
Sekarang Geshia berada di ranjang UKS tepatnya diruang UKS dengan mengelus-elus pantatnya yang sakit akibat Akasa menjatuhkannya dadi genggaman. Apalagi lututnya yang masih keluar darah akibat terjatuh dilapangan tadi makin perih membuatnya beberapa kali meringis kesakitan. Bisa disimpulkan bahwa hari ini adalah hari tersial Geshia.
Pertama, Geshia bangun kesiangan gara-gara malamnya gak bisa tidur mengakibatkan ia terlambat sekolah.
Kedua, ia tak sengaja menginjak tali sepatu yang lepas hingga membuatnya jatuh dan lututnya lecet gak karuan.
Ketiga, tubuh mungilnya dijatuhkan oleh Akasa semena-mena dari gendongan jatuh ke lantai yang kerasnya gak ketulungan.
Tapi, disisi lain Geshia bahagia dan senang bisa digendong oleh Akasa karna apa? karna Aroma Akasa wanginya beda, trus ganteng lagi, idungnya mancung juga, matanya mirip kucing, ah pokoknya Prince Charming banget deh. Bikin siapapun betah kalo bareng dia lama-lama termasuk Geshia sembari senyum-senyum kayak orang gak waras di UKS mengingat wajah Akasa. Namun, Geshia menampar pipinya dan mengerang kesakitan lalu menyadari Akasa tuh galak dan hobby banget bikin orang sakit hati mana lagi dinginnya gak ketulungan, ngeselin juga. Seandainya, Akasa itu friendly gitu, pasti Geshia senang apalagi aura kegantengannya nambah tuh Batu Es.
Tapi gapa-pa sih, cowok modelan kayak Akasa itu malah jadi inceran karna apa? karna pasti banyak Kejutan yang tak terduga dari seorang Akasa. Dan juga, Akasa gemesin menurut Geshia yang sedari tadi memeluk bantal UKS dilecek-lecek yang tak menyadari kedatangan Keana juga Aaron.
"Lo kenapa Ges?" tanya Keana mengerutkan Alisnya.
"Ha?" Kaget Geshia, lalu melempar Bantal.
"Ye.. Malah dilempar" sahut Aaron.
"Lo kesambet apa, tot!" lanjut Aaron.
"Gak ada. Cuman gemesh aja." jawaban Geshia membuat Keana dan Aaron saling pandang.
"Maksud lo?"
"Udah ah. Gak usah kepo!"
"Yaelaaa.. Gimana keadaan lo?" tanya Keana.
"Baik dan tidak baik." balas Geshia yang masih senyum-senyum gak jelas.
"Astaga. Kenapa sih nih anak orang ron! Gue takut. Akasa abis ngapain Geshia ya, kok jadi kayak gini." tutur Keana.
"Tau! Abis dipelet palingan."
"Husss.. Mulut lo!" pukul Keana.
"Yaudah. Lo istirahat disini ya. Ntar gue balik kesini lagi. Lo pesen apa? bubur? es teh?"
"Iya na. Bawain ya. Nih lutut gue masih sakit apalagi pantat gue." keluh Geshia.
"PANTAT?!" kaget Aaron. Geshia mengangguk.
"Abis diapain Akasa lo?! sini ngomong kegue. Biar gue slepet tuh anak!" sergah Keana.
"Udah gpp. Akasa gak ngapa-ngapain gue kok."
"Huh. Awas aja ya, kalo gue tau. Gue hajar tuh batu." lanjut Keana.
"Ih. Iya-iya Keana Es."
"Paansih." kesal Keana.
"Yaudah. sono balik kelapangan." suruh Geshia.
"Yaudah. Gue balik ya. Yuk Ron."
"Baik-baik lo disini nyet!" lanjut Aaron.
Sementara itu, Akasa dengan anak-anak lain tengah asik melakukan aktivitas olahraga. Kali ini, materi olahraga yang Akasa tunggu yaitu pelajaran Bola Basket. Karna Akasa sangat menyukainya jadi dia berusaha untuk mendapat skor maksimal dan mendapatkan nilai yang bagus.
"Arga Bintang" panggil Pak Huda kepada siswa selanjutnya harus memasukkan bola basket di ring. Arga pun langsung mengambil bola dan berdiri di posisi untuk men- shooting bola.

Arga dengan lagat songongnya dia langsung melempar bola ke ring dan akhirnya bola masuk lalu dengan gaya andalannya yaitu menyibakkan rambutnya ke belakang dengan smirks.
