
Mereka ber lima akhirnya tiba dirumah Akasa Ramatha. Akasa mengetuk pintu rumahnya, Tok.. Tok.. Tok.. "Mah, Pah.. Akasa pulang." ucap Akasa. Namun, yang nongol bukain pintu malah adik perempuannya.
"Wah.. Baru pulang anda?" ucap Arletta sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Lalu mata Arletta seperti berbinar menatap sosok di belakang kanan Akasa.
"Oh, Kak Arga. Eh, Kak Jordan. Lho, Kak Keana juga. Dan.." Arletta terhenti tepat di Geshia, dia memincingkan matanya seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Lalu terjadilah keusilan Arletta bermuka memeable ke Akasa.
"Ngapa muka lo kayak gitu?" ketus Akasa. "Ah, minggir. Ganggu jalan aja." Akasa mendorong pelan adiknya agar minggir.
"Idiihhh.. Kakak gue." usil Arletta mendekati Akasa yang berjalan menuju anak tangga.
"Mana Mama sama Papa?"
"Ehem. Mengalihkan pembicaraan."
"Sekali lo ngomong gak jelas lagi, gue pites lo." kesal Akasa.
"Ih, Jahat." cemberut Arletta. "Tau ah. Gue maunya kakak yang kayak ini aja," ucap Arletta tiba-tiba menggandeng Geshia, Geshia terkaget.
"Hai kak." ucap Arletta. "Hi juga letta." balas Geshia.
"Ih.. Inget aku. Sayang kakak." Arletta memeluk Geshia erat.
"Gue kapan dapet gituan?" lirih sedikit keras dari Arga.
"Kak Arga mau dipeluk juga? sini." lalu Arga membuka lebar tangannya seakan menerima pelukan.
"Woyyy... Gue slepet lu berdua tau rasa. Dan lo, jangan macem-macem sama adek gue, Setan." ketus Akasa kesal.
"Ih, Iya ya. Ka. Canda doang, bege"
"Ihh.. Kak Akasa Batu, Sweet." ucap Arletta.
"Bacot banget adek gue. Udah sono main diluar aja."
"Gak mau. Maunya sama kak Geshia."
"Yaudah. Tapi jangan berisik. Ngerti?" Arletta berdehem. Lalu membisikkan sesuatu ke Geshia, dan Geshia tersenyum. Akasa sesekali melirik dan membatin Ngomongin gue pasti.
Sesampainya mereka dikamar Akasa dan ya, Keana terdiam mematung diambang pintu kamar Akasa. Geshia menoleh kebelakang dan memang benar, kali ini Keana meneteskan air matanya.
"Ke..." panggil lirih Geshia. Lalu Keana berlari menghampiri Aaron yang terbaring lemah dan di infus karna demam tinggi.
"Ron, lo kenapa kayak gini? kenapa gak ngabarin gue? ini salah gue kan ron, maaf ron." ucap Keana menangis histeris.
Lalu Aaron membuka matanya perlahan dan memegang kepala Keana. "Bukan salah lo. Ini salah gue, pertama gue bentak-bentak dan narahin lo, kedua gak ngabarin lo dan gak ada buat lo. Sorry." lirik Aaron terdengar lemas.
"Disini, siapa yang jagain lo. Selama Akasa gak ada?" tanya Keana menatap Aaron iba dan dalem.
"Noh, si kampret Arletta. Tapi kalo dia lagi sekolah, Bi ina yang jagain gue dan ngerawat gue." lalu Keana menoleh ke Arletta dan berdiri, Arletta tampak bingung. Lalu..
"Let.. Thanks." ucap Keana lalu memeluknya.
"Ehh.. Jan peluk-peluk, geli. Terimakasih juga ke Bi Ina dong" ketus Arletta.
"YaAllah. Gak Kakak , gak Adek sama-sama pedes omongannya." ucap Jordan.
"Apa lu bilang kak?" ucap nyolot Arletta.
"Eh, nyolot lagi." balas Jordan.
Arga langsung menjitak kepala Jordan, "Woyy.. Sakit. Kualat lo sama gue," ucap Jordan kesal.
"Abisnya lo, ngajak ribut masa depan gue" ucap Arga membela Arletta.
"Masa depan?! Gue gak restuin." sahut ketus Akasa berniat bercanda.
"Ah.. Kak Akasa.. Tolong, restuin gue sama adek lo." rengek Arga.
"No!"
Lalu kamar Akasa dipenuhi dengan tawaan dan candaan Arletta, Arga, Akasa apalagi ke somplakan Geshia mengisinya.
***
"Jam berapa nih?" tanya Geshia.
"Oh, udah jam 19.00" balas Arga.
"Kok gue gak denger Adzan isya?" balas Geshia.
"Lo budek." ketus Akasa. Lalu Arletta memukul kakaknya, "Ah. sakit."
