I WANT U To KNOW

I WANT U To KNOW
Way Back Home



Pagi ini, semua siswa telah bersiap-siap untuk ke bandara dan pulang ke Bandung. Di sisi lain, Mereka ber enam dengan antusiasnya kembali ke Bandung. Sedangkan Geshia lebih banyak diam dan itu membuat mereka ber empat kecuali Akasa heran.


"Ges? Lo kenapa? tumben diem aja, biasanya heboh sendiri." ucap Keana sembari merangkul sahabatnya itu.


"G-gue gak pa-pa kok." balas Geshia sembari melirik Akasa sekilas.


Akasa tersenyum samar dan itu membuat Geshia Blussh! pipi Geshia seperti terbakar.


"Lho, kenapa pipi lo tiba-tiba merah?" heboh Arga melihat pipi Geshia dari dekat.


"G-gue ga papa ih dibilangin kok." ucap Geshia malu.


Setelah itu, mereka ber enam keluar dari penginapan dan menuju ke Bus yang sudah menunggu beberapa menit yang lalu untuk mengantarkan mereka ke Bandara. Seperti saat berangkat, Akasa mengingatkan untuk Budayakan Antri lalu setelah mereka semua menaruh kopernya ke bagasi bus. Akhirnya, Akasa menaiki tangga kecil dan masuk ke dalam Bus dan seperti saat keberangkatan juga, Geshia dibelakang Akasa lalu kebingungan untuk naik. Kali ini Akasa langsung menoleh ke belakang dan mengulurkan tangan. Demi Neptunus, Akasa kesambet apa dan itu membuat Geshia cengo sesaat.


"Cepet pegang tangan gue dan naik,selagi gue baik." ucap Akasa.


"Ah ya." Geshia mengangguk lalu meraih tangan Akasa dan masuk kedalam Bus. "Thanks." Akasa tak menggubris dan langsung mencari tempat duduk yang diikuti Geshia.


Setelah menemukan tempat yang pas, Akasa pun duduk sedangkan Geshia berdiri dan bingung mencari tempat duduk. Akasa masih melihati Geshia yang tampak bingung.


"Lo mau sampe kapan berdiri disitu? Sini, duduk sama gue. Dari awal kan lo sama gue." Akasa berujar jutek seperti biasa.


"Ah ya. G-gue takut kalo lo--" belum menyelesaikan kalimatnya, Akasa memotongnya.


"Gue marah? Ya gak lah. Lo inget yang kemarin?" Geshia mengangguk. "Gue seriusan dan gue udah janji. Yah, walaupun sikap gue emang dasarnya kayak gini."


"I-iya."


"Kenapa lo kayak gugup gitu sama gue? Lo beneran takut gue makan ya?" ucap Akasa terkekeh kecil.


"E-enggak lah. Ngaco."


"Yaudah."


Dialih sisi, Arga dan yang lain masih memperhatikan Akasa dan Geshia. Mereka menebak sepertinya telah terjadi sesuatu dengan mereka bertiga. Arga yang terlihat sudah gatel banget, akhirnya berucap kata.


"Heh, Manusia es." panggil Arga yang kali ini duduknya didepan Akasa. Akasa pun mengadah dan menatap Arga. "Paan?"


"Enggak. Gue mau tanya aja sih. Lo berdua kenapa aneh banget sih? Kemarin terjadi sesuatu ya? Lo juga tumbenan baik sama Geshia tanpa harus gue kode"


"Oh. Enggak. Lo gak usah kepo!" ketus Akasa.


"Ye, Setan! Gue penasaran tau."


"Kalo lo penasaran, cari sendiri."


"Caranya."


"Cara lo sendiri. ****"


"Huh." Arga mendengus kesal.


Akhirnya Bus pun berangkat ke Bandara, mungkin akan ditempuh sejam perjalanan untuk sampai ke Bandara. Ditengah perjalanan seperti biasa, mereka semua pada nyanyi dan heboh juga cerita ini itu berbeda dengan Geshia yang memang sedari tadi hanya diam. Nih anak kesambet apa sih? Apa ketempelan ya. -pikirAkasa.


"Heh." ketus Akasa. Geshia pun melirik ragu. "Apa?"


"Kenapa lo diem mulu? Biasanya bawel. Apa lo ketempelan?" ujar Akasa menatap Geshia. Geshia pun membelalakkan matanya.


"Mulut lo, Ka?!" Akasa pun tersenyum penuh kemenangan karna berhasil membuat Geshia teriak.


"Kenapa mulut gue?"


"Gak bener. Nyebelin ah." Geshia cemberut.


"Hm. Ngambek."


Akasa pun tiba-tiba menyodorkan sesuatu yaitu Jepit rambut berwarna pink soft. "Nih buat lo." ucapnya datar.


"Oh? Buat gue?" Geshia cengo beberapa detik. "Seriusan?" mengalihkan pandangannya ke wajah Akasa. Akasa pun mengangguk. "Cepet ambil. Capek nih tangan gue."