Selanjutnya, Pak Huda memanggil nama siswa yang dibawah Arga yaitu
"Akasa Ramatha!"
Si pemilik nama langsung memposisikan diri di bawah ring basket dengan bola berada ditangannya. Akasa menatap ring dengan seksama dan pandangannya sangat tajam ke arah ring basket.
"Masuk gak yaa.. " celetuk Aaron yang baru saja datang dengan wajah konyolnya. "Kalo gak masuk, ntar traktiran lho Ka!" lanjut Aaron lalu mengkode mata dengan Arga dan jordan. "Yoi. Kudu dong. Traktiran! Yuhu" balasan Arga dan Jordan.
Akasa tak menggubris ucapan tiga kampretnya. Ia tetap fokus ke bola dan ring. Setelah ia merasa mantep, ia pun melompat dan memasukkan bola ke ring. Alhasil....

"YAH!! BANGKE!" Aaron bersorak kenceng kecewa karna Akasa berhasil memasukkan bola. Sedangkan yang lain, heboh bertepuk tangan karna Akasa berhasil.
"Gagal traktiran nih!" keluh Arga.
"Syedih akutuh." lanjut Jordan.
"Ah.. Gak asik lo ka!" dercakan Aaron, lalu Akasa tersenyum sinis.

"Lo bertiga, pikirannya makan muluk." celetuk Akasa. "Pikirin tuh, gimana lo bisa dapet nilai tinggi disini. Bukannya malah mikirin makan!"
"Ah. Tau ah. Gue gak denger, gak denger." balas Aaron langsung pergi sembari menutup telinga dari hadapan Akasa.
"Lo berdua. Gak ngintil juga?" Akasa menyadari Arga dan Jordan masih cengo melihat Aaron.
"Ha? Gue juga gak denger, gak denger." ucap Arga dan Jordan.
"Punya temen, gak bener semua." Akasa menggeleng heran.
***
Tak terasa, bel pulang sekolah sudah berkumandang. Semua murid pun dengan cepat berkemas dan bergegas untuk pulang kerumah masing-masing. Meskipun dari mereka pasti ada yang masih dikantin ataupun tempat tongkrongan mereka.
Akasa hendak bangkit dari tempat duduknya dan mengemas barang-barangnya namun terhenti saat ia melirik kearah cewek yang berada di sebelahnya, ya itu Geshia. Geshia masih memposisikan diri ,duduk sambil memegang perutnya ,kepalanya ditidurkan diatas meja dengan posisi miring juga matanya menutup rapat seperti orang menahan sakit. Namun, Geshia tertidur.
Mulai dari Geshia balik dari UKS ke kelas sampai sekarang bel istirahat berakhir, dia sesekali meringis kesakitan. Dan sekarang, bel pulang sekolah ia malah tertidur pulang sembari memegang perutnya. Sepertinya, ia masih kesakitan gara-gara tubuhnya menghantam lantai yang keras akibat Akasa melepas genggaman tubuh Geshia saat digendong. Menyadari kejadian itu, Akasa ikutan meringis ngebayangin pasti sakit banget. Akasa mengumpati dirinya "Bodoh banget lo ka! Ya kalik gak sakit. Pasti sakit banget. Duh.. Tapi ya salah lo sendiri Ges."
"Geshia." Arga mengintip wajah Geshia yang tertutup rambut panjangnya. Arga menatap Akasa, "Dia tidur dari kapan, ka?"
Akasa mengangkat bahunya yang artinya gak tau. Padahal, sebenarnya ia males untuk jawab karna lagi irit ngomong. Sekarang pun masih sibuk berberes buku-buku kedalam tasnya. Selain galak, batu, dia pun bodo amat banget sama sekitar.
"Ih. Arga! Lo ngapain?" Geshia terkaget dan spontan memposisikan tegak juga benerin rambutnya yang berantakan. Melihat Geshia kaget, Arga juga ikutan kaget.
"Gue ketiduran ya?" Geshia panik sendiri, menoleh kanan kirinya yang udah kosong gak ada murid lain. Begitupun Keana yang udah pergi tanpa bangunin. "Bener-bener tuh Es! Awas lo ya!" _kesal Geshia.
Geshia melirik ke arah kiri, berkedapatan Akasa yang masih menata isi tasnya. Lalu tanpa berpikir dua kali, Geshia memukul tangan Akasa. "Lo kok gak bangunin gue sih, Ka?!"
Akasa menaikkan satu alisnya dan ber ekspresi datar, "Untungnya buat gue apa setelah gue bangun lo?!"