"Bodo. Salah siapa, ngeselin." ucap Arletta.
"Belain aja terus si manja tuh." ucap Akasa. "Sekalian, lo pindah rumah. Ikut Geshia, trus gue mintak Mama suruh nyoret nama lo dari KK."
"Ih Jahat. Mamaaa..." teriak Arletta.
"Iya, sayang. Kenapa?" balas Mama Akasa yang suaranya seperti dilantai dasar.
"Kakak Jahat." sahut Arletta, sembari ingin menangis.
"Kak... Jangan jahat sama adek." ucap Mamanya, lalu Mama Akasa muncul membawa minuman.
"Berantem aja terus." sindir mama Akasa.
Semua yang berada disitu tertawa menyaksikan kelucuan Kakak beradik yang sedang berantem hebat itu. Lalu Mama Akasa keluar dan menutup pintu kamar Akasa.
"Btw. Kita sedari pulsek sampe sekarang belum tau kenapa Aaron sampe mabuk dan sakit kayak gini. Coba Ron, cerita ke kita." ucap Arga.
Aaron menatap Akasa dan Arletta dan keduanya mengangguk yang artinya gak pa-pa, semua akan baik-baik saja.
"Begini... Awalnya tuh" Aaron menundukkan kepalanya.
*Aaron POV
"Mah, mamah kenapa? Kenapa nangis?" tanya Aaron yang baru saja pulang sekolah.
"Mamah gak pa-pa." balas Mama Aaron.
Tiba-tiba Papa Aaron pulang dengan sempoyongan, yah saat itu Malam karna Aaron habis dari Cafe nya Jordan nongkrong.
"Papa?!" teriak Aaron kaget, "Papa mabuk? Kenapa?!"
Disaat Aaron bertanya, kepalan tangan melayang di pipi mulus Aaron dan Plaakk! Papa Aaron menampar Aaron.
"Stop! Aaron gak tau apa-apa. Jangan sakiti dia, kumohon." teriak Mama Aaron yang datang menghampiri Aaron yang pipinya tampak lebam dan bibir juga hidungnya mengeluarkan darah.
"Urusi anak gak tau diuntung ini. Aku muak denganmu dan anak ini, lebih baik aku pergi saja. Aku kembali mengambil barang-barangku." tutur Papa Aaron yang sempoyongan tabiat orang mabuk.
"Mas..." Mama Aaron mengejar Papanya yang memasuki kamar, terdengar Braaak!
Seperti seseorang menghantam sesuatu. Aaron segera berlari, dan ya Mamanya didorong hingga menghantam meja dan tembok. Sedangkan papanya mengeluarkan semua baju miliknya, Mama Aaron hanya menangis. Aaron yang melihat mamanya kesakitan, ia pun naik darah dan ia meraih kerah Papanya dan melayangkan tinjunya beberapa kali dimuka Papanya.
"Papa tau, Papa udah dakitin mama. Awalnya Aaron, gak mau ikut campur karna Aaron gak tau masalahnya tapi..." Akasa melayangkan pukulannya, hingga wajah papanya babak belur. "Tapi.. Papa udah kelewat bates dan bikin mama kayak gini. Okay! Jika papa ingin keluar dari rumah ini, Silahkan. Tapi jangan pernah nampakin muka brengsek papa dihadapan Mama. Papa kira Aaron gak tau apa, sifat busuk papa dibelakang mama? Ha?" Aaron benar-benar dipenuhi oleh amarah hingga ia tak bisa mengontrol, Mamanya sudah memegangi tangan Aaron untuk berhenti.
"Aaron, udah sayang. Mama gak pa-pa." ucap Mama terisak.
"Pergi! Keluar dari rumah ini, kembali saja ke ****** kesayangan papa. Dan ingat, sekali lagi Papa nampakin muka Papa dihadapan Aaron. Aaron gak segan-segan bikin papa nyesel."
"Keluar!" Aaron menariknya dengan kasar.
Akhirnya Papanya keluar pada malam itu saat hujan turun, Aarom dan Mamanya menangis. Namun Aaron hanya menangis dalam hatinya, ia memeluk mamanya untuk nenangin. Ia bener-bener diambang kemarahan. Mood dia ancur.
Tanpa sadar ketika Mamanya udah tenang dan tidur, tepat jam 22.00 ,ia pergi ke bar hingga subuh. Juga karna Geshia menyuruh Akasa nyusulin Aaron, syukurnya tepat waktu jika tidak pasti udah ngelakuin hal diluar akal sehat.
*Aaron POV Finish.
"Tapi, kalo lo disini. Mama lo gimana?" tanya Keana.