Geshia pun mengambil Jepit itu lalu tersenyum manis dan memang jepit itu di rambutnya yang terurai. Lalu menoleh ke arah Akasa dan berkata, "Gimana, Ka?"


Akasa pun menatap Geshia dengan bingung karna Geshia tiba-tiba bertanya dan tersenyum imut, "Gimana apanya?"


"Ini" nunjuk jepitan. Lalu Akasa mengangguk. "Cantik kok." balas Akasa singkat. Akasa pun kaget karna tanpa sadar ia berucap seperti itu.


"Ha? Apa kata lo? bisa diulangi gak ka? Gue gak denger." Akasa pun menoleh dan merasa lega ternyata Geshia gak denger.


"B-biasa aja." ketus Akasa lalu mengalihkan pandangan ke Camera.


"Ih." Geshia pun kesal, namun Akasa langsung memotret Geshia dengan camera nya tanpa sepengetahuan Geshia.


Tapi Geshia yang salah fokus ke Camera ia pun meminta Akasa untuk mem fotonya.


"Ka, Fotoin gue." Akasa pun nurut.


"Coba liat hasilnya." Akasa menyodorkan Camera. "Wahhh Bagus ka." ucap Geshia. Sedangkan Akasa malah menatap Geshia dan sedikit tersenyum samar membuat Geshia ngeh bahwa Akasa memperhatikannya.


"Lo, ngapain liatin gue?" tanya Geshia yang pandangannya sekarang menatap wajah Akasa hanya berjarak 5 jengkal jari tangan.


"Ck!" Akasa membuang muka, "Gue gak liatin lo, gue liat jepitan lo ternyata lo gak cocok ya dan Biasa aja dan gak ada cantik-cantiknya sama sekali."


"What? Apa lo bilang?" Geshia mengerutkan dahinya.


"Ya gitu deh. Pikir aja sendiri."


"Ih, ngeselin banget sih."


***


Tak butuh waktu lama, Bus pun telah tiba di Lobby Bandara International Yogyakarta. Seperti awal, mereka turun dengan pelan dan tertib lalu mengambil koper mereka dan menuju ke bandara untuk mengurus tiket dan menunggu pesawat. Kurang lebih 5 menit pesawat tujuan ke Bandung sudah tiba. Mereka pun langsung menuju ke kabin pesawat secara bergantian, Namun Akasa langsung menggandeng tangan Geshia. Perlakuan Akasa membuat Geshia mematung.


Sesampai ditempat pilihan Akasa, Akasa pun duduk dan melepas tangan Geshia. Sedangkan Geshia masih diam mematung menatap Akasa. Akasa yang menyadarinya pun menatap Geshia dengan keheranan.


"Lo kenapa sih? Sini duduk." ujar Akasa ketus. Tapi Geshia masih mematung, tepat dibelakang Geshia ada Arga yang dengan cepat menepuk pundak Geshia.


"Ges!" Geshia kaget. "Ngelamun aja lo." Geshia pun terkaget dan menoleh ke Arga dan tersenyum.


Akhirnya ia pun duduk disebelah Akasa. Akasa memakai Sleep Mask penutup mata milik Geshia. Geshia hanya tersenyum. Semuapun terlelap karna saking capeknya Di Jogja.


***


Tak terasa hanya butuh kurang lebih 3 jam sampai di Bandung. Pesawatpun lepas landas di Bandara Bandung. Mereka semua pun berkemas dan menuruni anak tangga pesawat.


"Akhirnya sampai juga dikota tercinta." ucap Aaron lega.


"Iya nih. Pengen cepet-cepet pulang trus rebahan." sahut Arga sembari mengatur tubuhnya yang lelah.


"Ges, lo pulang bareng siapa?" tanya Keana.


"Gue, mintak jemput Kakak gue sih."


"Serius, gak sibuk?" tiba-tiba Akasa manyaut.


"I-iya Ka. Enggak."


"Bareng gue aja. Gue udah pesen Gocar." ucap Akasa.


"Cih.. Kita gak diajakin?" sahut Jordan kesel.


"Yaelaa Ka. Sans aja dong. ih" Jordan cemberut.


Akhirnya pun Gocar telah tiba, Akasa masuk dan diikuti Geshia.


"Kita duluan ya," ucap Geshia membuka jendela mobil.


"Iya, tiati." ucap mereka bersamaan. "Woyy Ka, jagain Geshia. Awas sampe lecet!." teriak Keana.


Jarak Bandara ke perumahan mereka berdua kisaran menempuh jarak 25 km. Didalam mobil hanya obrolan ringan pak sopir dengan Akasa sedangkan Geshia sesekali menjawab juga.


***


Sampai di depan rumah Geshia. Mereka berdua pun turun. "Terimakasih Pak."


"Ka. Lo kok turun sini? Rumah lo kan 300 meter lagi dari rumah gue." ucap Geshia.


"Hm, Ya memang. Masa Iya, Gue turun duluan sedangkan lo sendirian. Ntar kenapa-kenapa yang kena kan gue."


