
Malam ini, malam yang dingin juga mood acak-acak an. Namun, malam ini Ganendra membawa seseorang ke rumah. Ya, dia adalah calon kakak ipar Geshia. Geshia sangat menyukainya, dulu Ganendra pernah menjalin kasih dengan seseorang namun orang itu sangat menyebalkan dan malah melorotin mas Ganendra dan Geshia tak menyukainya. Beda jauh dengan kekasih mas Ganendra sekarang, dia sangat telaten dan baik hati juga tidak perhitungan namun perhitungan kepada mas Ganendra harus lebig berhebat uang.
"Lho, siapa ini?" ucap mama Geshia menyambut.
"Halo tante, malam. Lagi makan ya?" balasnya,
"Iya nih. Gabung yuk, pasti belum makan kan?"
"Hehe, iya belum tante."
Dan satu lagi, dia tingkahnya konyol juga blak-blakan sama seperti Geshia karna itu Geshia menyukainya. Oiya, nama dia adalah Lyra Arcelli.
Akhirnya kami makan bersama, selang beberapa menit selesai. Geshia melirik Lyra. Lyra menyadarinya lalu tersenyum.
"Mau apa? ngomong aja, gak usah curi-curi perhatian gitu" ucap lyra sedikit melirik Geshi. Geshia cengengesan.
"Mbak tau aja sih. Kan jadi gemes"
"Jangan ra. Kebiasaan ntar," sahut mama.
"Ih mama."
"Ganendra selalu manjain, masa kamu juga." lanjut mama menggodaku.
"Masssss" Geshia merengek.
"Mah, udah... kasian dedek kesayangan ganen." Geshia cengengesan.
"Dasar kalian berdua gak berubah. Apalagi ditambah Lyra yang telaten banget. Mama jadi seneng." ucap Mama, "Oiya kita bahas persiapan pernikahan kalian yuk."
"Geshia mau keluar ya mah."
"Kemana eh?" sahut mbak Lyra.
"Cieee kepo." ctakk, mbak lyra menjitak Geshia. "Ah sakit, mbak." semuanya pun tertawa.
"Akasa?" sahut mas Ganendra Tiba-tiba.
"Ih, kok Akasa. Ngapain bahas dia."
"Lagi marahan ya?"
"Gak usah kepo sih mas. Tau ah, Assalamu'alaikum"
***
Ting.. Ting.. (Suara bel ketika pintu kafe di buka).
Ya, Kini Geshia berada di Cafe milik Jordan. Untung saja tidak ramai, jadi Geshia bisa bersantai. Jordan terlihat sedang sibuk, lalu Geshia memanggil Jordan.
"Jordan!" yang dipanggilpun menoleh.
"Lho, Geshia? Lo tumben kesini?" ucapnya lalu matanya seperti mencari seseorang.
"Lo nyari siapa eh?" tanya Geshia.
"Lo sendirian? Gak ngajak bareng yang lain?"
"Enggak. Niat gue, cuman nyantai doang disini. Gue pesen Coffe Mocachino satu ya dan."
"Oh, oke. Tapi gue gak bisa nemenin"
"Iya, it's okay. Santai aja kali, dan." Jordan tersenyum dan berjalan menuju tempat pembuatan kopi.
*JORDAN POV
"Dan, temen lo?" tanya salah satu pekerja Jordan dan termasuk temen lengket jordan dari sd.
"Iyoi, Kenapa?" balas jordan sembari meracik kopi pesanan Geshia.
"Cantik." sahutnya. Jordan langsung mengalihkan pandangannya ke cowok tersebut lalu ke Geshia. Bener sih, cantik. Gue baru sadar. -batinnya.
"Dan." panggil cowok itu, jordan kaget. "Lo kok ngelamun sih?"
"Ah sorry. Pokoknya jangan macem-macem. Dia udah punya."
"Oh ya? Siapaa? tapi dari tampangnya, dia tipe orang yang susah didapetin."
"Tebakan lo bener tapi temen gue udah dapetin hatinya." balas Jordan lagi.
"Siapa sih? Kepo gue." ucap cowok itu,
"Akasa." balas Jordan, lalu pergi untuk memberikan kopi Geshia. Cowok itu hanya cengo.
Btw, cowok itu namanya Marvin Jensen, si cowok blesteran indo belanda.
*Jordan Pov finish.
Geshia dengan asiknya memainkan ponsel miliknya. Dengan memakan cemilan yang sudah ia pesan.
"Sorry Ges, lama." ucap seseorang dengan memakai Kemeja putih.
"Eh, Iya dan. Ga pa-pa kalik."
"Ges. Gue teleponin Akasa ya, biar lo gak sendirian." ucap Jordan tiba-tiba.
