I WANT U To KNOW

I WANT U To KNOW
Study Tour to JOGJA



"GUYS KITA BAKAL STUDY TOUR KE YOGYAKARTA NIH!"


Teriak Keana yang berlari kedalam kelas yang diikuti Aaron berjalan dengan santai nya di belakang Keana. Wajah Keana memerah juga berkeringat nafas naik turun, sudah jelas ia lari-larian dari lantai bawah ke lantai dua karna kelasnya ada dilantai 2 sedangkan kantor guru ada di lantai dasar.


"SERIUS LO, NA?!" sahut Jordan ternga-nga mendengar teriakan Keana, Keana pun mengangguk dengan semangat.


"JOGJA?!" kini seisi kelas berteriak dan saling pandang satu sama lain juga histeris karna saking senengnya. Dalam waktu hitungan detik, kelas yang awalnya tenang menjadi ricuh ngalah-ngalahin ramenya emak-emak dipasar.


"Nih, gue dapet surat dari Ruang Guru barusan. Ini Surat ijin ntar minta ttd ortu dan kumpulin lagi ke Arga sebagai ketua kelas. Okay?" ucap Keana sembari membagi kertas tersebut. "Jangan sampe ilang. Karna ini kertas buat bukti kalian ikut atau enggak, juga tanggung jawab selama ikut juga."


"Seriusan itu, Na?" Geshia bertanya disaat Keana membagi kertas tepat disebelahnya. Sebagai murid baru, ia tidak tahu gimana Style Study Tour disekolah ini. Jadi, ia lebih memilih memastikan lagi dengan bertanya kepada Keana lalu membaca kertas tersebut.


"Serius lah Tot! Noh baca. Mohon perizinan wali murid bahwa diadakannya Study Tour ke Yogyakarta..." ucap Keana sembari menunjuk kertas yang dipegang Geshia.


"WOAHHH!!! KEREN. GUE BARU PERTAMA KALI IKUT GINIAN." ucap Geshia bersorak riang dengan kencengnya hingga Akasa yang berada disebelahnya tersentak kaget. "YEAY! KITA KEJOGJA!!!"


"Berisik, lebay banget sih." omel Akasa. "Santai aja napa? kayak lo gak pernah ke Jogja aja."


"Yeee.. Sirik aja lo. Kan gue lagi Happy. Masa iya gue kudu sedih ka!" Geshia mengejek Akasa sembari memukul pelan lengannya.


Geshia pun membaca kertas yang ia terima dari Keana. Dikertas itu tertulis hari, tanggal, tempat juga biaya Study Tour ke Yogyakarta. Semuanya tertulis lengkap dengan jelasnya.


"Ah, ntar gue pulang sekolah langsung ngajak Mas Ganen ke Mall buat beli perlengkapan. Yesss!" Geshia teriak histeris karna saking senangnya dan udah membayangkan. "Lo mau ikut gue gak Na? Lo juga Ga, Ron, Dan, dan Ka!" ucap Geshia sembari melirik Akasa.


"Yuk! Gue ikut." jawab Keana.


"Gue juga. Tapi, abang lo bolehin emangnya?" ucap Arga.


"Ih. Sans kalik. Abang gue enakan kok. Gimana?"


"Let's go dong." sahut Jordan.


"Yuk ah. Kalo Keana ikut, gue juga kudu."


"Cih. Bucin!" ucap Geshia, Arga, Jordan bersamaan.


"Ka! Lo ikut gak?" tanya Aaron.


"Ogah!" cetus Akasa. "Daripada buang duit macem bocah kaya lo, manja! Mending gue tabung trus gue pakai barang lama. Seenggaknya gue gak nyusahin ortu gue. Seharusnya lo mikir, dengan cara lo yang berfoya-foya apa-apa beli gak mikirin ortu lo yang kesusahan cari duit buat nafkahin keluarga. Dan lo, malah seenak jidat minta ke Mall shopping gak guna. Gue yakin, lo pasti punya banyak baju yang masih bagus dan pastinya masih layak dipake apalagi perlengkapan yang masih layak buat lo pake. Lo, emang gak pernah diajarin buat berhemat ya? lo cuman taunya buang-buang duit doang? Lo tuh jadi anak cuman bisa ngrengek, nangis, ngambek, cengeng lagi. Bocah banget sih!"


Shit! ucapan Akasa benar-benar membuat bungkam lawan bicaranya. Karna omongannya memang kadang suka bener tapi ya gitu, nyakitin hati. Dia juga gak pernah mikirin kalau lawan bicaranya tersinggung atau enggak sama ucapannya karna terlalu nyeplos.


Dasar, Manusia Dajjal gak punya akhlak baik. -batinGeshia.


"Ka..." ucap Arga. "Kontrol napa. Kasian" lanjutnya.


Akasa melirik ke arah Geshia yang sekarang tertunduk. Pasti Geshia cemberut dan ngambek. Akasa sudah hafal dengan tingkah Geshia sebagai teman sebangkunya. Akasa pun berdecak, "Ngambek aja terus sampai Upin Ipin lulus kuliah."