"Hm ya. Mau gue anter?"


"Apa? Bukannya lo gak bisa."


"Emangsih. Tapi bentar lagi, kakak gue pulang."


"Iyadeh."


"Oke. Mending masuk dulu yuk."


Mereka pun masuk kehalaman rumah Geshia. Sesampai dipintu rumah. Tok, Tok, Tok..


"Mah.. Geshia pulang."


Tak lama, pintu pun terbuka. Yang tak lain adalah Amy Tynetha. "Eh sayang. Kok nggak ngabarin mama sih." Mamanya pun memeluk Geshia.


Mama Geshia langsung mengalihkan pandangannya ke cowok belang Geshia yang sedang berdiri.


"Ini siapa ya?" tanya Mama Geshia.


"Saya Akasa tan. Selama di Jogja jagain Geshia." penuturan Akasa membuat Geshia membelalak.


"Oh Akasa. Ganteng ya, pacar kamu ya sayang?" ucap mama lagi ke Geshia.


"Ih Mama. Apasih, bukan." balas Geshia spontan. "Proses tan." sahut Akasa tiba-tiba. Lalu Geshia mencubitnya. "Ah Ges, Sakit." Geshia memanyunkan mulutnya.


"Yaudah, masuk dulu yuk. Mau tante buatin apa?"


"Ah. Minta teh hangat aja tan,"


"Oke. Kamu Sayang, apa?"


"Sama kaya Akasa aja."


"Yaudah. Ditunggu ya."


Setelah mama Geshia pergi ke dapur, Geshia pun duduk di depan Akasa. Akasa masih dengan ekspresi juteknya yang ampun-ampun. Suasana pun canggung. Akhirnya Akasa memecahkan canggungan itu.


"Kakak lo sama Bokap lo belum pulang?"


"Ah. Iya, Pulangnya itu ntar maleman. Apalagi Kakak yang udah ada gandengannya pasti ya agak maleman sambil kencan." Akasa hanya mengangguk.


"Tapi.. Karna gue minta kakak pulang cepet. Bentar lagi sampai kok. Hehe"


"oh" singkat Akasa.


Masih aja jutek. _batin Geshia.


Mama Geshia pun datang ke ruang tamu dengan membawa dua gelas teh hangat.


"Nih, tehnya.. Sambil nyemil dulu ya kalian." tutur mama Geshia.


"Makasih tan." sahut Akasa tersenyum manis.


Emang jago juga senyumnya manis bener kek madu _batinGeshia lagi.


"Ngomong-ngomong nak Akasa rumahnya dimana toh?"


"Oh, saya 300 meter dari rumah tante. Seperumahan sama rumah tante kok."


"Oh gitu." lalu Mama menatap Geshia. "Anterin gih.. Naik mobil sana." suruh Mama. Geshia pun membelalak.


"Mah.. Aku gak bisa." Lalu Mamanya pun seakan-akan berpikir.


"Oh yaya.. Lupa mama." mama pun terkekeh sedangkan Geshia manyun.


Tak butuh waktu lama, Mas Ganendra pulang. Tok.. Tok.. Tokk...


"Assalamu'alaikum, Mas pulang."


"Wa'alaikumsalam." ucap mereka bersamaan seraya menoleh lalu Geshia berdiri berlari kecil kearah Ganendra dan memeluknya.


"Lho, lho.. kenapa ini? Kangen mas ya?" Geshia pun mengadah dan mengangguk.


"Mas ganti baju dulu, trus nganter cowok kamu ya?" Mas Ganen berjalan menghiraukan Geshia yang mencubitnya, Mas Ganen hanya terkekeh gemas.


***


Ganendra menuruni tangga memakai T-shirt putih tulang dengan celana panjang dan topi baseball hitam.


"Yuk.. Sekarang?" Geshia menatap Akasa. Akasa mengangguk.


"Ka, Lo depan sama Kakak gue." suruh Geshia. Akasa seperti mengisyaratkan, kenapa gue?


Selama perjalanan pun isinya canggung dan Mas Ganen sesekali melirik Akasa dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Kamu pacarnya adekku atau hanya temen?" pertanyaan Ganendra memecahkan keheningan dan dari belakang Geshia memukul bahu Ganen, "Mas. Ngapasih."


"Mas cuman mastiin aja. Mas khawatir untuk kedua kalinya." ucap Ganendra. Geshia lalu terdiam.


"Fajril kan Bang?" tanya Akasa.


"Kok kamu tau?"


"Ya. Karna dia, yang ngerebut kekasih saya 2 tahun lalu."


"Jadi? Ges."


"Iya mas. Entah ini takdir atau bukan, memang nasibku dengan Akasa sama persis dan orang yang sama."


"Kenapa bisa?"


"Gak tau." ketus Akasa dan Geshia bersamaan.


"Kalian berdua.."


Akasa dan Geshia hanya terdiam dan sibuk memandangi luar jendela mobil. Seperti kesal namun apa yang harus dikesali.