi.. Geshia memilih untuk diam dan menghiraukan ucapan Akasa. Ia sedang tidak mood untuk berdebat dengan Akasa. Ia pun membanting punggungnya ke kursi, dan bibirnya berbentuk bebek.
"Ngambek" ketus Akasa. "Dasar cengeng!"
"Ih.. Ngeselin banget sih jadi orang!" Geshia nabok lengan Akasa gregetan karna demen banget nyeplos gak manusiawi. Tapi, Akasa malah terkekeh kecil. Ia pun melirik Geshia dan tersenyum usil, "Emang lo cengengkan? gak inget, lo tadi ngapain? Gak ada apa-apa tiba-tiba nangis. Gak jelas!"
"Bacot!"
"Hewan.." sahut tanpa ekspresi.
"Ih. Bekicot itu Akasa!" Geshia kesal memukul lengan Akasa dan ia pun ketawa. Tanpa sadar, mereka berdua menjadi pusat perhatian seisi kelas. Keduanya pun langsung terdiam, seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Dasar, Ngeselin. Tapi lucu. -Batin Geshia sembari tersenyum kecil.