"Ih!!!" Geshia menghentakkan kakinya. Kesel banget sama perilaku Akasa. Matanya berkaca-kaca. "Kenapa sih, nyebelin banget jadi orang?!! Bisa enggak, lo sekali aja baik dan gak ngomong kasar?"


"Pada Dasarnya, lo nya aja yang baperan mbak. Gue mah, sans aja kalik." Ucap Akasa yang gak berdosa.


"Kalo ngomong tuh dipikir dulu kek. Jangan langsung ceplos gitu. Mikir, orang yang lo ajak ngomong itu bakal sakit hati atau enggak sama omongan lo yang kasar banget nyakitin itu." Geshia pun murka. "Jangan cuma hanya pinter di bidang akademik aja, tapi sifat dan sikap lo nihil. Lo juga harus pinter buat ngehargai perasaan orang lain! Kalo lo kayak gini terus. Orang bakal mandang lo cuma-cuma."


"Haus ah." Ucap Akasa asal dan gak nyambung.


"AKASA!!!" Geshia gregetan. Ia sampai meraup mukanya kasar dan mengacak-acak rambutnya seperti orang setres. "NIH ORANG BENER-BENER YA! NGESELIN!!!"


"Berisik!" Akasa melirik datar Geshia. Lalu membuka minuman yang ada dihadapannya, "Gue mau minum. Lo diem."


"Gue tuh lagi ngomong. Dengerin dulu napa sih?!" Geshia menarik Akasa yang mau meminum sebot air mineral. Akhasil air itu menggambyor muka Akasa dan membasahi bajunya.


"Ishh.." lirih Akasa sembari mengelap mukanya dan menatap bajunya yang basah membuatnya cengo sesaat.


"Nih. Baju gue basah!" Akasa mengomel lagi. "Ah. Gue mau minum jadi malah baju gue yang minum. Basah!! Argghhh, mending lo sana pergi jauh dari gue. Sejauh mungkin sebisa lo, sampai gue gak liat lo lagi. Ngerti?!"


"GUE GAK DENGER!" Geshia mendengus kesal.


"BUDEK!" Akasa membalas ketus. Sembari mengibas-ngibaskan bajunya yang basah.


"Yaelah. Hanya karna air aja, lo berdua kayak gini. Tom And Jerry nyata nih." ucap Arga nimbrung sembari tersenyum nakal. "Jadian aja napa? daripada gini, berantem muluk ntar lama-lama demen. Apa kudu gue, jomblangin dulu biar bisa kenal lebih deket lagi?"


Tak ada jawaban dari kedua pihak. Namun yang menjawab adalah Keana.


"Kalo sampe nih duo makhluk laknat jadian. Gue minta traktir Mekdi sepuasnya.Hahah" ucap Keana jahat. Geshia pun melotot ke arah Keana.


"Widiwww... Jangan melotot gitu napa? Ntar tuh mata copot, sukurin lo."


"Bodo!"


"Amat." Keana, Arga, Jordan dan Aaron tertawa melihat tingkah Geshia dan Akasa yang sama-sama terdiam.


"Duh.. Canggung ya kalian berdua." goda Jordan.


"Bacot, Setan!" ketus Akasa.


"Ye. Dajjal!"


"Berani lo?!" kesal Akasa.


"Enggak kok. Gue mah anak baik-baik ka." sahut Jordan.


"Ck!"


Akasa pun mengalihkan pandangannya ke Geshia lalu nyengir, "Emang gue mau sam lo?"


"Cih! Siapa juga yang bilang gue mau sama lo?!" Geshia ikutan nyengir dan natap sinis.


"YaAllah. Heran deh gue, dari awal kalian duduk sebangku sampe sekarang. Hobby bener sih, adu mulut, debat kayak debat Capres tapi lucunya kalo satunya kena masalah, yang satunya pasti nolongin. Uhukk" ucap Arga lalu terkekeh.


Sindiran Arga ternyata berhasil. membuat Akasa dan Geshia terpaku seperti patung. Mereka berdua mencoba menyibukkan diri. Akasa yang mencoba membuka hp nya mencari materi sedangkan Geshia membuka hp nya membuka sosmed. Sedangkan Arga, Jordan, Aaron dan Keana tertawa. Tawa mereka berempat pecah dan menggema didalam kelas karna melihat tingkah kedua makhluk yang hobby debat itu.


***


Pulang sekolah, Geshia meminta Arga,Akasa juga Jordan untuk menemani dirinya menunggu kakaknya menjemput. Untungnya, Akasa mau walaupu harus dipaksa terlebih dahulu oleh Arga.


Seperti biasa, Aaron dan Keana pulang terlebig dahulu. Maklum sama-sama bucin yang padahal belum jadian sih. Katanya, nunggu waktu yang pas.


"Gue pengen deh, bisa naik motor." ucap Geshia tiba-tiba karna melihat ada seorang siswi melaju dengan motor matic nya.


"Kode nih. Noh, mintak diajarin Akasa!" seru Arga. "Gue sih, mau aja ngajarin lo. Tapi kan, ntar pas gue ngajarin lo tiba-tiba si mantan lo ngongol kan gak lucu. Kalo sama Akasa pasti keselamatan lo terjamin. Kalo sama gue, gue yang takut malah kenapa-kenapa, ntar anak orang bonyok kan gak lucu." cerocos Arga.