"Ih. Ngeselin banget sih jadi orang. Malah jawabnya nge gas." Geshia cemberut.
"Gue cuma nanya, bukan ngegas dan ngeselin. Emang salah?!" sahut Akasa.
"Oh! Gitu." Geshia berdiri dan menyilangkan kedua tangannya didada. "Seharusnya lo tuh punya respect dikit keorang. Apalagi gue ketiduran dikelas. Umpamanya tadi si Arga gak bangunin gue, gue pasti lo tinggal disini kan sampe malem pun. Karna lo gak ada respect nya sama sekali sama temen!" tutur Geshia menjadi-jadi.
"Emangnya, lo siapanya gue?!" celetuk Akasa.
"Au ah! Bodo!" Geshia udah stress debat muluk sama Akasa yang Batu nya kebangetan. Ia meraih buku-buku yang ada di loker mejanya dan juga buku diatas mejanya. Ia ingin segera pulang, mandi lalu tidur dengan tenang. Tapi, ketika Geshia bangkit dari kursinya, ia tiba-tiba meringis kesakitan sampai berkaca-kaca. Ia lupa, kalau lutut nya masih basah karna luka juga darahnya belum mampet. Lalu, Geshia memekik kesakitan hingga mengumpat. "BANGKE! SAKIT! Astag, lutut gue sakit banget."
Dan disaat Geshia kembali duduk, dia pun spontan teriak. "YA ALLAH! PANTAT GUE! Mas Ganen..." keluh Geshia hingga memanggil nama kakaknya.
Melihat Geshia yang heboh sendiri, Arga dan Akasa saling diam dan saling pandang kebingungan melihat tingkah Geshia seperti Kesetanan. "Lo kenapa sih, Ges?" tanya Arga kebingungan.
Geshia mendengus kesal lalu matanya berkaca-kaca dan akhirnya nangis. "Lutut gue gak bisa dilurusin, kalo dilurusin sakit banget. Ini luka yang gue jatuh dilapangan tadi, masih basah, darahnya belum berhenti. Gue susah buat jalannya. Pantat gue juga buat duduk sakit,"
"YaAllah. Kok bisa sih Ges?" Arga menatap Geshia. "Nanti lo pulangnya dijemput Kakak lo?"
Geshia menggelang, "Minggu ini Kakak gue sibuk. Gue aja tadi berangkat naik Taksi kok."
"Dianterin Akasa aja kalo gitu." ceplos Arga tiba-tiba. "Biar lo bisa cepet sampe rumah, Daripada lo nunggu Taksi lama."
"Ogah! Gue gak mau!" sahut Akasa. "Pulang aja, sendiri. Gue gak menerima tumpangan."
"Kalian, Ka. Masa lo tega sama cewek sih ah. Liat nih, dia sakit." kata Arga.
"Lo aja sih yang nganterin dia pulang. Gue kan udah pernah nganterin nih bocah pulang." Akasa berucap tak perduli, lalu ia melangkah untuk pergi meninggalkan mereka berdua namun Arga menahan langkah Akasa.
"Tolongin napa sih Kak. Itung-itung amal sholeh lo nambah abis nolongin orang." Lagi-lagi Arga memohon dengan memelas, tapi maksa. "Gue mau aja sih nganterin, tapi gue janji ke nyokap buat nyusulin dia di Butiknya."
"Alesan aja lo, SETAN! Ngomong aja kalo mau nyodorin dia kegue terus. Bangke!" Akasa nge gas kesal lalu melirik ke arah Geshia, "Makanya, lo tuh ke sekolah bawa kendaraan gitu. Untung-untung lo bawa jadi gak ngrepotin orang lain. Dikit-dikit minta dianter, manja banget sih."
"Ih. Kalo gue bisa bawa mobil, dari awal juga gue bawa mobil. Apalagi motor. Lo tuh kalo ngomong gak pernah mikir ya, Ka. Heran gue!" Omel Geshia yang tak terima dikata Manja.
"Makanya belajar! Buat apa lo punya otak tapi gak bisa diandelin. Mending lo sumbangin tuh otak buat orang yang membutuhkan daripada mubazir."
Nyesek,kesal,pengen nangis. Beberapa kata yang bisa mewakili Perasaan Geshia. Mood Geshia semakin buruk setelah mendengar ucapan Akasa yang gak terhitung pedesnya. Geshia gak bisa ngebayangin kenapa trio kampret di Arga, Aaron, dan Jordan betah banget temenan sama nih manusia Batu Es. Tapi, mungkin saja karna mereka bertiga sudah saling ngerti dan kebal sama ucapan Akasa yang nyebelin.