"Mama gue, ditemenin nenek gue. Gue juga diijinin buat nenangin diri dirumah temen, buat ngelupain papa." ucap Aaron lirih dan membuatnya meneteskan Airmatanya. "Gue gak nyangka dan gobloknya gue, kenapa gue selama ini cuma diem setelah nge gep Papa selingkuh dan main dihotel sama ****** itu."
"Udah ah. Jangan diterusin, itu bukan salah lo seutuhnya. Lo udah ngelakuin yang terbaik, demi nyokap lo." ucap Akasa.
"Ron, lebih baik lo fokus ke nyokap lo aja. Dan fokus buat kuliah lo, biar kedepannya bisa banggain nyokap lo dan bikin bokap lo nyesel." sahut Geshia.
"Bener juga kata Geshia." balas Arga.
"Yaudah. Udah malem nih, gue balik dulu ya." ucap Geshia. Akasa hanya melirik.
"Anterin kek, jangan dilirik doang." sindir Aaron.
"Ye, Bangke! Lo sakit, masih bisa-bisanya ya." kesal Akasa. "Yaudah, gue anterin yuk Ges. Ntar lo kenapa-kenapa gimana? ntar Kakak lo nyantet gue gimana?"
"Mulut lo ka!" teriak Geshia.
Mama Akasa menyaut dari lantai dasar, "Kenapa lagi Akasa?"
"Noh mampus lo," ucap Arga. Akasa menggertakkan giginya gemes dan kesel ke Geshia.
"Enggak mah. Ini Temen aku, kesambet." teriak Akasa, Lalu Geshia mencubitnya.
"Ecieeee" ucap seseorang dari ambang pintu. Ya, dia Arletta.
"Aku aduin mama ah." ucap Arletta lalu ia berlari kecil.
"Let! Dek! Gue pites, mampus lo." ucap Akasa mengejar Arletta.
Geshia hanya berdengus kesal namun juga gemash melihat tingkah kakak beradik itu.
"Ges. Katanya mau pulang? Sono gih." ucap Jordan.
"Ngusir ya lo?. Yaudah, bye. Gue duluan guys."
"Enggak. cuman ingetin, pumpung Akasa dibawah."
"Iya iya Dan. Ih"
Lalu tak lama, Keana juga menyusul untuk pulang. "Ron, gue juga pulang ya. Takut Nyokap nyariin, ga pa-pa kan gue tinggal?"
Aaron tersenyum, "Iya ga pa-pa. Ntar sampai rumah, chat gue ya."
"Iya." Keana menoleh mendapati Arletta yang sudah berada dikamar Akasa lagi sembari ter engah-engah. "Let.. Gue nitip Aaron ya."
"Oh, Siap komandan." balas Arletta. "Tapi.. ada anunya enggak?"
"Kebiasaan! Ya besok, gue beliin."
"Mantul deh."
Lalu Arga dan Jordan bimbang, mau pulang atau enggak.
"Lo berdua gak mau pulang sekalian?" Arga dan Jordan bergeleng.
"Heh, gak ada yang mau anter gue apa?" kesal Keana.
"eh, ayo gue anter. Lupa gue, haha" ucap Arga. Aaron menatapnya tajam.
"Eh borrr, slow dong natapnya. Jangan gitu, ntat copot tuh mata."
"Bacot, Setan! Udah sono. Ntar kemaleman, bahaya." tutur Aaron
"Iya, iya."
Akhirnya Arga nganterin Keana.
***
"Lo bisa pelan gak sih, naik motornya?" kesal Geshia.
"Ini udah pelan." jutek Akasa.
"Pelan pala lo. Ini kayak orang ngajak mati, setan!" Geshia mencubit perut Akasa.
"Ah, Sakit. Diem! Jangan gitu, ntar jatuh."
"Bodo. Lo ngeselin."
"Ngambeg."
"Biarin."
"Dasar manja."
"Bacot."
"Pelan-pelan sih!" ucap Geshia yang berteriak.
"Iya iya, Gue denger. Gak usah pake teriak bisa gak sih?"
"Bisa kok. Hehe"
"Crazy!"
"Iya, Crazy karna lo."
"Gak jelas." Geshia ketawa puas ngeliat Akasa sepertinya tersipu, lalu Geshia memeluk Akasa dari belakang untuk pegangan di motor agar gak jatuh, namun ini beda. Ia juga menidurkan kepalanya di punggung Akasa.
"Lo tidur?"
"Enggak kok. Gue lagi nikmatin angin malem bareng lo."
"Ngomong apasih. Gak denger."
"Ih, ngeselin." Geshia mengangkat kepalanya lalu memukul punggung Akasa.
"Lagian lo, ngomong ngaco muluk."
"Serah gue dong, kan mulut-mulut gue."
"Iyain."
"Untung lo ganteng." lirih Geshia.
"makasih." sahut Akasa. Geshia kesal tapi tersenyum samar.