"Eh, kenapa tiba-tiba. Jangan ih."
"Kenapa?"
"Jangan pokoknya."
"Ayolah. Gue gak nerima penolakan, soalnya Akasa juga lagi gabut nih. Mungkin dia juga bakalan kesini bentar lagi."
"Hah? Lo pasti udah nyuruh duluan. Ih Jordan.."
"Enggak. Emang disini tuh, tempat dia ngembaliin mood. Serius deh." ucap Jordan serius. Geshia pun mengangguk.
"Yaudah gue tinggal dulu ya. Have fun, ntar kalo butuh sesuatu tinggal panggil gue. Btw kalo temen gue ngajak kenalan yang itu, si bule. Lo cuek aja ya, gue takut kalo lo digodain dan gak betah disini" bisik Jordan.
"Ah, siap." balas Geshia terkekeh pelan. "Udah, sono."
Jordan pun beranjak pergi meninggalkan Geshia. Geshia tiba-tiba mendapat notice pesan. Cting!!
Akasa Batu Es 🐱
"Lo dimana?"
(Eh, buset. Nih orang kenapa tiba-tiba? - pikir Geshia)
"Gue lagi di cafe nya Jordan.
Kenapa?"
"Ga pa-pa. Yaudah,"
"Lho? Ka?!"
"Akasa! Kok gak dibaca sih"
"Akasa Ramatha!"
Pesan Finish.
Geshia pun mengumpat dalem hatinya. Sialan, ngeselin banget nih makhluk satu. Namun, disaat Geshia ngomel. Ada cowok bule blesteran menghampirinya.
"Are you okay?" ucap nya, dan itu membuyarkan Geshia.
"Ya. Oh, temannya Jordan?"
"Hm. Kenalin, Gue Marvin Jensen. Lo?" mengulurkan tangannya.
"Gue, Gesh---" balas Geshia terhenti saat tangan uluran Marvin diraih oleh seseorang dibelakang Geshia yang menjawab, "Geshia Tynetha."
Geshia hanya memincingkan sebelah matanya dan Marvin tampak terkejut. Geshia menoleh dan ternyata sosok yang tiba-tiba itu adalah Akasa.
"Akasa?! Sejak kapan lo?" Akasa hanya melirik sinis. "Ih, ditanyain baik-baik malah dilirik serem." lirih Geshia kesal.
"Gue kenalan sama Geshia, kenapa lo yang nerima uluran gue?" ucap Marvin yang tampaknya sedikit kesal.
"Oh ya? Sorry. Gue kebiasaan, jagain si anak manja. Takut kenapa-kenapa." ketus Akasa. Marvin hanya cengo gak paham dengan apa perkataan Akasa.
"Gue pesen Mocachino satu dong. Kayak biasanya." ucap Akasa yang sedikit mendorong minggir Marvin untuk. menyingkrih dari tempat duduk didepan Geshia.
Dengan kesalnya, Marvin pergi dan membuatkan pesanan Akasa. Geshia hanya menatapanya dan Akasa membuyarkannya.
"Gak usah diliatin. Udah ada object nyata, masih aja cari yang lain." ketus Akasa.
Geshia pun menatap Akasa tajam, "Ih. Lo tau, apa yang lo lakuin tadi itu jahat banget Ka. Kasian dia"
"Bodo. Gue gak suka ya, liat salah satu object kesukaan gue ada yang ngehalangin." ujar akasa
"Ha? Maksud lo?" Geshia tak memahami.
"Otak lo tuh dodol jadi gak akan paham sama apa yang gue omongin. Pokoknya lo tinggal ikutin alurnya, biar gue yang ngatur."
"Serah lo deh. Gue pusing," Akasa terkekeh kecil, "Btw, lo tadi chat gue kenapa?"
"Karna gue mau ngajak lo keluar."
"Tumben?"
"Emang gak boleh?" tanya Akasa serius, menatap Geshia.
"B-boleh. Ih lo kalo natap gue, bisa biasa aja gak sih."
"Kenapa? Jantung lo dangdutan ya?"
"Gak!" ucap Geshia dan membuang muka, "Untung, gue masih punga stock jantung banyak dengan tingkah mengejutkan Akasa." -batinGeshia.
"Hm ya. Karna dirumah lagi pada bahasin untuk pernikahan kakak gue, gue milih keluar rumah karna ogah ikut-ikut mikir, bikin pusing."
"Oh. Yah, gak ada yang manjain lo dong bentar lagi."
"Ada kok. Calon kakak gue, persis sama gue. Kalo kerumah selalu nyari gue dan ngajakin keluar."
"Oh ya? Gak percaya." ucap Akasa menggoda.