Geshia pun beranjak dari tempat duduknya tanpa berpamitan kepada Akasa dan Arga. Dadanya sangat sesak, ia ingin menangis namun tertahan. Langkahnya melambat dibelakang Geshia, sesekali Arga melihat cara Geshia jalan dengan mendesah kesakitan membuatnya meringis, ngilu liatnya.
"Bor! Lo gak kasian apa liat dia? Sampe kayak gitu." ucap Arga sambil memandang Geshia.
Akasa terdiam. Ia masih memandang tubuh Geshia dari belakang. Pikirannya amburadul mengingat kejadian tadi pagi. Tanpa berpikir panjang.
"Geshia, lo pulang bareng gue! Gue ambil motor dulu."
***
Seperti pertama kali Geshia dianter Akasa, lebih tepatnya awal disekolah. Disepanjang jalan menuju rumah Geshia, Akasa mencoba menahan kesabarannya ketika Geshia memeluknya sangat erat karna luka dilutut Geshia yang terkena angin menjadi sangat perih dan ngilu dua kali lipat. Geshia sesekali merintih kesakitan dan semakin erat memeluk Akasa dan memukul perut Akasa beberapa kali.
"Perut gue sakit, ****!" omel Akasa.
"LUTUT GUE LEBIH SAKIT, ****!" sahut Geshia, "PANTAT GUE JUGA SAKIT. HUAAAA MAS GANEN.." teriak Geshia.
"Ck! Lebay banget sih lo. Mau gue turunin sini lo?" Akasa berdecak. "Lepasin gak?"
Geshia menggeleng, "Gak mau!" tetap memeluk erat yang tangannya melingkar diperut Akasa.
"LEPAS!" ucap Akasa.
"GAK!"
"Ini kedua kalinya. Lepasin enggak? atau lo mau gue turunin dijalan?" ancam Akasa.
"Nggak mau, Ka!" nada memelas. "Rasanya gue mau nangis, ini sakit banget ka. Perih!"
"Cih! Drama banget sih jadi orang. Manja!"
"Gue gak Manja!"
"Lo manja!"
"Gak!"
"Bacot!"
"Lo tuh. Bacot!"
Lalu Akasa dan Geshia pun terbungkam yang ada isinya hanya keheningan. Geshia memilih diam dan menahan sakit, daripada ngeluh bikin Akasa malah ngomong pedes dan nyakitin hatinya. Juga, Geshia gak mau jika Akasa benar-benar akan menurunkannya di jalan.
Beberap menit, akhirnya sampailah didepan rumah Geshia. Lagi-lagi di halaman rumah Geshia terparkir mobil hitam yang sama persis dengan mobil yang ia lihat waktu nganter Geshia.
Pelan-pelan Geshia turun dari boncengan. Setelah dua kakinya menapak diaspal lalu Geshia memandang Akasa, "Makasih ya."
"Ya"
"Lo langsung pulang, ka?" tanya Geshia dan Akasa pun langsung mengangguk. Tapi, sedari tadi mata Akasa tak lepas dari mobil hitam yang terparkir dihalaman rumah Geshia karna ia ingat seperti familiar mobil dan plat nomor itu. Penasaran apa yang Akasa lihat, akhirnya Geshia mengikuti arah pandang mata Akasa. Seketika raut wajah Geshia suram.
"Mobil keluarga lo?" tanya Akasa.
Geshia menggeleng malas dan nada bicaranya juga berbeda, "Bukan."
"Mobil siapa?" tanya Akasa lagi. Memastikan bener atau bukan feelingnya.
Geshia mengangkat bahu dan mukanya benar-benar suram. "Nggak tahu, Nggak jelas. Males, gue pengen pergi aja." ucapan Geshia membuat Akasa terdiam, sesekali menatap raut muka Geshia yang terbilang kosong.
Mata Akasa semakin menajam kearah Mobil itu. Ia benar-benar merasa bahwa gak asing dengan mobil itu. Tapi, ia berpikir dua kali sembelum menebaknya. Karena ia berpikir positif bahwa yang memiliki model mobil kayak gitu gak mungkin hanya satu orang. Akasa pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Ia melirik Geshia sekilas, "Gue balik." Kemudian, motor Akasa melesat bagaikan angin dari pandangan Geshia.
"Ka! Gue pengen ikut lo. Gue gak mau pulang." gumam Geshia masih memandang Akasa yang hampir hilang dari pandangannya.