"Ayo deh. Dengan senang hati." sahut Akasa sok manis. Sontak Geshia, Arga dan Jordan cengo menatap Akasa. "Tapi dengan satu syarat. Gue ajarin lo sejam, lo harus udah lancar naik motornya."


"Motor apa?" tanya Geshia sumringah.


"Motor gede gue." balas Akasa. "Mau? Kalo mau, sekarang."


"Ih.. Lo mau bikin gue celaka ya? ngeselin banget. Abis bikin terbang eh malah dijatuhin." ucap Geshia mmemukul lengan Akasa. "Heran gue. Seharian ngeselin muluk sih lo itu, ka! AKASA RAMATHA!!!" omel Geshia.


Saat Geshia ngomel, ternyata Mobil kakaknya sudah datang dan berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Kaca depan mobil itu menurun, menampilkan tampang kakak Geshia yang super tampan. Ia tersenyum kepada adik manisnya juga ketiga lelaki yanh sedang berdiri bersama Geshia.


"Eh. Kakak gue udah dateng." Geshia yang sudah berdiri lalu berpamitan kepada ketiga temannya. "Makasih ya udah nemenin. Gue balik duluan, Dadah!"


Sesaat, Geshia sudah didalam mobil. Geshia menghembuskan nafasnya berat juga seperti merasa lega lalu melepaskan tas warna pink miliknya dari punggungnya. "Capek."


"Hm. Mau ngeluh nih?" ucap Kakaknya yang masih melihat Geshia. Lalu Kakaknya mengalihkan pandangannya ke arah luar mobil, tepat kearah Akasa, Arga dan Jordan yang masih berdiri dan mengobrol.


"Itu temen-temen kamu dek?" tanya Mas Ganendra, kakak Geshia. Lalu menjalankan mobilnya.


"Iya mas." balas Geshia sembari tersenyum lebar. "Mereka bertiga sahabatan dari TK kak. Kayak aku sama Keana. Tapi mereka bertiga itu kurang satu,"


"Ha? Kurang satu gimana?"


"Mereka itu empat sekawan. Yang satu itu namanya Aaron, nah si Aaron lagi bucin sama Keana."


"Lah. Jadi Keana sama Aaron lagi deket gitu maksudnya?"


"Ho'oh mas. Makanya jarang banget, Geshia bareng sama Keana. Malah Geshia sering bareng mereka bertiga. Namanya Arga, Jordan sama Akasa Mas."


"Oh.. Jadi mereka jadi temen kamu juga?"


"Iya mas."


"Mereka orangnya baik kan?" tanya Mas Ganen lagi.


"Baik banget malah. Trus lucu juga kadang sih ngeselin." ucap Geshia. "Oh iya mas. Tanggal sepuluh nanti sekolahku mau ngadain Study Tour ke Jogja mas."


"Wah, asik dong?" Mas Ganen tersenyum sesekali melirik Geshia. "Berarti habis ini, kita mampir ke Mall ya? Kamu pasti mau beli barang-barang yang mesti diperluin buat disana kan?"


Geshia pun menggeleng tanpa ragu. "Nggak usah mas. Aku pake barang-barang yang lama aja, toh masih ada dan masih layak buat dipake."


"Loh? Kenapa?" Mas Ganen mengerutkan keningnya. Keheranan atas sikap Geshia yang aneh karna tak seperti biasanya yang suka ngerengek minta ini itu. "Yakin kamu, pake barang lama dan seadanya itu?"


"Iya mas. Geshia yakin kok. Toh masih bagus juga. Hehe" ucap Geshia cengengesan.


Akasa! Gue bakal tunjukin bahwa apa yang lo omongin tadi, itu semua gak bener. Dan gue bakal tunjukin kalo gue bukan anak manja! , batin Geshia.


"Yaudah deh. Kamu laper enggak?"


"Banget mas." balasnya sembari menunjukkan mata puppy.


"Ih kan. Yaudah deh, mampir mekdi ya?"


"Skuy. Perutku sudah berdangdutan nih mas."


"Haha. Bisa aja kamu."


Gue bersyukur punya abang pengertian seperti Mas Ganen. Paling bisa ngertii gue, paling manjain gue yang padahal gue gak pernah manja ke Mas Ganen apalagi Papa sama Mama. Hanya saja, mereka masih menganggapku bayi kesayangan mereka. Menyebalkan sih, tapi gimana. Emang aku itu gemesin. -batin Geshia cengengesan.


"Ngapain senyum-senyum dek? Serem deh."


"Apasih mas. Kepo deh."


"Hayo, mikirin siapa?"


"Apasih. Gak ada."


"Duh.. Mulai berani main rahasia-rahasiaan ya?"


"Enggak mas. Astaga! Gak percayaan sih sama Geshia."


"Abisnya mencurigakan gitu."


"Huh. Tau ah. Gak denger, gak denger." sembari menutup telinganya lalu tertawa.