"Ih, bener-bener ya. Kesel gue."
Disaat Geshia dan Akasa ribut seperti bisa, Marvin datang dengan membawa secangkir kopi pesanan Akasa. Tanpa ucapan, Marvin menaruh kopi dengan sedikit kasar, Akasa pun marah namun ditahan karna Geshia sudah menatapnya tajam.
"Kalo naruh kopi untuk pelanggan tuh yang sopan." ketus Akasa, Marvin beranjak begitu saja. "Sialan! Gue gak bisa marah, gara-gara lo natep gue."
"Abisnya, lo kalo marah serem. Setan!" kesal Geshia.
"Demi lo!" Geshia kaget.
"Maksud lo."
"Demi nakutin lo, hahah"
"Sialan!" Geshia mencubit Akasa. "Tau ah, rese banget."
Mereka berdua ngobrol dan bercanda, tiba-tiba seseorang datang ke cafe tersebut. Alih-alih Geshia duduk menghadap pintu masuk membuatnya mematung menatap orang yang baru saja datang. Akasa bingung, kenapa cewek yang baru saja asik ngobrol dengannya tiba-tiba berubah.
"Ges, lo gak pa-pa kan? lo liat apasih?" ucap Akasa sembaru memecahkan lamunan Geshia.
"G-gue gak pa-pa. Ka, ayok pulang." ucap Geshia yang tampaknya akan segera menangis.
"Ha? kenapa keburu sih? Lo liat apaan?" Akasa pun penasaran lalu menoleh dan mendapati seorang yang tak asing baginya yaitu Fajril Austin."Yaudah yuk. Lewat pintu belakang." Akasa pun berdiri dan menggandeng Geshia untuk ke pintu rahasia milik Akasa the genk yang Geshia tak tau.
"Lho, kalian mau kemana?" ucap seseorang memberhentikan langkah yaitu Jordan.
"Itu dan, Fajril." ucap Akasa. Jordan mengerutkan kening, bingung. "Itu, maybe sekarang lagi pesen kopi."
"What? Kesini?" Akasa berdehem.
"Yaudah. Gue anter Geshia dulu ya, ini dia genggam tangan gue erat banget. Sakit, njirrr." bisik Akasa ke Jordan sedangkan Geshia masih panik.
"Okedeh, tiati lo. Bawa anak orang tuh."
"Iyoi, btw kalo ada apa-apa telpon gue. Kan si Fajril tau muka lo."
"Hm, okey."
Mereka berdua pun melewati pintu belakang dan langsung mendapati motor Akasa.
"Nih pake." Akasa menyodorkan Helm. Geshia masih terdiam dan panik. "Berdoa dulu."
lalu Akasa melajukan motornya. Diperjalanan hanya terdiam, Geshia memeluk Akasa bener-bener erat.
"Lo beneran mau langsung pulang?" tanya Akasa.
"Enggak. Cuman tadi karna ada dia, gue takut." lirihnya yang terdengar lemah banget.
"Gue kan udah bilang. Ada gue dan gue bakal ngelindungi lo, kenapa masih takut?" Geshia hanya terdiam.
Lalu motor Akasa berbelok ke arah tempat Lesehan pinggit jalan. Geshia terdiam dan menatap punggung Akasa.
"Lo mau sampe kapan natap punggung gue? Turun.".ketusnya.
"I-iya."
Mereka pun memasuki tempat lesehan tersebut dan memesan makanan juga minum.
"Lo mau makan apa?" tanya Akasa.
"Sama kek lo aja."
"Pak, saya pesan 2 lalapan Ayam goreng sama Es teh nya 2 ya pak." ucap Akasa memesan.
Geshia tampak menyapu sekeliling tempat itu, Akasa sudah menebak pasti dia tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Namun juga wajah Geshia tampak masih ketakutan. Lalu Akasa mencoba membuat Geshia melupakan kejadian hari ini.
"Lo baru pertama kali ke tempat kayak gini ya?" Geshia tertegun kaget dan membelalakkan kedua matanya,
"Hm? G-gue?" menunjuk dirinya.
"Iya, lo. Siapa lagi ****?"
"Oh, iya. Gue kali pertama kesini."
"Pantesan. Muka lo kayak bingung gitu."
Geshia cengengesan dengan menggaruk kepalanya yang terbilang tidak gatal. Lalu kilat berkedip. Geshia membelalakkan kedua matanya dan dahinya berkerut juga terlihat ketakutan.
"Lo kenapa lagi?" tanya Akasa.
"Ka, bentar lagi ujan." ucap lirih Geshia.
"Iya, gue tau kok."
Lalu Duarrr!! Kilat menyambar dan bergemuruh dan bledek juga hujan pun turun. Geshia pun berlari ke tempat yang bisa ia masuki yaitu Supermarket. Akasa pun mengejarnya.
"Geshia!!" teriaknya lalu dia pun bilang ke pak yang jualan buat bungkusin aja pesanan tadi.
"Kenapasih dia?" gumam Akasa.
Geshia memasuki supermarket seperti dikejar setan lalu berjongkook di balik rak jajanan yang jauh dari pintu hingga tak melihat pintu luar. Penjaga toko hingga kaget, lalu mengikuti Geshia. Geshia dengan menutup kedua telinganya dan menangis.
"Mbak? mbak kenapa?" tanya penjaga itu. Geshia makin menjadi menangisnya.
Lalu seseorang memasuki market tersebut, "GESHIA!! Lo dimana?" teriak Akasa.
Lalu penjaga itu menghampiri Akasa, "Mas?" Akasa noleh ke sumber suara itu, "Mas pacarnya mbak yang rambutnya pendek itu ya?"
"Iya, dimana dia?" ucap Akasa khawatir.
"Dia dibelakang sana," ucap penjaga itu, Akasa bergegas lari menghampiri Geshia.
"Astaga! Ges, lo gak pa-pa?" ucap Akasa sembari memegang pundak Geshia, tiba-tiba Geshia memeluknya dengan sangat erat. "Lo nangis? Lo beneran takut ujan?"
"Ka! Pulang," lirih Geshia sembari menangis.
"Iya, Kita pulang. Tapi emang berani pulang sekarang?" tanya Akasa, lalu Geshia melepaskan pelukannya dan menatap Akasa dengan air mata yang masig berjatuhan dan ia bergeleng.
"Hm. Yuk." ucap Akasa.
"Gak mau, takut."
"Enggak. Gue mau nitipin lo ke mas dan mbak penjaga di depan. Gue mau ngambil minum dulu buat lo dan gue mau ngambil lalapan kita."
"Ka, sorry. Gara-gara gue, kita gak jadi makan."
"Udah gak pa-pa. Lain kali aja." Geshia mengangguk.
Akhirnya pun Geshia dititipin ke mbak dan mas penjaga juga kasir tersebut. Dengan membawa sebotol minuman yang Akasa belikan. Mbak kasir menatap Geshia.
"Mbak takut hujan ya?" tanya mbak kasir tersebut.
"I-iya mbak." mbak kasir tersenyum.
"Pantesan. Mbak sama banget sama adik saya, juga takut hujan jadi dia langsung ke kamar menutup kepalanya dengan bantal kalau tidak bersembunyi di balik selimut. Mbak gitu juga gak?" Geshia mengangguk.
"Ngomong-ngomong, mbak nya beruntung lho. Cowoknya baik banget dan keliatan panik tadi nyariin mbak," sahut penjaga cowok itu. Geshia tersenyum.
"Cowoknya beneran kan mbak?"
"Dia itu---" Geshia belum menjawab, Akasa sudah nongol saja.
"Lo udah gak pa-pa? mau nambah lagi atau ice cream? ah gak usah dijawab. Bentar" Geshia tersenyum melihat tingkah Akasa.
"Iya mas. Dia cowok yang saya sukai, namun dia tidak tau kalo saya suka dia. Hm, emang keliatan kami kayak pasangan kah?"
"Banget mbak, kalian cocok."
"Hm, Makasih mas."
Geshia tersenyum melihat Akasa yang memborong Ice cream demi dirinya.
"Ka, banyak banget sih?"
"Biar lo gak takut sama cengeng." ketusnya.
"Eh, masnya kok jutek banget sama ceweknya." ucap mbak kasir.
"Abisnya manja banget mbak." ketus Akasa lagi.
"Namanya juga cewek yang lagi cari perhatian seseorang yang dia suka." ucap mbak kasir sembari melirik Geshia yang sedang minum dan akhirnya tersedak.
Akasa pun langsung panik, "Lo gak pa-pa? kebiasaan banget sih." ucapnya sembari mengelap minuman Geshia yang membasahi mukanya dengan jaket Akasa.
"Eh, baju lo ntar kotor." tahan Geshia.
"Udah. Kan bisa di cuci, lagian ntar lo bawa. Kan lo cuciin." ucap Akasa.
"Setan!"
"Adeknya!"
"Ih..." Geshia mencubit Akasa.
"Sakit!"
"Bodo."
Mbak dan Mas kasir hanya bergeleng samar dan terkekeh melihat tingkah Akasa dan Geshia. Hujan yang sudah reda akhirnya Akasa memutuskan untuk pulang mengantar Geshia. Tak lupa mereka berterimakasih ke penjaga toko.